My Culun CEO

My Culun CEO
#173 - Aku Menginginkanmu



Ozzan Dewangga, pria genius berusia 35 tahun yang memiliki sifat pendiam namun menghanyutkan. Sejak kecil dirinya dituntut untuk tampil sempurna di depan banyak orang hingga membuatnya bisa sukses sebagai dokter ahli jantung yang diakui dunia. Berkat kemampuannya yang genius, Ozzan berhasil berkarir di Amerika sebagai dokter jantung termuda.


Seumur hidupnya tak pernah merasakan jatuh cinta karena kesehariannya di isi dengan pekerjaan dan terus belajar. Hingga hari itu, ia bertemu dengan Sheila yang datang mengantar ayahnya berobat ke rumah sakit tempatnya bekerja berkat rekomendasi dari Boy dan Dion, kawan lamanya.


Sebuah getaran berbeda dirasakan Ozzan ketika berada di dekat wanita itu. Namun sebuah kenyataan membuatnya terpuruk ketika mengetahui jika Sheila telah menikah.


Ego dalam diri Oz membuatnya menjadi seorang psikopat yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Oz sangat cerdas dalam meracik obat-obatan. Namun hal positif itu ia gunakan untuk mencapai tujuan yang buruk, yaitu mendapatkan Sheila.


Sheila adalah cinta pertamanya. Oz membayangkan jika saja Sheila belum menikah, pasti ia akan mengejar wanita itu hingga mendapatkannya. Tapi sepertinya obsesi Oz makin besar akan Sheila ketika Adi Jaya dinyatakan sudah pulih dan di perbolehkan pulang.


Oz tidak rela jika harus kehilangan senyum indah Sheila. Oz tidak bisa kehilangan Sheila dengan cara seperti ini. Sebuah ide jahat muncul dalam otaknya ketika menonton film yang menceritakan tentang rekayasa sebuah kasus kematian.


Senyum Oz mengembang dan dia akan melakukan seperti apa yang ada dalam film meski agak sedikit berbeda karena Oz sedikit memanipulasinya. Oz membuat sebuah obat yang diklaimnya sebagai vitamin.


Efek obatnya tidak akan langsung terasa dalam waktu singkat, namun harus dengan jangka waktu yang cukup panjang. Tubuh Sheila yang sebelumnya begitu sehat dan bugar, mulai melemah karena efek obat yang diminumnya. Hal yang sama juga ia lakukan terhadap Adi Jaya agar pria tua itu tetap berada di rumah sakit.


Setelah hampir tiga tahun meminumnya, Sheila mulai merasa tubuhnya sering lelah. Lambat laun tubuhnya melemah dan tidak bisa melakukan aktifitas hingga akhirnya Sheila dinyatakan lumpuh.


Oz terus memantau perkembangan Sheila yang di rawat di rumah sakit. Senyum mengukir di bibirnya ketika semua rencananya berjalan dengan lancar. Sheila dinyatakan meninggal karena denyut nadi dan jantungnya menghilang.


#


#


#


Sheila membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Oz. Meninggal? Bagaimana bisa? Sementara dirinya kini masih hidup dan bernapas.


Sheila mencoba mengingat semua memori yang terjadi dengannya. Ya, ia ingat jika dirinya mulai sakit-sakitan. Tapi ia sendiri tidak sadar jika dirinya sampai dinyatakan meninggal.


Oz menunjukkan foto-foto dimana Sheila dinyatakan meninggal dan keluarga besarnya membawa jasadnya ke pemakaman. Sheila menggeleng kuat. Tubuh lemahnya tak bisa melawan karena masih dalam masa pemulihan.


Sheila hanya bisa menangis membayangkan kesedihan keluarganya karena kehilangan dirinya. Oz mencium kening Sheila dan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Oz.


"Kenapa kau lakukan ini, Dokter?" tanya Sheila di tengah isakannya.


"Kenapa aku melakukannya?" Oz mengulang pertanyaan Sheila sambil menghapus air mata di pipi Sheila.


Istri Nathan itu segera menepis tangan Oz. Saat ini ia sangat muak dengan kebaikan yang coba di tunjukkan oleh Oz. Semua kebaikan yang pernah ia tunjukkan ternyata hanya sebuah kepalsuan.


"Aku menginginkanmu, Sheila. Aku ingin kau menjadi milikku satu-satunya!" seru Oz.


Sheila kembali menggeleng. "Kau gila, Dokter! Aku sudah menikah dan memiliki anak. Aku hanya mencintai suamiku!"


