My Culun CEO

My Culun CEO
#162 - Karena Aku Cinta



Freya membuka matanya di pagi hari dengan hati yang gembira. Entah kenapa ia setuju untuk memulai kisahnya kembali bersama Damian.


Meski masih ada sedikit keraguan, namun sebisa mungkin mereka akan memperbaiki apa yang pernah retak. Freya melirik jam dinding di kamarnya.


Sebuah ketukan di pintu membuat Freya harus beranjak dari tempat tidur.


"Ada apa, Aish?" tanya Freya dengan mata yang menyipit ketika diambang pintu.


"Apa hari ini Nona akan berangkat ke kantor?" tanya Aisha ragu. Pasalnya sudah tiga hari Freya menyerahkan semuanya pada Aisha. Gadis itu mulai kewalahan jika harus menangani semua pekerjaan sendiri.


Freya mengangguk. "Iya, aku akan ke kantor."


Jawaban Freya membuat Aisha bernapas lega. "Terima kasih, Nona."


"Aku yang harusnya berterimakasih karena kau sudah membantuku dan tetap berada di sisiku."


Aisha tersenyum. "Sudah seharusnya itu jadi tugasku, Nona. Sekarang Nona bersiap saja dulu. Aku akan menyiapkan sarapan."


Freya mengangguk. Memiliki seorang Aisha dalam hidupnya, adalah sebuah anugerah untuk Freya. Ia sangat bersyukur dengan kehadiran Aisha dalam hidupnya.


Tak ingin membuat Aisha menunggu lama, Freya segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia juga membantu Aisha untuk menyiapkan sarapan mereka berdua. Setidaknya Freya membantu dalam membuat secangkir kopi.


#


#


#


Freya tiba di kantor Ya Consultant dan melihat sosok yang sudah membuatnya kehilangan semangat hidup selama beberapa hari ini.


"Nona Freya!" seru seorang pria tua yang beberapa hari lalu mengerahkan massa untuk mendemo kantor milik Freya.


"Tuan Yassar? Ada perlu apa lagi Anda datang kemari? Apa Anda ingin merusuh lagi disini?" tanya Freya dingin.


Yassar menggeleng kuat. "Tidak, Nona! Saya datang kemari karena ingin meminta maaf. Saya bersalah! Saya akan menebus kesalahan saya kepada Nona! Tolong maafkan saya, Nona!"


Freya menatap Aisha lalu menatap Yassar. Aisha mengedikkan bahunya. Ia juga tidak tahu kenapa Yassar berbuat seperti ini.


"Saya sudah membersihkan nama perusahaan Nona. Jadi, tolong maafkan saya." Yassar memohon dan berlutut di hadapan Freya.


Freya melotot melihat Yassar yang bersimpuh di depannya.


"Tuan Yassar! Apa yang Anda lakukan? Jangan seperti ini!" seru Freya tak suka dengan sikap Yassar yang terlalu berlebihan.


"Tidak, Nona! Saya tidak akan bangun sebelum Nona memaafkan saya!" kekeh Yassar.


Freya menghela napas kasar. Ia memejamkan matanya sejenak.


"Baiklah. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang bangunlah!" ucap Freya.


Wajah Yassar sudah ketakutan karena mengira Freya tidak akan memaafkannya. Namun ternyata ia salah. Ia menyeka keringat dan air matanya yang entah itu palsu atau asli.


"Sekarang pergilah! Dan jangan pernah menampakkan wajah Anda lagi disini!" tegas Freya.


"Baik, Nona. Sekali lagi terima kasih."


Yassar berlalu dari hadapan Freya dan Aisha. Freya menatap kepergian Yassar dengan berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya.


"Aisha, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa si tua bangka itu tiba-tiba meminta maaf?" tanya Freya yang sebenarnya ingin marah-marah di depan Yassar, tapi ternyata tidak bisa. Ia tidak setega itu memarahi orang yang lebih tua.


"Aku juga tidak tahu, Nona. Tapi ... tunggu sebentar!"


Tak ingin membuat spekulasi untuk masalah yang sedang terjadi, Aisha segera membuka ponselnya dan mencari tahu berita apa yang sedang booming di dunia maya.


Aisha mempertajam matanya untuk melihat setiap berita yang sedang trending.


"Woah!" Aisha menutup mulutnya.


"Lihat ini, Nona!" Aisha memperlihatkan layar ponselnya pada Freya.


