
"Kamu mau bapak skor sebulan?" tanya Pak Wawan.
"Ja-jangan Pak, oke saya akan menerima hukuman ini dengan sabar, " sahut Mila berjalan pergi.
Nanda sudah merasa tenang selama 2 minggu kedepan gak akan ada iblis cabe-cabean yang mengganggu, tapi mungkin kalo komplotan nya masih ada.
"Sudah, kalian berdua juga harus kembali ke kelas, ibu juga mau ngajar sekarang, " sahut Bu Wahyuni.
Mereka berjalan menuruni tangga satu persatu dengan tenang, walau kepala Nanda masih sedikit pusing, tapi gak papa.
"Lu gak berterimakasih?" tanya Marcell.
"Buat apa gue berterimakasih sama elu?" tanya balik Nanda.
"Kalo gak ada gue, lu udah di skor sama guru BK tadi, " sahut Marcell.
Nanda terus berjalan dengan santai tanpa memedulikan perkataan Marcell barusan. Marcell yang melihat Nanda cuek kesal sendiri.
"Lu denger gak?" tanya Marcell.
"Iya iya gue denger, cuma gue capek denger ocehan yang gak guna, " sahut Nanda masuk ke kelas.
"Dasar anak orang, " gumam Marcell.
.
.
.
.
.
"Hay gays, I'm Comback~~" sahut Nanda dengan Nanda bernyanyi.
Baru saja Nanda akan duduk di mejanya, semua siswa-siswi pada kepo dan langsung saja bertanya ke sana ke sini ada yang ngawur, ada yang ngebacot alias menasehati.
"Lu dari mana ketua kelas?"
"Jangan-jangan lu di paksa menikah yah sama Marcell?"
"Lu anu anu di toilet?"
"Sama siapa lu di toilet?"
"Ngapain aja lu di toilet? apa jangan-jangan pikiran lu lagi ***** sampe lu pergi ke toilet laki-laki yah?!"
"Eh ngawur aja bisanya.. " sahut Nanda kesal.
"Terus lu ngapain di sana?"
"Kenapa sampe di panggil ke BK?"
"Sama siapa lu di toilet?"
"Jangan ngadi-ngadi di BK itu cuma salah paham, sama kayak kalian semua.. " sahut Nanda.
"jelasin yang bener napa si, " sahut Delisa.
"Pokonya semua ini salahnya Delisa, " sahut Nanda.
Semua orang mendadak beralih ke Delisa dengan tatapan atau ekspresi yang aneh/tak bisa di tebak.
"Kenapa malah ke gue?" tanya Delisa aneh.
"Gegara elu, gue jadi masuk ke toilet laki-laki terus di panggil ke BK, " sahut Nanda.
"Siapa yang laporin elu?" tanya Rara.
"Siapa lagi kalo bukan si cabe cabean, " sahut Nanda memutar bola matanya malas.
"Oh... " sahut Dinda singkat.
"Jadi gimana dia di hukum apa gimana?" tanya Salsa.
"Yah di hukum lah, " sahut Nanda duduk santai.
"Hukuman apa?"
"Dia di skor selama dua minggu, " jawab Nanda.
"Anj*y pesta kuy, " sahut Rara.
"Mau pesta apaan? jangan yang meriah, " sahut Dinda.
"Lah kenapa gak boleh meriah sih?" tanya Nanda.
"Kalo gak mau meriah mau dimana dong?" tanya Rara.
"Di club malem aja, " sahut Dinda.
"Sama aja oncom di sana kan ada DJ jadi lebih rame, " sahut Rara mencubit pipi Dinda gemesh.
"Kan seruu... " sahut Dinda.
Rara dan Nanda hanya menarik napas panjang dan menghembuskan dengan perlahan. Rara ikut duduk di samping Nanda.
"Apa yang salah sama ucapan gue?" tanya Rara pada Nanda.
"Gue juga bingung, " sahut Nanda pusing.
"Lu kenapa ndak?" tanya Rara khawatir.
Tiba-tiba pandangan nya buram dan berubah hitam, dan menutup matanya perlahan. Pingsan.
"NANDAA!!"