"DIAM!" bentak Oz. "Jangan mengatakan hal apapun di depanku atau aku akan menghancurkan suamimu!"


Oz berlalu dari kamar itu menyisakan Sheila yang masih terisak dengan tubuh lemahnya. Sheila akan mencari cara untuk bisa melarikan diri dari Oz.


#


#


#


Ozzan tidak lagi berhubungan dengan keluarganya sejak pergi ke Amerika 10 tahun lalu. Dan itu membuat Nathan kesusahan untuk menemukan jejaknya.


Namun Nathan tidak akan menyerah. Ia menyadap seluruh rekaman kamera pengawas yang ada di bandara. Ia meneliti satu persatu nama penumpang yang datang ke Indonesia tiga hari sebelum Sheila dinyatakan meninggal.


Dan benar saja, rekaman kamera pengawas memperlihatkan wajah Oz yang tertangkap kamera. Dia datang sendiri. Itu artinya dia tidak memiliki anak buah disini. Atau juga dia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.


"Kurang ajar! Pria ini benar-benar membuatku ingin membunuhnya!" sungut Nathan.


Boy menenangkan Nathan yang sudah tersulut emosi.


"Kita harus bisa menangkapnya secara senbunyi-sembunyi, Nate. Jika tidak, bisa saja dia membawa Sheila pergi dari sini."


Nathan berusaha pasrah dan akan mengikuti anjuran kakaknya.


Sementara itu di tempat berbeda, Hendra melapor pada Mira mengenai informasi penting yang baru saja ia dapatkan.


"Ada apa, Hendra?" tanya Mira yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah kematian suaminya, kini ia harus mengambil alih perusahaan.


"Nyonya, saya punya kabar yang cukup mengejutkan."


Mira menatap Hendra. "Apa itu?"


"Saya baru saja mendapat kabar dari orang kepercayaan saya jika Nyonya Sheila masih hidup."


Mira tertegun sejenak. "Apa katamu?! Sheila istrinya Nathan masih hidup?" Mira tertawa kecil. "Itu sangat tidak masuk akal. Bukankah jasadnya sudah terkubur?"


"Iya, Nyonya. Orang kepercayaan saya tidak mungkin salah."


Mira berpikir sejenak. Ia tahu jika Hendra tidak akan sembarangan memberi informasi.


"Jadi, keluarga itu masih menyembunyikan fakta ini?" tanya Mira.


"Iya, Nyonya. Mereka masih mencari keberadaan penculik nyonya Sheila."


Mira mengusap dagunya. "Ini menarik, Hendra." Mira menatap Hendra dengan penuh arti.


"Kerahkan semua anak buahmu untuk mendapat informasi mengenai Sheila. Apa kau dapat info mengenai penculiknya?"


"Mereka mengindikasi seorang dokter bernama Ozzan Dewangga sebagai pelaku penculikan nyonya Sheila."


Mira menarik sudut bibirnya. "Baiklah. Kita temukan orang ini sebelum mereka. Mungkin saja kita bisa memanfaatkan dia untuk membalas semua rasa sakit yang dirasakan keluargaku. Dandy Avicenna dan keturunannya tidak seharusnya hidup bahagia seperti sekarang!" ucap Mira penuh amarah.


Hendra hanya diam mendengarkan kemarahan nyonyanya. Ia tahu kembalinya Mira kemari karena ingin membalas sakit hatinya terhadap keluarga Avicenna yang adalah juga keluarga mendiang suaminya.


"Kau tahu, posisi Nathan Avicenna harusnya menjadi milik mas Devan. Tapi sayang, dia meninggal lebih dulu sebelum bisa meraih posisinya. Maka sekarang, aku akan pastikan Karel, putraku yang akan jadi pewaris Avicenna Grup selanjutnya. Aku akan merebut semuanya dari mereka! Putraku adalah orang yang berhak untuk mewarisi Avicenna Grup!" ucap Mira dengan berapi-api.


"Cepat kerahkan seluruh anak buahmu dan temukan pria bernama Ozzan itu!" perintah Mira yang langsung di angguki oleh Hendra.


"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi!" Hendra membungkuk hormat kemudian keluar dari ruangan Mira.


"Kalian semua! Tunggu pembalasan dariku! Sudah cukup kalian hidup dalam kesenangan, saatnya kalian menerima hukumannya!" gumam Mira dengan mengepalkan tangan.