My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Saya akan menikahi Betly



Setelah pulang dari rumah Bu sella, Pak Endi berjalan menuju mobilnya, tapi di sana ada seseorang yang sedang menunggu.


Pak Endi awalnya tak akan menghampiri seorang lelaki itu, tapi karena mobilnya tepat terparkir di sana, yaahh apa boleh buat.


Saat Pak Endi semakin mendekat dengan seorang lelaki itu, lelaki itu melihat Pak Endi dan membuka kacamata hitam nya.


"Assalamu'alaikum.. Om, " sahut Bagas.


"Bagas?!" sahut Pak Endi kaget.


"Iyah om, apa kabar? Gimana dengan Bu sella?"


"Saya baik, Bu sella siap membantu kita dalam masalah ini, " sahut Pak Endi.


"Oh sukurlah kalo begitu.. Tugas kita sudah mulai ringan, " sahut Bagas merasa tenang.


"Ngomong-ngomong kapan kamu datang ke Garut? Dan bagaimana dengan sekolah kamu di Jakarta?" tanya Pak Endi.


"Saya keluar Pak, saya ingin secepatnya pulang ke rumah, ada yang menunggu saya di sana, " sahut Bagas.


"Oh gitu.. Kalo gitu.. Kita bicara sambil makan saja gimana? Saya sudah mulai lapar, " sahut Pak Endi.


"Iyah Pak, mari naik mobil saya saja, biar bodyguard saya yang membawa pulang mobil bapak, " sahut Bagas.


"Iya terimakasih, " sahut Pak Endi bergegas masuk ke dalam mobil Bagas. Bagas segera menyuruh dua orang bodyguard nya untuk membawa pulang mobil milik Pak Endi ke villa yang sudah di pesan langsung oleh Bagas sendiri.


"Kita mau makan apa pak?" tanya Bagas setelah ada di dalam.


"Saya terserah kamu saja, " sahut Pak Endi.


"Mm.. Gimana kalo kita ke restoran aja, biar bisa membicarakan masalah ini dengan tenang, "


"Boleh juga, " sahut Pak Endi setuju.


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, bagaimana tidak seorang pria yang ada di samping nya itu sudah berumur 45 tahunan. Jika Bagas melaju dengan kecepatan tinggi, Pak Endi akan sakit jantung.


Sesampainya mereka di restoran. Bagas keluar dengan senang dan membukakan pintu untuk Pak Endi.


"Silahkan pak, " sahut Bagas membuka pintu.


Pak Endi hanya tersenyum dan juga merasa bingung, tumben sekali Bagas bersikap seperti ini.


Mereka sudah duduk di meja dengan dua kursi di samping jendela besar. "Jadi.. Kenapa kamu memutuskan untuk keluar dari sekolah?" tanya Pak Endi sambil menyantap makanan.


"Seperti yang sudah saya bilang ada seseorang yang menunggu saya di Australia, " sahut Bagas.


"Siapa? Ayah ibu kamu?"


"Iya, mommy bilang agar aku secepatnya pulang ke Australia.. Banyak yang harus di bicarakan dengan deddy, " sahut Bagas.


"Mm.. Begitu yah.. Apa orangtua kamu tau, kalo tiga tahun lalu kamu hampir menghamili anak om?"


"Ee.. Iya tau.. Bodyguard saya yang memberitahu mereka berdua.. "


Pak Endi hanya mengangguk. "Jadi sebagai gantinya.. Saya akan menikahi Betly, " sahut Bagas.


"Pffttt.. Kenapa harus Betly?" tanya Pak Endi kaget dan menyemburkan air.


"Iya, karna saya sudah tidak bisa menikahi Nanda... Jadi sebagai gantinya Betly akan menjadi istri saya, " sahut Bagas.


"Gak bisa gitu.. Bagas!!" sahut Pak Endi dengan nada tinggi.


"Hahaha.. Maaf Pak saya cuma bercanda kok... Kalo Pak Endi bersedia yah saya mah hayuu aja gas ke pelaminan sama Betly, " sahut Bagas sambil menyisir rambut nya kebelakang.


"Sampai kapan pun, saya gak akan setuju kamu lebih baik mencari orang bule sana.. Jangan anak saya terus.. " sahut Pak Endi sedikit kesal.


"Iya Pak.. Saya belum juga melamar Betly udah main di tolak aja.. Dasar bapak-bapak gak tau diri.. Sakit tau.. " gumam Bagas.


"Mm.. Ngomong-ngomong Pak.. Bapak sudah menceritakan tentang Rara dan Agung?"


"Iya sudah, karna saya membawa nama Rara dan Agung, bu sella mau membantu kita.. " sahut Pak Endi.


Dasar otak Jaksa.. Bisa ajaa ide nya.. - batin Bagas.


"Gimana kabar Nanda?" tanya Pak Endi.


Bagas berhenti makan dan memandang Pak Endi. "Pak kenapa nanya ke saya? Saya kan bukan suami nya Nanda, " sahut Bagas.


"Yah siapa tau, kamu tau gimana kabar Nanda sekarang, " sahut Pak Endi.


"Yah tanya lah Pak.. Ke suaminya.. Marcell.. " sahut Bagas kesal.


"Hahaha.. Iya iya, saya bercanda kok jangan marah lah Bagas.. Nanti cepet tua lho.. Nanti gak ada yang mau sama kamuu.. " goda Pak Endi.


