My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Kedatangan keluarga Arquela



"Aduhhh jadi degdegan ini.. " sahut Sella dari belakang.


"Sabar jeng sabar.. tarik napas dalam-dalam terus keluarin lewat mulut, " sahut Shera.


"Huuhh.. oke bissmillah, " sahut Sella.


"Semoga pengadilan ini berjalan lancar, dan semua orang bisa hidup bahagia selamanya, " sahut Patmi.


"Amiin.. "


"Aminnn.. "


Sesampainya mereka semua di Pengadilan Kelas 1-A Jakarta Selatan. Pak Endi segera turun bersamaan dengan Bagas.


Di depan gerbang sana sudah ada Bu Ikne dan juga beberapa polisi yang sudah menunggu. Pak Budi berjalan ke arah bu Ikne.


"Bagaimana dengan hakim nya? apa dia sifaj datang?" tanya Pak Budi.


"Sebentar lagi dia datang, bersabarlah, " jawab Bu Ikne.


Pak Budi hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian Sofi turun dari mobil Ryan dan berjalan ke arah Patmi.


"Bagaimana dengan Pak Herman. ia masih tidur?" tanya Patmi.


"Iyah, dia masih tidur, tapi tenang saja, ada banyak bodynya Bagas yang sedang menjaganya, " sahut Sofi.


Beberapa menit kemudian, akhirnya datang juga mobil seseorang yang akan menjadi hakim di pengadilan ini.


"Datang juga, " gumam Bagas kesal karena lama menunggu.


Pria yang di dalam nya pun keluar dan dia sudah memakai baju layaknya seorang hakim, dia tak sendiri ada beberapa seorang wanita dan juga seorang gadis berjalan di belakang pria itu.


"Kita masuk sekarang, " sahut pria itu.


"Siapa itu?" tanya Ryan.


"Dia adalah Andre Arquela ayah dari Caca Arquela, " sahut Bagas.


Tiba-tiba mereka kaget mendengar nama Arquela. "Yang bener aja Bagas? ini.. dia ini.. hakim pengadilan terkenal.. keluarga Arquela?!" tanya Ryan kaget.


Bagas hanya mengangguk. "Tolong semua nya jangan berisik, Bagas tolong beri berkas itu kepada saya, saya akan mulai membaca nya, dan kalian semua silahkan tunggu di dalam, " sahut Pak Andre Arquela ayah dari Caca Arquela.


"Baik, " sahut mereka semua.


Bagas membawa beberapa berkas yang penting dan memberikan nya kepada Pak Andre untuk di baca dan di pahami kejadian nya.


Mereka semua sudah masuk ke dalam gedung pengadilan itu dengan rasa penasaran, khawatir, dan ingin segera mengetahui kebenarannya, bercampur aduk menjadi satu.


Pak Andre, Bagas, Pak Endi dan Pak Budi seperti sedang membicarakan sesuatu di belakang sana.


"Gede juga yah, tempat nya, " sahut Ikne.


"Iyalah, udah pasti, " sahut Patmi.


"Euuhh, ini mah selalu hadir di pengadilan, " sahut Shera tak aneh lagi.


"Iyalah, " sahut Patmi bangga.


"Kenapa selalu datang ke pengadilan, kamu Patmi selalu terlibat korupsi sama suami kamu?" tanya Ryan gak ada akhlak.


"Dasar.. udah tua jangan suka bercanda.. " sahut Patmi.


"Dikit-dikit lah bercanda sebentar, biar gak tegang, " sahut Ryan.


"Hemm, " sahut Sella.


Setelah selesai membicarakan sesuatu, Pak Andre duduk di tempat nya menjadi ketua hakim, sedangkan istri Pak Andre menjadi wakil dan Caca sebagai saksi bersama Melodi.


Seharusnya di saja juga ada Mila tapi sayang Mila sedang tidak bisa di hubungi sama sekali, walau sebentar lagi ulangan bagi mereka, tetap saja mereka wajib mengetahui yang sebenarnya.


"Mari kita mulai.. eee, Pak Endi... mana Pak Herman?" tanya Pak Andre.


"Eh, ssyuutt Bagas.. mana Pak Herman?" bisik Pak Endi kepada Bagas.


"Mm? Oh iya saya lupa.. bawa Pak Herman masuk, " sahut Bagas menyuruh salah satu bodyguard nya.


"Baik, " sahut bodyguard Bagas.


Sudah lama mereka tunggu bodyguard Bagas untuk membawa Pak Herman masuk ke dalam gedung pengadilan agama ini, tapi sampai sekarang satu pun bodyguard Bagas tak datang-datang.


