My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Komentar pedas



"Ra, sekarang jam berapa sih?" tanya Nanda.


"Jam 11.04 kenapa emangnya?" tanya Rara.


"Udah lewat lebih 4 menit masih aja belum istirahat, " gerutu Nanda kesal.


"Iya juga sih, harusnya udah istrinya 4 menit yang lalu, ini mah harus di goda dulu di bapaknya, " sahut Rara.


"Di goda sama siapa?" tanya Nanda.


"Sama siapa lagi, kalo bukan Witri, " sahut Rara.


Nanda tersenyum nakal bersama Rara dan segera menghampiri Witri yang sedang mengobrol bersama Dinda.


"Ehhh.... Ada Witri lu lagi ngapain wit?" tanya Rara basa bari.


"Apaan si, gue lagi ngobrol sama Dinda emangnya kenapa?" tanya Witri.


"Lu goda dong si Bapak Dadang, ini udah lewat 4 menit istirahat, " pinta Nanda.


"Tumben lu pengen banget cepet istirahat, biasanya juga gak mau istirahat pengen lanjut belajar, " sahut Witri.


"Yee, mau gimana gak pengen cepet-cepet yayang Marcell udah nungguin dari tadi di sana, " sahut Dinda.


"Udah tau make nanya lagi, lagian elu juga sama kale Din, lu pengen cepet-cepet jalan sama Angga kan?", tanya Rara menggoda Dinda.


Dinda mulai salting, "Engga kata siapa, gue mah sama dia temenan doang kok, " sahut Dinda.


"Udah nanti lagi, please lah Wit, " sahut Nanda menunjukkan wajah imutnya ke Witri.


Witri melihat nya tak tahan ingin mencubit, "Oke oke lu tau aja, kalo gue gak tahan sama muka lu itu, " sahut Witri berdiri dan berjalan menuju ruang guru.


Witri mulai melakukan tugasnya, agar semua siswa-siswi secepet nya untuk istirahat.


Tak lama, Pak Dadang datang bersama Witri yang sedang menggandeng tangan kirinya.


"Anj*ss berhasil, " gumam Rara kagum


"Si iwit pake godaan apa sih?" tanya Dinda.


"Dia pake kekuatan wanita nya, " sahut Nanda mengangkat kedua alisnya..


"Kekuatan wanita?" tanya Dinda semakin bingung.


"Yaelah, itu nya make nanya lagi, " sahut Rara.


"Apanya?" tanya Rara.


"Yawloh, itu gunung 2 , " sahut Nanda.


"Oh... Astagfirullah, tapi bagus sih, " sahut Dinda.


"Kalian sama-sama gila yah, " sahut Salsa yang mendengar pembicaraan mereka sedari tadi.


"Kenapa, emangnya lu mau olahraga terus gak istirahat-istirahat?" tanya Nanda.


"Yak gue gak mau, gue manusia juga butuh makan, " sahut Salsa.


"Yak udah lu diem aja, " sahut Rara.


"Assalamu'alaikum, maaf bapak hilaf, silahkan kalian ganti baju, terus silahkan makan di kantin, " sahut Pak Dadang.


"Hilaf dari mana sih pak, ini udah kelewatan banget tau hilaf nya, " gumam Rara.


Anak IPS 3 segera pergi dari lapangan menuju kelas mereka, ada yang mengganti baju terlebih dahulu, ada yang langsung ke kantin seperti Nanda, Dinda, Rara yang menghampiri Marcell dan yang lain.


"Kenapa lama?" tanya Lukman kesal.


"Kenapa lu gak pergi duluan aja?" tanya Dinda.


"Gue gak mau pergi duluan, gue mau nya barengan, " sahut Lukman.


"Yak udah diem jangan banyak bacot yang penting sekarang kita pergi ke kantin aja, gue udah laper, " sahut Rara.


"Yak udah ayok, " sahut Agung merangkul pundak Rara.


"Cieee di rangkul sama yayang Agung, " sahut Dinda.


"Yee, gue mah selalu di rangkul sama cowok lain kale, " sahut Rara.


