
"Katanya Nanda, besok boleh pulang, " ucap Ayah Endi.
"Syukur lah... kita bisa lanjutin pernikahan nya, besok kalian nikah, " sahut bunda bahagia.
Nanda dan Marcell seketika terdiam, mereka sampe lupa, besok tanggal 13 dan besoknya tanggal 14 mereka akan kedatangan tamu.
"Mah, bisa gak jangan besok akad nya... besoknya lagi... " ucap Nanda memohon.
"Gak ada, penghulu nya udah siap, gak bisa batal, makasih, " sahut Mamah Nanda menolak.
"Aaahhh... mamahh.... plissss... " sahut Nanda masih memohon.
"Hahahah..... Kasian... nikah nikah nikah~~" teriak Betly, Firza dan Fauzan tertawa.
"Adik gak ada akhlak, " gumam Nanda kesal.
"Bodo... wheeee.... " ejek Betly.
"Kan besok hari pernikahan, gimana kalo sekarang aja pulangnya?" ucap Mamah.
"Nah iya bener mending sekarang aja pulang, jadi besok kalian nikah, " sahut Ayah Endi.
"Nanda sama Marcell aja yak, Marcell pake mobil atau motor?" tanya Bunda.
"Mm... mobil, sebelum ke sini, Pak supir datang pake mobil pribadi aku... " sahut Marcell malu.
Nanda yang melihat Marcell dengan wajah nya yang malu, sangat penasaran, dan tumben Marcell malu di depan bunda nya sendiri.
Kenapa nih anak? tumben banget malu, - batin Nanda.
"Apa lu liat-liat?" tanya Marcell.
"Apa sih, mata mata gue kenapa lu sewot, " sahut Nanda.
"Iya lah itu mata lu, masa iya itu mata gue, "
"Yak kalo ini mata gue, yah terserah gue dong mau liat kemana aja, "
"Serah lu... itu mata elu kek, mata orang lain kek, " sahut Marcell pergi.
"Mau kemana lu?" tanya Nanda.
"Kangen lu sama gue, sampe gue gak boleh jauh-jauh dari lu?"
"Amit-amit... buat apa gue kangen sama elu, gak guna, "
"Mm.. serah lu... " sahut Marcell dingin.
Sementara itu yang lain sedang siap-siap untuk segara pulang ke rumah mambawa Nanda pergi dari rumah sakit ini.
Mereka semua sudah siap untuk pulang ke rumah dan menyiapkan persiapan yang ditinggal.
"Cell, gendong Nanda ke mobil kamu.. " ucap Bunda.
"Tapi bund, biar Ayah Endi aja yang gendong, belum muhrim, " sahut Marcell menolak.
"Ayah udah capek, sana sini gendong gadis, udah berat, " sahut Ayah Endi menolak dan berjalan pergi.
"Ayok cell, kan kamu suaminya, besok kalian nikah, " sahut Mamah memaksa.
Marcell yang pasrah akhirnya menggendong Nanda dengan hati-hati saat menuruni tangga.
"Hati-hati, nanti malah lebih parah lagi lukanya.. " sahut Bunda.
Gue malah bersyukur... - batin Marcell.
"Lu pasti di dalam hati bilang 'bersyukur' kan?" tanya Nanda benar.
"Emang lu bisa baca isi hati gue?" tanya Marcell.
"Engga juga, cuma nebak doang, bener apa engga?" tanya Nanda memaksa.
"Gue gak bakal ngasih tau... " sahut Marcell membuka pintu mobil nya.
Sedangkan Nanda duduk di pangkuan Marcell saat Marcell berusaha membuka pintu mobil untuknya dengan hati-hati. Nanda hanya melihat Marcell dari bawah, begitu sangat mempesona.
Lu sebenarnya punya perasaan ke gue apa engga? - batin Nanda bertanya.
Saat pintu terbuka, Marcell memasukkan ke jok depan bersama nya. Marcell pun menyusul masuk ke jok pengemudi, dan menjalan kan mobil ke rumah Nanda.
Di dalam mobil hanya ada keheningan, tak ada yang berbicara, yang satu fokus ke jalanan, yang satu fokus ke mengemudi.
Mereka sampai dengan selamat ke rumah Nanda. Marcell dengan segera menggendong Nanda kembali menuju kamar.
Bunda dan Mamah yang juga baru keluar dari mobil mengeluarkan ponselnya dan merekam kejadian yang akan mengenang mereka berdua.
.
.
.
.
.
Marcell membaringkan tubuh mungil Nanda di atas kasur.
"Udah gak ada yang sakit lagi kan?" tanya Marcell.
