
"Lu beneran gak sayang sama gue?" tanya Agung.
"Iya, emang kenapa?" tanya Rara yang masih tersenyum.
"Kalo itu perkataan lu... "
"Mm?"
Rara masih bingung dengan ucapan Agung barusan, apa maksud nya 'kalo itu perkataan lu?'
"Kok berasa bakal ada masalah besar, " sahut Nanda yang mulai tidak enak.
"Gue juga sama, " sahut Dinda memegang leher belakang nya.
"Mending kita... "
"Mending kita apa?" tanya Rara.
"........ "
"Agung Tresna, " teriak Rara.
Agung menengok ke wajah Rara.
"Jawab sekarang, lu mau ngomong apa?" tanya Rara membentak.
"Kita putus, " sahut Agung lemas.
"Hah?! Putus!!, " teriak Nanda dari balik semak-semak.
Dinda dengan cepat membungkam mulut Nanda. "Syuuttt.... Mau ketahuan, " sahut Dinda.
Nanda menghempas kan tangan Dinda dari mulut nya. "Tapi Agung putus sama Rara.. Gue gak bisa diem aja, " sahut Nanda.
"Iya tapi, sabar dulu... Kita liat selanjutnya Agung bakal gimana sama Rara akan bagaimana, " sahut Dinda.
Nanda mulai tenang mendengar ucapan Dinda barusan, dan kembali menguping bersama.
"Lu gak bercanda kan?" tanya Rara.
"Gue serius, gue rasa lu gak suka sama gue, dan lu cuma asal terima aja, " sahut Agung.
"Gue merasa lu gak suka sama gue, gue itu selalu iri sama Angga dan Dinda... Ra... Ortu mereka udah saling kenal, tapi gue... "
"Gue mau ke rumah lu, ngajak main gak dibolehin sama lu, padahal nyokap lu udah tau kalo kita pacaran, terus apa masalahnya?"
Alasan kenapa gue gak ngizinin lu ke rumah gue... Karena Bang Toriq... - batin Rara.
Agung memegang pundak Rara dan melihat wajah Rara dengan seksama. Agung sudah merasa bersalah, karena Rara menangis.
Jadi gini rasanya diputusin kalo kita lagi sayang-sayangnya? Selama ini gue pikir cinta itu biasa aja, ternyata gue salah, - batin Rara.
Putus, kita udah ngejalanin hubungan ini selama dua minggu tapi kenapa sekarang... - batin Rara menangis.
"Ra... Plise jangan nangis, " sahut Agung mengusap air mata Rara.
Rara berjalan pergi dari hadapan Agung dengan langkah kasarnya.
Nanda dan Dinda yang semakin khawatir keluar dan menghajar Agung habis-habisan.
Plakk...
Tamparan keras mendarat tepat di pipi Agung saat ini. Saat Agung menengok ke atas ternyata itu Nanda.
"Apa maksud lu?!! Mutusin Rara tiba-tiba kayak gini?!!!" teriak Nanda.
"Sabar ndak... Sabar... " sahut Dinda menarik tangan Nanda.
"Gue gak bisa sabar lagi.. Dia udah putusin Rara gitu aja, " sahut Nanda.
"Iya gue tau... Tapi lu harus dengerin apa alasan Agung mutusin Rara, " sahut Dinda.
Nanda mulai diam dan mendengarkan penjelasan Agung.
"Apa alasan lu putusin Rara?" tanya Dinda.
"Bukan nya itu bagus, dia harus nerima perbuatan nya karena terus nyakitin hati para cowok," sahut Agung memegang pipi kanan nya yang habis di tampar oleh Nanda.
"Lu itu benar-benar... " Baru saja Nanda akan memukul Agung tapi tangannya di tatik lebih dulu oleh Dinda kebelakang.
"Jadi maksud lu ini hukuman pantas buat playgirl?" tanya Dinda.
Agung tersenyum, "iya, " jawab Agung bersandar ke pohon.
Buukk...
Tendangan keras dari Dinda tepat pada sasarannya 'masa depan' .
"Maksud lu apaan sih hah?! Lu putus tanpa alasan, " sahut Dinda memegang kerah baju Agung.
"Gue gak akan tinggal diam, kalo ini cara lu buat nyakitin hati sahabat gue, " sahut Dinda menghempas kan tubuh Agung ke tanah.
Agung hanya terdiam dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama pada intinya.
"Bukannya udah jelas alasan gue, ini balasan karena dia terus nyakitin hati para cowok, " sahut Agung.
"Diem lu... " teriak Dinda mencekik leher Agung.
"Sekali lagi lu bicara kayak gitu, gue gak akan tinggal diam, " sahut Dinda melepaskan cekikikan nya.
