
Di kelas Nanda masih ada keheningan sejenak karena masih ulangan. Tapi sebenarnya batin mereka ingin secepatnya selesai.
Bu wahyuni tiba-tiba keluar dari kelas Nanda. Dan tentu saja para anak-anak IPS 3 dengan santainya mengambil kesempatan untuk bertanya.
"Ndak, gue liat no 14," pinta Rara.
Nanda pun menulis sesuatu di kertas kecil dan mengoper kertas itu dari meja Dinda menuju meja Rara.
Dan terkadang Putri pun bertanya, hampir semua yang dia tanyakan yang belum Nanda kerjakan.
"Liat no 56 , " sahut Putri.
"Belum, " sahut Nanda.
"No 13, "
"Sama belum, " sahut Nanda.
"Yang belum no berapa aja lu?" tanya Putri kesal.
"No 3, 13, 17, 37, 48, 56, udah segitu, " sahut Nanda.
"Semua nomor yang lu sebutin, sama kayak gue.. " sahut Putri.
Nanda hanya tersenyum dan melihat Mike yang sedang mencari jawaban menggunakan ponsel. Biasalah nyontek ke mbah goggle.
"Syuut... Mike.. Mike... " panggil Nanda dengan berbisik.
Mike menoleh ke arah Nanda, "Apa?" tanya Mike.
"Gue liat jawaban lah, elu enak meja di belakang bisa liat HP , " sahut Nanda.
Tanpa basa basi Mike langsung saja memberikan kertas jawaban nya itu ke Nanda.
"Cepetan, " sahut Mike.
"Siap, " sahut Nanda.
Tak lama bu Wahyuni kembali ke kelas dengan membawa beberapa paperback berwarna ungu, biru, dan hijau.
Anak-anak kembali ke meja nya masing-masing saat tau kalo bu Wahyuni sedang menuju kemari.
Begitupun dengan Nanda, dengan segera mengembalikan kertas jawaban milik Mike ke atas mejanya.
"Gimana anak-anak sudah selesai?" tanya Bu Wahyuni.
"Sudan bu... " sahut Mike.
"Ohh Mike pinter, udah lagi, silahkan kumpulkan kalo sudah selesai, " sahut bu Wahyuni.
Iyalah gimana gak cepet beres, orang dia liat ke goggle sedari tadi... - batin Nanda.
"Nanda, kok kamu telat?" tanya bu Wahyuni.
"Aku juga udah kok bu, " sahut Nanda berdiri dan segera mengumpulkan kertas jawaban nya itu.
"Nah ini baru namanya Nanda, pasti kamu sering balajar yah, sampe kamu selsai barengan sama Mike, " sahut bu Wahyuni kagum.
Nanda dan Mike hanya tersenyum menanggapi ucapan bu Wahyuni barusan dan segera kembali ke meja masing-masing.
Ding... Dong... Ding... Dong...
Bel pergantian pelajaran akhirnya berbunyi, semua anak-anak IPS 3 merasa lega, dan segera mengumpulkan kertas jawaban mereka.
"Oke anak-anak, ibu permisi dulu yah... " sahut Bu Wahyuni pamit dan berjalan keluar.
"Haaaaahhhh..... "
Semua anak menarik napas panjang dan mulai lega, karena tak akan melihat soal yang rumit seperti itu lagi, sekarang mereka tinggal menunggu hasil.
"Gue capek... "
"Gue gak tau nomor 15 apa isinya... "
"Gue ngasal semua... Karna gue gak belajar... "
"Pusing gue... Woy ke UKS yok, "
"Hayoo gass... "
Dinda dan Putri menghampiri meja Nanda. Sedangkan Rara masih termenung memikirkan hasil yang akan keluar.
"Gimana kesan-kesan yang ingin anda sampaikan soal ulangan tadi?" tanya Putri menirukan suara reporter.
"Kesan saya selama ulangan tadi... Biasa aja, " sahut Nanda tersenyum lebar.
"Kalo anda Dinda? Bagaimana kesan anda selama ulangan barusan?" tanya Putri.
"Sama kesan saya juga biasa aja... Walau banyak yang gue tanyain sama Nanda... Tapi alhamdulillah, hampir semua gue bisa jawab, " sahut Dinda.
"Kalo boleh apa rahasia kalian sampai bisa menjawab semua soal itu dan mengatakan ulangan itu biasa aja, apa rahasianya?"
"Rahasianya adalah... Gue belajar barang Marcell... " sahut Nanda.
