My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Seseorang-ketemu



Sudah setengah jam mereka semua berada di atas motor, tapi mereka masih belum menemukan jalan atau pun gedung.


Ihsan tiba-tiba berhenti di jalan yang dipenuhi oleh kabut dan kurang pencahayaan, seperti jalanan horor.


"Gue berhenti di sini aja sama Dinda, " sahut Rara turun dari motor Agung.


"Kenapa lu takut?" tanya Agung.


Rara hanya mengangguk pelan dan menghampiri Dinda yang masih berada dia atas motor. Lalu Rara menarik tangan Dinda menyuruhnya untuk segara turun dan menemaninya.


"Kalian pergi aja, gue sama Rara tunggu disini, " sahut Dinda.


"Kalian berdua mau di culik juga?!" tanya Angga.


"Gak mau lah, " sahut Dinda.


"Yah kali kita mau di culik, " sahut Rara.


"Yang ada tuh penculik dah pingsan duluan, " sahut Dinda.


"Napa bisa?" tanya Lukman.


"Udah di tendang masa depannya, " sahut Rara.


"Aww, gue gak mau macem-macem lagi sama mereka, takot, " sahut Lukman menyerah.


"Dua orang laki-laki tinggal di sini, temenin mereka berdua, " sahut Ihsan.


Angga memakirkan motornya dan turun untuk menemani Dinda dan Rara. Begitupun dengan Lukman yang juga ikut turun.


"Lu gak mau tawuran?" tanya Ihsan heran.


"Gak ah, kalo gue ikut, nanti Angga bisa celaka, masa dia ngelindungin dua perempuan sendirian, " jelas Lukman.


"Yak udah kalo gitu, maju, " sahut Marcell.


Ihsan, Agung, Marcell segera pergi ke arah jalanan berkabut itu dengan cepat. Sebenarnya mereka bertiga juga takut, tapi apa boleh buat.


"Cell berhenti dulu, gue gak bisa liat apa-apa, " teriak Agung berhenti sejenak.


Marcell yang melihat lampu motor belakang Agung tiba-tiba berhenti, juga ikut berhenti bersama Ihsan.


"Napa lu berhenti?" tanya Marcell.


"Gue gak bisa liat apa-apa gegara kabut, " sahut Agung.


"Terus, masa kita berhenti di tengah jalan?" tanya Ihsan.


"Lu aja yang maju duluan sana, liat makin kesini makin tebal aja kabut nya... " sahut Agung.


"Jangan berantem!!" sahut Marcell tegas.


Ajaibnya mereka berhenti bertengkar dan mulai diam.


"Biar gue coba banjur pake air, " sahut Ihsan membuka bagasi motornya dan mengambil air. Lalu Ihsan segera menyiram kabut itu dengan air.


Kabut pun mulai berkurang, dan terlibat lah sebuah jalan *** dan juga gedung **** . Saat Agung melihat ke sekitar.


"Kita cuma muter-muter aja?!!" teriak Agung.


"Lah itu Rara sama Dinda, terus sama yang lain juga!!" tunjuk Ihsan.


"Astagfirullah... " gumam Marcell kelelahan.


"Jadi sadari tadi kita cuma muter-muter doang?!!" tanya Agung.


"Tapi kenapa mereka gak ngasih tau kalo sadari tadi kita cuma muter-muter?" tanya Ihsan keheranan.


"Kan tadi kabut nya tebel, jadi mereka juga gak liat kita, lu liat mereka duduk gak di situ, atau motor Lukman sama Angga yang terparkir di situ?" tanya Marcell.


"Kagak, " jawab Agung.


"Yah udah, gak usah komen, " sahut Marcell kesal.


"Oke kita samperin mereka, " sahut Ihsan.


Rara dkk bingung kenapa mereka ada di dekat sini, bahkan saat mereka menjelaskan semuanya, mereka semakin bingung. Tanpa berpikir panjang, sekarang mereka semua segara pergi ke jalan *** dan gedung tersebut karna ponsel Nanda masih ada di sana.


.


.


.


.


.


Saat mereka sampai di gedung.


Agung sudah mempersiapkan otot-otot nya untuk menghukum siapa pun yang telah berani menculik Nanda.


"Biar gue aja yang buka, " sahut Lukman.


BRAKK....


Lukman mendobrak pintu yang sangat tebal itu dengan sekali tendang.


"Wahh, jago juga lu, " sahut Agung kagum.


"Udah diem, serius!!" sahut Lukman mulai serius.


Marcell dkk masuk ke dalam dengan hati-hati dan mulai menyalakan senter di ponsel.


Prok... Prok... Prok...


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan, seperti banyak orang yang sudah menunggu mereka semua. Dan mereka semua menunjukan dirinya di hadapan mereka.


Dengan segara Marcell dkk siaga, dan siap untuk menyerang mereka, karena mereka membawa senjata.


