My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Pengganggu



Tak berselang lama kemudian, Fauzan yang bosan hanya duduk dan minum, makan tak ada kerjaan lain hanya melihat jam di ponsel nya.


"Aduh bosen gue, mana Firza sama Betly belum pulang lagi, kan kezel aku tuh, mau cari ciwi, ciwi nya juga pada tua semua pula, ngapain juga kak Nanda sama kak Marcell pake ngundang dua nenek sihir itu, " gumam Fauzan.


Omongan barusan tertuju kepada Rara dan Dinda. Fauzan memutuskan untuk pulang ke rumah agar bisa main game epep di komputer.


"Mana lagi ini bunda? au ahh, langsung pulang aja, nanti di WA, " gumam Fauzan mencari-cari Bunda.


Sampai di parkiran.


"Pak saya pulang duluan yah, nanti kalo Bunda sama Ayah nyariin bilangin kalo saya udah pulang, bosen, " sahut Fauzan meminta tolong kepada satpam.


"Pulang kemana den?" tanya satpam itu.


"Pulang ke akhirat, yah ke rumah lah pak, masa iya langsung ke akhirat aja.. mana saya belum nikah pula, " sahut Fauzan.


Satpam itu hanya tersenyum. Fauzan pergi naik mobil milik orang tua nya. "Gak papa kali di pinjem sebentar, lagian ke sini gue gak bawa motor... eh tapi kalo gak bilang nanti dosa lagi... BUNDA AYAH... FAUZAN PINJEM MOBIL KALIAN YA!!!" teriak Fauzan menggelegar ke seluruh GOR.


"Nah kan udah bilang, berarti udah gak dosa.. lets go, my beby, I coming, " sahut Fauzan.


Fauzan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Di perjalanan pulang tak sengaja Fauzan bertemu tukang batagor. Fauzan berhenti sebentar untuk makan batagor di tengah jalan.


"Pak, beli batagor pak 10.000 campur, bumbu nya agak banyaknya, di kasih jeruk nipis satu aja, trus sambel nya dua sendok, " sahut Fauzan.


"Siap, " sahut pak batagor.


Sambil menunggu pesanan nya jadi. Ada seseorang yang menelpon Fauzan tiba-tiba. Saat Fauzan mengangkat telpon itu ternyata itu adalah mantan Fauzan.


"Ishh, ngapain sih nelpon, hari bahagia nelpon ngajak tauran aja nih cewek, " gumam Fauzan.


Fauzan menolak panggilan itu, dan kembali menaruh ponsel nya di saku celana.


drrtt... drrtt... drrtt..


"Etdah niih cewek bener-bener nyari masalah, " gumam Fauzan.


Tanpa berpikir panjang, Fauzan mematikan ponsel nya agar tak ada yang menelpon nya. Makanan yang dipesan oleh Fauzan akhirnya datang.


"Makasih pak, " sahut Fauzan tanpa baca bissmillah Fauzan langsung saja makan.


Banyak pembeli yang datang sampai makan Fauzan habis, ternyata tempat batagor langganan keluarga Nusyrandi tak buruk juga malah Fauzan ingin nambah.


Hanya perlu waktu lima menit bagi Fauzan untuk menghabiskan makanan nya karena sedari tadi dia ngegombalin cewek-cewek yang lewat, memberikan nomor hape nya, minta foto dan lain-lain, entah mirip sama siapa nih anak.


Setelah lama berdiam diri di tukang batagor, Fauzan pergi dari sana bersama dengan mobil miliknya.


Di rumah kediaman Alfarizky.


Setelah lama di perjalanan, sampai di rumah, Fauzan segera memasukkan mobil orang tuanya ke dalam garasi dan masuk ke dalam rumah dengan bahagia nya.


Saat menaiki tangga, Fauzan melihat kamar Marcell yang lampu kamar nya menyala. "Lah itu lampu kenapa bisa nyala? bukannya tadi sebelum berangkat di matiin? aduh dasar ceroboh banget sih, untuk ganteng kayak gue kalo engga mungkin gue udah buang dia ke solokan, " gumam Fauzan kesal.


cklekk..


"Mm.. kak--"


Nanda dan Marcell yang sedang bermesraan di dalam kamar kaget tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar mereka dengan lebar. di sana ada Fauzan yang melongo menyaksikan adegan yang seharusnya tak dia lihat.


"Maaf, kalian lanjut aja lanjut, anggap gue gak ada, " teriak Fauzan segera menutup pintu.


Blamm..


Marcell yang masih syok hanya bisa diam, sedangkan Nanda menendang perut Marcell untuk pergi dari atas nya. Dengan cepat kilat Nanda masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri yang kedua kalinya.


Sedangkan itu di luar kamar.


"astagfirullahalazim... godaan apa itu yawloh, astagfirullah, " gumam Fauzan mengusap-usap dada nya.


Fauzan masih sangat kaget melihat kejadian 'itu' berpapasan dengan Marcell yang sedang berciuman dengan Nanda tepat di depan mata nya.


