
Nathan sedang sarapan bersama dengan keluarga kecilnya. Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu sejak kejadian kelam pernah menimpa rumah tangganya bersama Sheila.
Kini mereka hidup tenang dan damai di rumah utama keluarga Avicenna bersama dengan Lian dan Roy. Sejak kejadian yang menimpa Sheila dulu, Lian lebih protektif terhadap anak dan menantunya.
Tentu saja semua hal yang Lian lakukan adalah untuk kebaikan anak dan menantu juga cucunya. Kenny Giga Avicenna, kini sudah berusia 12 tahun. Pria kecil itu menuruni sifat ayahnya yang cenderung tertutup terhadap orang lain.
"Sayang, habiskan sarapanmu lalu berangkayt ke sekolah," ucap Sheila dengan tersenyum.
Giga hanya mengangguk patuh. Pria kecil berkacamata itu sejak dini sudah disibukkan dengan belajar banyak hal termasuk bisnis. Entah sejak kapan, Nathan merasa jika Karel berusaha menyaingin Giga dalam hal apapun. Dan sebagai seorang ayah yang akan mewariskan bisnisnya kepada Giga, tentu saja Nathan harus melatih Giga agar siap menjadi pewaris di kemudian hari.
"Hari ini kamu ada jadwal untuk belajar dengan paman Harvey. Ingat itu!" ucap Nathan mengingatkan.
Lagi lagi Giga hanya mengangguk patuh.
"Tuan Su, jangan terlalu keras padanya. Dia kan masih anak-anak. Biarkan dia bermain juga dengan teman-temannya." Sheila membela Giga.
Roy dan Lian hanya diam dan tak ingin ikut campur. Satu sisi mereka mendukung Nathan, satu sisi juga mereka mendukung Sheila.
"Tidak apa, Bunda. Aku senang belajar bisnis." Akhirnya Giga ikut menyahut juga.
Sheila menghela napas. "Ya sudah. Tapi jangan lupakan pelajaran sekolahmu. Ini Bunda sudah buatkan bekal untukmu. Makanlah saat jam istirahat."
"Baik, Bunda." Giga beranjak dari duduknya dan berpamitan dengan semua orang yang ada disana.
Sheila mengantar Giga hingga masuk ke dalam mobil.
"Daaah sayang!" Sheila melambaikan tangannya melepas kepergian putra semata wayangnya.
Setelahnya Nathan juga sudah siap untuk pergi ke kantor.
"Sayang, aku pergi dulu!" pamit Nathan dengan mengecup puncak kepala Sheila.
"Iya, hati-hati Tuan Su!" Panggilan itu masih melekat hingga saat ini. Entah kenapa Sheila sangat menyukai panggilan yang ia sematkan untuk Nathan.
Di tempat berbeda, Merlin keluar dari kamar dengan sudah rapi memakai seragam sekolahnya. Ia berniat berpamitan dengan ayahnya untuk pergi ke sekolah. Merlin terbiasa tidak sarapan pagi karena ayahnya memang jarang menyiapkan sarapan pagi. Namun kali ini terasa berbeda.
Merlin menatap meja makan kecil yang tersedia makanan dengan berbagai jenis.
"Apa ini, Pak?" tanya Merlin.
"Ayo sarapan dulu, Nak. Kamu kan harus sekolah dan menggunakan otakmu, maka sebelum berangkat kau harus sarapan dulu."
Merlin mengernyit bingung. "Dari mana Bapak dapat uang untuk beli sarapan?"
"Sudah! Jangan banyak tanya! Bapak ada sedikit uang, ayo makan!"
"Apa uang ini halal?" tanya Merlin lagi.
"Merlin! Bapak melakukan semua ini untukmu! Sudah jangan banyak tanya! Ayo makan saja!"
Merlin mendengus kesal dengan ayahnya yang selalu berbuat seenaknya. Dengan terpaksa ia memakan sedikit makanan yang sudah disiapkan ayahnya oleh ayahnya.
Sepeninggal Merlin yang pergi ke sekolah, Drajat, ayah Merlin segera bersiap untuk melakukan aksinya. Semalam kawan seprofesinya mendatanginya untuk melakukan sebuah misi.
"Culik anak ini! Dan kau akan dapat uang yang banyak. Kau bisa hidup tenang setelah ini!"
Kalimat itu masih terngiang di otak Drajat. Ia harus bisa keluar dari jerat kemiskinan yang selama ini membelenggu. Ia harus membesarkan putrinya sendirian tanpa ada sosok seorang istri disampingnya.
"Ibunya Merlin, percayalah! Aku pasti akan menjaga putri kita dengan baik," ucap Drajat sambil memandangi foto mendiang istrinya.
"Tolong restui jalanku meski ini bukanlah hal yang baik," lanjutnya kemudian keluar dari rumah.
Tiba di sebuah komplek sekolah elit, Drajat dan rekannya mengendap-endap di depan pintu gerbang. Drajat merasa ragu jika dirinya harus melakukan hal ini terlebih di siang bolong seperti hari ini.
"Kau yakin kita bisa melakukannya? Kita bahkan tidak bisa menyentuh halaman sekolah itu. Bagaimana kita bisa melakukan aksi kita?" tanya Drajat kepada rekannya.
Rekannya membisikkan sesuatu ke telinga Drajat. Mata Drajat membola.
