My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Anak basket



Tak lama, setelah ia keluar dari kabut tebal dia memperlambat motornya ke kecepatan sedang.


Sekarang dia kembali ke jalanan yang ramah akan motor, mobil dan pejalan kaki lainnya.


Setelah sampai di rumah kediaman Alfarizky, Nanda melihat ada seorang lelaki yang sedang bermain bola basket.


"Busett ganteng banget bett, apalagi kalo ada angin sepoisepoi, damagenya nggak ngotak.. " gumam Nanda terpesona oleh ketampanan lelaki itu dengan keringat bercucuran di tubuhnya.


Lelaki itu menengok ke arah Nanda, dan menghampiri nya.


"Buset, dia kesini!? Gue cantik apa nggak?!!" gumam Nanda salting.


Deg... deg... deg..


Astagaa... Ini jantung tumben susah banget di kontrol... - gumam Nanda makin gugup.


"Lu kapan pulang?" tanya lelaki itu pada Nanda.


Nanda masih menganga tak percaya, kalo lelaki tampan itu mengenalnya.


"Lu kenal sama gue?" tanya Nanda.


"Ini gue Marcell, "


"Hah!?" Nanda kaget, tak kepalanya tiba-tiba merasa sangat pusing dan pingsan.


Marcell dengan berinisiatif langsung menangkap Nanda, dan menggendong nya ke dalam rumah.


"Bund!!" teriak Marcell minta tolong.


"Ada sih cell, sampe teriak-teriak gitu?" sahut bunda keluar dari kamar.


"Ini bund, bantuin Nanda pingsan!!" sahut Marcell.


"Apa?! Kenapa bisa?!" tanya ayah panik.


"Baringkan dia di sofa dulu aja, " sahut Bunda.


Ayah segera memijit kening Nanda, agar cepat sadar, dan bunda mengambil kayu putih. Marcell segera mandi kerena tubuhnya lengket.


Tak lama setelah mandi Marcell segera menghampiri Nanda yang masih terbaring di sofa, bunda tampak panik karena Nanda masih belum bangun juga.


"Cell kamu gantiin ayah, ayah mau bikin teh hangat buat Nanda, " sahut ayah.


Marcell menggantikan ayah nya dan memeluk Nanda erat, bunda pindah posisi memijit kaki Nanda.


Tubuh lu kecil amat - batin Marcell.


"Mm.. Mmm.. "


Akhirnya Nanda sadar, dan melihat ke arah atap.


"Nanda... " panggil Marcell lembut di telinganya.


Nanda menengok ke arah Marcell, matanya masih buram, ia masih belum melihat wajah itu dengan jelas.


"Gimana? Udah sadar?" tanya ayah membawa teh hangat.


"Alhamdulillah udah yah, " sahut Bunda merasa lebih tenang.


"Gimana perasaan kamu nanda?" tanya ayah.


"Aku baik-baik aja kok yah... " sahut Nanda dengan suara serak.


"Kamu kenapa bisa pingsan?" tanya bunda.


"Bun.. Jangan dulu kasih pertanyaan dulu, kasian baru sadar, " sahut Marcell.


"Iya boy, tenang aja, " sahut ayah.


"Boy, kamu bawa Nanda ke kamarnya yah, " pinta bunda.


"Iya bun, "


Marcell menggendong Nanda menaiki tangga satu persatu. Saat berada di tengah-tengah Nanda mengoceh untuk turun.


"Turunin gue, " ucap Nanda.


"Nggak, lu bari sadar, pasti lemes, " sahut Marcell.


"Cell!! Turunin gue!!"


Tubuh Nanda tak bisa berhenti bergerak di pangkuan Marcell, "Nanda bahaya, kita lagi ada di tangga, lu mau jatuh?!" ucap Marcell tegas.


Nanda mendengar nya langsung diam, dia tak mau jatuh seperti dulu.


Marcell masuk ke kamarnya, dan membaringkan Nanda di kasur nya.


"Kenapa ke kamar elu?"


"Kamar lu kan di kunci, mana kuncinya?"


"Yak udah nanti aja, deh disini enak yah... " sahut Nanda.


Marcell pergi keluar, "Lu mau kemana?" tanya Nanda.


"Gue mau ambil teh hangat buat lu, " sahut Marcell.


"Gue nggak mau teh.. Gue nggak mau apa-apa, " sahut Nanda.


"Ini bukan gue yang bikin, tapi ayah yang bikin, " sahut Marcell.


Tak lama Marcell datang membawa gelas di tangannya.


"Tadi gue mimpi, "


"Mimpi apa?"


"Tadi gue liat ada cogan lagi main basket, "


Marcell mendengar nya kaget dan mengepal tangannya kuat-kuat.


"Dimana?"


"Di halaman, " jawab Nanda.


Bentar, bukannya itu gue... - batin Marcell.


"Lu sadar nggak?" tanya Marcell


"Apa?"


"Itu gue, lu nggak mimpi, " sahut Marcell


"Wahh masa... Gue masih nggak percya, " sahut Nanda.


"Serah lu kalo nggak percaya mau nggak juga, gue mah yak bodoamat, " sahut Marcell berjalan pergi untuk membuka jendela.


Nanda menghampiri Marcell, "Lu anak basket?" tanya Nanda.


"Iya, " jawab singkat Marcell.


"Kapan lu lomba?"


"2 minggu lagi, emang nya kenapa?" tanya Marcell.


Marcell melihat Nanda dengan tatapan sinis.


"Ngapain lu ngeliat gue kayak gitu?" tanya Nanda.


