My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Gagal tawuran



Sehabis perbincangan tadi kami semua menganggap semua itu tidak pernah terjadi dan gosip yang tersebar pun sudah tidak ada.


Sekarang Nanda dkk kembali ke kelas untuk belajar seperti biasa.


"Ndak lu yakin, pas pulang sekolah mau langsung ke rumah Bagas?" tanya Dinda.


"Gue nyerahin masalah ini ke Marcell aja, gue males kalo berurusan sama anak gak jelas itu, " jawab Nanda.


"Loh emangnya lu pernah ketemu sama Bagas?" tanya Rara.


"Perasaan gue mah sih pernah, tapi sayangnya gue lupa, " sahut Nanda.


"Yeee sama-sama bohong dong, " sahut Rara.


.


.


.


.


.


Sementara itu di kelas Marcell.


Setelah Nanda dkk pergi dari kelasnya, Marcell dkk kembali ke meja dan mulai dengan pembicaraan serius dengan teman-temannya.


"Lu yakin mau urus masalah ini sendiri?" tanya Angga tak yakin.


"Iya gue yakin, kenapa?" tanya Marcell.


"Yah gak papa sih, gimana kalo Nanda nanti bertindak sendiri? terus bawa Dinda pula, gawaat!!" sahut Angga takut.


"Lu saking cintanya sama Dinda, jadi gini anj*rt, " sahut Agung.


"Iyalah, gue bakal PDKT sama ortu Dinda, mulai sekarang, " sahut Angga.


"Buat apa?" tanya Marcell.


"Yah buat halalin Dinda lah, emangnya elu doang yang bisa halalin anak orang, gue juga bisa kle, " sahut Angga.


"Kalian semua mau halalin anak orang, tapi gue belum ada yang cocok, " sahut Agung dengan wajah sedihnya.


"Kan ada Rara, kenapa gak lamar Rara aja?" tanya Angga.


"******... gak ngotak lu... mana mungkin gue lamar anak monyet itu, " sahut Agung.


Marcell dan Angga mulai curiga dengan perkataan Agung barusan.


"Lu suka yah sama Rara?" tanya Angga.


"Engga, kata siapa gue suka?" tanya Agung mengelak.


Sementara itu Rara yang sedang mengerjakan soal di kelas.


"Kok telinga gue tiba-tiba gatel?" gumam Rara mengusap telinganya dengan tangan.


"Din... lu punya obat buat telinga gatel gak?" tanya Rara.


"Gak ada, mungkin ada yang lagi nge bicarain elu, " sahut Dinda.


"Siapa sih yang mau ngebicarain gadis secantik gue di sejagat raya ini?" tanya Rara sombong.


"Jangan sombong nanti kalo Agung yang lagi ngebicarain elu gimana? xixixi... " sahut Nanda dari bangku belakang.


"Awass aja yah elu ndak, " sahut Rara geram.


Dikelas Marcell masih membicarakan Rara.


"Kata gue barusan, emang kenapa? jawab aja jangan suka ngelak gak jelas lu, " sahut Angga mencolek tangan Agung.


"Apaan sih elu, jangan colak-colek tangan orang sembarangan, " sahut Agung yang mulai kesal.


"Kenapa marah?" tanya Marcell.


"G-gue gak marah, gue cuma kesel aja, dia colek-colek tangan gue, " sahut Agung.


"Ah masa sih, " sahut Angga mencolek dagu Agung.


Agung mulai geli dengan perilakunya Angga barusan, dia tak akan pernah melupakan kejadian ini sampai kapan pun.


"Najiss, lu minta di bunuh yah?!!" teriak Agung mencekek leher Angga.


"Aakhh.... aakhh.... iya iya gue minta maaf, " sahut Angga kesakitan.


Agung pun melepaskan tangannya dari leher Angga dan duduk di atas meja dengan santainya.


"Udah jangan ribut tuh guru udah dateng, " sahut Marcell membenarkan posisi duduknya.


Dan mereka berhenti berkelahi dan duduk di meja mereka masing-masing. Pelajaran di mulai dengan tenang sampai jam pulang berbunyi.


Bel pulang.


"Nanda, gue bareng sama elu yah, " sahut Rara.


"Iya gue juga mau dong bareng sama Nanda sama Rara juga, kan udah lama kita gak pulang bareng, " sahut Dinda.


"Emangnya kita mau kemana dulu?" tanya Nanda.


"Kita ke butik emak gue, " sahut Rara.


"Mau ngapain kita ke sana?" tanya Nanda.


"Gue mau liat gaun pengantin yang bakal lu pake nanti, " sahut Rara.


"Iya bener, gue juga kepo, " sahut Dinda.


"Kalian mau kemana?" tanya Angga tiba-tiba muncul.


"Astagfirullah.... eh setan gak udah muncul tiba-tiba napa si, " sahut Rara kaget.


"Depannya bilang astagfirullah, belakang nya masih setan, syaiton dan sebagainya, " sahut Agung.


"Biarin... " sahut Rara singkat.


"Yank jadi aku gak akan pulang bareng sama kamu, aku mau ke butik Rara dulu, " sahut Dinda minta izin pada Angga, pacarnya-_


"Oh, bagus lah kalo gitu, kalian ke butik aja yang lama, nanti gue jemput lu ndak, " sahut Marcell.


"Kenapa lu seneng banget, kalo gue di butik lama-lama?" tanya Nanda mulai curiga.


"Gak papa, kan di sana lu bisa nyari gaun yang lebih bagus lagi, " sahut Marcell.


"Oh iya juga sih, nanti ayank ikut kan ke butik Rara?" tanya Dinda.


Yang lain hanya menyimak dari belakang, jarak yang paling aman👍


"Gue gatel liat mereka mesra di depan gue, " ucap Rara.