"Nah kalo gue bareng Angga, " sahut Dinda.
"Kalo saya, bareng Ihsan, " sahut Putri.
"Kalo elu ra... Bareng sama siapa belajar?" tanya Dinda.
"Yah pastinya.. Sama Agung lah, " sahut Putri.
"Engga gue belajar sendiri, diajarin sama abang gue, " sahut Rara tanpa menengok ke belakang.
"Lu gak belajar sama Agung? Kan Agung pinter kalo soal IPA, " sahut Dinda.
"Iya sebelas duabelas sama Marcell, " sahut Nanda.
"Gue gak ngasih tau ke abang gue kalo gue pacaran sama Agung, " sahut Rara.
"Tapi kalo emak lu?" tanya Putri.
"Kalo emak gue setuju dan udah tau... Tapi gue gak ngasih tau abang, gue takut dia marah, " sahut Rara.
"Yang sabar yah... " sahut Putri mengelus pundak Rara.
"Iya, thanks buat kalian yang selalu suport gue dan selalu nyemangatin gue, " sahut Rara.
"Rasanya tadi kita lagi ribut masalah ulangan sama nilai, tapi sekarang kita ganti topik gegara denger cerita anak titisan setan, " sahut Dinda.
"Iya iya... Gue mah hebat... " sahut Rara bangga pada dirinya sendiri.
"Dasar emang... " sahut Nanda dan Putri barengan.
Jam pelajaran kedua pun di mulai saat guru sudah masuk ke dalam kelas, tanpa memberi salam.
Panggilan untuk ketua kelas IPS 3 di tunggu di ruang guru, bu Wahyuni, sekian terimakasih.
"Nanda, sono tuh lu di panggil ke ruang guru, " sahut Putri.
"Ck. Mike lu aja ke ruang guru, gue kagok bentar lagi beres, " sahut Nanda.
Mike berdiri dan meminta izin untuk pergi ke ruang guru.
Rara berbalik ke meja Dinda, "Menurut lu, itu hasil ulangan kita?" tanya Rara.
"Bisa jadi... Kalo Nanda yang pergi, kita bisa liat dikit, " sahut Dinda.
"Mm.. Iya juga sih... " sahut Rara.
Beberapa menit kemudian, Mike kembali ke kelas sambil membawa beberapa kertas.
Semua anak mulai tegang melihatnya. Sedangkan Mike dengan santainya memanggil nama dan juga menyebutkan nilai.
"Anak anj*ng emang, kenapa pake di sebut nama sama nilai juga sih... Bikin malu aja, " gumam Rara.
Dasar anak syaiton... Kalo nilai nya kecil gimana? Mampusss.... - batin Dinda.
"Gue yakin, gak ada nama gue... " sahut Mike percaya diri.
"Mm... Mari kita lihat... " sahut Nanda.
"Jilan, 76 , "
"Wira, 50, "
"Mike 45....ehh..." seketika dia melotot dan terdiam kaku saat melihat nilainya.
"Bbbwaahahahaa..... Nilainya yang paling kecil... Apa itu.... Patlima... Haha... " sahut Rara tertawa.
Nanda menghampiri Mike dan mengambil sebagian kertas lainnya dan mulai membagikan nya tanpa memberitahu nilai.
"Ketua kelas emang the beast... "
"Tau nih... Makanya wakil ketua kelas... Jangan suka sombong... "
"Dapet karma lu... "
"Namanya aja wakil ketua, tapi di setiap ulangan liat mbah google, "
"Udah jangan banyak bacot... Btw Mike kok kertas gue sama yang lain gak ada?" tanya Nanda.
"Itu yang kena remedial, kalo yang engga ada nilainya di atas delapan puluh, " sahut Mike yang masih mematung.
"Yeeee.... Nilai gue di atas 80...."
"Bukan lu doang... Gue juga samaa... "
"Yeesss gak sia-sia gue belajar dari jam dua pagi sampe masuk sekolah, "
Begitulah teriakan semua anak-anak kelas IPS 3 saat mereka berhasil lolos dari ulangan IPA.
Nanda kembali ke mejanya saat selesai membagi hasil ulangan.
"Kira-kira kita bakal dapet nilai berapa?" tanya Dinda.
"Kalo di atas 80 an berarti kita lolos dong.... Yeeeeyyy... " teriak Rara.
Kira-kira di kelas IPS 3 yang gagal dalam ulangan IPA hanya 30% dan sisanya berhasil mendapatkan nilai yang terbaik.
