My Culun CEO

My Culun CEO
#137 - Memikirkanmu, Menyakitiku



Freya tiba di kantor dan langsung menuju ruangannya. Ia menghirup aroma menenangkan yang keluar dari pengharum ruangan dipojok ruangannya.


"Lavender..." gumam Freya.


Ia menatap berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Ternyata Aisha dengan cekatan sudah meletakkan semua berkas yang ia minta disana.


"Huft! Semangat Freya! Kamu pasti bisa!"


Freya menyemangati dirinya sendiri. Ia membuka lembar demi lembar berkas yang ada di mejanya.


Dua jam sudah berlalu dan masih ada beberapa berkas yang harus ia periksa. Entah kenapa ingatannya tertuju pada pertanyaan ibunya mengenai Damian.


"Apa dia sudah sembuh?" gumam Freya tanpa ia sadari.


"Aah ya ampun! Kenapa aku jadi memikirkan dia?" Freya geleng-geleng kepala.


Namun ternyata ingatannya kembali kepada Damian yang mendapat tamparan darinya.


"Apa dia marah karena aku menamparnya? Bahkan dia tidak pernah muncul di hadapanku sejak hari itu."


Freya mulai merasa bersalah. Dia memutuskan untuk keluar dari ruangannya dan menghirup udara segar sejenak.


"Nona mau kemana?"


"Tidak perlu mengikutiku, bang!"


"Tapi, nona..."


"Aku bilang tidak perlu! Aku ingin sendiri!" tegas Freya kemudian berlalu.


Ia menuju ke atap gedung. Rasanya tempat ini sudah jadi tempat favorit Freya untuk menyendiri.


Sunyi terasa disana. Hanya angin sepoi-sepoi yang memainkan rambut Freya yang ia kuncir kuda. Kacamata tebal yang dulu menghiasi wajahnya kini sudah terlepas.


Edo mencarikan dokter mata terbaik agar Freya bisa melihat dengan normal, dan kini berhasil. Wajah Freya terlihat cantik dengan riasan natural yang terlihat disana.


"Jadi tempat ini jadi favorit Nona ketika ingin menyendiri?"


Lagi lagi suara itu membuat Freya mengalihkan perhatian.


"Kamu sendiri? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Freya.


"Itu! Menjemur kain pel, Nona!" Damian menunjuk deretan jemuran kain pel yang ada disana.


"Oh! Aku baru tahu kalau kalian menjemur disini." Freya membuang wajah.


"Omong-omong ... terima kasih atas tehnya waktu itu. Dan juga ... makan siangnya. Lalu ... roti lapis."


"Saya ndak tahu kalau nona bisa sedetail itu mengingatnya." Damian menggaruk kepalanya.


"Aku sudah berniat ingin berterimakasih padamu. Bagaimana kalau makan siang?Aku traktir!"


Dalam hati Damian sangat gembira mendengar ajakan Freya. Tapi, ia tak boleh terlalu mudah untuk dibujuk.


"Emh, bagaimana ya nona? Nanti apa kata orang-orang di kantor kalau nona makan dengan saya?" Damian menundukkan wajahnya.


"Bukan urusan mereka aku mau makan dengan siapa. Iya kan? Kenapa orang-orang suka sekali mengurusi masalah orang lain?"


"Bukankah nona hidup di jaman modern? Pasti semuanya adalah penggunaan teknologi, Nona."


Freya tertawa. "Kamu benar! Lalu, bagaimana caraku untuk berterimakasih padamu?"


"Caranya mudah saja, Nona."


Freya penasaran. "Apa itu?"


"Nona harus mulai melakukan sesuatu sesuai dengan kata hati Nona. Jangan memaksakan diri nona."


Freya terlihat marah. "Apa kamu pikir aku melakukan semua ini tidak dengan hatiku?"


"Ya, bisa jadi. Nona terlalu banyak berpikir. Hingga akhirnya otak nona penuh dengan pemikiran buruk yang tidak bisa nona kendalikan. Nona akan menderita karena perasaan itu."


"Siapa kamu berani bicara seperti itu padaku? Jangan karena kamu sudah memberi perhatian padaku, bukan berarti kamu berhak untuk menilaiku."


Freya pergi dari tempat itu usai mengemukakan kekesalannya.


"Huft! Salah lagi!" Damian mengusap wajahnya.


#


#


#


Freya menemui Edo di ruangannya. Ada hal yang harus ia sampaikan pada abangnya itu dan ini mengenai hal yang pribadi.


"Ada apa, Frey?"


Freya menimang-nimang apa yang akan ia katakan pada kakaknya ini.


"Bisakah abang ... memindahkan bang Vicky ke bagian lain?" ucap Freya ragu.


"Eh?" Edo yang sedang memeriksa pekerjaannya sontak menatap Freya.


"Ada apa? Apa ada masalah denganmu dan Vicky?"


"Bu-bukan begitu, Bang. Aku hanya..."


"Kamu ingin bebas?"


Freya terdiam. Ia bahkan tak sanggup menatap Edo.


"Freya..."


"Mungkin saja, bang..."


Edo menghampiri adiknya dan memegangi kedua bahunya.


"Baiklah. Abang tahu abang sudah keterlaluan dengan menyewa pengawal untukmu."


Freya menarik sudut bibirnya. "Terima kasih, bang. Tapi... Bang Vicky mau abang tempatkan dimana?"


Edo nampak berpikir. "Entahlah. Apa dia punya keahlian lain?"


Edo dan Freya nampak tertawa bersama. Vicky yang menunggu di depan ruangan Edo pun menjadi iri dengan kedekatan mereka. Dulu dirinya juga dekat dengan Freya. Hanya saja ada beberapa hal yang harus ia batasi karena Freya bukan adik kandungnya.