"Udah gak ada kok, udah mendingan, " jawab Nanda.
Marcell membuka jendela di samping Nanda agar cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
"Lu ada powerbank gak? Hp gue lobet, " tanya Marcell.
"Ada tuh di lemari bawah ke 4 buka aja, " tunjuk Nanda.
Marcell pun menurut dan membuka laci ke 4 dan benar di sana terdapat banyak powerbank. Marcell mengambil satu dan meminjam kabel.
Saat melihat Marcell bermain dengan ponselnya, tiba-tiba Nanda teringat tentang ponselnya. Dengan segera dia bangun dari kasur dan berjalan ke luar. Marcell yang melihat nya, menghalangi.
"Mau kemana lu?" tanya Marcell.
"Gue lupa di mana ponsel gue, " sahut Nanda.
"Lu masih sakit, besok bakal ada acara besar lu harus istirahat, " sahut Marcell.
"Yah tapi ponsel gue!!" sahut Nanda terus memberontak.
"Yak udah iya, lu istirahat, biar gue yang nyari ponsel lu itu, " sahut Marcell.
Nanda pun berhenti memberontak dan menurut untuk kembali ke kasur dan beristirahat.
Marcell turun dan melacak ponsel Nanda di luar kamar.
"Buset, masih ada di gedung itu lagi, ahh males, mending gue beliin yang baru aja deh, " gumam Marcell turun untuk membantu yang lain.
"Loh kok pengantin turun dari kamar?" tanya Bunda tersenyum.
"Emang masalah yah bunda?" tanya Marcell.
"Gak papa, Nanda sama siapa si kamar?" tanya Mamah.
"Sendiri, " jawab Marcell berdiri dan kembali ke kamar.
"Kakak aneh, " gumam Fauzan.
"Gimana sih rasanya punya kakak laki-laki?" tanya Firza.
"Gak enak, sering di suruh-suruh, ngeganggu aja terus kerjaannya itu, " jawab Fauzan.
"Mm, masih enak cuma segitu, lah kita berdua gak berantem sama kak Nanda, baku hantam, saling coret muka, jahil, gak suka di ganggu kalo lagi belajar, padahal dia sendiri sering ganggu kita berdua belajar, aneh kan... " sahut Firza.
"Malah gue pengen banget punya kakak perempuan biar bisa gelut, baku hantam kayak gitu, " sahut Fauzan.
"Mending kakak laki-laki, " sahut Firza.
"Ooo... jadi lu lebih milih punya kakak laki-laki dari pada kakak perempuan? Iya Firza?" tanya Nanda.
"Iya lah, kalo kakak perempuan apalagi kalo kak Nanda barbar nya minta ampun, gue langsung saja nerima pindah ke Turki dari pada ribet ngurus kak Nanda yang barbar... " jelas Firza yang masih belum menyadari kalo ada Nanda
Fauzan menyenggol tangan Firza, menyuruh nya melihat ke atas. Firza melihat ke atas dan ternyata ada kak Nanda di depannya yang sudah memegang gunting di tangannya.
"Kakak mau ngapain sama gunting itu?" tanya Firza sambil menunjuk ke arah gunting yang Nanda pegang.
"Ini, awalnya mau bantuin bungkus kado, tapi gak jadi karna lu ngatain gue, " sahut Nanda.
"Gue gak ngatain kakak kok, " sahut Firza yang membereskan barang-barang bersiap untuk kabur.
"Gue pengen bunuh lu... " sahut Nanda mendekat.
Firza segera lari menuju kamar, Nanda pun ngejar nya. Sampai semua anggota keluarga hanya geleng-geleng kepala melihat mereka berdua.
"Dasar anak-anak, " gumam Bunda.
"Gimana jeng, seru gak di rumah saya... " sahut Mamah Nanda tersenyum.
"Seru banget, banyak yang ngobrol sana sini, jadi gak sepi, " sahut Bunda.
"Iya dong, nanti Nanda gak akan ada lagi di rumah ini, senyuman nya pindah, " sahut Mamah.
"Iya... semoga di sana, dia terus tersenyum... " sahut Bunda.
"Di ruman pasti terus saja suara teriakan, " sahut Marcell.
"Kok bisa gitu?" tanya Mamah.
"Kan ada Fauzan yang gesrek, " sahut Marcell sambil melirik ke Fauzan.
"Gue gak gesrek, " sahut Fauzan.
"Masa.... " sahut Marcell tak percaya.
"Bacot kau... " sahut Fauzan.
"Marcell ke sini sebentar, kamu apalin nama Nanda sama kepanjangan nya... " sahut Ayah Endi.
Marcell menghampiri dan mulai menghapal untuk besok akad.