
"Gays, duduk ada guru, " teriak Salsa.
Mereka pun segera pergi ke meja dan duduk dengan tenang.
"Okeh, anak-anak kita kedatangan murid baru, " sahut Pak Abdul.
"Siapa pak?"
"Cantik gak pak?"
"Cewek cowok pak?"
"Kok malah nanya sama bapak yak kalian liat lah sendiri, dia cewek apa cowok, " sahut Pak Abdul.
Gadis itu masih berada di luar kelas, karena belum di persilahkan masuk oleh Pak Abdul. Nanda yang kepo mulai mengintip di jendela, Nanda terkejut melihat murid baru itu.
Itu kan cewek yang tadi... - batin Nanda.
"Ayo silahkan masuk perkenalkan diri kamu dan cari tempat duduk sendiri, " sahut Pak Abdul.
Gadis itu mulai melangkah perlahan menuju kelas barunya. Semua orang terkejut melihat kecantikan gadis itu. Kecuali Nanda dkk yang biasa aja.
"Hai kenalin nama gue Putri Arkuela gue pindahan dari Jerman... " sahut Putri sambil melirik Nanda.
Putri Arkuela
Seketika mereka tekejut, terutama Nanda yang melotot tak percaya.
"PUTRI!!" Teriak Nanda dkk.
"Iya?" tanya Putri tersenyum.
"Nanti lagi ngomongnya, mending sekarang kamu cari tempat duduk, " sahut Pak Abdul berjalan pergi.
Nanda, Rara dan Dinda dengan cepat menghampiri Putri yang masih berdiri di depan kelas, dan memeluk nya.
"Mput, kenapa gak bilang kalo lu mau balik ke indo?" tanya Rara menangis.
"Udah dong jangan nangis, gue jadi gak tega liatnya... " sahut Putri tertawa.
"Jadi tadi pas gue lagi ada di parkiran, itu elu?" tanya Nanda.
Putri hanya mengangguk.
"Kenapa lu gak bilang... " sahut Nanda mengusap air matanya.
"Hahha... maafin deh... btw gue duduk dimana nih?" tanya Putri bingung.
"Tenang aja di sini kan ada ketua kelas, jadi tenang, " sahut Dinda.
"Oh yak siapa?" tanya Putri.
"Tuh si gadis cerewet, " sahut Rara.
"Gue gak cerewet, " sahut Nanda kesal.
"Trus apa? si gadis banyak bacot?" tanya Rara dengan nada ejek.
"Huuh.. " dengus Nanda kesal dan mencarikan Putri tempat duduk.
"Haikal, lu pindah gih ke depan, " sahut Nanda.
"Kenapa?" tanya Haikal.
"Lu kan pinter, masa orang pinter duduk di belakang, " sahut Nanda.
"Oh iya juga yah.. tumben lu pinter, " sahut Haikal segara pindah.
"Gue dari dulu emang pinter, cuma lu aja yang kurang ngeh... " sahut Nanda.
Putri pun duduk di samping meja Nanda. Nanda sementara duduk di samping Putri, begitupun dengan Rara dan Dinda.
"Ndak, selamat atas pernikahan lu, " bisik Putri.
"Lu tau dari mana, gue nikah?!" tanya Nanda kaget.
"Menurut lu, siapa yang ngasih lu hadiah jaket couple?" tanya Putri.
"Gue masih belum unboxing kado, " sahut Nanda.
"Yah elu, buka dong, " sahut Putri.
"Iya nanti, " sahut Nanda.
"Kapan lu pulang Put?" tanya Dinda.
"Udah semingguan gue di Indonesia, " jawab Putri.
"Lu pindah ke sekolah di Indonesia, emangnya pekerjaan ortu lu udah balik ke Indo?" tanya Rara.
"Iya... jadi gue di Indonesia selamanya.. " sahut Putri.
"Waahh, gue seneng dengernya.... mputt ku tersayang... mumumu... " sahut Nanda berusaha mencium pipi Putri.
"Kyaaa... ini anak udah punya suami juga, masih aja mau cium gue, " sahut Putri berusaha menghindar.
"Gue tuh kangen sama elu... " sahut Nanda.
"Btw lu masih inget kan sama Ihsan?" tanya Rara.
"Oh iya si Ihsan tuh kangen sama lu, " sahut Nanda.
"Iya gue tau, makanya gue mau kasih dia suprise sama kayak kalian, " sahut Putri.
"Oke siip... " sahut Dinda.
"Ngomong-ngomong Dinda udah punya pacar ya?" tanya Putri.
"Iya, namanya Angga, dia sekelas sama Marcell, " sahut Rara.
"Oh, bagus dong, udah berapa bulan?" tanya Putri.
"Baru 3 minggu otwe 1 bulan, " sahut Dinda.
"Oh, semoga langgeng yak, terus ini kapan punya cowok?" tanya Putri pada Rara.
"Masih jomblo kasian, " sahut Nanda.
"Dasar.. lu ngehina gue yang belum kawin apa gimanaa?" tanya Rara kesal.
"Gak gak gak, gue cuma bercanda kali Ra, gak usah di masukin ke hati, " sahut Nanda.
"Mm... "
"Lu masih suka sama Ihsan?" tanya Nanda.
"Gak tau, lagian kan gue udah lama juga gak ketemu sama dia, " sahut Putri.
"Mm, tapi kalo Ihsan nembak lu bakal di terima kan?" tanya Rara.
"Iya.. itu sih tergantung, kalo dia punya cewek lain yak udah gue mundur, " sahut Putri
"Okeh... " sahut Dinda.