Fauzan berjalan pergi dan masuk ke dalam kamar miliknya. Pikiran nya masih mengingat kejadian di kamar Marcell walau Fauzan sudah solat, dzikir dan lain-lain, kejadian itu tak akan pernah dia lupakan seumur hidup. Karena terlihat jelas sekaki dengan mata kepala nya sendiri.


.


.


.


.


.


Malam hari, ini adalah malam yang sangat panjang bagi Nanda Marcell. Mereka berdua sedang makan malam bersama keluarga Alfarizky.


Ayah Budi yang sudah selesai mengelap mulut nya dengan tisu. "Udah ini kalian mau ngapain?" tanya Ayah.


"Gak mau ngapa-ngapain kok emang kenapa?" tanya Marcell.


"Yah, siapa tau ada yang mau kalian lakuin gitu, " sahut Ayah.


"Contoh nya?" tanya Marcell.


"Bikin anak, apa gimana.. atau... apa gitu, " sahut Bunda.


"Ppfftt... ppftt... "


"Kamu kenapa sayang?" tanya Bunda.


"Ehem, enggak kok bun, cuma keinget kejadian tadi sore aja.. " sahut Fauzan menahan tawanya.


Mendengar wajah Nanda dan Marcell menjadi merah tomat rebus karena malu. "Hah? tadi sore?" yang Bunda.


"Iyah bundd.. ahahah... " sahut Fauzan tak tahan, dia pun mengeluarkan suara tawanya dan melihat kakak-kakaknya yang merona malu.


"Kenapa tadi sore?" tanya Ayah kepada Bunda.


"Gak tau, " sahut Bunda.


"Ehem, " Marcell pura-pura batuk.


"Gimana Marcell kamu ada rencana malam ini?" tanya Ayah.


"Iyaa ada, " gumam Marcell.


"Apa itu?" tanya Ayah semangat.


"Mau bunuh Fauzan, " sahut Marcell geram sambil melihat Fauzan dengan tatapan membunuh.


"Hah? apa?" tanya Ayah.


"Eh, engga kok, " sahut Marcell.


"Mm, kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri? bagi-bagi cerita.. ayoo, jangan ada rahasia di antara keluarga, " sahut Ayah.


"Ehem, jadi gini nih yah, bunda Ayah... tadi siang kan bunda nyari kak Marcell sama kak Nanda, nah kalian tau gak kalo mereka itu... "


Brakk..


Tiba-tiba Marcell memukul meja makan, yang sedang menyuap tiba-tiba baruk keselek gara-gara kaget.


"Uhukk.. uhukk.. uhukk.. "


Dengan cepat Marcell memberikan air putih kepada Nanda yang masih keselek itu.


"Nah kan, Nanda sampe kaget, kamu sih, " sahut Ayah.


"Maaf yah, maaf ndak, gue gak sengaja, " sahut Marcell.


"Emang ada apa sih, sampe Marcell marah kayak tadi?" tanya Bunda kepada Fauzan.


"Biar aku perjelas yah.. mereka ngilang tadi itu pulang ke rumah, " sahut Fauzan.


"Terus?" tanya Bunda.


"Di kamar, "


"Iya, " sahut Ayah.


Kedua orang tua itu semakin penasaran apa yang terjadi sebenarnya. "Aduh kayak nya gak bisa deh bun, " sahut Fauzan.


"Lho kok gak jadi nyerita? kenapa?" tanya Bunda.


"Nyawa aku terancam, " jawab Fauzan.


Bunda dan Ayah melihat ke arah Nanda yang melihat Fauzan dengan tatapan membunuh.


"Gak papa, biar bunda sama Ayah yang ngelindungin kamu, sok lanjutin, " sahut Bunda.


"Mereka pulang terus ke kamar untuk melakukan 'itu' " sahut Fauzan.


"Hah? itu?" tanya Ayah tak paham.


"Itu? itu apa?" tanya Bunda.


"Aduh Bunda.. itu bikin, " sahut Fauzan.


"Bikin apa?" tanya Bunda.


"Bikin formulir pendaftaran kuliahan?" tanya Ayah.


"Bukann.. bikin ponakan, " sahut Fauzan.


Mereka berdua kaget tak percaya kalo Nanda dan Marcell sudah melakukan itu sekaligus senang, bahagia.


Adik b*ngs***, gue remes tuh mulut baru tau rasa, - batin Nanda kesal.


Berani banget tuh bocah ngebocorin hal yang gak boleh di kasih tau ke siapa-siapa, gue bunuh baru tau rasa - batin Marcell geram.


"Aaahhhh... ya ampun kapan?!" teriak Bunda.


"Waahh.. Ahahaha, " sahut Ayah tertawa lebar.


Mendengar Bunda dan Ayah yang tertawa lebar, wajah Nanda dan Marcell hanya bisa diam menahan malu.


"Pantesan kalo di tanya diem aja, oke kalo gitu bunda sama Ayah gak akan menanyakan hal yang kayak gitu lagi yah, " sahut Bunda.


"Oke oke, cucu cucu, semoga perempuan aminn, " sahut Ayah berdiri dan berjalan pergi dari meja makan.