Berita trending topic kali ini adalah klarfikasi Yassar mengenai pencemaran nama baik yang dilakukan olehnya terhadap Freya Moremans.


Freya mendesah pelan. "Jadi, dia sudah meminta maaf di depan media dan kini dia juga meminta maaf padaku?"


Aisha menatap Freya dengan sendu. Ia kasihan terhadap Freya karena mendapat banyak tekanan karena ulah Yassar.


"Nona! Sekarang tidak perlu cemas lagi. Masalah ini sudah selesai. Bagaimana kalau kita liburan? Tidak perlu yang jauh. Kita ke puncak saja. Bagaimana?"


Freya menatap Aisha. Ia sangat bersyukur dengan kehadiran Aisha di sisinya.


"Jadi, Nona setuju?" tanya Aisha dengan wajah berbinar.


Freya mengangguk mantap. "Iya, aku setuju, Aish. Mari kita liburan sejenak!" seru Freya bersemangat.


#


#


#


Dan disinilah Freya sekarang, dengan udara dingin yang menemani, ia datang liburan bersama Aisha. Freya menghirup udara sejuk khas pegunungan.


Aisha menyewa sebuah villa untuk mereka tinggali selama beberapa hari di puncak. Aisha juga menyiapkan sebuah kejutan indah untuk Freya di tempat ini.


Freya menuju ke balkon kamar dan merasakan hembusan hawa dingin yang menerpa wajahnya.


"Haaah! Rasanya menenangkan sekali!" gumam Freya.


Freya memejamkan matanya sejenak lalu membuka mata kala merasakan dua buah tangan melingkar di pinggangnya. Ia menoleh dan melihat seseorang yang selalu membuatnya berdebar setiap saat.


"Hah?! Damian? Kau disini?" Freya sangat terkejut melihat kehadiran Damian disana.


Damian hanya memberikan sebuah senyuman untuk membalas keterkejutan Freya.


"Apa ini? Apa kau bekerja sama dengan Aisha untuk merencanakan ini?"


Damian tersenyum penuh makna.


"Apa sih? Apa artinya senyum ini, hah?!" tanya Freya sedikit kesal karena Damian masih diam.


"Aku tidak bisa berkata-kata. Bahkan bisa melihatmu saat ini masih tidak terasa nyata bagiku."


Pernyataan Damian membuat wajah Freya memerah.


"Apa maksudnya itu?" tanya Freya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucap Damian dengan memakaikan syal di leher Freya.


"Kemana?"


"Ke bukit sebelah sana. Udaranya dingin. Kau harus merawat dirimu dengan baik. Kulihat kau bertambah kurus setelah tiga tahun tidak melihatmu."


"Bagaimana kau tahu?"


"Aku tahu saat memelukmu tadi. Tubuhmu terasa kurus."


"Aku banyak bekerja dan memikirkan banyak hal agar perusahaan berjalan dengan lancar."


Damian memeluk Freya. "Jangan terlalu keras dalam bekerja. Kau sudah berusaha semaksimal mungkin, jadi jangan memaksakan diri lagi."


Mata Freya berkaca-kaca. Ia mengingat bagaimana dirinya harus mengesampingkan perasaan demi egonya untuk bisa mandiri di hadapan semua orang.


"Maafkan aku..." lirih Freya.


"Hei, kenapa meminta maaf?"


"Aku banyak bersalah dengan hubungan ini. Aku ... melakukan semua ini karena aku mencintaimu."


Damian menghela napas. "Baiklah. Kurasa aku tidak perlu membawamu ke bukit karena suasananya sudah emosional disini."


Freya mengernyit heran. Damian yang melihat Freya berkaca-kaca segera menenangkan gadis itu agar tidak menangis.


"Mari kita menikah, Freya..."


Kalimat itu akhirnya kembali meluncur dari bibir Damian. Sebenarnya ia masih takut jika Freya kembali menolaknya.


"Kau bisa bersandar padaku jika kau mengalami kesulitan."


Freya terdiam. Lagi dan lagi dia kembali diam setelah mendengar kalimat lamaran Damian.


"Freya! Kau bilang kau mencintaiku. Bisakah kau menerimaku kali ini?" tanya Damian dengan wajah yang sudah cemas.


Freya berpikir sejenak. Ia menghela napas lalu menatap Damian.


"Damian, aku..."