"Cuma jawab 'oh' aja gitu?"


"Teruss, gue harus bilang wow gitu?"


Marcell tak bisa berbicara apa-apa lagi. Dia sudah terlalu pusing dengan tingkah Nanda yang tak peka.


Tok... Tok... Tok...


Marcell segera membuka pintu, "Ya? Siapa?" tanya Marcell.


"Saya Surty, saya datang kesini disuruh sama nyonya buat ngurut, " sahut surty.


"Oh, " sahut Marcell singkat.


Marcell mempersilahkan Surty masuk kedalam.


"Siapa yang mau di urut?" tanya Surty.


"Oh tentu saja buka saya, tuh anak pungut yang lagi diem di deket jendela itu, " tunjuk Marcell.


Nanda menghampiri Marcell dan Surty, "Enak aja lu sebut gue anak pungut, " sahut Nanda kesal, memukul pelan pundak Marcell.


"Yah saya kira abang ganteng ini yang mau diurut, tau nya ini... " gumam Surty kecewa.


"Apa tadi?" tanya Nanda dan Marcell barengan.


"Eh, bukan apa-apa, silahkan duduk, biar saya urut kaki nya, " sahut Surty menyuruh Nanda untuk duduk di kursi.


"Yang sakit emang kaki?" tanya Marcell ikut duduk di samping Nanda.


"Engga, "


"Terus ngapain kaki lu di urut?"


"Nggak tau, "


"Terus aja bilang nggak tau nggak tau, ada jawaban lain nggak?" tanya Marcell.


"Nggak ada, " sahut Nanda tertawa.


"Ketawa lu, " sahut Marcell.


"Emang kan lucu, liat lu kayak gitu, " sahut Nanda bercanda.


"Enak banget kayaknya di urut?" tanya Bunda yang baru datang.


"Eh, bunda, apa kabar bun?" tanya bunda.


"Jangan basa basi lah, " sahut Marcell.


"Napa sih elu sirik amat dah, liat gue akrab sama bunda, " sahut Nanda.


"Bukan sirik, tapi gue nggak suka liat elu basa basi soal semuanya, padahal langsung aja ke intinya, " sahut Marcell.


"Nah gini nih, makanya el-- Awww!!" teriak Nanda.


Marcell yang sedang membaca buku kaget akan teriak Nanda, "Kenapa lu?" tanya Marcell.


Nanda memeluk Marcell kuat-kuat, "Sakiittt!!"


"Udah mbak, kasian istri saya, " sahut Marcell.


Istri saya? jadi ini istri nya? - batin Surty.


"Udah mbak, makasih udah mau urut putri saya, " sahut Bunda.


Berarti bener yah, dia ini istri abang ganteng itu, - batin Surty, tak punya harapan lagi.


"Ngapain lu manggil gue sama sebutan 'istri saya' ?" tanya Nanda.


"Gue liat dia kayaknya dia suka sama gue, makanya gue bilang aja jujur, " sahut Marcell.


"Mau bunda urut lagi?" tanya Bunda.


"Nggak usah bun, biar Marcell aja yang urut, " sahut Nanda.


Marcell melotot, "Kenapa jadi gue yang gantiin Surty?" tanya Marcell.


"Biarin, ini hukuman lu, " sahut Nanda.


"Hukuman apa coba, perasaan gue nggak pernah punya salah sama elu, " sahut Marcell menaruh bukunya di atas meja.


"Hmm, nggak pernah punya salah... Lu pikir lah sendiri, " sahut Nanda.


Marcell hanya melihat Nanda dengan tatapan bingung.


"Kenapa lu ngeliatin gue kayak gitu? Gue cantik, makasih, " sahut Nanda.


"Nanya, jawab sendiri, emang istri aneh yak lu, " sahut Marcell.


"Lagi-lagi lu manggil gue istri, kita belum sah, " sahut Nanda kesal.


Bunda hanya melihat perilaku Nanda yang sudah mau membuka hati untuk Marcell, begitupun sebaliknya, dan Bunda diam-diam keluar kamar agar tak menganggu mereka berdua.


"Lu sadar nggak sih disini masih ada bunda, " sahut Marcell.


"Mana bunda mana?" tanya Nanda.


Marcell menengok ke arah pintu, sudah tidak siapa-siapa lagi, sekarang hanya ada mereka berdua di kamar.


"Jadi nggak lu urut gue?" tanya Nanda.


"Ogah, "


"Cepetan cell, nanti kan lu main basket gue bakal dukung lu, karena gue kan pemandu sorak, " sahut Nanda.


Elu katain itu sengaja atau nggak sadar? - batin Marcell senang.


"Kenapa lu senyum-senyum sendiri?" tanya Nanda.


"Nggak bukan apa-apa, tadi gue liat bidadari cantik yang lagi gue urut kakinya, " sahut Marcell.


"Siapa?" tanya Nanda cemburu.


Etdah, nih anak bener-bener nggak pekaan orang nya - batin Marcell.


Marcell punya ide untuk mengerjai Nanda, dan membuatnya cemburu.


"Nggak tau siapa namanya, " sahut Marcell.


Nanda semakin kesini semakin panas, "Siapa sih namanya, lu ketemu dia dimana?" tanya Nanda.


"Bukan ketemu, tapi gue lagi ngurut kakinya, " sahut Marcell.


Nanda tersadar, kalo yang dimaksud Marcell adalah dirinya sendiri.


Blushing....


Wajah Nanda memerah seperti tomat rebus. Sedangkan Marcell dengan wajah senyum-senyum sendiri berasa tak punya dosa.