
Selama beberapa hari ini. Marcell dan Nanda memutuskan untuk menginap di rumah Bunda dan Ayah. Ayah dan Mama lagi ada di Kalimantan jadi maklum kalau mereka kemarin gak ikut kumpul.
Siang hari di kamar mereka berdua.
Marcell yang sedang bekerja mengerjakan pekerjaan kantor milik Ayah nya. Hanya bisa fokus dengan laptop dan tak peduli dengan lingkungan sekitar. Tak lama Nanda datang dan duduk di atas kasur dekat dengan suami nya itu.
"Cell, " panggil Nanda.
"...... "
"Marcellll, "
"..... "
Masih belum ada jawaban dari seorang lelaki yang sedang mengetik-ketik laptop itu.
"Marcell, " panggil Nanda dengan suara tinggi.
Bener- bener gue punya suami... budek, - batin Nanda.
"Heh!! denger gak sih?!" teriak Nanda melempar bantal ke arah Marcell.
bukk..
Marcell yang tersadar tiba-tiba ikut kesal, dan melemparkan kembali bantal tadi ke arah Nanda.
bukk..
"Apa-apaan sih lu? orang lagi kerja malah di ganggu, " sahut Marcell kesal.
"Yah lagian elu... dari tadi gue manggil manggil gak denger, " sahut Nanda.
"Ya maaf, apa?" tanya Marcell.
"Lu... warnain rambut gih, gak tau kenapa gue lagi suka aja sama rambut orang bule bule gituu, " sahut Nanda.
"Yawloh, lu ngidam bener- bener yah... sejak gue SD sampai sekarang gue belum pernah warnain rambut, " sahut Marcell.
"Aaaaa... Marcell, " sahut Nanda merengek.
"Astagfirullah, nasib, " gumam Marcell.
Marcell menutup laptop nya dan berjalan ke arah pintu setelah mengambil jaket dan juga kunci mobil nya.
"Nah gitu dong.. " sahut Nanda rebahan.
"Ehh, kata siapa gue pergi sendiri, lu juga harus ikut... "
"Aahh kagak mauu, "
"Ikuttt... "
"Kagaakkk maauuu, "
"Nanti kalo gue salah milih ngecat gimana? yang ada nanti gue di suruh bulak balik ke salon... " sahut Marcell menarik tangan Nanda.
"Aahhh ogah ogah ogah, " teriak Nanda berusaha melepaskan tangan nya.
Cklekk..
"Hei, kalian anak-anak, jangan berisik, " sahut Bunda tiba-tiba ikut nimbrung.
Seketika mereka berhenti saling tarik menarik. Marcell membujuk Nanda untuk ikut bersama nya. Selama masih ada Bunda yang melihat nyawa mereka berdua terancam.
"Sayang.. ikut yuk, nanti kalo aku salah warnain rambut kamu jadi kesel nanti, " sahut Marcell membujuk Nanda (terpaksa).
Nanda yang hanya senyum senyum gak jelas. Akhirnya mengangguk dan mengambil jaket nya.
"Nah gitu dong, aku tunggu yah di mobil.. " sahut Marcell.
"Iyah sayang, " sahut Nanda.
Marcell pun keluar dari kamar dan berjalan menuju garasi. Saat melewati Bunda yang masih menatap sinis ke arah nya, jantung Marcell tak bisa berhenti berdetak kencang.
Marcell pun berhasil keluar dari situasi berbahaya. Kini giliran Nanda yang masih di awasi oleh Bunda.
"Bun, kita ke luar dulu yah.. " pamit Nanda.
"Iya, " jawab Bunda.
Saat Nanda berjalan menuruni tangga, tiba-tiba tangan nya di tarik kembali oleh Bunda. Seketika jantung Nanda ikut berdetak kencang takut hidup nya akan berakhir hari ini.
"Nanti kalo udah selesai jangan lupa belanja ke alfamart... beli bahan makanan buat makan malam, " ucap Bunda.
"I-iya Bunda siap, " sahut Nanda.
Bunda kemudian mengangguk dan melepaskan tangan Nanda. Dengan cepat Nanda turun dari tangga dan menyusul Marcell di garasi.
Di Garasi.
Marcell yang sudah ada di dalam mobil, berusaha mengontrol jantung nya yang masih berdegup kencang dari tadi.
Tak lama pintu mobil nya terbuka. Ternyata itu Nanda yang langsung masuk dan permisi. "Huuhh.. cell ayo jalan, " sahut Nanda narik napas.
"Kenapa lu?" tanya Marcell sambil menjalankan mobil nya.
"Jantung gue tadi hampir copot, gara-gara Bunda tiba-tiba megang tangan gue, " sahut Nanda.
"Syukur lah lu masih selamat, " sahut Marcell.
"Gilaa serem banget yah Bunda kalo lagi kesel, "
"Lah emang selama lu hidup, bunda gak pernah nunjukin muka sama tatapan sinis nya?" tanya Nanda.