Freya keluar dari ruangan Edo usai bicara dengannya. Freya meminta sedikit waktu untuk bicara dengan Vicky secara pribadi.


Vicky bingung kenapa nonanya ingin bicara secara pribadi.


"Maaf jika aku harus melakukan ini, bang. Aku tidak punya maksud apapun. Kurasa abang akan dipindahkan ke bagian lain." ujar Freya.


"Baiklah. Saya hanya orang suruhan. Saya hanya bisa menuruti perintah saja."


"Bang, tolong jangan salah sangka..."


Vicky tersenyum. "Iya saya tahu. Nona tidak perlu khawatir." Vicky pamit undur diri.


Freya sedikit merasa bersalah. Namun ini adalah yang terbaik. Freya ingin memiliki kehidupannya sendiri.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Freya banyak bekerja hari ini hanya untuk mengalihkan perhatiannya, mengalihkan pikirannya mengenai seseorang.


Mata Freya tiba-tiba tertuju pada berkas yang bertuliskan Ford Company. Gemuruh dihatinya mulai bergejolak walau hanya menatap tulisannya saja.


"Dasar bodoh!" umpat Freya pada berkas di hadapannya.


"Kamu bilang kamu cinta padaku! Tapi mana? Kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar! Dasar brengsek! Kamu sudah mencuri ciuman pertamaku dan sekarang kamu menghilang begitu saja. Bodoh! Bodoh kamu, Damian!"


Buliran bening itu tiba-tiba mengalir begitu saja ke pipi mulus Freya. Dengan cepat ia menghapusnya.


"Tidak! Aku tidak boleh menangis. Aku tidak bisa lemah sekarang!"


Dengan tekad yang kuat Freya berusaha untuk tidak menangis, namun ternyata air matanya malah makin deras keluar.


"Huaaaa! Apa yang harus kulakukan? Alu tidak tahu harus melakukan apa?"


Freya meraung-raung sendirian di kantor yang sudah sepi itu.


#


#


#


"Adikmu belum pulang, Do?" tanya Liliana pada Edo saat makan malam.


"Belum, Ma. Freya bilang dia mau kerja lembur."


"Bilang padanya untuk jangan memaksakan diri..."


"Ma, mama sendiri tahu seperti apa Freya. Dia itu keras kepala. Dia tidak akan mendengarkan aku ataupun mama. Biarkan saja dia menata hatinya. Aku tahu dia sedang gundah."


Liliana mengernyitkan dahi. "Gundah? Gundah kenapa? Apa ini karena..." Liliana menutup mulutnya.


Edo mengangguk. "Urusan hati itu sulit, Ma. Biarkan Freya sendiri yang menyelesaikannya. Kita percayakan saja kepadanya."


Liliana mengangguk paham. "Memangnya bagaimana hubungan Freya dengan Damian?" selidik Liliana.


Edo menggeleng. "Aku tidak tahu. Mereka sudah saling mengenal sebelum dia menjadi Freya."


"Hmm, benarkah? Edo, kamu harus bantu mereka." pinta Liliana.


"Tidak, Ma. Biarkan saja mereka. Biarkan Freya menyelesaikan masalahnya sendiri. Damian juga harus berusaha sendiri untuk mendapatkan cinta dan kepercayaan Freya."


Liliana terdiam. Rasanya ia juga tidak berhak ikut campur dalam urusan hati putrinya.


Freya kembali ke rumah pukul sembilan malam. Liliana hanya menatap Freya yang berjalan menuju kamarnya.


"Dia nampak sangat tidak bersemangat. Matanya juga terlihat sembab. Apa dia baru saja menangis? Putriku yang malang..." gumam Liliana. Sesuai dengan perintah Edo jika dirinya tak berhak untuk ikut campur, maka Liliana pun hanya diam dan masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Freya merebahkan dirinya ke ranjang king size miliknya.


Ia menatap langit-langit kamarnya. Lama ia hanya terdiam hingga akhirnya ia pun memejamkan mata tanpa mengganti pakaian kantornya terlebih dahulu.


Esok paginya, Freya bangun dari mimpi panjangnya. Ia meneliti sekitarnya dan ia menatap dirinya yang masih memakai setelan kerjanya.


"Astaga! Memikirkan Damian sampai segitunya sampai aku lupa untuk ganti baju."


Suara ketukan di pintu kamarnya membuat tersadar.


"Freya!"


"Iya, Ma. Cepat siap-siap lalu turun untuk sarapan, Nak!"


"Iya, Ma. Freya siap-siap dulu."


Ia segera berlari menuju kamar mandi dan membersihkan segala pikiran tentang Damian. Ia berharap bisa melupakan bayang-bayang Damian ketika keluar dari kamar mandi nanti.


#


#


#


Kantor More Trans,


"Frey, nanti gantikan abang untuk meeting dengan Ford Company ya!" ucap Edo.


"Hah?! Ford Company? Emang abang mau kemana?" tanya Freya yang nampaknya ragu untuk bertemu dengan Damian.


"Abang ada janji dengan AJ Grup. Kamu bisa kan?"


"Hah?! I-iya, bang bisa." jawab Freya pada akhirnya.


Dan disinilah Freya sekarang. Duduk menunggu kedatangan perwakilan dari Ford Company di ruang meeting.


"Nona, kenapa wajahnya tegang begitu?" bisik Aisha ke telinga Freya.


"Eh? Tidak, Aisha! Aku biasa saja kok!" Freya berusaha menutupi kegugupannya.


Pintu ruang meeting terbuka. Nampak seseorang memasuki ruangan itu.


"Selamat siang semuanya, maaf saya datang terlambat..."


Mata Freya membola mendengar suara maskulin itu.