Semua orang yang ada di sekitar Nanda berteriak histeris. Salsa dan Witri dengan cepat mengelus perut Nanda dengan kayu putih.
"Gimana inii?!!" ucap Rara cemas.
"Oke jangan cemas, kita kan PMR, " sahut Delisa.
"Iya kita PMR tapi gue gak bisa mikir kalo sahabat gue sendiri pingsan!!" teriak Rara semakin khawatir, Dinda menenangkan Rara.
"G-gue panggil Marcell... " ucap Mike berlari menuju kelas Marcell.
Sementara itu Marcell.
"Cell kita mau kemana?" tanya Angga.
"Gue minta kalian bantuin gue beres-beres di ruang OSIS, " jawab Marcell.
"Yah tau gini, gue gak mau ikut, " sahut Agung dengan jalan malas nya.
"Kalo Rara yang minta lu bakal nurut?" tanya Marcell.
"Iyahh pas--"
"Ehemm... "
"Huhuyy... "
"Diem kalian semua..... " sahut Agung mempercepat langkahnya.
"MARCELL!!"
Marcell dkk berbalik badan dan ternyata dia adalah Mike teman sekelas Nanda.
"Apa?" tanya Marcell malas.
"Bentar... " sahut Mike mengambil napas.
Marcell dan yang lain menunggu Mike, dan setelah itu Mike melirik Marcell.
"Nanda... " ucap Mike.
"Kenapa sama Nanda?!!" tanya Marcell panik.
"Nanda tiba-tiba aja pingsan!!" ucap Mike.
Dengan cepat Marcell berlari menuju kelas Nanda, sedangkan Angga dan Agung ditinggal.
"Trus kita gimana?!" teriak Agung.
"Kalian sama Mike aja beresin ruang OSIS gue ada urusan!!" teriak Marcell.
"Lah kok ke gue?" tunjuk Mike pada dirinya sendiri.
"Nah elu... ikut kita... " sahut Agung menarik tangan Mike.
"Yaelah.... dasarr Marcell sialann... " teriak Mike menyesal.
"Yang sabar... gue juga kesel sama Marcell, " sahut Angga.
.
.
.
.
.
"Nanda.... " ucap Marcell lembut.
"Tenang aja, dia cuma kecapean, " sahut Dokter pengurus UKS.
Marcell menundukkan kepalanya di tangan Nanda dengan hati-hati. Tak lama Dinda, Rara, dan yang lain menyusul untuk menjenguk Nanda.
"Gimana sama keadaan Nanda cell?" tanya Rara.
"Gak papa, kayanya dia cuma kecapean doang, " sahut Marcell.
"Kecapean karena apa coba?" tanya Dinda.
"Mana gue tau, " sahut Rara.
"Dia udah makan siang?" tanya Marcell.
"Setahu gue sih pas udah dari toilet dia langsung g ke kelas, " sahut Rara.
"Terus udah itu dia di panggil sama guru BK, " lanjut Dinda.
"Jadi ini dia kelaperan.... " sahut Agung.
"Bisa jadi, sebelum dia berangkat sekolah dia udah sarapan?" tanya Angga.
"Udah, sarapan bareng gue di cafe 24 jam, " jawab Marcell.
"Ehem.. Makan bareng... " sahut Rara.
"Kayaknya kita bakal. dapet keponakan yang sedikit gatel nih dari orang tuanya... " sahut Agung.
"Maksut kalian apa?" tanya Marcell.
"Bukan apa-apa, " sahut Agung.
"Mm... " Nanda mulai menggerakan tangannya perlahan.
"Gue di mana?" gumam Nanda berusaha membuka mata.
"Lu gak papa kan ndak?"
Kayak kenal suara nya... - batin Nanda.
Awal membuka mata buram tapi setelah lama kelamaan sudah seperti biasa lagi, dia dapat melihat wajah seseorang di hadapan nya terpampang nyata.
"Aaaahhh!! Marcell?!!" teriak Nanda tiba-tiba bangun dan...
Dukk...
Tanpa sengaja kepala mereka kejedot.
"Awww!!" ringis Nanda kesakitan memegang kepalanya.