"Kalo Nanda mah jangan ditanya... Dia pasti dapet ranking satu lagi, " sahut Putri.
"Udah jangan ditanya kalo masalah itu, " sahut Rara tak heran lagi.
Saat mereka sedang mengobrol tak lama Salsa datang sambil membawa kertas di tangannya.
"Gengs, duduk... Ini sisa kertas ulangan kalian yang nilainya di atas kkm, " Teriak Salsa.
Ajaibnya semua anak langsung duduk di meja masing-masing dan mendengarkan dengan seksama.
"Rara, 87, " sahut Salsa sambil memberikan kertas ulangan nya kenapa Rara.
"Dinda, 90, "
"Putri, 85, "
"Sa, nama gue jangan di panggil, " sahut Nanda.
"Oke siap, " sahut Salsa.
Setelah membagikan kertas ulangan yang lain, Salsa menghampiri Nanda dan memberikan kertas ulangan nya.
Dengan cepat Nanda mengambil dari tangan Salsa, karena banyak anak titisan setan yang kepo dengan nilai ulangannya.
"Berapa nilai lu?" tanya Rara menghampiri Nanda.
"Gue juga belum liat, " sahut Nanda.
"Jangan di pendem napa, gue juga kepo sama nilai lu, " sahut Dinda.
"Sa... Berapa nilai ulangan Nanda?" teriak Putri.
"Gak tau... Gue gak sempet liat, " sahut Salsa.
Nanda mulai mengintip sedikit dan mulai melongo dan kaget.
"Nilai gue!!!" teriak Nanda dan membuat seisi kelas kaget.
"Kenapa kenapa?"
"Ada apa? Ada apa?"
"Innalillahi, "
"Siapa yang meninggal bro?"
"Kenapa ndak? Nilai lu kecil? Masa?"
"Gue gak percaya sama nilai kecil kalo Nanda yang ngerjain, " sahut Putri.
Rara mengambil kertas ulangan Nanda dan terkejut.
"Berapa nilainya?" tanya Dinda ikut melihat.
"Nilai gue... Kecil... " teriak pelan Nanda.
"Kecil dari mana oncom, " sahut Nanda melempar kertas itu ke wajah Nanda.
"Nilai sebesar ini di bilang kecil... Mata lu buta apa gimana, " sahut Putri.
"Tau nih... Nilai 98 aja di bilang kecil, " sahut Dinda.
Nanda hanya tertawa mendengar ucehan sahabat-sahabatnya.
"Sana lu, kasih tau Marcell... Gue mau ngasih tau ayank gue... " sahut Dinda.
"Lu aja, gak penting, " sahut Nanda melihat kembali kertas ulangan nya.
"Ndak... Gue liat goggle kok, nilai gue yang paling kecil?" tanya Mike dengan wajah sedihnya.
"Mana sini gue liat, " sahut Nanda.
Mike kemudian memberikan kertas ulangan ke Nanda untuk di periksa kembali.
"Ini no 45 kok lu salah, padahal jawaban nya sama atau gak bener lah salah satunya.. " sahut Nanda.
"Nah aneh kan, " sahut Mike.
"Ini juga sama... Hampir semua yang lu liat ke goggle bener semua, " sahut Nanda.
"Jangan-jangan bu Wahyuni tau kalo Mike nyontek ke mbah goggle waktu ulangan, makanya dia kasih nilai kecil, " tebak Rara.
"Mm... Bisa jadi.. " sahut Dinda.
"Tapi kan, bu Wahyuni muji gue barusan, " sahut Mike.
"Muji apa nya... Khayalan lu muji, " sahut Putri.
"Tapi kan tadi, bu Wahyuni muji gue, dia bilang 'Ohh Mike pinter, udah lagi, silahkan kumpulkan kalo sudah selesai', " sahut Mike menirukan suara bu Wahyuni.
Nanda tertawa mendengar nya. "Mungkin ada maksud lain, " sahut Nanda.
"Iya juga sih, " sahut Mike terdiam.
"Makanya kalo ulangan jangan suka nyontek ke goggle, orang mah nyontek bermusyawarah lah ini nyontek ke mbah goggle, " sahut Rara.
"Lain kali gue bakal ikut nyontek secara bermusyawarah, " sahut Mike kembali ke mejanya.
"Mm... Bagus itu baru namanya anak mami, " sahut Rara mengangguk.
"Gass kanti... " sahut Putri.
"Hayuu lah... " sahut Nanda bersemangat.