My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Yang langsung jadi



Telpon dari Rara pun berakhir. "Waktu ketemu di rumah sakit kan dia 8 bulan trus gue sekarang udah 8 bulan juga, tapi kenapa dia baru ngelahirin 10 bulan? emang bisa yah kayak gitu?" gumam Nanda penasaran.


"Ah mungkin anak nya masih betah di dalam perut makanya lama, " gumam Nanda seperti itu.


Tak lama datanglah Marcell dengan ala-ala celana pendek nya. "Hey, eceu, mau ikut gak ke rumah sakit? Katanya mau liat Putri sama bayi nya, " tanya Marcell.


"Iya mauu.., " jawab Nanda.


"Sana siap-siap, aku mau mandi, "


"Emang tadi waktu solat subuh kamu gak mandi?"


"Mandiii, cuma kan ini keringetan lagi, jadi bauu, emang kamu mau nyium aku?"


"Ogah, ya udah sana mandi.. Aku tunggu di depan, "


"Bukan kamu yang nunggu di depan tapi aku.. kamu pasti lama di kamar, "


"Gak akan tenang aja, dalam waktu 2 menit juga aku udah nunggu kamu di depan, "


15 menit kemudian.


"Nandaa.. Udah belum? Lama kali kau, " tanya Marcell dengan nada tinggi nya.


"Bentar, ini lagi nyari sepatu yang pas sama baju, " teriak Nanda dari lantai 2.


"Astafirullah... Ucapan tak sesuai dengan tindakan, " gumam Marcell.


Marcell melihat ke arah jam tangan nya. "Hisshh... lama bangett, emang dia pake baju apa sih? pake baju spiderman apa betmen? dari tadi di tungguin gak turun turun, perasaan gue mandi gak sampe 5 menit trus pake baju juga gak nyampe 2 menit... lah ini cewek dari jam 8 sampe jam 9 belum kelar kelar... " gumam Marcell kesal.


Tanpa berpikir panjang, Marcell naik ke atas untuk melihat apa yang di lakukan istri nya di kamar sampai membuat nya menunggu berjam-jam.


ceklekk..


"Hey eceuu.. cepetan keburu si Putri sama si Ihsan nikahin anak nya, " sahut Marcell membuka pintu.


Saat terbuka, di dalam sana ada seorang wanita yang memakai baju putih polos, celana panjang warna hitam, di tambah dengan cardigan warna hitam pula, dan rambut nya di kuncir ke belakang.


"Lu dari tadi ngapain aja di dalem?"


"Milih baju sama sepatu, "


"Gue nunggu berjam-jam di bawah, gue pikir lu pake gaun pengantin atau semacam nya, tapi ini... lu di kamar cuma pake baju putih polos, trus sepatu putih, celana hitam sama cardigan hitam... lu mau ngebunuh gue? cuma gara-gara gue nunguin lu, "


"Yah maaf... maklum lah cewek, " sahut Nanda.


"Astagfirullah, ya tapi gak gini jugaa... Nanda sayang istri ku yang paling cantikk, " sahut Marcell menahan emosi.


Yang merasa bersalah cuma cengengesan gak jelas. "Heheh... udah ayo buruan, " sahut Marcell.


"Oghey, " sahut Nanda.


Di rumah sakit


Nanda dan Marcell menaiki lift untuk naik ke lantai 4 kamar no 116 itu kamar Ihsan dan Putri.


Saat pintu lift terbuka mereka berdua bertemu dengan Dwi dan juga Lukman yang sama akan pergi ke kamar 116.


"Lho.. Dwi? Udah lama yah gak ketemu, gimana kabar kamu?" tanya Nanda.


"Alhamdulillah baik, udah berapa bulan ndak?" tanya Dwi.


"Jalan delapan, "


"Ooh alhamdulillah, " sahut Dwi.


"Yoo cell... Lu mau ke Putri sama Ihsan kan? kalo iya bareng, " sahut Lukman main tutup pintu lift.


"Gak, gue mau ke kamar mayat, " sahut Marcell.


"Oh ya udah sana keluar lagi, " sahut Lukman.


