
Nathan menatap layar ponselnya yang kini terpampang pesan dari Sheila. Ia masih terus memandangi pesan itu tanpa ingin membalas.
Sebenarnya ia kurang setuju jika Sheila bekerja di AJ Foods. Pastinya karena ada Danny disana. Tapi mau bagaimana lagi? Nathan tak bisa melarang keinginan Sheila. Ditambah gadis itu tidak bicara apapun padanya. Haruskah ia marah?
Nathan menutup layar ponselnya. Lalu ia kembali ingat jika semalam Celia bilang jika dirinya sudah memiliki calon suami. Ya, mungkin ini yang terbaik untuk mereka berdua.
Harvey masuk ke ruangan Nathan setelah mengetuk pintu. Ia memberikan berkas meeting kemarin dimana Nathan tidak fokus memperhatikan kontrak yang sedang dijelaskan.
"Tuan, sebelumnya saya minta maaf. Apa akhir-akhir ini ada yang mengganggu pikiran tuan?" tanya Harvey hati-hati yang langsung mendapat tatapan horor dari Nathan.
"Maaf, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Harvey menundukkan wajahnya. Sungguh ia takut Nathan murka dan memecatnya. Pekerjaan ini adalah yang terbaik menurutnya.
"Aku akan mempelajarinya lebih dulu berkas ini. Kau boleh keluar!" ucap Nathan tegas.
"Baik, Tuan. Permisi!"
Nathan kembali meraih ponselnya dan membalas pesan Sheila. Bagaimanapun juga mereka harus saling dukung dalam meraih impian mereka.
Nathan: "Semangat bekerja, sayangku! Jangan lupa makan siang. Love you..."
Di sisi Sheila, kini ia sedang bersama dengan staf dan karyawan yang akan bekerja bersamanya. Danny mengenalkan Sheila pada mereka semua. Namun pastinya semua orang tahu siapa Sheila. Dia adalah putri bos tempat mereka bekerja.
"Jangan sungkan untuk menegur saya jika saya melakukan kesalahan. Saya juga sama seperti kalian. Sama-sama karyawan Pak Adi Jaya," ucap Sheila yang mendapat tawa renyah dari para karyawan.
"Shei, kamu masih ingat Pak Budi?" tanya Danny.
Sheila tersenyum. "Tentu saja. Pak Budi adalah staf kesayangan papa. Aku selalu merepotkannya ketika berkunjung ke perusahaan."
"Saya tidak menyangka jika Nona Sheila sudah sebesar ini. Dulu Nona masih kecil dan suka merengek pada papa Non Sheila. Lalu untuk membuat Non Sheila diam, saya rela jadi kudanya Non Sheila."
Sheila tertawa ketika mendengar cerita masa kecilnya. Ternyata ayahnya memiliki orang-orang yang loyal padanya.
"Lalu, apa Nona sudah punya calon suami?" tanya Budi.
"Heh?!"
Ruang rapat mendadak riuh karena pertanyaan Budi itu. Sheila hanya mengulas senyum manisnya.
"Lihat itu! Ada cincin di jari manis Nona Sheila!" celetuk karyawan bernama Aida.
"Astaga, Aida! Kamu tidak sopan!" lerai Budi.
"Tidak apa, Pak. Saya memang sudah bertunangan," ungkap Sheila.
"Waaah!" Para karyawan wanita dan pria mendadak ikut heboh. Mereka bertanya tentang siapa calon suami dari putri pemilik AJ Grup ini.
Wajah Danny berubah masam saat mendengar Sheila membuka statusnya.
"Siapa orangnya, Nona?" tanya Aida masih penasaran.
Sheila membuka ponselnya dan mencari foto Nathan ketika masih menjadi Tarjo.
"Ini!" Sheila menunjukkan fotonya saat bersama Tarjo.
"Hah?!" Mendadak semua orang menelan ludah melihat pria yang diakui Sheila sebagai kekasihnya. Ya, bagaimanapun juga ia masih enggan membuka hubungannya dengan Nathan ke publik. Terlalu beresiko, pikirnya.
Ketika dua anak dari perusahaan besar menikah, pastinya banyak rumor yang akan mengikuti dibelakangnya. Dan Sheila sangat memahami itu. Berbeda dengan kakaknya yang mendapatkan istri dari kalangan biasa. Juga Boy yang menikahi Aleya, seorang gadis desa pelosok yang bahkan daerahnya tidak tertera di aplikasi gugel maps.