Pak Budi melihat jam tangan nya, "Ini sudah tiga puluh menit, tapi ini mana?" gumam Pak Budi.


"Pak, maaf, tapi ini dari tadi kemana yah Pak Herman? kok belum masuk-masuk?" tanya Pak Andre.


"Maaf Pak Andre, saya juga kurang tau, " sahut Pak Endi.


"Biar saya cek ke depan Pak, " sahut Bagas turun tangan.


BRAKK..


"Maaf Pak saya lancang masuk ke dalam tanpa permisi!! Pak Herman tidak ada di dalam mobil pak!!" teriak salah satu bodyguard Bagas.


Brakk...


Bagas memukul meja, "Apa?! bagaimana bisa?!" tanya Bagas.


"Kami sudah mencari kemana-mana tapi entah kemana Pak Herman melarikan diri Pak, maaf, "


"Sudah, kerahkan semua bodyguard untuk mencari Pak Herman, " perintah Bagas.


"Baik, "


"Aarrgghh.. padahal ini udah hampir dekatt.. kenapa malah jadi gini?!" gumam Bagas kesal.


"Kenapa ini bisa terjadi?! bukannya obat bius itu lama?!" tanya Pak Endi kepada Bagas.


"Seharusnya begitu, obat bius itu bertahan selama enam jam, " sahut Bagas sama-sama bingung.


"Dan ini baru empat jam, seharusnya masih ada waktu dua jam lagi, sebelum Pak Herman sadar, " sahut Pak Budi.


Caca dan melodi menghampiri Bagas. "Bagaimana ini Bagas?" tanya Caca.


"Saya juga gak tau, " sahut Bagas.


Ikner berdiri dan memerintah beberapa polisi untuk membantu bodyguard Bagas mencari Pak Herman.


Beberapa polisi mulai keluar dari gedung untuk mencari Pak Herman yang entah bersembunyi di mana.


Bagas, Pak Endi, Pak Budi merasa ada ya b tak beres. Mereka bertiga mencurigai Sofi yang memberiku obat bius itu kepada Pak Herman.


Tapi itu gak mungkin, mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri, kalo Sofi sudah menyuntik Pak Herman di tangan nya.


"Pak, apa mungkin, " sahut Bagas melihat Sofi.


"Nggak mungkin, tadi kita lihat sendiri kan kalo Sofi langsung menyuntik Pak Herman langsung di depan kita, " sahut Pak Endi.


"Iyah si Pak, tapi kan.. bapak tau kalo Tante Sofi masih gak percaya sama kita tentang kebenaran itu, " sahut Bagas masih curiga sama Sofi.


Pak Endi terdiam mendengar nya dan tak bisa berbuat apa-apa jika Sofi memang masih belum percaya kepada mereka semua.


"Pak Endi, Pak Budi, jadi ini bagaimana dengan pengadilan nya?" tanya Pak Andre.


"Saya juga tidak tahu Pak, saya sendiri juga bingung, bagaimana bisa Pak Herman melarikan diri? padahal obat bius nya masih bekerja, " sahut Pak Budi bingung.


Shera, Patmi, Sella, dan Ryan mencurigai Sofi yang hanya diam saja mendengar Pak Herman berhasil melarikan diri, seharusnya dia khawatir, kaget atau apa gitu.


"Sofi.. apa kamu masih belum percaya sama kami semua yang sudah lama menunggu kesempatan ini untuk membuktikan kalau Herman ini bersalah?" tanya Ryan memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa maksud kamu?!" tanya Sofi kaget mendengar pertanyaan itu.


"Maaf, tapi maksud Ryan, apa kamu butuh bukti atau apa pun itu untuk membuktikan kalo Pak Herman ini bersalah?" tanya Patmi.


"Nggak, " sahut Sofi.


"Biasalah aja lah neng, gak usah ngegas, " sahut Ryan.


"Syuutt.. Ryan, " sahut Sella menyenggol tangan Ryan.


"Maaf, " sahut Ryan.


"Maaf, aku butuh udara segara, aku permisi keluar sebentar, " sahut Sofi segera bangun dari duduk nya dan berjalan keluar.


"Kenapa Sofi jadi gini?" tanya Sella.


"Saya juga gak tau Sella, " sahut Patmi.


"Aku pikir Sofi gak mau melepas Agung untuk beberapa hari ke depan, " sahut Sella.


"Bisa jadi begitu, " sahut Shera.


Sementara ibu-ibu sedang ngegosip bapak-bapak masih kebingungan harus bagaimana, apa pengadilan ini harus di lanjut kan atau di berhentilah sementara waktu sampai Pak Herman di temukan.