
"Kalo Bagas sampai tau kalian udah pulang ke rumah ini, dia akan bertekad untuk menghancurkan rumah tangga kalian berdua, "
"Jadi, maksud Ayah, kita berdua harus segera pindah, sebelum Bagas tau gitu?" tanya Marcell.
"Iya... "
"Oke, "
"Mm... oke?"
"Iya, oke, nanti aku bicarin sama Nanda, "
"Oh yak udah, bagus lah kalo begitu, "
Anak Ayah sekarang udah besar, gak mau basa basi lagi, mau langsung ke intinya.... semoga anak kalian juga sama kamu cell, asal jangan dingin aja, - batin Ayah Marcell.
Setelah percakapan dengan Ayahnya berakhir, Marcell berjalan masuk ke dalam rumah, dan menaiki tangga satu persatu. Langkah Marcell seketika berhenti melihat semua orang berkumpul di depan kamar nya.
"Ngapain mereka di depan pintu kamar gue?" gumam Marcell.
Tanpa memedulikan mereka, Marcell berjalan dan masuk ke kerumunan itu. Dengan cepat Marcell membuka pintu dan kembali menutupnya.
"Kenapa sih mereka?"
Saat Marcell berbalik, melihat seorang wanita yang duduk di atas kasur milik nya sedang menyisir rambut seorang gadis yang kini sudah menjadi istri nya.
Nanda menengok ke arah Marcell, "Kapan lu datang?" tanya Nanda.
"Barusan, Bunda kenapa itu di depan, banyak orang?" tanya Marcell.
"Mungkin mereka, pengen liat nona Alfarizky yang cantik ini, " sahut Bunda.
Aduuhh lagi-lagi di sebut nona, gue kayaknya harus biasin diri dulu deh disebut nona di rumah ini, - batin Nanda.
Marcell berjalan mendekati Nanda yang sedang duduk di sebuah kursi kecil. Nanda yang melihat Marcell terus menatap ke arahnya jadi salting.
"Lu kenapa liatin gue mulu?" tanya Nanda.
"Terserah gue lah, orang ini mata gue bukan mata lu, " sahut Marcell.
"Isshh, ngejawab lagi, " sahut Nanda kesal.
"Bodo, "
"Udah kalian jangan ribut terus, tapi gak papa, biar rame ini rumah, " sahut Bunda mengikat rambut Nanda.
"Nah udah selesai, " sahut Bunda.
"Makasih Bunda. Padahal Bunda gak usah repot-repot nyisirin rambut Nanda, " sahut Nanda.
"Ehhh... malah Bunda seneng, punya anak perempuan, udah kalian baik-baik yah di sini, Bunda mau siapin makan malam dulu, " sahut Bunda berjalan pergi.
Dikamar hanya ada dua pengantin baru, Nanda kembali rebahan di kasur milik Marcell dan memainkan ponselnya. Sedangkan Marcell membaca buku dan duduk di meja belajar nya.
"Buku mulu gak bosen, " ucap Nanda.
"Ilmu itu penting neng, " sahut Marcell tak beralih dari buku.
"Iya, tapi gak usah keseringan baca deh, nanti otak lu penuh, " sahut Nanda.
"Bodoamat, " sahut Marcell.
Keheningan mulai datang di antara mereka berdua. Nanda yang mulai bosan bermain ponsel, kini dia menyalakan televisi di kamar.
Marcell yang mendengar suara dari TV kesal karena tidak bisa fokus dengan belajar nya.
"Ndak, kecilin, " sahut Marcell.
Tapi Nanda tak mendengar ucapan Marcell barusan, dia terus menonton TV tanpa memedulikan siapa pun, yang penting bahagia.
"Nanda!!" suara Marcell menaik.
"Mm, " sahut Nanda hanya bergumam menyahut perkataan Marcell.
"Kecilin dikit, gue mau balajar, " ucap Marcell.
Nanda pun mengalah dan mematikan tv itu dengan kasar dan berjalan pergi ke luar kamar.
"Mau kemana lu?" tanya Marcell.
"Mau jalan-jalan, bosen gue liatin lu baca buku mulu, " sahut Nanda.
"Jangan jauh-jauh, " sahut Marcell.
"Yaelah ini kan rumah, masa iya gue bisa tersesat, " sahut Nanda.
"Terserah lu, " sahut Marcell dingin.
Nanda keluar dengan langkah kasar nya, dan melihat banyak asisten rumah tangga Marcell yang sedang bersih-bersih.
"Maaf, mau tanya dapur ada di sebelah mana?" tanya Nanda sopan.
"Nona... dapur ada di sebelah ruang keluarga. Kalo mau ke ruang keluarga belok kiri di sana ada ruangan GYM terus lurus ada lorong banyak pintu, nona bisa hitung dari pintu pertama sebelah kanan, ruang keluarga pintu ke 3 dapur pintu ke 6 ... "
Mendengar penjelasan dari salah satu asisten disini membuat Nanda bingung. Nanda menghapal semua yang di jelaskan barusan.
"Oh iya, makasih... "
"Iya nona sama-sama, "
Nanda berjalan menuruni tangga satu persatu, sambil berusaha mengingat penjelasan barusan. Untungnya Nanda punya ingatan gajah jadi tidak terlalu khawatir.
