My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Gelut sini gelut



"Waahhh jebol dong tangan lu?" tanya Lukman tertawa.


"Iyalah masa engga, " sahut Angga.


"Dia sampe sekarang masih trauma sama obeng, gara-gara abangnya Rara, " sahut Dinda.


"Tau nih abang lu sakit jiwa?" tanya Angga.


"Apa lu bilang?" tanya Rara berbalik dan menatap Angga sinis.


"Engga maksud gue.. Itu anu... " sahut Angga tak tau harus ngomong apa.


"Udah santuy teteh jago.. Santuy, " sahut Agung menarik tubuh Rara menjauh dari Angga.


Rara hanya diam setelah tangan Agung terlepas dari tubuhnya. Setelah beberapa menit mereka sekarang ada di parkiran motor dan mobil. Tanpa memedulikan hal lain, Marcell segera memasukkan koper dan tas Nanda ke bagasi.


Mereka kini sedang berkumpul sebelum berpisah. "Hati-hati di jalan ndak, awas lu cell kalo ngebut gue tonjok lu sampe penyok, " sahut Rara.


"Mm, " Marcell hanya bergumam.


"Jangan lupa chat kita kalo lu udah nyampe rumah, " sahut Dinda memeluk Nanda.


"Kalian ini kayak mau berpisah selama nya aja sampe pake acara peluk-pelukan segala, " sahut Angga.


"Laki-laki mana paham, " sahut Putri.


"Iyah, para cowok menepi kalian gak akan paham dengan situasi para kaum hawa, " sahut Rara.


"Banyak cakap, " sahut Agung.


"Ddiiihh emang bener, emang lu berani meluk Angga sama Marcell?" tanya Rara kepada Agung.


"Najisss.. " sahut Angga.


Marcell hanya bergidik geli jika di peluk oleh Agung. "Woi Lukman sini.. Ngapain lu bengong di situ?" teriak Nanda.


Lukman berbalik dan menghampiri Nanda dkk. "Gue lagi nunguin calon bidadari gue, katanya lagi otwe ke sini.. " sahut Lukman.


"Lama-lama lu bilang calon bidadari gue makin kepo, " sahut Rara.


"Lu mah emang udah turunan nya kepo Ra, sampe-sampe salah satu OSIS aja lu kepoin, " sahut Dinda.


"Oh iya gue inget, waktu ada anggota kelas sebelah yang masuk ke OSIS lu kepo kayak gimana orang nya, " sahut Nanda.


"Terus lu bilang, kalo orang nya cakep gue mau pacarin, kalo nggak cekep capek gue.. " sahut Dinda.


"Oh iya gue inget itu waktu kita SMP kan?" tanya Putri.


"Iya.. " sahut Nanda, Dinda barengan sambil tertawa.


"Aduuh malu gue.. Kalian masih aja inget jaman SMP padahal gue kalo soal itu udah lupa, " sahut Rara.


"Makanya sering-sering liat poto waktu SMP dong.. Lumayan kan kenangan berharga, " sahut Dinda.


"Mm.. Gue lupa naro album nya dimana, sampe sekarang gak ketemu-ketemu, " sahut Rara.


"Hadeuuhh anak ini.. " gumam Nanda.


Putri melihat ke sebelah kiri Lukman melihat ada seorang gadis yang celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.


"Eehh itu siapa?" tanya Putri sambil menunjuk.


Lantas mereka semua mengalihkan pandangan ke arah seorang gadis yang terus menerus melihat ponsel nya.


"Eehh itu calon bidadari gue.. " sahut Lukman tersenyum.


"Itu orang nya?" tanya Rara.


"Iya, gimana cakep kan?" tanya balik Lukman.


"Iya sih capek, tapi kok seksi gitu yah.. " sahut Rara melihat Nanda.


"Iya, seksi banget gak salah pilih cewek lu?" tanya Nanda.


"Hah seksi?" tanya Lukman lalu melihat ke sebelah kanan Dwi.


"Iyah kan, " sahut Dinda.


"Iiihh amit-amit selera lu aneh banget Lukman, calon bidadari apanya kalo dia genit gitu sama cowok lain, " sahut Nanda.


"Apalagi sama satpam lagi, seleranya rendah banget, " sahut Dinda.


