
"Gimana buka urusan gue, gegara elu gue diusir dari kamar, " sahut Marcell.
"Kasian, gue pikir lu diusir dari rumah, " sahut Angga tertawa.
"Emang lu kesini cuma mau main doang?" tanya Marcell.
"Yah engga sih... gue juga pengen tau alasan lu putus sama Rara, gara-gara nih bocah, gue berantem sama Dinda, " sahut Angga.
"Alasannya ini adalah hukuman yang pantas pagi seorang playgirl, " sahut Agung.
"Alah gue masih gak percaya sama omongan lu itu, " sahut Angga.
"Yak gue juga bodoamat, kalian mau percaya mau engga juga, " sahut Agung.
"Apa alasan yang sebenarnya?" tanya Angga.
"........... "
"Nah kan gak bisa jawab, pasti ada alasan lain lu putusin Rara, " sahut Marcell.
"Jawab, " sahut Angga menyenggol badan Agung hingga terjatuh.
"Iya iya, gue itu merasa sakit hati sama kelakuan Rara, " sahut Agung.
"Nah kan jujur, " sahut Marcell siap mendengar kan.
"Sakit hati gimana maksud lu?" tanya Marcell.
"Masa iya, gue mau main ke rumah nya gak di bolehin dengan alasan ada abang gue, nanti lu mati di taekwondo sama dia, " sahut Agung.
Marcell dan Angga terdiam mendengar nama abang Rara. Angga menepuk bahu Agung pelan.
"Masih mending lu gak di perbolehin sama Rara, Rara sayang sama nyawa lu, " sahut Angga.
"Hah? Maksud lu?" tanya Agung bingung.
Marcell memegang wajah Agung dan memutarnya untuk menghadap wajah Marcell. "Lu harus berterimakasih sama Rara... dia masih sayang sama nyawa lu, " sahut Marcell.
Agung yang mendengar ucapan Angga dan Marcell menjadi semakin bingung.
"Maksud ucapan kalian apaan sih? Gue sama sekali gak ngerti, " sahut Agung.
"Jadi gini... Abangnya Rara itu ahli taekwondo, dia gak suka kalo adik kesayangan nya deket sama laki-laki lain, " sahut Angga.
"Pless dia juga anti kalo Rara dapet pacar, apalagi kalo sampe Rara ngasih tau kalo lu sama Rara udah putus, " lanjut Marcell.
"Emang kenapa?" tanya Agung mematikan TV nya.
"Gue aja sampe di kira mantan nya Rara, waktu gue mau jemput Nanda, " sahut Marcell.
"Sama gue di kira mantan pacar Rara, sampe gue di suntik, " sahut Angga.
"Disuntik pake apaa?" tanya Agung.
"Pake obeng, " jawab Angga.
"Memang sudah gila Rara punya abang, " sahut Marcell berjalan ke meja belajar Agung.
"Nah iya bener, lu mau balikan sama Rara, atau sudah cukup sampai di sini?" tanya Angga serius.
"Gue.. gue sebenarnya masih sayang sama Rara, cuma gue... " sahut Agung tak bisa menyelesaikan perkataan nya.
"Gue apa?" tanya Marcell membaca novel milik Agung.
"Gue takut kalo sampe di suntik pake obeng, " sahut Agung dengan ekspresi wajah ngeri.
"Adduuhh... "
"Ck. Cuma di suntik doang, " sahut Marcell.
"Lu mah enak gak di suntik dulu lah gue... udah mah pake obeng, gue di teriakin kayak maling, " sahut Angga.
"Sama siapa?" tanya Agung.
"Astagfirullah... " gumam Angga dan Marcell yang tak percaya dengan satu temannya ini.
"Dari tadi kita lagi ngebicarain abang nya Rara... bang toriq... " sahut Angga greget.
Gimana cara jelasin nya? Ini anak emang harus test telinga, - batin Marcell.
"Gue gak ngeh, " sahut Agung singkat.
"Tuh telinga lu terbuat dari apa sih? Susah amat dah kalo di jelasin secara detail, " sahut Marcell kesal.
"Dari sabut kelapa, " jawab Agung.
Tok... tok.. tok...
Pandangan mereka beralih ke arah pintu yang terus di ketok oleh seseorang dari luar.