"Ini rumah gede amat, sampe para asisten nya inget semua tata letak nya... kagum gue, dasar rumah Sultan, " gumam Nanda
Saat Nanda sudah sampai di ruang tamu, Nanda membuka pintu dan di sana banyak sekali pintu+lorong kiri dan kanan.
"Tadi dia bilangnya kanan atau kiri sih?" gumam Nanda bingung.
"Ruang keluarga sebelah mana lagi? katanya ada banyak pintu, tapi di sini banyak pintu... boro-boro ke pintu, gue ada lupa tadi masuk ke kiri atau kanan, " gumam Nanda kesal.
"Ahh masa bodo, "
Karna sulit menemukan dapur, ruang keluarga, atau GYM, Nanda memutuskan untuk pergi ke depan, melihat pemandangan depan rumah.
"Pak Wawat... " panggil Nanda.
Pak Wawat pun menengok ke arah Nanda dan berlari kecil menghampiri Nanda.
"Iya ada apa non?" tanya Pak Wawat.
"Pak Wawat tau, dimana Bunda sekarang?" tanya Nanda
"Oh kalo Nyonya sekarang ada di dapur Non, mau saya panggilin?"
"Gak usah pak makasih, saya cuma mau nanya doang, disini banyak pintu, pak Wawat gak pusing kalo mau ke dapur atau kemana gitu?"
"Saya mah udah biasa non, memang dulunya susah nyari dapur tapi karena udah kebiasaan ke dapur terus saya jadi hapal deh, "
"Oh gitu yah... pak Wawat lagi apa?"
"Saya lagi nyiram tanaman non, "
"Oh... yak udah silahkan lanjutin pak, saya mau jalan-jalan lagi, permisi pak, "
"Iya non, "
Nanda duduk di bangku taman dekat balkon kamar Marcell, karena belum menyadari kalo balkon itu milik kamar Marcell dan juga kamar nya, dengan santai Nanda duduk di bawah nya.
"Aahhh, sumpah panas bangett... " oceh Nanda.
"Kenapa coba harus panas, kan sekarang udah jam 3 sore masih aja panas, kesel gue... " oceh Nanda tak henti-henti.
"Jangan banyak bacot, berisik, "
Mata Nanda melotot mendengar ada yang berbicara, dan itu jelas, "Siapa itu?" tanya Nanda.
"Di atas, "
Nanda melihat ke atas, hanya ada awan. "Omg, langit berbicara sama gue, serem juga sih... " ucap Nanda.
"Ini gue, Marcell, " sahut Marcell.
"Oh, ternyata ini balkon milik lu, gue kira milik siapa, " sahut Nanda.
"Kalo bukan milik gue mau di apain emang sama lu?"
"Mau di hancurin, "
Marcell loncat dari atas balkon, dan berjalan ke arah Nanda dan duduk di samping nya.
"Kenapa lu gak ikut masak sama Bunda?" tanya Marcell.
"Terlalu banyak pintu, gue pusing liatnya... "
"Kasiaan... "
"HALLO KAKAK-KAKAK... " Teriak seorang lelaki memakai jubah putih dan muka memakai masker.
Karena teriakan dari lelaki tersebut berhasil membuat Nanda dan Marcell terkejut.
"Aaahhh!!"
"Lu siapa?" tanya Marcell.
"Ini gue Fauzan, " jawab Fauzan.
"Ngapain lu pake putih-putih gitu?" tanya Marcell.
"Ini jubah... bagus kan?" tanya Fauzan sambil berputar badan. Pamer jubah.
"Iya kita tau itu jubah, lu pake apaan sampe tuh muka putih gitu?" tanya Nanda.
"Ini masker, buat muka aku tambah putih, gitu... " sahut Fauzan.
"Gue kira lu setan, " sahut Nanda.
"Mana ada setan di jam segini, " sahut Marcell.
"Yak kali aja ada, "
"Mana setan nya mana?"
"Tuh yang lagi pake jubah putih sama pake masker, " tunjuk Nanda pada Fauzan yang sedang ngaca menggunakan ponselnya.
"Astagfirullah.... jahat amat dah punya kakak, " sahut Fauzan sedih.
"Yak udan deh maaf, lain kali jangan gitu lagi, kalo gak mau di sebut setan jadi-jadian, " sahut Nanda.
"Iya deh... nak masuk dulu, mau nyuci muka, udah kering masker nya... " sahut Fauzan berjalan masuk.
"Gak nanya... " sahut Marcell dingin.
"Kelakuan adik lu lebih gila di banding adik gue.. haha.. " ucap Nanda tertawa.
"Gara-gara gaul sama orang gila, jadi kebawa gila juga, " sahut Marcell.
Nanda hanya terkekeh mendengar perkataan Marcell barusan, dan disaat bersamaan mereka berdua melihat Bunda yang sedang memetik sesuatu di kebun.
"Bunda... lagi apa?" teriak Nanda.
"Lagi metik cabe atau sayuran lain, mungkin, " sahut Marcell.
"Bantuin yuk, " ajak Nanda.
Marcell hanya menurut saja dan menghampiri Bunda bersama Nanda. Membantu Bunda mengambil sayuran di kebun.