"Begitukah? Kau yakin kita berhasil?" tanya Drajat lagi masih ragu. Ia teringat perkataan putrinya yang menginginkan jika dirinya jangan sampai terlibat dengan hal kejahatan lagi.
"Hei! Malah melamun! Cepat bergegas! Sebentar lagi sekolah akan bubar!"
Drajat hanya mengangguk patuh.
"Maafkan bapak, Merlin. Bapak melakukan ini demi kehidupan kita," ucap Drajat dalam hati.
Dengan memantapkan hati terlebih dahulu, Drajat membonceng sepeda motor kawannya dan menunggu di tempat yang sudah disepakati tadi. Mereka berdua akan menghadang mobil dari target penculikan mereka kali ini.
Terjadi kehebohan di rumah utama keluarga Avicenna ketika Agus melaporkan jika Giga baru saja di culik. Dua orang pengendara sepeda motor menghentikan mobilnya dan mengancam dengan senjata.
Agus yang hanya sendiri tak bisa berbuat apapun. Ditambah mereka juga mengambil ponsel milik pria paruh baya itu.
Sheila hanya bisa menangis tersedu ketika lagi lagi keluarga mereka di terpa cobaan setelah sekian lama hidup tenang.
"Kau tenang saja! Aku pasti akan menemukan putra kita!" ucap Nathan meyakinkan Sheila.
Roy juga tak mau tinggal diam. Ia segera mengerahkan orang-orangnya untuk melacak keberadaan Giga. Akan ia tunjukkan seperti apa resikonya jika menyentuh keluarga Avicenna.
Sementara itu di sisi lain, Karel menemui ibunya yang baru saja kembali dari kantor. Wajahnya menunjukkan sebuah kemarahan yang tergambar disana.
"Karel? Sayang, kau belum tidur, Nak? Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Mira ketika bertemu Karel.
"Aku dengar kabar jika Giga di culik."
"Apa?!" Mira terkejut. "Dari mana kau dengar kabar itu, Nak?"
"Hanya tahu saja. Kenapa mama hanya bersikap biasa saja?" Karel berusaha menyelidik.
"Lalu mama harus bagaimana? Mama yakin Nathan dan anak buahnya bisa menemukan Giga. Kau tenang saja, Nak." Mira melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.
"Ini bukan perbuatan mama kan?"
Pertanyaan Karel membuat Mira berbalik badan. Wanita itu menatap putranya.
"Kau ini bicara apa, Nak? Mana mungkin mama melakukan hal murahan seperti itu. Iya kan?"
"Entahlah. Yang aku tahu selama ini mama terlalu terobsesi untuk bisa mengalahkan Om Nathan. Mama ingin mengambil alih Avicenna Grup," sarkas Karel.
"Karel!" Mira menaikkan suaranya. "Berani sekali kau bicara begitu! Mama benar-benar tidak tahu siapa yang menculik Giga. Kenapa kau memojokkan mama?" Mira merasakan hatinya begitu sakit ketika putra semata wayangnya malah memberikan pernyataan sarkas seperti itu padanya.
"Jangan berlebihan! Aku kan hanya bertanya. Jika bukan mama ya sudah. Aku akan ke kamarku. Selamat malam!"
Karel berbalik badan dan meninggalkan Mira.
"Mama melakukan semua ini untukmu, Nak."
Langkah Karel kembali terhenti. "Meski mama melakukan semua ini untukku, tapi kuharap mama tidak bertindak di luar jalur." Karel melanjutkan langkahnya.
Mira memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia memutuskan masuk ke dalam kamarnya juga untuk beristirahat. Mira duduk di tepi tempat tidur.
"Mama harap suatu saat kau akan mengerti, Karel. Jika apa yang mama lakukan hanyalah demi kamu. Hanya kamu!" gumam Mira dengan memandangi foto Karel yang ada di kamarnya.
Merlin begitu terkejut ketika ayahnya pulang dengan membawa seorang bocah lelaki yang terlihat seumuran dengannya. Bocah lelaki berkacamata itu terlihat bukan dari kalangan sembarangan.
Dengan berani Merlin bertanya kepada ayahnya.
"Bapak! Siapa bocah lelaki culun itu?" tanya Merlin sedikit galak.
"Nak, jangan marah-marah dulu. Dia adalah tambang emas kita," jawab Drajat santai.
"Tambang emas? Yang benar saja! Apa yang akan bapak lakukan dengannya?"
"Kita tidak akan melakukan apapun terhadapnya. Tunggu saja kabar dari kawan bapak. Dan selama kita menunggu kita harus menampung bocah culun itu."
Merlin menepuk jidatnya. "Astaga! Bapak menculiknya?!"
"Sssttt! Jangan keras-keras! Kalau dia dengar bagaimana? Sudahlah! Kau harus bantu bapak. Setelah kita dapat uang, kita akan pergi dari sini. Kau mengerti?!"
Merlin kembali ke kamarnya dan melihat bocah lelaki itu sudah terlelap di tempat tidurnya. Merlin mengacak rambutnya.
"Kenapa juga dia harus tidur di kamarku?"
Merlin menghampiri Giga yang sedang terlelap. Ia memperhatikan penampilan Giga.
"Dari seragam sekolahnya, dia bukan seorang murid biasa. Ini adalah seragam sekolah elit. Apa dia orang kaya?" gumam Merlin.