#
#
#
Hari ini baik Nathan maupun Sheila larut dalam kesibukan pekerjaan masing-masing. Meski masih sempat saling bertukar pesan dan juga telepon, tapi untuk bertemu masih belum ada waktu yang pas.
Di malam harinya, Nathan mengendarai mobilnya dan kembali melewati minimarket tempat Celia bekerja. Memang tidak ada jalan lain selain melalui jalur itu untuk menuju ke apartemennya.
Mata Nathan tertuju pada dua orang yang sedang berdebat di depan minimarket itu. Itu adalah Celia dan pria yang kemarin.
"Mas Sandy, tolong jangan ambil uang minimarket! Itu kan uang ayah Mas. Aku harus bertanggung jawab untuk melaporkan setiap transaksi pada orang tua Mas."
"Ah, berisik! Uang orang tuaku adalah uangku juga! Kamu jangan mengaturku!" Pria itu menepis kasar tangan Celia yang memegangi lengannya.
"Ada apa ini?!" tanya Nathan menginterupsi.
Celia membulatkan mata melihat kedatangan Nathan. Sungguh ia tak ingin Nathan melihat kejadian yang memalukan ini.
"Siapa kau?! Jangan ikut campur urusan kami!" bentak Sandy.
"Kau mau uang? Ini! Ambil! Dan jangan ganggu Celia lagi!" Nathan mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang kearah Sandy.
"Wah, orang kaya ya? Mau sok pamer kekayaan?!" Sandy menerima uang dari Nathan yang terlihat lebih menggiurkan, dan melempar uang hasil jualan toko kearah Celia.
"Kau harus jelaskan siapa dia! Kali ini aku ampuni!" ancam Sandy.
"Aku adalah teman Celia. Jika kau butuh uang, hubungi saja aku! Aku akan memberikanmu uang asal kau tidak mengganggu Celia lagi. Bagaimana?!"
Sandy nampak berpikir. "Dia adalah calon istriku, bung."
"Masih calon kan? Sebaiknya batalkan saja rencana pernikahan kalian! Dan biarkan Celia hidup tenang."
"Niel..." Celia menggeleng.
"Kau jangan takut, Celia. Ada aku disini!" Nathan merangkul bahu Celia.
Gadis itu terkejut dengan perlakuan Nathan.
"Pergi dan temui aku besok di kantorku!" perintah Nathan pada Sandy dengan tegas.
Tentu saja Sandy tahu pria seperti apa Nathan ini. Dilihat dari penampilannya yang bukan dari kalangan rakyat biasa. Sandy melenggang pergi dengan mencebik kearah Celia.
Celia nampak memunguti uang yang dilemparkan Sandy tadi.
"Cel, kenapa kamu hanya diam diperlakukan seperti tadi?"
Celia diam dan masuk ke dalam toko. Ia menata uang dan memasukkannya kedalam brankas.
Setelahnya Celia menatap Nathan tajam.
"Tolong jangan ikut campur urusanku, Niel..."
"Kenapa? Bukankah kita masih berteman? Kamu bisa cerita padaku. Mungkin saja aku bisa membantumu."
Celia menghela napas kasar. "Mas Sandy adalah anak pemilik toko ini. Keluarga mas Sandy berjasa pada keluarga yang mengadopsiku. Mereka membayar hutang-hutang milik ayah angkatku. Lalu untuk membalas budi, ibu angkatku menjodohkanku dengan mas Sandy. Dan aku diperbolehkan bekerja di toko ini."
Nathan menatap sendu kearah Celia. Ternyata teman kecilnya ini begitu menderita.
"Aku akan membantumu!"
"Tidak, Niel! Hidupku sudah susah. Aku tidak mau kamu menambah masalah untukku!" tegas Celia.
"Aku akan membantumu, Cel. Bukan menambah masalah untukmu!"
Celia menatap mata Nathan yang nampak serius dengan ucapannya. Entah kenapa berada di dekat Nathan membuatnya lebih tenang. Tapi bagaimana dengan perjodohannya dengan Sandy? Ia tak mungkin membatalkan perjodohan itu.
"Ini kartu namaku! Jika kau butuh bantuanku, hubungi saja aku! Masalah pria bernama Sandy, aku akan mengurusnya!"
Mata Celia berkaca-kaca menerima kartu nama Nathan.
"Terima kasih, Niel..." ucapnya.
#bersambung...
*Ah gimana inihπ΅π΅π΅
Makthor: jangan gitu Nate, nanti pasukan serang kamu loh.
Nathan: percayalah padaku! Tolong percaya padaku!
Makthor: preettt aaaahhh π°π°π°