Buset dah... Serem amat kalo lagi ngebela sahabat... - batin Nanda takut.
Uhukk... Uhukk...
Nanda menarik tangan Dinda untuk mencari Rara sekarang, dan membiarkan Agung sendiri di sana.
"Rara.... " teriak Nanda.
"Rara... Lu di mana?" teriak Dinda.
Gue pikir kalian udah tau alasan gue... Taunya sama aja, heh bodoh... - batin Agung.
Dinda berbalik badan dan masih menatap Agung dengan tatapan membunuh. Nanda berhenti melangkah dan menghampiri Dinda untuk terus mencari Rara.
.
.
.
.
.
Sementara itu keadaan Rara saat ini sangat lah buruk. Rara berlari menuju toilet karena disitulah dia bisa meluapkan semua amarah nya dan juga tangisan nya.
"Aarrhhgg.... Kenapa lu tega sama gue!!!" teriak Rara dari dalam toilet.
Rara bercermin dan melihat dirinya sendiri. Dia sudah tidak tahan lagi dengan hidupnya kali ini. Melihat ada batu tepat di sampingnya, Rara mengambil dan memecahkan cermin.
Prang...
Suara pecahan kaca itu terdengar sampai luar, tapi untung nya tidak ada siapa-siapa di luar sana karena pelajaran sedang berlangsung.
"Gue benci sama lu... " teriak Rara mengambil ponselnya dan membanting ponselnya sampai layar nya pecah.
Rara terus melihat ponselnya yang masih menyala dan melihat wallpaper ponselnya dengan foto Agung.
Rara melihat ada pecahan kaca di samping nya dan mengambil satu sambil menangis dia terus meremas kaca itu sampai tangan nya berdarah.
Rara terus menangis dalam keheningan bersamaan dengan rasa sakit yang ia tahan. Tak lama ada suara langkah kaki seseorang yang menuju ke toilet.
Cklekk...
"Rara!!"
Dengan cepat Nanda menghempas kaca dari tangan Rara. Nanda sedikit mengenai pecahan kaca itu di tangannya dan mendapat sedikit goresan kecil.
"Rara... Jangan nangiss.... " sahut Dinda berjongkok dan memeluk Rara.
Rara merasakan kehangatan saat Nanda dan Dinda memeluk nya dengan kasih sayang.
"Gue mau bunuh diri aja Ndak... hikss.. hiks.. "
"Eeettss jangan bilang gitu... Kita semua pernah ngerasain sakit hati... " sahut Dinda.
"Tapi dia... Ngasih gue alasan yang aneh, hiks... hiks.. "
"Plissss untuk saat ini jangan sebut nama itu lagi, hiks... hiks.. " potong Rara.
"Oke, gimana kalo lu pulang sekarang, nanti sama abang lu di jemput, gimana?" tanya Nanda.
Rara hanya mengangguk dan berdiri di bantu oleh Dinda dan juga Nanda.
Dinda membawa Rara pergi ke UKS untuk mengobati luka yang ada di tangan nya. Sedangkan Nanda kembali ke kelas untuk mengambil tas mereka dan meminta izin kepada guru yang sedang mengajar.
Dengan langkah terburu-buru menuju UKS tak sengaja Nanda menabrak orang yang sedang berjalan dari arah sebalik nya.
Brukk..
"Lu gak papa?"
Nanda sedikit menengok ke atas ternyata itu Bagas.
"I-iya gue gak papa, sorry, " sahut Nanda seraya berdiri.
"Gue juga minta maaf, tadi gue gak liat, " sahut Bagas.
"Gak papa kok, gue juga yang salah, gue harusnya gak buru-buru, " sahut Nanda.
Bagas tersenyum dan melihat Nanda yang penuh dengan tas dan tak sengaja melihat ada goresan kecil di tangannya.
Bagas memegang tangan Nanda, "Ini, lu kenapa?" tanya Bagas.
Nanda menarik tangan nya, "Gak papa kok, udah dulu yak, gue harus pulang sekarang, " sahut Nanda bergegas pergi.
"Tapi kan ini masih jam pelajaran, " sahut Bagas.
Tapi Nanda tak mendengar dia terus berjalan sampai akhir nya berbelok ke lorong lain.
Di UKS.
Dinda sedang mengobati luka di telapak tangan Rara dengan kapas yang sudak tersedia di UKS.
Rara hanya terdiam dan menahan perih. Tak lama setelah itu, Nanda datang sambil membawa tas.
"Haaahhh... Capek gue... " ucap Nanda berbaring di kursi.
"Mm... Cuma bawa tas aja capek, " sahut Dinda.