"Kalo ke gue kagak pernah, kalo ke Fauzan jangan tanya, " sahut Marcell.
"Sama juga kagak pernah?"
"Mm.. bukan kagak pernah lagi, hampir setiap menit Bunda nunjukin tatapan sinis nya ke Fauzan, makanya tuh anak milik sekolah di Tasik, " jelas Marcell.
"Oalahh begitu rupanya, " sahut Nanda paham.
"Kalo Firza sama Betly kenapa mau sekolah di Turki?" tanya Marcell.
"Ituu.. karenaa... mereka mau nyari cogan sama cecan di sana, lu tau kan kalo di negara orang penduduk nya itu guanteng bangett, " sahut Nanda.
"Hem, "
"Ahahaha.... enggak kok bukan karena itu.. ada deh alasan nya, " sahut Nanda.
"Yah apa alasan nya?" tanya Marcell.
"Gak usah kepo, itu rahasia keluarga Nusyrandi, " sahut Nanda.
"Mm.. mulai deh main rahasia rahasian, " sahut Marcell.
"Bukan gitu.. cuma kata Mama... cerita itu jangan di ceritain ke siapa-siapa, ini rahasia keluarga kita aja... termasuk elu cell, gue gak bisa cerita ke elu, " sahut Nanda.
"Mm, gitu.. ya udah gak papa, " sahut Marcell.
Mereka tak sadar karena sepanjang jalan mereka mengobrol. Marcell memikirkan mobil nya di tempat parkir yang sudah tersedia itu.
Dan mereka keluar bersamaan. Saat mereka masuk banyak orang yang mengantri. Saat mereka duduk menunggu datang lah seseorang yang kira pemilik salon itu.
"Teteh sama Aa mau potong rambut?"
Orang Bandung ternyata, - batin Marcell.
Orang Sunda ternyata, bisalah gue basa Sunda mah... gak sia-sia gue kuliah di Bandung - batin Nanda.
"Iyah, " jawab Marcell.
"Siapa yang mau potong rambut?"
"Saya, kalo suami saya tolong warnain rambut nya yah, " sahut Nanda.
"Oh iya boleh... sok, silahkan lewat sini, "
Nanda duduk di tempat dan siap untuk potong rambut dengan model rambut baru nya. Sedangkan Marcell berfoto dulu dengan rambut hitam nya itu sebagai kenangan, sebelum di warna.
Lebay banget sih gue punya suami, - batin Nanda kesal.
Dan mereka berdua siap untuk mendapatkan rambut yang bagus.
***
Waktu terus berjalan, butuh waktu selama satu jam agar rambut mereka tetap bagus, tak kuat, dan sebagai nya. Nanda yang sudah selesai dengan rambut nya berfoto-foto dulu.
Sedangkan Marcell masih perlu di kasih vitamin agar warna dan rambut nya tak rontok, kusut dll.
Nanda memposting poto nya di instagram yang memiliki lebih dari 15 juta pengikut. Entah apa yang di pikirkan oleh para pengikut Nanda. Padahal dia jarang sekali memposting poto, dan poto ini adalah poto ke dua yang dia posting setelah poto pernikahan nya.
Nanda duduk di kursi menunggu Marcell yang masih lama. Tak lama Marcell datang menghampiri Nanda setelah membayar.
"Yuk pulang, "
Nanda mendongak ke atas. Tiba-tiba dia dibikin bingung oleh seorang lelaki yang mengajak nya pulang itu.
"Mbak maaf suami saya mana ya? saya dari tadi nunguin, malah suami saya yang ilang, " sahut Nanda kepada salah satu pegawai.
Pegawai itu hanya terkekeh pelan melihat seorang lelaki yang di samping Nanda itu wajah nya tiba-tiba berubah menjadi merah merona.
"Udah ayo pulang, " sahut lelaki itu menarik tangan Nanda keluar.
"Mbak, suami saya mana?"
"Eh lu siapa? gak mungkin suami gue ganteng banget kayak gini... mbak suami saya ilang kemana?"
Nanda masih bertanya kepada pegawai salon itu. Entah kemana pergi nya suami nya itu, tiba-tiba ilang tampa jejak.
"Lu bisa diem gak sih? bikin malu aja, "
Nanda melihat ke arah lelaki itu. "Lu siapa? suami gue kemana?"
"Ini gue di sini, "
"Gak mungkin suami gue itu gak mungkin seganteng elu, Marcell...Cell.. " teriak Nanda.
"Astagfirullah... ndak udah ndak gue ngakak, " sahut Marcell memeluk Nanda karena ingin tertawa lepas.
Nanda kemudian ikut tertawa, "Iya iya.. bercanda kok, suami gue emang ganteng, udah yuk pulang, " ajak Nanda.
Mereka pun kembali ke mobil dan berjalan ke alfamart untuk membeli bahan makanan yang di minta oleh Bunda.
*ehem, Marcell lagi liatin siapa tuh, jangan terlalu fokus nanti si cantik nya tiba-tiba ilang lho gara-gara malu di liatin mulu><