My Culun CEO

My Culun CEO
Last Honeymoon - Surprise



Sheila membuka matanya di pagi hari dan merasakan hati yang bergembira. Padahal kegiatan yang dimulai dari sore hari itu sudah sering ia lakukan bersama Nathan. Tapi hatinya selalu berdebar ketika merasakan sentuhan Nathan pada tubuhnya.


Sheila melihat pria disampingnya yang masih terlelap. Ini adalah hari terakhirnya di Thailand dan besok mereka sudah harus kembali ke tanah air.


Sheila berajak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Ia melirik Nathan lagi yang sepertinya masih sangat kelelahan.


"Hmm, ya sudah. Aku mandi dulu saja sendiri. Sejak kemarin kak Danny mengirimiku banyak email. Tapi tidak kubalas karena takut Nathan marah," batin Sheila lalu menutup pintu kamar mandi dengan hati-hati dan pelan.


Dua puluh menit kemudian, Sheila keluar dengan memakai dress rumahan dan rambut yang masih basah yang digulung handuk ke atas. Sheila mengambil tablet pintarnya dan mengecek email yang dikirimkan Danny padanya.


Sheila mengernyit karena Danny mengabarkan jika pertemuan dengan Ford Company terpaksa harus di undur karena menunggu Sheila kembali pulang.


"Hmm, kenapa juga harus menungguku?" gumam Sheila.


Sheila membaca ulang berkas kerjasama dengan Ford Company. Sheila ingin tahu seperti apa profil orang yang akan bekerjasama dengannya.


"Damian Ford? Namanya seperti tidak asing. Pernah dengar dimana ya?" Sheila mengusap dagunya.


Saat hendak mencari di internet, tiba-tiba Sheila dikejutkan dengan kehadiran Nathan yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Shei, kamu sedang apa?" tanya Nathan dengan suara seraknya.


"Hah?! Ti-tidak ada! Kamu sudah bangun?" Sheila segera meletakkan tablet pintarnya dan menghampiri Nathan.


"Kamu sudah mandi? Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Nathan membelai wajah Sheila.


"Aku lihat kamu sangat lelah. Aku tidak tega membangunkanmu, Tuan Su."


Nathan tersenyum. "Baiklah, Nyonya Nathan. Ini adalah hari terakhir kita disini. Kita mau kemana hari ini?"


"Emh... Kita pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi saja." usul Sheila.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan mandi dulu saja."


Sheila mengangguk. Ia memperhatikan Nathan yang berjalan menuju kamar mandi.


"Huft! Untung saja dia tidak tahu kalau aku mengecek pekerjaanku. Bisa gawat nanti kalau sampai Tuan Su tahu mengenai ini."


Meski takut Nathan akan kecewa jika dirinya mengecek email dari Danny, namun Sheila masih penasaran dengan sosok Damian Ford. Sheila kembali meraih tablet pintarnya dan ingin melanjutkan pencariannya di internet.


"Yah! Baterainya habis!" Sheila merengut. Ia mencari kabel charger tabletnya namun tidak ditemukan.


"Ah iya, ponsel!" Sheila meraih ponselnya dan akan berselancar di intenet. Namun sedetik kemudian...


"Ah, tidak perlu! Lagipula tidak penting juga." gumam Sheila.


Karena asik dengan pikirannya, Sheila tak menyadari jika Nathan sudah keluar dari kamar mandi.


"Sayang... Kamu belum ganti baju?"


"Hah?!" Sheila menoleh. "Eh? Tuan Su? Sudah selesai mandinya. Aku akan siapkan baju ganti untukmu!"


Sheila segera beranjak dan menuju koper milik Nathan. Ternyata butuh waktu yang cukup lama untuk Sheila mengambil baju ganti untuk Nathan hingga pria itu akhirnya datang dan berkacak pinggang.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Kenapa lama sekali?" tanya Nathan heran.


"Hehe, maaf Tuan Su. Aku sedang memilihkan dresscode yang pas untukmu hari ini!" ucap Sheila santai.


"Ada apa sih?" gumam Nathan. Ia baru ingat jika Sheila memintanya untuk berdandan kembali seperti Tarjo saat mereka pergi nanti.


"Jangan bilang kalau kamu memintaku untuk jadi Tarjo lagi?" tanya Nathan menebak.


Sheila manggut-manggut sambil Menatap Nathan.


"Astaga, Sheila!" Nathan menepuk dahinya.


#


#


#


Setelah berkutat dengan mendandani Nathan, akhirnya Sheila tersenyum puas dengan hasil karyanya.


Nathan kembali menjadi pria culun dengan penampilan aneh dan gigi tonggosnya.