"Kalian berani banget datang ke sini!!" sahut seseorang.


"Nanda? Oh si gadis cantik itu yah... dia ada di sini... "


"Dimana dia sekarang?!" tanya Dinda.


"Aduh neng, jangan galak-galak, saya jadi pengen makan deh... "


"Lu jangan berani-berani nyentuh cewek yang ada di sini yah!!" ancam Angga.


Angga dan Agung berada di depan Rara dan Dinda untuk melindungi mereka. Tapi Dinda dan Rara menolak, dan maju ke depan.


"Kalahin kita dulu baru kalian semua bisa ketemu sama si eneng cantik, di sana, "


"Ayok kalo gitu, maju!!" teriak Ihsan yang sudah tidak tahan ingin segera tawuran bersama preman-preman itu.


Mereka langsung saja maju tanpa perhitungan, dan saling tonjok menonjok, saling tendang bahkan saling menendang masa depan. Itu Rara sama Dinda.


"Cell, lu sana cari Nanda, biar kita aja yang lawan mereka!!" teriak Lukman.


Marcell langsung saja berlari secepat mungkin, menuju ruangan di depan. Untungnya dia anak basket dan juga sering joging pagi, jadi dia sudah terbiasa.


BRAK...


"NANDA!!" Teriak Marcell ketika dia sudah masuk.


Marcell melihat seorang wanita yang di ikat dari tangan hingga kaki, dan mulutnya di tutupi oleh kain.


"Nanda!!"


Marcell segera menghampiri Nanda dan melepaskannya semua ikatan yang ada di sekeliling tubuh Nanda.


"Nanda!! sadar ndak!!" ucap Marcell berusaha membangunkan Nanda yang pingsan.


Nanda perlahan-lahan mulai membuka mata, dan melihat seorang pria yang ada di depannya.


"Mar--cell---" ucap Nanda berbata-bata.


"Iya Nanda, ini gue Marcell suami lu, gue bakal. keluarin lu dari sini, " sahut Marcell, mulai menggendong Nanda dan di bawa keluar.


Marcell merasakan ada yang aneh, kenapa mereka cuma di kasih penjagaan di depan saja, tapi di tempat Nanda tidak ada?


Saat Marcell sudah berada di depan, Marcell melihat semua orang yang menghalangi nya sudah diikat pingsan.


"Nanda!!" teriak Rara berlari.


"Lu kenapa bisa sampe kayak gini sih ndak?!" ucap Dinda menangis.


"Udah yank jangan nangis, yang penting Nanda sudah balik, " sahut Angga menenangkan Dinda.


"Udah panggil polisi?" tanya Marcell.


"Udah, mobil lu di bawa sama sopir lu, " sahut Lukman.


"Oke thanks, " sahut Marcell.


Setelah beberapa menit kemudian polisi beserta mobil pribadi Marcell akhirnya datang.


Polisi mulai menginterogasi mereka yang terlibat. Sedangkan Marcell dkk membawa Nanda ke rumah sakit menggunakan mobil, dan yang lain menggunakan motor.


"Gue telpon dulu orangtua mereka, " ucap Rara.


"Iya, telpon sekarang kita semua menuju rumah sakit Pradirta, " sahut Agung setuju.


...****************...


Di kediaman Nanda.


Mamah Nanda masih menangis di dalam kamar.


"Udah bu... sabar, pasti nanti Nanda ketemu.. " ucap Bunga Marcell berusaha menenangkan.


"Mau gimana saya gak tenang... hiks... hiks... saya khawatir sama Nanda.... hiks... "


"Iya bu, saya juga khawatir sama Nanda... "


"Yah, mana Marcell?!" teriak Bunda.


"Marcell tiba-tiba ilang bund gak tau dimana, " sahut Ayah.


"Terus dia kemana? Nanda udah ilang masa anak kita juga ilang sih yah?!!" teriak Bunda histeris.


Tring.... Tring.... Tring....


Ponsel Mamah Nanda tiba-tiba berbunyi dan Bunda segera mengangkat nya.


: Hallo?


🗣️ : Hallo Tante, ini sama Rara temennya Nanda...


: Iya, ada apa?


🗣️ : Nanda udah ketemu Tante, sekarang kita menuju rumah sakit Pradirta...


: Alhamdulillah... Iya makasih yah Ra... kita sekarang menuju ke sana,


🗣️ : Iya Tante sama-sama...


Mamah Nanda yang mendengar mulai penasaran.


"Siapa jeng?" tanya mamah Nanda.


"Alhamdulillah jeng, Nanda udah ketemu sama Marcell katanya... " jawab Bunda.


"Alhamdulillah, sekarang mereka dimana?" tanya Mamah senang.


"Kita sekarang menuju rumah sakit Pradirta!!" teriak Bunda.


Tiba-tiba semua orang yang mendengar langsung berangkat ke mobil dan melupakan semua drama tadi sore.