Marcell kemudian melihat Lukman dengan ekspresi aneh nya.


"Punya berapa anak lu cell?" tanya Lukman.


"Maksud lu?" tanya balik Marcell.


"Maksud guee.. itu di perut Nanda ada berapa anak lu?"


"Satu, "


"Oh, gak tiga?" tanya Lukman.


"Emang lu tiga?" tanya balik Marcell.


"Iyalah... Masa engga, " jawab Lukman santai.


Gila, gini nih.. makanya gue kasian sama Dwi bukan sama si Lukman, mentang-mentang dulu pengen cepet-cepet kawin, eh udah kawin malah nyosor langsung tiga.. - batin Marcell.


Tak sampai dua menit, pintu lift itu sudah terbuka. Mereka berempat keluar dan berjalan menuju kamar 116 tempat Putri berada bersama anak nya.


Mereka terus melihat ke arah nomor pintu agar tak terlewat. Ternyata kamar Putri berada paling ujung dekat dengan pintu darurat.


"Jauh amat nih pintu, " gumam Lukman.


"Kenapa gak pesen VIP aja sih? kan biar lebih enak, " sahut Marcell.


"VIP bagi Sultan... bagi Ihsan mahall, " sahut Lukman.


"Mata kau mahal, paling cuma abis.. ya.. Sekitar.. 50 jete atau 60 jete lah.. Itu pun udah ples sama perawatan bayi dan ibu, " sahut Marcell.


"Hemm, " gumam Lukman.


Cklekkk...


"Assalamu'alaikum, "


"Waalaikumsalam, "


"Hallo Putri, " sapa Nanda berjalan masuk.


"Halo juga ndak, Dwi, " sahut Putri yang sedang berbaring di atas tempat tidur.


Marcell dan Lukman meletakkan hadiah itu di atas meja di samping Putri. Dan mereka berjalan ke arah Ihsan yang sedang menidurkan anak nya itu.


"Eh, btwe put.. sakit gak sih ngelahirin?" tanya Nanda.


"Lu nanya persalinan normal atau di oprasi?" tanya balik Putri.


"Yang mana aja, "


"Kalo persalinan normal gue gak tau, soalnya gue di oprasi, "


"Gak papa, pengen aja... "


"Tapi enak gak di oprasi?" tanya Dwi.


"Gak sama sekali, " jawab Putri.


"Lho kenapa? Padahal yah gue denger dari ibu-ibu komplek di oprasi itu enak.. jadi gak akan ngerasa sakit, " tanya Nanda.


"Pala kau gak sakit... emang waktu di oprasi nya gak kerasa apa-apa, tapi waktu udah selesai nya minta ampun.. Gue gerak dikit keram, jaitan nya lepas... wahh pokoknya nya segala deh.. " jelas Putri.


"Olahh.. enakan normal berarti, " sahut Nanda m


"Gak tau juga, " sahut Putri.


"Waduh, kayaknya gue harus oprasi deh, soalnya anak gie tiga, " sahut Dwi.


"Hah? Yang bener lu wi? jangan bercanda lu.. " tanya Putri tak percaya.


"Masa iya lu gak tau, " sahut Nanda.


"Yah mana gue tau lah.. lagian yah tuh anak bener-bener tega banget sama Dwi... Masa iya langsung tiga.. Kasih jeda dikit napa, " sahut Putri.


Sementara itu Marcell dan Lukman berjalan menghampiri Ihsan yang anteng menidurkan anak nya yang baru saja lahir.



"Halo broo.. " sapa Lukman dengan suara keras.


"Syuttt... "


"Syuuutt.. jangan berisik beg0 anak orang lagi tidur, malah teriak, " sahut Marcell dengan suara pelan.


"Kagak sengaja gue, " sahut Lukman dengan suara cempreng nya.


"Syuutt, "


Kini Putri, Nanda dan Dwi ikutan. Lukman pun menutup mulut. "Berisik kali lu, anak gue kalo bangun gimana?" tanya Ihsan kesal.


"Yah tinggal tidurin lagi... apa susahnya.. ye kan put,, " teriak Lukman kepada Putri.