"Astagfirullah... Bukan yang lagi genit sama satpam tapi noh yang lagi liatin hape mulu, " sahut Lukman sambil mengarahkan kepala Nanda kepada seorang gadis yang terus memainkan hapenya.


"Ehh inget tangan tangan, " sahut Marcell.


"Oh iya lupa, maaf, " sahut Lukman segera melepas kan kepala Nanda.


"Ooh yang itu.. Ra bukan yang lagi genit tapi yang itu.. " tunjuk Nanda.


"Yang mana? Ohh yang itu.. Kalo masalah body bagus, sikap nya belum tentu bagus, " sahut Rara.


"Kalo gak salah, itu kayak adik kelas deh, yang bidang PMR juga, " sahut Dinda berpikir.


"Hah adik kelas?" tanya Lukman bingung.


"Eehh bukan deh... " sahut Rara tak yakin.


"Tau ahh pusing, kenalin man, " sahut Nanda kepada Lukman.


"Okey, gue panggil sekarang ya, " sahut Lukman berjalan menghampiri Dwi.


"Taun depan, " sahut Dinda.


Lukman sedang mengobrol dengan Dwi, dan mereka berjalan ke arah Nanda dkk, mereka tampak serasi dwi yang murah senyum terus memperlihatkan senyumannya.


"Hai, " sapa dwi.


"Iya Hai, kenalin gue Dinda, " sahut Dinda.


"Dwi, " sahut Dwi.


"Gue Nanda, " sahut Nanda.


"Gue Rara, "


"Gue Putri, "


"Iyah salam kenal aku Dwi, " sahut Dwi ramah.


Dwi terus tersenyum melihat ke arah mereka semua, saat melihat Marcell, "Lho ini kakak yang tadi yah?" tanya Dwi kepada Marcell.


"Iyah, makasih udah ngebantuin kita tadi, " sahut Marcell ramah.


"Iyah gak masalah kok kak, " sahut Dwi tersenyum.


"Udah dong, gak liat ada dua makhluk yang panas, " sahut Putri.


"Cuma temen, ini cewek yang udah ngebantu kita tadi, " sahut Marcell.


"Oh, " sahut Nanda.


Dwi melihat Lukman, "Tadi kamu mau bilang apa?" tanya dwi.


"Mm? Oh iya, kamu mau pulang bareng aku gak? Sekalian mau mampir ke rumah, " sahut Lukman.


"Mau ngapain ke rumah aku?" tanya dwi.


"Mau minta restu, " sahut Lukman lancang.


Seketika wajah dwi berubah menjadi merah tomat, dan Lukman menjadi salting setelah mengatakan 'mau minta restu'.


"Dwiii sayang... Eehh ada abang ganteng... " sahut seorang wanita yang berlari ke arah Dwi tapi gak jadi, dia berlari ke arah Marcell.


"Eeehh siapa lu?!" tanya Nanda menjauhkan Marcell dari Lerry.


"Apa sih... Gue mau ketemu sama beby, " sahut Lerry.


"Beby beby... Babi sekalian, lu siapa sih? Main peluk-peluk suami orang, " sahut Nanda kesal.


"Hah? Suami? Heh jangan ketinggian deh ngehalunya.. " sahut Lerry.


"Lu baru datang satu menit yang lalu, tapi lu udah bikin keributan sama gue, Nanda yang paling cuantik sealam semesta, " sahut Nanda.


"Heh, mau namanya Nanda lah apa lah, tolong halu nya jangan ketinggian, " sahut Lerry.


"Masih mending gue ngehalu dari pada elu goda sana goda sini... Gak laku luh?" tanya Nanda dengan nada meninggi.


"Berani banget lu bilang kayak gitu.. Kalo emang bener ini suami lu, masih SMA udah nikah keluarga lu kurang mampu? Makanya jangan suka ngebantah, "


"Ehh lu nggak tau apa-apa jangan suka ngasih micin sana sini.. Najis gue denger nya.. "


"Masa bodo.. Cowok ganteng ini milik gue, no debat, " sahut Lerry merangkul tangan Marcell.


Melihat nya Nanda semakin panas dan ingin sekali menghajar Lerry sekarang juga.


"Awass tangan lu tangannn.. " teriak Nanda berusaha melepaskan tangan Lerry.