"Makanya punya pacar dong, " sahut Agung menepuk pundak Rara.


"Gue udah capek nyari pacar, " sahut Rara.


Seketika hati Agung sakit mendengar nya dan dia mengerti. Agung pikir Rara sudah capek sakit hati, tapi salah, Rara capek nyakitin hati cowok, kasian..


Nanda dkk pergi ke butik Rara menggunakan mobil Marcell. Sedangkan Marcell dkk pergi menggunakan motor Agung ke perumahan Sukamulya ke tempat Bagas.


...****************...


Sampai di tempat Bagas.


"Ini rumah nya?" tanya Agung.


"Iya katanya sih, ini rumah Bagas, " sahut Angga membaca pesan.


Sebelum mereka ke rumah Bagas mereka bertanya terlebih dahulu kepada siswa-siswi yang tau rumah Bagas. Dan setelah mendapat kan nya mereka langsung meluncur.


Tok... tok... tok...


"Bagas... ini gue Marcell ketua OSIS di sekolah, " ucap Marcell.


"Widiwww cara yang paling efektif untuk siswa yang bolos sekolah, " sahut Agung.


"Bagas... buka pintunya... " ucap Marcell masih mengetuk pintu.


"Lama... dobrak aja lah, " sahut Angga.


"Dobrak aja cell, gue capek liat lu terus-terusan ngetuk tapi orang gak keluar, " sahut Agung kesal.


"Sabar kek bambang, ini juga lagi berusaha, " sahut Marcell.


Tok... tok... tok...


Sudah sangat lama mereka ada di depan rumah Bagas tapi sayang nya tak ada seorang pun yang keluar atau pun tau dimana Bagas sekarang.


"Pak boleh saya bertanya... " Tanya Agung pada seseorang yang tak sengaja lewat.


"Oh iya silahkan, ada apa?"


"Pemilik rumah ini kemana yah?" tanya Agung.


"Saya juga kurang tau, diam mah jarang keluar, saya juga jarang liat dia keluar masuk rumah, "


"Oh gitu yah... Kira-kira bapak tau dimana orang tuanya?" tanya Marcell.


"Niat banget nih anak, sampe nanya orang tuanya.. " gumam Angga.


"Saya juga gak tau... Maaf yak bapak permisi ada urusan sama Pak RT, "


"Oh iya Pak, makasih yah pak, "


"Iya iya... "


"Gagal tawuran deh.." gumam Agung. kecewa


"Ngomong-ngomong mereka masih ada di butik kan?" tanya Marcell pada Angga.


"Kata Dinda sih masih, merek masih liat-liat baju, " sahut Angga.


"Yah udah kita langsung aja ke butik, ngomong-ngomong kalian tau dimana butik nya Rara?" tanya Agung.


"Gue juga gak tau... " sahut Angga.


"Gue tau, ikutin gue aja, " sahut Marcell.


Mereka segera berangkat ke butik Rara untuk menjemput gadis-gadis di sana.


"Lu kira Bagas itu pengecut?" tanya Angga.


"Kalo di liat dari situasi sekarang sih, iya.. " sahut Marcell.


"Amit-amit, terus Mila katanya keluar dari sekolah, kenapa mendadak gitu?" tanya Agung.


"Kalo gak salah sih, keluarga nya malu, terus kepala sekolah pun sekarang di ganti, " sahut Marcell.


"Bagus lah, gak akan ada lagi yang bakal ngeganggu hubungan lu sama Nanda lagi, " sahut Angga.


"Iya, baru satu masalah, kalo satu lagi belum, " sahut Marcell.


"Masalah Bagas nanti lagi, " sahut Agung.


Setelah percakapan yang panjang, akhirnya mereka sampai di butik nyokap Rara. Mereka langsung saja masuk dan melihat Rara, Dinda, Nanda sedang mencoba gaun pengantin.


Marcell yang melihat Nanda yang menggunakan gaun putih, di tambah buket bunga mawar putih di tangannya membuat dia semakin cantik.


Angga melihat Dinda seperti bidadari tanpa sayap yang jatuh dari surga untuk membawanya pergi ke dunia lain untuk berbahagia bersama.


Agung terpesona oleh gaun pengantin di sebelah Rara berwarna biru laut yang ditambah dengan manik-manik lucu di sekitar nya.


Dan juga melihat seorang gadis yang sedang memasangkan beberapa manik-manik ke dalam gaun tersebut, siapa lagi kalo bukan Rara Farisya.


Tampa berpikir panjang, Agung langsung saja menghampiri Rara. Begitu pun dengan yang lain.


"Lu lagi apa?" tanya Agung.


"Gue lagi masangin manik-manik ini di gaun biru laut, " sahut Rara lembut.


Ini pertama kalinya gue denger Rara ngomong lembut di depan gue secara langsung, biasanya kan kalo ketemu gue langsung teriak-teriak gak jelas kayak liat setan lagi makan di atas pohon pisang, - batin Agung.


"Gimana bagus gak cell?" tanya Nanda.


"Baguss.. " jawab Marcell tersenyum.


"Oh iya Ndak, kan ini gaun buat acara pernikahan, nah kalo buat akad lu pake apa?" tanya Rara.


"Kalo akad yah pake kebaya lah, " sahut Nanda.


"Iya maksud nya lu gak mah sewa kebaya si butik gue gitu, " sahut Rara.


"Engga, kata mamah, udah pesen kebaya khusus, " sahut Nanda.


"Bukan pesen, tapi rancangan khusus dari penjahit internasional asli dari Belanda, " sahut Marcell.


"Anj*y hidup lu, beruntung banget ndak, " sahut Dinda.


"Iya, buat kebaya juga pake penjahit asli dari Belanda lagi, " sahut Rara