"Ngapain sih elu, make bangun tiba-tiba segala?!!" tanya Marcell.
"Gue kaget liat elu!!" sahut Nanda.
"Oh, gue kira apaa.. " sahut Marcell.
"Cuma oh doang?"
"Terus lu berharap gue bilang apa 'maaf' ?" tanya Marcell.
"Yak kali kalo merasa bersalah.. "
"Gue gak punya salah... "
"Terus ini apaa?!!"
Mereka berdua terus saja berdebat siapa yang salah siapa yang harus minta maaf. Dinda dkk hanya menonton dan menyimak bacotan mereka berdua.
Lama kelamaan mereka berhenti berdebat karena capek, sampai-sampai mulut mereka sakit karena terus berbicara.
"Udah ngebacot nya?" tanya Rara.
Nanda dan Marcell melihat Rara dkk nya yang terus melihat mereka berdua.
"Udah enakan?" tanya Marcell.
"Iya udah lumayan, gue mau balik ke kelas, " sahut Nanda berusaha berdiri.
"Lu bisa diem sebentar gak, lu masih lemes, " sahut Marcell melarang.
"Awaass!!"
"Keras kepala banget sih lu... " sahut Marcell.
"Gue gak keras kepala, gue cuma pusing dikit, " sahut Nanda terus berusaha bangun.
"Cell cell udah lu nurut aja, " sahut Dinda menepuk pundak Marcell pelan.
Marcell melepaskan badan Nanda dan membiarkan nya berdiri sendiri dan memakai sepatu sendiri. Setelah selesai Nanda berjalan pergi dari UKS disusul olek Rara dkk.
"Lu gak mau berterimakasih sama gue?" tanya Marcell.
"Buat apa?" tanya Nanda.
"Dasar anak tak tau terimakasih.... " gumam Marcell
"Bodo, " sahut Nanda.
"Gatel banget mulut lu kalo bilang terimakasih ke orang, " sahut Marcell.
"Gue sering kale bilang terimakasih ke orang-orang, " sahut Nanda.
"Serah lu dah... " sahut Marcell capek berdebat.
...****************...
Bel pulang telah berbunyi.
Seperti biasa para siswa bubar dari sekolah mereka menuju rumah selanjutnya untuk menikmati kehidupan selanjutnya.
Terutama Nanda yang sudah mulai kelelahan apalagi tadi siang dia habis pingsan. Mereka sekarang akan pulang bersama cowok mereka masing-masing.
Marcell bersama Nanda naik motor, Angga dan Dinda juga naik motor, dan yang begitu mengejutkan adalah Agung dan Rara pulang bareng tanpa ngajak satu sama lain.
"Lah tumben kalian berdua akur, " ucap Dinda.
"Apa jangan-jangan kalian berdua ada anuh yah.. " sahut Nanda menyipitkan matanya.
"Heh syuut jangan anu anu pamali, " sahut Rara.
"Diih tumben... " ucap Dinda Nanda barengan.
"Kalian berdua udah jadian?" tanya Angga.
"Hah!!"
Agung dan Rara tampak terkejut mendengar kata 'jadian' yang terucap dari mulut Angga sendiri.
"Gue jadian sama anak baby? engga!!" sahut Rara.
"Apa lagi gue.... jadian sama anak monyet yang ada gue harus mandi suci, " sahut Agung.
"Emang lu pikir gue ini anak anjing apa, " sahut Rara menepuk pundak Agung pelan.
"Kalo gue bilang iya gimana?" tanya Agung.
"Yee dari pada elu anak baby najis, " sahut Rara.
"Anak anjing sama anak baby sama-sama najis ra.. " sahut Dinda.
"Bodo, " sahut mereka berdua bersamaan.
"Udah lah, nanti lagi debat nya.. gue mau pulang, yuk cell.. " ajak Nanda naik ke motor.
"Lu kuat gak kalo naik motor?" tanya Marcell.
"Kuat kok beb, " sahut Nanda memeluk pinggang Marcell.
Seketika tubuh Marcell bergidik geli mendengar kata 'beb' yang terucap dari mulut Nanda.