Agung yang mendengar nya semakin kesal, "Lu emang sering banget di rangkul sama cowok lain yah, " sahut Agung.


"Kenapa lu gung, lu cemburu?" tanya Ihsan tertawa.


"Nggak, kata siapa?" tanya Agung.


"Halah gak usah banyak bacot langsung aja napa sih tembak aja si Rara, " sahut Lukman.


Agung menarik Ihsan dan Lukman menjauh, "Lu inget yak gak mudah buat PDKT sama Rara, " sahut Agung.


"Iya iya maaf, lagian gue kan gak pernah deket sama cewek selain Raisa, " sahut Ihsan.


"Jangan banyak bacot kalian berdua, tolong lah kalian ngerti sama perasaan gue, " sahut Agung.


"Woyy, kalian bertiga mau ke kantin apa engg?" tanya Nanda.


"Iya gue otwe sama Ihsan sama Lukman kalain duluan aja, " sahut Agung.


"Perasaan gue jadi gak enak, " gumam Ihsan.


"Sama, gue tebak pasti bakal ada yang gak beres sama kita berdua, " sahut Lukman.


"Oh yak udah kalo gitu, kita duluan yak, " teriak Rara melambaikan tangan ke Agung.


Aduh beh, itu tanya santai amat, - batin Agung.


"Udah kale jangan di liatin mulu, " sahut Lukman merusah suasana.


"Kalian berdua ikut gue ke perpus, " sahut Agung.


"Mau ngapain kita ke perpus, mending ke kantin aja, gue udah laper banget, " sahut Ihsan.


"Gue bakal traktir kalian berdua dah pulang sekolah, " sahut Agung.


"Traktir apaan?" tanya Lukman.


"gue traktir basok deh, " sahut Agung.


"Tapi harus ada pangsit nya yak, " sahut Ihsan.


"Iya... Tenang aja, kalian bebas mau apa aja, " sahut Agung.


"Yak udah kalo gitu, ayok kita mau kemana?" tanya Lukman.


"Kita bakal pergi ke perpus beg0, " sahut Ihsan.


Lukman dan Ihsan berjalan di depan dan Agung ada di belakang mereka berdua.


.


.


.


.


.


"Lu iri Ra?" tanya Dinda.


"Mau gimana gak iri, lu sama Angga, Nanda sama Marcell, lah gue sendiri, " sahut Rara.


"Eh, Angga di depan lah jadi orang ketiga di antara Nanda dan Marcell, " sahut Dinda.


Angga mendengar nya, dan langsung mundur selangkah demi selangkah dan berpaspasan dengan Dinda dan berjalan berdampingan.


Deg.... deg.... deg....


Omg ini jantung kenapa berdetak kenceng banget sih, - batin Dinda.


"Din... Jangan degdegan gitu juga kale, " sahut Rara.


"Emang lu bisa denger suara jantung gue?" tanya Dinda berbisik.


"Iyalah suara detakan jantung lu kenceng banget cuy, " sahut Rara berbisik.


Nanda dan Marcell tak memedulikan keadaan di belakang mereka menikmati kebersamaan mereka.


Banyak siswa-siswi yang melihat nya.


"Kenapa mereka selalu bersama sih?"


"Gue paling gak suka kalo Nanda bareng sama Marcell mulu, "


"Gue nggak suka, gue mah hancurin hubungan mereka, "


"Seketika hati gue hancur, "


Marcell dan Nanda hanya mendengar, mereka tak bisa berbuat apa-apa itu bukan gak mereka. Marcell mendekatkan tubuhnya dan merangkul Nanda.


"Omg, sampe Marcell ngerangkul lagi, "


"Gue pengen nangis liat nya, "


"Gue mau tau apa sih yang istimewa dari Nanda sampe Marcell ngerangkul nya kayak gitu?"


"Gue juga gak tau, gue jadi pengen ngegajar mereka berdua, "


"Lu jangan berani-berani ngehajar Marcell lu!!"


"Udah ndak, lu harus sabar denger komentar mereka, " sahut Dinda.


Nanda hanya diem tak berkutik begitu pun Marcell.


Gue bakal hajar mereka ndak, lu tenang aja, - batin Marcell.


