
Damian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bibirnya terus mengulum senyum kala mengingat apa yang baru saja terjadi dengannya dan Freya.
Damian merasa sangat terkejut ketika mendapat serangan dadakan dari Freya. Gadis itu sudah mulai berani menunjukkan perasaannya terhadap Damian.
"Haah! Freya! Kau benar-benar tidak terduga. Bagaimana bisa kau melakukan hal itu di tempat umum? Astaga! Kenapa aku jadi malu begini?" Damian menutup wajahnya dengan bantal.
Malam mulai larut dan sudah seharusnya ia memejamkan mata karena besok dirinya akan mengajak Freya ke rumah lama mereka ketika masih kecil.
Keesokan harinya, Damian sudah siap dengan setelan casualnya. Ia menunggu Freya keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama dengan keluarga Moremans.
Tak lama, Freya keluar dari kamarnya dan mengulas senyum ketika melihat Damian berdiri di depan kamarnya.
"Selamat pagi," sapa Freya.
"Selamat pagi. Kau sudah siap?" tanya Damian.
Freya mengangguk. "Kita sarapan dulu setelah itu kita jalan-jalan. Kau mau membawaku kemana? Apa kau masih ingat jalanan kota ini?"
"Emh, tentu saja aku masih ingat. Semua tentangmu tidak pernah aku lupakan, Freya."
Freya terharu mendengar kalimat Damian. "Terima kasih karena kau tidak pernah melupakan aku. Maaf jika aku masih belum bisa mengingat semuanya."
Damian memeluk Freya. "Tidak apa. Jangan memaksakan dirimu. Aku akan terus menunggu hingga kau bisa mengingatku."
"Terima kasih. Sungguh aku sangat berterimakasih karena kau memiliki cinta yang luar biasa untukku." Freya mengeratkan tubuhnya dengan tubuh Damian.
"Ehem!" Sebuah suara membuat kedua tubuh yang saling menempel itu saling menjauh.
"Abang? Ada apa?" tanya Freya kikuk karena Edo memergokinya berpelukan dengan Damian.
"Papa dan mama sudah menunggu untuk sarapan bersama."
Freya mengangguk. Ia menggenggam tangan Damian dan berjalan bersama menuju meja makan.
#
#
#
Damian mengendarai mobil menuju ke komplek rumah lamanya bersama Freya. Ada rasa cemas dalam hati Freya ketika menuju kesana.
Sungguh ia ingin bisa mengingat memori masa lalunya. Tapi ia juga tidak bisa memaksakan diri untuk mengingat memori yang sudah hilang 15 tahun lalu.
Mobil yang dikendarai Damian berhenti tepat di depan sebuah rumah yang adalah rumah lama Freya dan keluarganya.
"Ayo keluar!" ajak Damian dengan membuka pintu mobil. Ia meraih tangan Freya dan menggenggamnya lembut.
"Ini adalah rumah lamamu. Dan yang di sebelah sana, adalah rumahku."
Freya mengangguk. "Lalu, dimana rumah Rachella?"
Damian berdecih. "Kenapa kau malah bertanya tentang dia?" Damian nampak tak suka dengan pertanyaan Freya.
"Aku hanya ingin tahu saja. Jangan marah!" Freya mengelus rahang Damian untuk menenangkan pria itu.
"Huft! Aku ingin membuatmu mengingat kenangan kita. Tapi kau malah membahas wanita lain. Aku kesal!" rajuk Damian.
"Apa ini? Sejak kapan Damian Ford jadi tukang merajuk seperti ini?" goda Freya dengan memeluk Damian dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya itu.
"Jangan marah! Aku hanya ingin tahu seperti apa masa lalumu bersama dengan teman kecilmu itu," ucap Freya dengan suara manjanya.
Damian terkekeh melihat Freya yang biasanya ketus dan datar, kini berubah menjadi gadis manja yang merajuk padanya.
"Baiklah! Aku tidak marah. Aku tidak akan bisa marah padamu." Damian merangkum wajah Freya dan mengecup bibirnya singkat.
"Sekarang, ayo tunjukkan dimana rumahmu!" ajak Freya berjalan meninggalkan Damian di belakang.
Damian menggeleng pelan dan mengikuti langkah Freya. Ia mulai bercerita tentang masa kecilnya saat tinggal disana.
Freya sangat tertarik dengan cerita Damian. Ia menatap pria itu lekat. Entah kenapa cerita Damian mulai membuatnya hanyut dalam memori masa lalu juga.
