
BRAKK..
"Nanda my love for you guys are sick vs when girls cut they hair tonic!!" teriak Putri.
"Ngomong apaan tuh bocah?" tanya Rara
"Mana gue tau, " sahut Dinda.
Mereka bertiga masuk ke dalam kamar Nanda. Terlihat di sana hanya ada seorang gadis yang sedang duduk di meja rias.
"Oy, udah kale bengong nya, " ucap Rara.
Nanda yang tersentak kaget segera menengok ke sebelah kiri. Di sana ada tiga orang gadis yang Nanda rindukan.
"Kalian?!" tanya Nanda kaget. Segera berdiri dan berjalan perlahan ke arah mereka.
"Udah dong, masa pengganti nangis?! Gak seru ahh, " sahut Putri manyun bebek.
"Ahahaa.. Enggak kok siapa juga yang nangiss, " sahut Nanda tersenyum.
"Aahhh, kangen Nanda, " sahut Dinda memeluk Nanda.
Tanpa segan-segan Nanda pun membalas pelukan Dinda yang semakin erat.
"Eehh, kok berdua aja.. gue ikut dong, " sahut Rara ikut memeluk mereka berdua.
"Idiiee, gak di ajak ae gue, " sahut Putri cemberut dan memeluk sahabat nya.
Pelukan mereka semakin erat saja karena rasa rindu yang amat besar.
"Oi, udah udah.. engap!" teriak Dinda yang terjepit.
Sontak Rara dan Putri pun melepaskan pelukan mereka. "Haah.. haah.. Gilek gue hampir mati, " sahut Dinda menarik napas.
"Ahahaa.. Sorry, siapa sangka pelukan kita kenceng tadi, " sahut Rara.
"Idihh, itu mah elu aja yang meluk nya kenceng, " sahut Putri.
"Lah kok gue? Kan elu yang meluk kita paling terakhir, " sahut Rara tak mau kalah debat.
"Tapi kan... "
"Woi, woi... Udah dong jangan berantem mulu.. Capek nih gue denger kalian berantem, " potong Nanda menjadi penengah.
"Kalo mau berantem di luar, ini kamar pengantin, " sahut Dinda.
Rara dan Putri tiba-tiba terdiam. "Udah udah, gimana kalo sekarang kita main di kamar, mumpung Ihsan, Agung, Angga, Lukman belum ngejemput, " sahut Dinda.
"Nah ide bagus itu, tapi main apa?" tanya Rara.
"Lu punya permainan apaan ndak?" tanya Putri.
"Semua kotak permainan gue di rumah satu nya lagi, di sini ada buku, " sahut Nanda.
"Kalo di ruangan itu?" tanya Rara sambil menunjuk ke arah pintu perpustakaan.
"Di sana ada buku, " jawab Nanda.
"Alamak buku!! maaf kan aku buku, ku sedang males baca kamu, nanti aja yah, " sahut Rara.
"Hahaha,, lu mah hampir setiap hari kagak baca buku, " sahut Dinda.
"Eehh, sembarangan... tapi emang Iyah sih, " sahut Rara.
Mereka semua tertawa. "Di kamar Fauzan ada apa aja?" tanya Dinda.
"Kenapa lu naksir sama Fauzan?" tanya Rara.
"Gue bilangin lu ke Angga, " ancam Putri.
"Kalo gue naksir sama kamar nya kenapa?" sahut Dinda dengan nada meninggi.
"Wahh, put ini mah harus di bilangin sama Angga ini mah, " sahut Rara.
"Iya--" sahut Putri tidak melanjutkan omongan nya.
Mereka akhirnya tersadar kalo Dinda barusan hanya naksir ke kamar Fauzan bukan ke orang nya.
"Apa? Ya udah sana katanya mau bilangin ke ayank gue, ya udah silahkan gue gak ngelarang kok, " sahut Dinda.
"Gak jadi, " sahut Rara.
"Iyah gak jadi, " sahut Putri
"Kenapa?" tanya Dinda heran
"Gak papa, " sahut Rara buang muka.
"Mm, " gumam Putri.
Mereka hanya duduk tak ada kegiatan lain selain duduk. Rara yang hanya melihat-lihat komputer milik Marcell yang ada di meja belajar.
"Ini gak ada permainan nya? Bosen kale jadi Marcell, " sahut Rara kesal.
"Eh, lu main komputer orang, gak akan di marahin lu?" tanya Dinda.
"Alah, gak papa kale, istri nya kagak keberatan gue main apa aja, " sahut Rara.
Putri hanya geleng-geleng kepalanya pelan. "Bosen iihh, gak ada kerjaan lain apa? Ndakk lu gak bosen di kamar mulu? Kali-kali main lah ke jalan, " sahut Dinda.
"Mau ngapain main ke jalan?" tanya Nanda fokus ke hape nya.
"Kali-kali lu jadi pengemis di jalan, " sahut Rara.
"Enak aja, buat apa gue nikah sama orang kayak kalo ujung-ujungnya gue jadi pengemis, " sahut Nanda.
"Hahah, bener-bener , " sahut Putri.
"Tumben lu bener nj*rr biasanya juga lu suka ngecapruk ke mana ae, " sahut Rara.
"Tapi gue bener lho, gue bosen di kamar mulu, keluar kuy, " ajak Dinda.
"Kuy, " sahut Putri siap.