Marcell menatap semua siswa-siswi yang menatap mereka sinis.


"Cell jangan berlebihan, " sahut Angga.


"Iya gue juga sadar, " sahut Marcell.


"Tatapan lu nyeremin amat dah, " sahut Rara.


"Dia emang gitu, kalo ada Agung semua yang ngeliatin Marcell udah dia hajar, " sahut Angga.


"Hooh, gue mah sih b aja denger nya, " sahut Rara.


"Emang gak peka banget lu jadi manusia, " sahut Angga.


"Dia mah emang gitu, " sahut Dinda yang berada dj tengah.


"Ngomong-ngomong mana Agung, Ihsan, sama Lukman?" tanya Nanda.


"Makanya sayang jangan suka menikmati hidup ini berdua aja, inget dunia dong, " sahut Rara.


"Mereka kalo udah bersatu, berasa dunia ini milik mereka berdua, " sahut Agung.


"Jangan bahas gue sama Nanda, jawab kemana mereka bertiga?" tanya Marcell.


"Mereka pergi... Gak tau kemana, " jawab Rara.


"Issh gue kesel sama mereka, "


Rara yang mendengar nya tak tahan lagi, "Kenapa lu iri? bilang bos, " sahut Rara.


"Udah Ra... " sahut Dinda menarik tubuh Rara menjauh.


"Kenpa lu narik gue sih Din?" tanya Rara kesal.


"Udah, tenang, mereka berdua aja gak pernah ngebesar-besarin masalah ini, " sahut Rara.


"Udah napa sih, kalian berdua bisa diem gak sih, gue capek denger kalian debat soal masalah sepele doang, " sahut Nanda berbalik dan berhenti berjalan.


"Lu kali-kali harus ngelawan mereka ndak, kalo engga nanti mereka semakin berani ngatain elu, " sahut Rara.


"Gue sama Marcell masih bisa nahan emosi, " sahut Nanda.


"Kalian jangan ngurusin urusan pribadi gue, gue gak mau di sebut pengecut sama mereka kalo gue terus aja berlindung di antara kalian berdua, " jelas Nanda.


Rara dan Dinda sekarang paham atas perasaan Nanda yang tak mau dianggap remeh oleh siswa-siswi yang tak suka padanya.


"Gue masih sabar, masih ngedengerin mereka ngomongin Nanda, tapi lain kale kalo mereka berani nyetuh Nanda gue gak bakal tinggal diam, " sahut Marcell.


"Oke, kalo gitu kita gak akan berurusan sama urusan pribadi kalian berdua, " sahut Rara.


"Makasih, kalian memang ngerti banget sama perasaan gue, " sahut Nanda terharu.


Rara dan Dinda hanya mengangguk menanggapi perkataan Nanda. Mereka bertiga berpelukan.


Marcell dan Angga melihat nya hanya tersenyum dan senang melihat mereka bahagia.


"Lu mau di peluk juga cell?" tanya Angga.


"Buat apa lu meluk gue?" tanya Marcell.


"Yak kari aja, lu butuh pelukan sahabat kayak Dinda sama yang lain, " sahut Angga.


"Gak usah, gue paling anti di peluk, " sahut Marcell.


"Trus nanti lu kalo mau bikin anak kan harus meluk Nanda, " cibir Rara.


Nanda membungkam mulut Rara dengan tangannya, "Jaga omongan lu bang, " sahut Nanda.


"Iya deh, gue minta maaf, " sahut Rara.


Mereka segera pergi ke kantin tanpa ada Agung, Ihsan, dan Lukman, hidup mereka bahagia tanpa ada yang menganggu.


"Kayak ada yang kurang, tapi gue gak peduli itu siapa, " sahut Angga.


"Anj*rr, lu ngelupain Agung sama yang lain, " sahut Rara.


"Lu kangen sama Agung yak Ra?" tanya Dinda.


"Enggak kok, lu aja kale, setiap kali ngomongin Angga mulu, " sahut Rara.


Blushing.....


Wajah Angga dan Dinda memerah seperti tomat rebus. Yang lain tak peduli, mereka hanya menikmati makan.