My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Ada yang mau bicara sama lu



Sesampainya mereka di rumah keluarga Alfarizky. Nanda dan Marcell melihat kedua orang tua mereka sedang jalan-jalan di sekitar taman.


"Ortu lu selalu kayak gitu?" tanya Nanda.


"Iya, mereka selalu romantis, gak kayak elu ngajak berantem mulu, " sahut Marcell berjalan masuk ke dalam rumah.


"Heh!!" teriak Nanda.


Nanda pun ikut masuk ke dalam rumah dengan langkah kasar nya karena kesal gara-gara Marcell.


Malam hari.


Mereka berempat sedang makan du ruang makan dengan santai, tenang. Ayah Budi menyimpan garpu dan sendok di tangan nya.


"Marcell sana Nanda udah punya rencana buat anak?" tanya Ayah tiba-tiba.


"Uhuk... uhuk.. uhuk.. "


Dengan cepat Marcell memberikan minum kepada Nanda yang tersedak. "Apaan sih Ayah, siapa juga yang mau punya anak, orang kita mau kuliah, " sahut Marcell.


"Maksud Ayah, kalian udah punya rencana kapak punya anak? jangan lama-lama nanti kesusul lho sama Fauzan, " sahut Ayah.


Marcell hanya bisa diam, Nanda pun ikut bicara, "Kami udah punya rencana kok yah, " sahut Nanda.


"Oh ya? kapan?" tanya Bunda senang.


"Iyahh, sekitar umur dua tiga dua empat sih bund, rencana nya, " sahut Nanda asal bicara.


"Alhamdulillah, ya udah, berarti kalian masih punya waktu untuk kuliah, " sahut Bunda.


"Iya Bunda hehehe, " sahut Nanda cengengesan.


"Ya udah kalo gitu, ayah berdoa aja semoga cucu Ayah ini perempuan, " sahut Ayah berdiri dan meninggalkan meja makan.


"Apa pertanyaan Ayah mengganggu kalian?" tanya Bunda.


"enggak kok bun, memang seharusnya kita udah punya anak, cuma ini nih bun, trauma kambuh mulu setiap kali mau mulai, " sahut Marcell menyalahkan Nanda.


"Eeee, diem lu!" sahut Nanda.


"Iya juga sih, memang susah kalo trauma Nanda kambuh, Marcell mending kamu obatin dulu deh trauma Nanda, nah kalo udah sembuh langsung mulai, " sahut Bunda tersenyum lebar.


"Hahaha.. iya bun, " sahut Marcell.


"Heheh, "


Setelah selesai makan malam, Nanda dan Marcell sedang berada di dalam kamar. Nanda yang sedang sibuk nge-dm para seleb di meja belajar milik Marcell, Marcell yang sibuk main game ML (Mobile Legend bang bang) di kasur. Tiba-tiba Marcell teringat kalau jam tujuh Marcell harus sudah menghubungi Bagas untuk bicara dengan Nanda.


Marcell pun berhenti bermain, dan memulai menelpon Bagas. Nanda pun melihat Marcell, "Lu nelpon siapa malem-malem gini?" tanya Nanda.


"Ada deh, " jawab Marcell.


"Iihh, aneh, " sahut Nanda manyun bebek.


🗣️ : Hallo


: Gimana lu udah siap?


🗣️ : Iya, bissmillah


: Gue kasih sekarang ya


🗣️ : Oke


"Ndakk, ada yang mau bicara sama lu, " sahut Marcell.


"Siapa?" tanya Nanda.


"Ini, ambil, gue mau ke bawah, ambil air, " sahut Marcell.


Nanda mengambil ponsel Marcell dan Marcell keluar dari kamar.


Blam.


: Hallo?


🗣️ : Nanda..


: Hah! Bagas?!


🗣️ : Gue di sini mau minta maaf sana lu, maaf kalo dulu gue Keblabasan,


: Maksud lu?


🗣️ : Ini semua salah gue, kalian berdua jadi gak bisa bikin anak gara-gara gue, gue harusnya gak bilang ini di telpon, tapi gue untuk sementara waktu belum bisa pulang ke indo, sekali lagi gue minta maaf.


: ......


🗣️ : Nanti gue bakal minta maaf dengan benar ke keluarga lu sama keluarga Marcell, dan juga Betly, Firza dan yang lainnya


: Bagas--


tuutt.. tuutt.. tuutt...