Kalo bukan orang tua, gue udah bilang bodoamat, - batin Bagas kesal.


Bagas hanya tersenyum menerima semua penyiksaan dari seorang Jaksa di depannya itu.


"Kamu sama Marcell udah baikan?"


"Sejak kapan saya musuhan sama Marcell? Saya mah biasa-biasa aja.. " sahut Bagas.


"Mm.. Tapi kata Nanda kalian berdua rebutan dia, " sahut Pak Endi.


Oalah.. Kata Nanda toh.. - batin Bagas.


"Nggak kok Pak, salah itu Nanda.. " sahut Bagas.


"Oohh gitu yah.. Tuh anak nurun sama siapa yah sampe salah nyampein segala.. " sahut Pak Endi tersenyum lebar.


Yah nurun sama bapak nya lah.. Kalo bukan sama bapak nya siapa lagi, masa iya nurun sama tantenya.. Kan gak mungkin - batin Bagas.


Mereka melanjutkan makan sampai habis dan segera kembali ke mobil. Bagas masuk duluan dan di susul dari belakang oleh Pak Endi.


Di dalam mobil.


"Yah di villa bapak lah, lagian itu kan villa saya, " sahut Bagas.


"Lho.. Eehh jangan.. " sahut Pak Endi.


"Kok gak boleh?"


"Banyak bapak-bapak yang suka nongkrong sama om di sana.. Nanti malem kamu gak bisa tidur lagi, "


"Hahaha.. Tenang aja om, dalam tiga detik aja aku udah gak inget sama dunia, " sahut Bagas tertawa.


"Yang bener? Nanti nyalahin om lagi.. Kan om mau ajak semua bodyguard kamu gaul sama orang garut, "


"Iya om bener.. Yah silahkan aja bawa gaul tuh bodyguard saya, mereka kurang gaul gara-gara terlalu fokus sama kerjaan mereka, " sahut Bagas.


"Suara orang garut beda lho.. "


"Ya ampun om.. Kan mommy aku orang garut asli, jadi yahh.. Aku sih udah terbiasa, " sahut Bagas.


"Mm.. Oke.. Awass nanti marah-marah terus ngusir para bapak-bapak itu gara-gara kamu kebangun, " sahut Pak Endi.


"Nggak akan Pak, " sahut Bagas yakin.


.


.


.


.


.


Di villa Bagas tengah malam.


"Yoo.. Yoo.. Yooo... Eleh deui.. " teriak seseorang di lantai bawah.


"Aarrhhgg naon ieu pak Endi curang.., "


"Oh maaf saya tidak curang... Kalian saja yang kurang memperhatikan.. "


"Oohh noo.. Urang ninggali tadii.. "


"Gak makasih.. Yooo pak iyan harus pake kalung bonekaa.. "


"Aaahh urang lagi yang kalah.. "


"Didinya tong sok kituu.. Di dieu mah beda deui.. Villa orang kayaa.. "


"Oh he'eh... Bedaa ey, ari orang kaya mah.. "


"Baheula tinggal di mana pak endi?"


"Di Jakarta.. "


"Asli orang mana?"


"Orang Bandung asli.. Turunan Sumedang.. "


"Eehh pantesan bisa basa Sunda atuuuhh.. "


"Lanjut lanjut lanjut.. "


Sementara itu di kamar Bagas lantai dua. Bagas terbangun dari tidur cantiknya karena suara teriakan dari lantai bawah.


"Tau gini gue nginep aja di hotel.. " gumam Bagas sambil mengucek matanya.


"Hoaamm.. Jam berapa sih ini? Kok itu bapak-bapak belum pada pulang yah.. " gumam Bagas melirik sebuah jam.


Terlihat di sana sudah jam setengah satu malam. Tapi di villa Bagas masih saja ribut seperti pos ronda.


"Pak Endi berissiikkk!!!" teriak Bagas.


Tapi sayang nya Pak Endi sedang sibuk main gaplek dengan bapak-bapak yang lain.


"Yawloh tolong selamatkan tidur hamba mu ini.. Dari keributan setan-setan di lantai bawah... " sahut Bagas berdoa dengan ekspresi memohon.


Bagas kemudian tidur kembali dengan kepala menghadap banyak dan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Nj*rr.. Eleh eyy.. "


"Pakeee japitan keur moe baju.. "


"Hahaha.. "


"Hahaha.. Maneh nu kos edek ngalawan pocong.. Haha.. "


Baru saja Bagas akan menutup mata tapi keributan itu kembali membangunkan nya.


"Kalo kalian anak muda.. Gue udah lempar nih kapak.. " teriak Bagas sambil melempar guling.


Pada akhir nya Bagas tak bisa tidur sampai jam tiga pagi. Bagas hanya bisa pasrah dengan keadaan di villa nya itu.


Cklekk..


"Hoaamm.. Lho Bagas kenapa kamu gak tidur?" tanya Pak Endi baru masuk kamar untuk mengecek keadaan Bagas.


"Engga papa kok om, aku lagi nunguin subuh.. " jawab Bagas dengan mata panda.


"Oh gitu, yak udah, om masuk ke kamar yah.. " sahut Pak Endi kembali menutup pintu kamar.


"Iya om... Semoga tidur nya nyenyak.. " sahut Bagas dengan suara serak.