"Hehh... Gue harus minta izin dulu sama Bu Syanti, mana dia bilang nya kamu bukan mau izin pulang tapi mau bolos pelajaran ibu kan, gitu... Mana gue tadi dituduh sana adik kelas, " sahut Nanda.
"Di tuduh kenapa?" tanya Dinda.
"Gue di tuduh sebagai orang ketiga, antara dia sama Marcell, " sahut Nanda.
"Nasib punya suami yang terkenal, " sahut Dinda.
"Ye... Gimana luka nya?" tanya Nanda menghampiri Dinda dan Rara yang duduk di pinggir kasur.
"Udah lumayan baikan, " sahut Dinda selesai memperban tangan Rara.
"Ra... Gue telpon bang toriq sekarang yah?" tanya Nanda. Rara hanya mengangguk.
Nanda segera menelpon bang toriq kakak Rara.
: Hallo bang...
🗣️ : Hallo siapa yak?
: Ini gue Nanda... Lu gak ngesave nomor gue? Jahat banget lu...
🗣️ : Hahaha... Gak kok ndak.. Gue bercanda.. Ada apaan sii lu sampe nelpon gue?
: Bang bisa jemput kita gak sekarang?
🗣️ : Hah? Lu bolos lagi sama Rara Dinda? Kalo lu bolos gue gak akan ngejemput lu,
: Isshh si abang, gue sama Rara gak bolos, cuma ini...
🗣️ : Cuma apa?
: Ini Rara tangannya luka keta pecahan kaca, takutnya infeksi... Nanti sama Nanda di jelasin, yang penting sekarang abang jemput kita, Gue udah izin kok,
🗣️ : Yak udah bentar, ini gue otwe,
: Iya bang, makasih...
🗣️ : Iya sama-sama..
Tuutt... Tuutt... Tuutt...
"Ayoo Ra.. Kita ke depan gerbang... Abang lu jemput, " sahut Nanda.
Rara menurut saja dan segera pergi dari UKS menuju gerbang sekolah. Di sana ada dua satpam yang sedang berjaga.
"Kalian mau kemana?" tanya salah satu satpam itu.
"Kita mah pulang, " jawab Nanda.
"Kenapa pulang Ini kan masih jam pelajaran?" tanya satpam lagi.
"Kita udah minta izin kok sama guru, " sahut Nanda duduk di kursi.
"Katanya mau pula tapi malah diem disini?"
"Kita lagi nunggu abang nya Rara..." sahut Dinda.
"Kenapa lagi Rara?"
"Tangannya luka kena pecahan kaca, takutnya infeksi, " sahut Nanda.
"Kalo gitu Rara aja yang pulang, kalian kembali ke kelas, "
"Isshh bapak gak ngerti masalah abg jaman sekarang, " sahut Nanda.
Pak Satpam berhenti bertanya dan menjadi kaku.
"Tau nih si bapak, kalo masalah yang beginian, Rara tuh butuh sosok seorang teman, " sahut Dinda.
"Kalo terjadi apa-apa sama Rara, bapak mau tanggungjawab?" tanya Nanda.
"Kalo Rara nanti gak mau sekolah gimana? Kalo Rara nanti gak mau makan? Gak mau liat dunia luar? Gimana?" tanya Nanda.
"Yak, jangan sampe, "
"Yak udah makanya... Gaul dong sama anak abg, " sahut Nanda.
Anak jangan sekarang... - batin pak satpam.
Beberapa menit kemudian, mobil bang toriq datang. Nanda dkk pun segera naik ke mobil dan segera pergi dari lingkungan sekolah.
Di dalam mobil.
"Rara kenapa Ndak?" tanya bang toriq.
"Rara habis putus, " sahut Nanda.
"Putus urat nadi?" tanya bang toriq panik.
"Iisshh apaan sih, orang belum selesai ngomong, udah di samber aja, " sahut Nanda kesal.
"Iya makanya yang jelas dong.. " sahut bang toriq.
"Rara habis putus sama pacarnya... " sahut Dinda.
Ckiiitt...
Bang toriq segera berhenti dan membuat kamu bertiga yang duduk di belakang terdorong ke depan.
"Hah?! Kamu punya pacar de?!!" tanya bang toriq.
Rara hanya mengangguk dan mengalihkan pandangan nya ke luar jendela.
"Siapa nama pacarnya?" tanya bang toriq.
"Agung... " jawab Nanda dan Dinda barengan.
"Oh, " sahut bang toriq kembali melajukan mobilnya.
Hah? Masa cuma oh doang? Aneh dah gue sama kakaknya Rara... - batin Nanda.
Masa iya seorang kakak cuma bilang oh? Bang toriq niat gak sih punya adik? - batin Dinda.