Telpon sudah terputusnya sebelum Nanda mengucapkan satu patah kata pun kepada Bagas. Sebenarnya Nanda ingin bilang 'aku masih suka sama kamu Bagas, karna aku sudah menikah, kita gak bisa bersama, aku beserta keluarga udah maafin kamu Bagas, makasih atas kehadiran mu I LOVE YOU'


Setelah telpon itu terputus, air mata Nanda tiba-tiba keluar dengan sendirinya tanpa Nanda meminta.


Tok.. tok.. tok..


"Siapa? masuk aja, " sahut Nanda dengan nada suara yang lemah tak berdaya.


Cklekk..


"Nanda, nih minum dulu, " sahut Marcell berjalan ke arah Nanda sambil membawa nampan berisi air dan beberapa roti.


"..... "


"Jawab cell!" teriak Nanda.


"Iya, kenapa?"


"Kenapa? kenapa lu telpon Bagas? dan kenapa juga Bagas minta maaf sama gue?"


"Lu gak inget, kejadian beberapa tahun yang lalu?"


"Maksud lu?" tanya Nanda benar-benar tak ingat apa-apa.


"Nanti gue ceritain, mending sekarang lu minum nih air sama malam tuh roti, gue gak sengaja menu roti di kulkas, " sahut Marcell berjalan ke aran kasur untuk lanjut main game.


"Serah lu dah... Mana tisu?!!" teriak Nanda membuat Marcell hampir terjatuh.


"Etdah buset, kagak usah teriak-teriak napa, gue gak budek, " sahut Marcell.


"Mana tisu?!!"


"Iya iya sabar, " sahut Marcell mengambil tisu di laci di dekat kasur dan memberikan nya kepada Nanda.


"Cell, "


".... "


"Cell, Marcell, "


"...... "


"Ehh, Marcell budek!!" teriak Nanda sambil melemparkan tisu ke arah Marcell.


Marcell yang kesal melepaskan headset nya dan melihat Nanda dengan ekspresi marah.


"Apa sih?" tanya Marcell.


"Apa sih apa sih, orang manggil nyaut napa, " sahut Nanda.


"Iya sekarang apa?" tanya Marcell sabar.


"..... " Nanda tak menyaut dia hanya manyun bebek.


"Hei, "


".... "


"Hei, Nanda, " panggil Marcell.


Mm.. marah, - batin Marcell.


Marcell turun dari kasur dan menghampiri Nanda dengan berat hati. "Hei cantik, jangan marah lah, tadi bercanda yah.. mm?"


"Gue kesel nj*rr sama lu, "


Tok.. tok.. tok..


"Iya masuk, " sahut Nanda, Marcell barengan.


"Nanda.. ikut Bunda yuk, " ajak Bunda.


"Iya bund, " sahut Nanda.


Pintu tertutup. Nanda berdiri tapi Marcell memegang tangan Nanda, "Mau kemana kamu?" tanya Marcell.


"Pelaminan, "


"Sama siapa?"


"Pak wawat, awas ahh, "


"Balik ke kamar, gue hamilin lu, " ancam Marcell.


"Serahh, "


Nanda pun keluar dari kamar. "Berani-berani nya lu mau hamilin gue, gue gantung lu di pohon baru tau rasa, " gumam Nanda.


Nanda turun tangga secara perlahan dan berjalan ke arah pintu di sebelah dapur.


Tok.. tok.. tok..


Cklekk..


"Bundaa, " panggil Nanda.


"Nanda, ayo masuk sayang, ada yang mau bunda kasih ke kamu, " sahut Bunda.


Nanda berjalan masuk ke dalam kamar Bunda dan menutup kembali pintu kamar dengan hati-hati.


"Ada apa Bun?"


"Duduk dulu sayang, sebentar yah, "


"Iya Bun, "


Bunda membuka lemari yang penuh dengan berkas-berkas seperti surat tanah, rumah, surat nikah Nanda dan Marcell dan sebagai nya.


Nanda melihat ke sekeliling kamar. 'mewah' salah satu kata yang keluar dari mulut Nanda setelah selesai melihat-lihat.


Tak lama setelah itu Bunda datang sambil membawa sebuah kotak besar berwarna biru tua di tambah ada kunci.


Bunda mengeluarkan kalung milik nya dengan sebuah liontin berwarna emas di tambah ada berlian kecil seperti manik-manik menghiasi sekeliling kunci itu.


Bunda secara perlahan membuka kotak biru dengan kunci itu. Dan terlihat lah di sana ada sebuah...