Anak Ihsan pun menangis, terbangun dari tidur nya karena Lukman terlalu berisik. Mendengar tangisan anak Ihsan, Lukman seketika jadi diam.


"Lu harus gue apain sih? biar tuh mulut gak berisik terus? gue tuh capek nyusuin dia tau gak lu? mana payudara gue sakit lagi, " sahut Putri kesal.


Ihsan membawa anak nya ke Putri untuk di susui dan kembali tidur. Putri pun menggendong anak nya yang sangat manis itu.


"Utututuu.. syaila kenapa nak? kaget yah kaget... iya aduh anak kuuu... ***** aja yah.. yuk ***** yuk, " sahut Putri membuka baju.


Lukman dan Marcell berbalik badan dan berjalan keluar.


"Oalaahh, namanya Syaila? lucu.. " sahut Nanda gemesh.


"Iya namanya Syaila Putri Malik Al-bahri, " sahut Putri.


"Namanya baguss.. " sahut Dwi.


"Siapa yang kasih nama?" tanya Dwi.


"Siapa lagi kalo bukan ayah nya.. " sahut Putri.


"Iihh idung nya lucuu.. mancung, " sahut Nanda.


"Iyalah, anak gue.. idung sama matanya mirip sama gue, " sahut Ihsan.


"Apaan sih... idung nya mirip sama Putri lah orang Jerman, nah kalo mata sama alis trus bibir nya mirip banget sama lu san, " sahut Nanda.


"Eh, gue malah berharap idung anak gue mirip sama gue sendiri, " sahut Ihsan.


"Sabarr, " sahut Nanda.


"Maklum maklum... pasti salah satunya harus mirip lah sama ibu nya, masa iya harus mirip semua kayak ayahnya.. " sahut Dwi.


"Nah iya... bener tuh kata Dwi, " sahut Nanda.


cklekk..


"Putri... " teriak seorang wanita yang membuka pintu dengan sangat terburu-buru.


"Rara?" tanya Putri sedikit kaget.


"Heh, neng... lu naek apaan? masa iya dari Garut ke Jakarta cuma... 1 jam?" tanya Nanda.


"Naik helikopter gue, " jawab Rara.


"Bacot kalii kau naik helikopter, " sahut Nanda.


"Ahahaha.. gue naik mobil untungnya jalan lagi sepi jadi bisa ngebut, " sahut Rara.


"Udan duduk dulu duduk.. " sahut Dwi menuntun Rara untuk duduk di sofa di pinggir kasur.


"Aduh sumpah deh njirr... untung aja tuh si Agung pinter ngendarain mobil nya, " sahut Rara.


"Untung aja lu masih selamat, " sahut Nanda.


"Iya,, " sahut Rara.


"Eh put... anak lu cewek cowok?" tanya Rara.


"Cewek, " jawab Putri.


"Oh ya? mana coba liat.. " sahut Rara berdiri untuk melihat anak Putri.


"Iihh lucuuu... hidungnya mirip kayak Putri mancung... " sahut Rara.


"Nah bener kan apa yang gue bilang tadi, " saut Nanda sambil melihat ke arah Ihsan.


Ihsan hanya bisa tersenyum pasrah, kalo hidung anaknya mirip dengan Putri, istrinya.


"Put, gue ambil yah.. bawa pulang, " sahut Rara.


"Eh, lu sebentar lagi juga punya njirr.. jangann main ambil anak orang lu, susah tau gak gue ngelahirin dia, banyak rasa sakit yang harus gue tahan, " sahut Putri.


"Males ngeluarin gue, mau yang langsung jadi, " sahut Rara sambil terkekeh pelan.


"Lu kalo mau yang langsung jadi... jangan bikin, langsung aja ambil di panti asuhan, " sahut Nanda.


"Iya njirt, gue harusnya gak bikin, " sahut Rara.


"Malah di bawa serius, " gumam Nanda.


Ibu-ibu yang ada di dalam kamar itu tertawa. Sudah lama mereka tak merasakan kebahagiaan seperti ini lagi. Berasa mereka semua kembali ke masa sekolah.