"Lagian buat apa juga perjuangin seseorang yang suka sama orang lain, " sahut Putri.
Putri hanya tersenyum pada sahabat-sahabat mereka yang sudah lebih dari 3 tahun berpisah karena perkerjaan ortu Putri yang harus ke luar negeri. Jerman.
.
.
.
.
.
Setelah jam pelajaran selesai akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga, jam istirahat 1.
Seperti biasa Nanda dkk sudah berjanji kalo dia akan makan dengan Marcell dkk. Dan kini Nanda membawa seseorang yang sangat spesial bagi hidupnya, Putri.
"Ini kantinnya?" tanya Putri setelah sampai di kantin.
"Iya, gimana menurut lu? memang gak mewah kayak di Jerman tapi ini cukup nyaman, " sahut Rara.
"Gue malah lebih suka yang kayak gini, dari pada di Jerman, di Jerman mah apaan, kantin mewah, makanannya sedikit gak kenyang, " sahut Putri sambil berjalan menuju meja.
"Kalian mau pesen apa?" tanya Dinda.
"Gue pesen baso campur biasa, " sahut Rara.
"Kalo gue mie ayam aja sama jangan lupa kerupuknya juga, " sahut Dinda.
"Okey siaapp, kalo lu put?" tanya Dinda.
"Disini ada makanan apa aja?" tanya Putri.
"Banyak, lu mau pesen apa aja, selalu ada, " sahut Nanda.
"Oke kalo gitu, gue pesen cuanki campur sama baso, " sahut Putri.
"Oke ditunggu, " sahut Dinda berjalan pergi.
"Eh din, gue juga ikut dong, " sahut Putri menyusul Dinda.
"Yah padahal Marcell sama yang lain mau ke sini, malah pergi tuh anak, " sahut Nanda.
"Dahlan biarin, " sahut Rara memainkan ponselnya.
"Ndak, tiktokan kuy, dah lama gue gak main tiktok, " ajak Rara.
"Hayuu, tapi yang enak ye lagunya, " sahut Nanda.
"Ahsyiaaappp, " sahut Rara.
Saat mereka sedang bermain tiktok di ponsel Rara, tiba-tiba Ihsan muncul entah dari mana dan memukul meja, yah tentu saja berhasil membuat Nanda dan Rara jantungan.
BRAKK...
"Ahh jantung gue copot... "
"****** ****** ******... "
"Elu kenapa ngagetin gue mulu sih, jadi kesel, " sahut Nanda kesal.
"Mumpung gak ada Marcell, gue pengen jailin elu, " sahut Ihsan.
"Oh gitu, jadi lu ninggalin gue di ruang OSIS buat jailin istri orang, iya?" tanya Marcell tiba-tiba datang.
Dduuuhh mati gue... - batin Ihsan kaget.
"Gak sayang nyawa lu san... haha... " sahut Angga tertawa.
"Kasian, nyawa lu melayang, " sahut Agung.
"Mantap, kalo ada Putri pasti nih anak insaf, " sahut Lukman.
"Putri? Putri anak siapa?" tanya Angga.
"Mungkin Putri nya Deswanto... hahaha... " sahut Agung tertawa.
"Bapak gue g*bl*k, " sahut Rara kesal.
"Haha... nama bapak lu Deswanto? hahah... " sahut Ihsan mengejek.
"Dari pada bapak lu pak Setiawan... " sahut Nanda. Ihsan pun akhirnya terdiam.
"Dari mana lu tau, Setiawan bapaknya Ihsan ndak?" tanya Lukman.
"Eeiiitt... jangan meremehkan kemampuan keluarga Nusyrandi, " sahut Nanda.
"Ah iya, gue lupa kan Bapaknya Jaksa, " sahut Angga baru ingat.
"Makanya jangan suka ngeremehin, " sahut Dinda mambawa makanan.
"Wah ada yayank bebeb, " sahut Angga langsung semangat 45.
"Yank mau makan apa? biar di pesenin, " tanya Dinda.
"Mana Putri?" bisik Rara.
"Dia masih di sana, nunggu minuman, gue juga mau balik ke sana, makanya ini mau nunggu pesanan yang lain, " sahut Dinda.
"Gue pesen mie ayam aja, " sahut Marcell.
"Kalo gue pesen baso, campur, " sahut Lukman.
"Gue pesen cuanki aja, " sahut Ihsan.
Lah anj*rr sama... - batin Rara.
"Kalo aku mau pesen hati kamu aja boleh gak?" tanya Angga bucin.
"Apaan siih, " sahut Dinda malu.
"Woooo... orang pesen makanan ini malah ngebucin, "
"Gak ada akhlak lu, gak liat gue masih jomblo, "
"Hahah.....jomblo kasian.... sama hahha.. "
"Apa kalian, iri? bilang bos, " sahut Angga.
"Sorry gue gak iri, gue udah punya suami, " sahut Nanda.
"Kapan lu mau nikahin Dinda?" tanya Ihsan.
Tiba-tiba kalimat itu menusuk tepat sasaran.
"Emak gue mah baek, gak nge jodohin gue, " sahut Angga.
"Gung lu mau pesen apa?" tanya Dinda.
"Pesen seblak aja, " jawab Agung.
"Oke, " sahut Dinda berjalan pergi.
Setelah Dinda pergi untuk menyusul Putri di sana. Di meja hanya ada kesengsaraan bagi Nanda, Rara, Marcell, dan Agung.
Dinda akhirnya datang bersamaan dengan nampan berisi makanan. Dan menaruhnya ke masing-masing orang yang memesan.