"Iiihhh elu ganggu aja b*ngs***.. Dasar cewek jal*ng, " sahut Lerry.


"Uuuuhh kayanya si Lerry punya dua nyawa, kita mundur.. " sahut Agung.


"Mundur.. Gue takut kena pukulan Nanda, " sahut Ihsan.


Mereka semua mundur terutama Marcell, dan kini mereka berdua saling berhadapan satu sama lain.


"Hah? Lu bilang apa? Lu bilang gue cewek jal*ng?" tanya Nanda.


"Kalo iya emang kenapa?"


"Harusnya gue yang bilang gitu.. Dasar cewek murahan, "


"Enak aja, gue masii perawan, harusnya itu elu yang udah suami masa iya malam pertama gak ngapa-ngapain, kan gak mungkin, "


"Gimana gue dong, mau malam pertama mau engga juga, emang lu tau apa?"


"Gue emang gak tau apa-apa, tapi gue ini bukan cewek murahan, " sahut Lerry.


"Dasar cewek sint*ng, " sahut Nanda dengan nada meninggi.


"Lu cewek murahan, " sahut Lerry.


"Berantem lu sama gue, " sahut Nanda.


"Hayuu gelut sini gelut... " sahut Lerry bersiap.


Saat Nanda maju ke depan untuk menghajar Lerry, tapi tubuhnya di tahan oleh seseorang dari belakang yang memeluknya.


"Aaaahh apa-apaan ini?! Harusnya gue yang di peluk sama abang ganteng bukan cewek murahan ituu.. " teriak Lerry panas.


"Awass.. Lepasin gue.. Gue mau ngehajar cewek jal*ng itu.. " teriak Nanda memberontak di pelukan Marcell.


"Udah ndak udah... " sahut Dinda mencoba menenangkan Nanda.


"Udah sabar sabar.. Biar gue yang hajar, " sahut Putri.


"Jangan ikut-ikutan, " sahut Ihsan.


"Udah kak sabar.. Istighfar, " sahut dwi memegang tangan Lerry untuk segera kembali ke dalam rumah sakit.


"Nggak gue mau ngehajar cewek murahan itu.. " teriak Lerry.


"Cewek jal*ng.. Sini lu maju.. " teriak Nanda.


"Hayuu sini.. " sahut Lerry.


Rara dan Putri menahan Lerry yang terus maju ke depan untuk menghajar Nanda, Lerry yang terbakar api panas karena Marcell memeluk Nanda dari belakang sejak tadi.


"Udah diem.. " sahut Marcell tegas yang masih memeluk Nanda.


Seketika mereka semua diam termasuk Nanda dan Lerry yang berhenti berdebat.


"Gue suaminya Nanda, lu jangan panggil istri gue dengan sebutan cewek jal*ng, " sahut Marcell.


Lerry yang mendengar kebenaran ini tak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima keadaan.


"Oh yak udah kalo gitu.. Jaga istri lu itu jangan marah-marah gak jelas kayak tadi, " sahut Lerry.


"Gue berusaha ngelindungin suami gue dari godaan setan kayak elu itu, " sahut Nanda.


"Udah ndak diem, " sahut Marcell di telinga Nanda.


Nanda pun terdiam. "Lukman nanti lagi yah ngobrol nya, aku harus jagain kakak aku dulu, daahh semuanya.. Maaf yah tadi atas kelakuan kakak aku.. " sahut dwi.


"Iya dwi gak papa, lain kali tolong bawa kakak kamu ke rumah sakit jiwa biar di periksa kejiwaan nya, " sahut Putri.


"Iyah hahhaha.. " sahut dwi tertawa.


"Udah, udah tenang kan semuanya?" tanya Agung.


"Udah, " jawab Rara.


"Ini Nanda kayaknya masih marah deh.. " sahut Dinda.


"Cell langsung bawa aja ke dalem mobil, langsung pulang ke rumah biar marah-marah di rumah, jangan di sini malu banyak orang, " sahut Ihsan.


"Iya ini mau, " sahut Marcell membopong tubuh Nanda menuju mobil.


"Aaahh gue bisa jalan sendiri, " teriak Nanda. Marcell pun melepaskan Nanda.


Setelah terlepas dari pelukan Marcell yang sangat erat tadi, Nanda masuk ke dalam mobil dengan langkah kasarnya.