"Shei, kenapa harus pakai kumis palsu segala?" tanya Nathan yang merasa tidak nyaman dengan rambut aneh di bawah area hidungnya.


Sheila malah terkekeh geli. "Sudahlah, Tuan Su. Yang penting aku menyukainya. Ayo!"


Sepanjang perjalanan, banyak yang menatap Nathan dengan tatapan aneh. Karena memang dia juga merasa jika penampilannya sangat aneh.


"Shei, apa kamu tidak risih di tatap oleh orang-orang itu? Mereka berpikir jika aku yang culun ini bisa mendapatkan gadis cantik sepertimu," bisik Nathan.


"Haha, biarkan saja. Yang penting para gadis tidak mengagumimu. Bahkan rasanya mereka kini menatapmu tak suka!" jawab Sheila senang.


Nathan hanya bisa menghela napas saja. Demi menyenangkan hati sang istri, Nathan rela melakukan apapun.


Nathan berhenti berjalan.


"Ada apa?" Tanya Sheila.


"Aku sangat mencintaimu, Shei. Jadi, jangan pernah meragukan itu."


Sheila tersenyum. "Iya, aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu."


Nathan merangkum wajah Sheila. Mata mereka saling beradu diantara banyaknya orang yang ada disana. Nathan mencium bibir Sheila dengan lembut.


Sheila memejamkan matanya ketika bibir mereka terus beradu tak peduli dengan orang sekitar yang melihatnya. Dunia seakan hanya milik mereka berdua saja.


#


#


#


Nathan dan Sheila sudah kembali ke tanah air. Hari ini Nathan harus berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk di kantornya.


Sementara Sheila masih libur dan agendanya hari ini adalah mengunjungi rumah keluarganya dan juga rumah mertuanya. Ia ingin membagikan oleh-oleh yang sudah dibelinya disana.


Setelah mengunjungi dua rumah itu, Sheila berkunjung ke rumah Naina. Ada Vania disana meski Naina sedang ada di kantornya. Sheila meminta Naina untuk pulang cepat hari ini agar mereka bisa bertemu dan saling bercerita.


"Kamu sudah melamar kerja dimana saja?" tanya Sheila ketika Vania membawa secangkir teh untuk Sheila.


"Ada beberapa perusahaan, Kak. Tapi sepertinya yang ada harapan adalah Ford Company." jawab Vania.


"Hah?! Ford Company? Wah, kamu sangat hebat. Bukankah itu adalah perusahaan besar?" Sheila mulai antusias.


"Iya, Kak. Besok aku ada panggilan kerja untuk wawancara."


"Wah, semoga kamu beruntung ya! Omong-omong kenapa Naina belum pulang juga? Aku harus kembali karena suamiku sebentar lagi juga pulang."


"Biasanya sih sebentar lagi. Tapi kalau Kak Sheila mau pulang dulu, nanti kusampaikan pada Kak Naina saja oleh-oleh dari kakak."


"Emh, baiklah. Aku tidak ingin ketika suamiku pulang aku malah belum dirumah. Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Vania."


Sheila berpamitan dan langsung menuju pulang ke apartemen Nathan.


#


#


#


Keesokan harinya, Sheila sudah bersiap untuk kembali bekerja seperti hari hari biasanya. Dan hari ini Sheila memiliki agenda meeting dengan pihak Ford Company.


Sebelumnya, Dannya menjelaskan dengan detil berkas yang diberikan oleh Rangga. Sheila mulai memahami seluk beluk dunia bisnis yang di geluti ayah dan kakaknya selama ini.


"Sebenarnya aku masih tidak yakin sih, Kak. Tapi mau bagaimana lagi? Kak Rangga sangat ingin aku menangani proyek ini." ucap Sheila sambil membolak balik berkas milik Ford Company.


Kini Sheila dan Danny sudah berada di ruang rapat menunggu kedatangan perwakilan dari Ford Company.


Pintu ruang rapat dibuka, Sheila berdiri menyambut kedatangan calon rekan kerjanya.


Seorang pria tampan berwajah manis dan ramah muncul bersama dengan satu pria lainnya yang adalah asistennya.


"Hah?! Kau!" tunjuk pria itu pada Sheila.


"Akhirnya kutemukan juga! Kau bilang kau ingin bertanggung jawab, tapi sampai sekarang tidak ada kabar apapun darimu! Sekarang, aku menagih janjimu!" ucap pria itu menghampiri Sheila dan berhadapan dengannya yang masih bingung dengan situasi yang sedang terjadi.


Danny menghampiri Sheila dan berbisik padanya.


"Dia adalah Damian Ford, Shei. Dia CEO Ford Company."


"Hah?!" Sheila menatap Danny tak percaya dan kini menatap Damian yang tersenyum manis padanya.


#bersambung