Usai bercerita tentang masa lalu, Damian mengajak Freya untuk makan siang terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah. Besok mereka harus terbang ke Paris untuk menemui Jonathan dan meminta restu darinya.
Dalam perjalanan menuju ke sebuah resto yang dulu menjadi langganan Damian dan Edo, tiba-tiba ada sebuah truk besar yang melintas dan membuat Damian terpaksa menginjak pedal rem mendadak.
"Damian, awas!" pekik Freya sambil menutup mata dan telinganya.
Damian membanting stir dan membuat mobil oleng lalu menabrak pembatas jalan.
"Kyaaaaa!" teriak Freya. Dan setelahnya semua terasa gelap bagi gadis itu. Freya tak sadarkan diri.
Dengan sisa-sisa tenaganya Damian mencoba tetap sadar dan memanggil nama Freya.
#
#
#
Di rumah sakit, anggota keluarga Moremans menunggu kabar tentang kondisi Freya yang masih diperiksa oleh dokter. Sementara Damian juga masih dalam pemeriksaan dokter meski hanya mengalami luka ringan.
Edo mondar mandir di depan ruang IGD karena sangat khawatir dengan kondisi Freya. Rizka berusaha menenangkan suaminya. Rizka yakin jika Freya pasti akan baik-baik saja.
Setelah menunggu beberapa lama, seorang dokter datang menemui keluarga Freya yang sedari tadi menunggunya.
"Dokter, bagaimana kondisi putriku?" tanya Liliana yang cemas dan panik juga air mata yang mengalir sejak tadi.
"Kondisi nona Freya baik-baik saja. Ia hanya mengalami benturan di kepalanya. Luka ringan di lengan dan kaki. Selebihnya semua baik. Semoga saja dia akan segera siuman. Kalau begitu aku permisi dulu."
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih." Liliana mengucap terima kasih berulang kali kepada sang dokter.
Laurent memeluk Liliana dan membawanya menuju kamar perawatan Freya. Damian juga tak mau ketinggalan. Ia juga ikut masuk kesana.
Damian sangat menyesal atas apa yang terjadi dengan Freya. Ia sampai bersimpuh di depan Liliana dan Laurent.
"Tidak, Nak. Kau jangan seperti ini. Dokter bilang Freya akan baik-baik saja. Kau jangan khawatir," ucap Liliana menenangkan Damian yang sudah meraung menangis.
"Damian..." lirih Freya.
Semua orang yang ada disana sangat terkejut dengan suara lirih Freya.
"Damian..."
Damian mengusap air matanya. Ia segera berdiri dan menghampiri Freya.
"Freya! Kau baik-baik saja?" tanya Damian dengan mengusap kepala Freya lembut.
"Damian..."
"Iya, ini aku!"
"Aku ... sudah ingat semuanya. Aku ingat semua tentangmu."
Damian mencium kening Freya dalam dan lama.
"Terima kasih, sayang..." ucap Damian sambil berkaca-kaca.
Freya memejamkan mata sejenak. Kondisinya masih lemah setelah mengalami kecelakaan tadi.
"Sayang..." panggil Liliana yang membuat Damian menyingkir sejenak.
"Mama..."
"Bagaimana kondisimu?"
"Baik, Ma. Aku merasa sangat baik. Aku sudah ingat semuanya. Aku ingat tentang keluarga kita."
Liliana memeluk Freya yang masih terbaring lemah.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena kau sudah mengembalikan putriku. Terima kasih banyak."
"Papa, Bang Edo..." lirih Freya. Keluarga Moremans akhirnya bisa berkumpul kembali dengan situasi yang cukup mengharukan.
#
#
#
Tiga hari kemudian,
Kondisi Freya sudah membaik dan sudah diperbolehkan pulang. Rencana mereka untuk ke Paris dua hari lalu akhirnya tertunda dan malah membuat Jonathan yang datang menemui Freya.
"Om senang kau sudah mengingat semuanya," ucap Jonathan.
"Terima kasih, Om."
"Damian, Ayah memberimu restu untuk kalian. Segeralah menikah dan hidup bahagia. Freya, kau ingin menikah dimana? Disini atau..."
Freya tersipu malu. "Aku ingin menikah di Indonesia saja, Om. Semua teman-temanku ada disana."
"Aku akan mewujudkan apapun keinginan Freya, Ayah," sahut Damian.
Freya menatap Damian dengan penuh rasa syukur. Kini ia sudah yakin jika Damian adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untuknya.