"Masuk, " sahut Agung.
cklekk..
Ternyata ibu tiri Agung yang membawa beberapa buah, makanan ringan dan juga minuman. Wanita itu berjalan secara perlahan ke arah mereka bertiga, dan menyajikan dengan sangat hati-hati.
"Ini silahkan, " sahut Tante sofi.
"Ibu, kalo di depan aku gak usah terlalu feminim, " sahut Agung.
"Nggak papa kok nak, ibu suka kalo ibu ini feminim kan ayah kamu suka, " sahut ibu sofi.
"Terserah lah, " sahut Agung.
Tante sofi pamit keluar dan menutup pintu. Agung hanya melihat nya dari bawah.
"Masalah soal bapak lu masih belum kelar?" tanya Marcell. Agung hanya mengangguk.
"Mau nya bapak lu itu apa sih gung? Gue semakin liat ibu tiri lu terasa tersiksa gitu, " sahut Angga.
"Mana gue tau, gue mau nyari tau, ehh udah ketahuan sama bodyguard nya bokap gue, " sahut Agung sambil meminum jus buatan ibu tiri nya.
"Sekarang dimana ibu kandung lu gung?" tanya Angga.
"Dia ada di vila, " sahut Agung.
"Iya, maksud nya vila di daerah mana? Kan keluarga lu itu kaya, " tanya Angga.
"Di garut, kalo di tasikmalaya sama yang di bandung itu milik bokap gue, sedangkan emak kandung gue cuma bisa beli vila satu, itupun di garut, " jelas Agung.
"Gue ikut prihatin sama keadaan keluarga lu gung, " sahut Marcell.
"Iya iya.. btw kalian bakal di sini terus sampe pagi?" tanya Agung.
"Ehh iya... emak gue pasti marah besar ini... " sahut Angga mencari-cari kunci motor nya.
Marcell melirik jam di kamar Agung, dan jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Marcell segera pamit pulang bersamaan dengan Angga.
"Gue pulang duluan, " pamit Angga.
"Iya gue juga sama, " sahut Marcell.
"Jangan lupa cell, kasih gue ponakan yang banyak, " sahut Agung.
"Gue sama Nanda masih belum siap, " sahut Marcell.
"Anj*y, kapan pun lu siap gue pasti bakal terus mendampingi mu sampai akhir, " sahut Angga.
"Apaan si, " sahut Agung merasa gelay.
"N*jis, " sahut Marcell singkat dan segera melajukan motor nya.
Disusul oleh Angga dari belakang hingga mereka pisah jalan. Marcell lurus sedangkan Angga belok kanan.
Kok tiba-tiba perasan gue jadi gak enak gini.. berasa gak akan ada yang nyambut gue di rumah, ahh mana mungkin, ini cuma perasaan doang, - batin Marcell.
Jalanan sudah sepi karna sudah jam satu lewat. Hanya ada 2-3 motor yang masih ada di jalan itu pun dengan kecepatan tinggi.
Awalnya Marcell ingin pulang tapi nggak jadi karna perasaan nya semakin buruk dan akhirnya Marcell pergi ke cafe tempat dia berbisnis.
Cafe 24 jam milik Marcell. Di bangun sejak usia nya menginjak 14 thn dan sampai sekarang. Secara bertahap telah berkembang pesat. Dan kini sudah terkenal se-Jakarta.
Marcell berhenti di tempat parkir, masih banyak motor dan mobil milik pegawai nya di sana. Sambil melihat ke sekitar, masih banyak anak-anak muda di bawah umur maupun di atas umur 18 thn masih ada di cafe itu.
Para pelayan semakin sibuk karna ini adalah satu-satunya cafe 24 jam yang ada di jakarta. sehingga Marcell harus membagi sif malam dan juga siang kepada para pegawainya.
Gaji mereka cukup besar, dalam sebulan Marcell menggaji mereka sebesar Rp. 5.000.000/perbulan. Bagaimana tidak keluarga Marcell begitu kaya dan rumahnya juga seperti rumah Sultan.
Banyak orang lain yang ingin bekerja di cafe itu tapi Marcell tak membutuhkan pegawai tambahan. Baginya adalah dia bisa mencukupi hidup Nanda dengan kemewahan dan juga bagi dirinya sendiri.