"Hayuu ahh, bosen gue liat komputer Marcell semuanya tentang bisnis, " sahut Rara berdiri.
"Bisnis jualan gorengan, " jawab Nanda asal.
"Yang bener ege, gue serius, " sahut Dinda.
"Ahaha.. Canda canda.. Lu tau lah dia usaha nya apaan, " sahut Nanda berdiri dari kasur dan menguncir rambut nya.
"Yuk keluar, " sahut Putri membuka pintu.
Cklekk..
"Weiiitss... Setan!!" teriak Putri kaget melihat sosok putih di depan nya.
"Anj"yy kuntilanak, " teriak seorang lelaki yang sama-sama kaget.
Mereka bertiga pun menyusul Putri. "Apaan put?" tanya Nanda.
"Siapa?" tanya Rara.
Ternyata itu Fauzan Alfarizky adik Marcell. "Fauzan? Kapan lu balek?" tanya Nanda.
"Baru aja, eh mana kakak?" tanya Fauzan.
"Dia lagi di GOR nyiapin pesta pernikahan, " sahut Rara.
"Ooh, apa kabar kakak-kakak yang cantik? Mm?" tanya Fauzan dengan ala-ala cowok cool.
"Kyaa... Ini baru adik idaman, " teriak Rara dan Putri.
"Alhamdulillah baik, " jawab Nanda.
"Gue juga baik, eh, kamar lu masih sama kan? Gak berubah?" tanya Dinda.
"Masih kok kenapa? Oohh mau main ke kamar gue? Ayoo lah, " sahut Fauzan.
"Aaahhh, ayoo... Dari pada gabut di kamar Marcell, mending ke kamar Fauzan, " sahut Dinda senang.
Meraka berjalan ke kamar Fauzan yang tak jauh dari kamar Marcell dan Nanda.
"Hey, kalian berdua kuntilanak, mau ikut gak?" tanya Nanda melihat Rara dan Putri yang masih teriak-teriak gak jelas.
"Aaahhh, kalo aja Fauzan itu adik gue!!" teriak Putri.
"Semoga nanti abang gue bisa berubah kalo ketemu sama Fauzan, " sahut Rara.
"Harapan yang tak berguna, " gumam Nanda.
"Oi, mau ikut gak?!!" teriak Nanda.
"Ikut!!" teriak meraka berdua dengan keras.
"Kalem, gak usah teriak, telinga gue masih sehat, " sahut Nanda.
"Ya udah ayoo, ngapain diem-dieman di situ, mau jadi kunti lu?" sahut Rara kepada Putri yang masih terdiam seperti sedang menunggu seseorang.
"Heh, sembarangan lu kalo ngomong, masa iya gue yang cantik, putih, dan anggun ini di sama-samain sama kunti, " sahut Putri kesal.
"Lu putih?" tanya Rara.
"Iya, " jawab Putri.
"Lu anggun?" tanya Rara.
"Iye kenapa?" tanya Putri.
"Mirip sama kunti anj*rt, " teriak Fauzan.
"Tuh mirip sama kunti katanya, berarti bukan salah gue ya, gue gak bilang lu kunti tapi Fauzan, "
"Kyaaaa, gak papa gue di bilang kunti sama Fauzan yang ganteng kagak ngapa ngapa demi alex, " teriak Putri.
Rara hanya geleng-geleng kepala, "Haahh... Ihsan gue do'akan semoga lu nyari cewek lain yang lebih baik dari pada cewek gila ini... " doa Rara.
"Heh!! Sembarangan kalo ngomong.. Tarik gak omongan lu!! Gue takut jadi kejadian!!" teriak Putri.
"Gak mau, masih untung gue do'ain Ihsan yang terbaik, "
"Aaahhh!! Tarik kembali ucapan lu itu!!"
"Gak mau!!"
"Woi!! Kalian jin titisan neraka sama si maling kue di dapur, cepetan masuk atau gue teriakin nih ya, kalo Putri yang nyolong kue di dapur, " ancam Dinda.
"Ahh iya iya, " sahut mereka berdua pasrah.
"Gilek kita di ancam, " sahut Rara.
"Si pendiem mulai aktif, "
"Setan nya mungkin bangun, "
"Bisa jadi, "
Blam..
"Ehh bentar!! Kita belum masuk!! Jangan di kunci!!" teriak Rara berlari ke arah pintu kamar Fauzan yang baru saja di tutup.
"Buka nggak buka nggak, atau gue tendang nih pintu, " sahut Putri siap-siap menendang pintu.
"Sipp put, ayo tunjukin mana tendang taekwondo lu!! selama bertahun-tahun berlatih ayoo tunjukin!!" teriak Rara.
"Hah.. Hah.. Siap-siap nih ya.. Siaaahh!!" sahut Putri sudah siap.
Saat Putri melayangkan tendang nya tiba-tiba pintu terbuka, kaki Putri tersandung kaki Rara dan siapa sangka mereka berdua terjatuh tepat di depan Nanda.
Gedubrakk..
"Aahh, apa ini taekwondo macam apa ini?! Gak seruu!!" teriak Rara.
"Berisik lu setan!!" teriak Putri berusaha bangun.
"Masuk.. Masuk!!" sahut Rara.
Pintu kamar Fauzan pun kembali tertutup setelah meraka semua ada di dalam.