
"Papih sama Mamih jangan marah-marah, " sahut Angga.
"Gak ada yang marah kok, cuma kita bertengkar... " sahut Nanda tersenyum.
"Kalo lu masih gak ngerti juga gelut, baku hantam, berantem... " sahut Dinda.
"Gue ngerti ege, gak usah di masih tau sana sini nya... " sahut Angga.
"Yah kali aja lu gak paham bahasa manusia, " sahut Dinda.
"Lu pikir gue ini apaan?" tanya Angga.
"Alien dari planet pluto, " sahut Dinda.
"Kalo dia alien ngapain datang ke bumi?" tanya Agung.
"Mana saya tau, tanya aja langsung sama Alien Pluto, " sahut Dinda.
"Saya datang ke sini sedang mencari seorang manusia, " sahut Angga dengan suara meniru adegan film.
"Jangan ambil beby gue... " sahut Nanda.
"Hah? siapa beby lu?" tanya Agung.
"Yah... Marcell lahh.. siapa lagi suami gue... " sahut Nanda.
"Awww udah manggil beby aja nihh... "
"Udah saling cinta... " sahut Lukman.
"Apaan sih? gue suka sama Marcell karena dia itu suami gue, kalian jangan alay dehh... " sahut Nanda.
"Okeh mamih, " sahut Angga.
"Gelay gue di panggil mami sama lu, " sahut Nanda.
Cklekk..
"Assalamu'alaikum.. kalian nunguin aku nggak?" tanya Rara meniru suara nissa sabyan.
"Waalaikumsalam... engga, " jawab semua orang yang ada di dalam kamar.
Putri datang menarik tangan Rara, "iihh gak mau, gak suka gelay, " sahut Rara.
Putri yang merasa jijik bergidik dan berjalan menaruh semua mukena yang ada.
"Hahha... sabar put sabar... " sahut Ihsan tertawa.
"Gimana ketemu gak sama dokter ganteng nya?" tanya Ihsan kepada Putri.
"Enggak, dia nya udah pulang, " sahut Putri.
"Kasian, apa gue bilang, gak akan ada cogan di rumah sakit, " sahut Ihsan.
"Iya iya elu selalu benar, lain kali taun depan perempuan selalu benar... sesuai dengan undang-undang, " sahut Putri.
"Apaan nih... masa cewek selalu benar, itu sala, " sahut Lukman.
"Mana ada UUD yang setuju kalo soal ituu... " sahut Agung.
"Sejak kapan ada undang-undang tentang cewek selalu benar?" tanya Marcell.
"Harus ada, kan gue ini mau jadi presiden, " sahut Rara.
"Nah iya bener, gue sebagai menteri agama, " sahut Agung.
"Elu jangan jadi mentri agama, yang ada hancur agama Islam, hindu, budha, Kristen, katolik dan seterusnya... " sahut Angga.
"Yang ada hancur semua kesopanan bangsa, " sahut Dinda.
"Terus gue harus jadi mentri apaan dong?" tanya Agung.
"Jadi mentri makanan aja lu, sama kayak gue, " sahut Lukman.
"Gaskeun... " sahut Agung.
"Mana ada mentri makanan, jangan ngayal deh kalean berdua, " sahut Nanda.
"Ada ndak, " sahut Lukman.
"Gak ada, "
"Ada, "
"Gak ada, "
"Ada, "
"Gak ada, "
"Ad--.. "
"Woi stop adan... " potong Rara.
"Udah sana kalian cowok ke mushola.. " sahut Dinda.
"Udah sana hus hus.. jangan lupa harus balik lagi, udah ini kita pulang, " sahut Nanda.
"Nada nya kok kayak yang ngusir yah... " sahut Ihsan.
"Bodoamat... udah sana.. " sahut Dinda.
"Iya iya sabar... " sahut Angga berdiri.
"Jangan pulang dulu napa, kita ke kantin makan goreng sama ngopi dulu... " sahut Lukman.
"Nih anak dari tadi... udah sana cell temenin Lukman ke kantin, " sahut Nanda.
"Nah gitu dong.. mamih baik banget... " sahut Lukman tersenyum manis.
"Manis banget sih senyum lu, " sahut Rara.
"Kenapa? Lu gemes yah sama senyum gue?" tanya Lukman.
"Iya saking gemesnya pengen banget naplokin tepung ke muka lu... " sahut Putri.
Semua orang tertawa, "Anj*rt jahat.. " sahut Lukman manyun bebek.
"Kita pergi dulu.. " sahut Marcell berjalan keluar bersama yang lain.
"Cell jangan lupa poto diri lu pake sarung sama kopeah, terus kirim ke gue... " teriak Nanda.
"Lagi sakit bisa-bisanya teriak-teriak, " sahut Dinda.
"Yah harus lahh... " sahut Nanda.
"Nggak guna... " sahut Marcell.
"Iih elu, kan ganteng kalo elu pake sarung sama kopeah, " sahut Nanda.
Tapi Marcell dan yang lain tak mendengar dan puncak mereka semakin mengecil dan menghilang saat mereka berbelok.
"Udah yuk solat, " sahut Putri yang sedang menyiapkan sejadah untuk mereka solat.
"Gue belum wudhu, bentar, " sahut Dinda berjalan ke toilet.
"Jangan lama-lama, " sahut Rara.
"Lu bisa solat gak?" tanya Putri.
"Bisa, bantuin gue berdiri? gue gak bisa," sahut Nanda.
"Bisaa.. " sahut Putri, Rara barengan.
"Yak udah sini jangan ngomong aja, " sahut Nanda.
"Oh, Ra lu aja, " sahut Putri.
Rara melihat Putri dengan ekspresi aneh, "Tadi bilangnya bisa bantuin tapi sekarang lu malah nyuruh gue bantuin Nanda, " sahut Rara kesal.
"Yak maaf, " sahut Putri segera mengenakan mukena.
Rara hanya geleng-geleng kepala dan membantu Nanda berdiri menuntunnya ke sejadah yang sudah dipersiapkan.
Cklekk...
"Hayu gays.. kita solat bareng, " sahut Dinda baru keluar dari toilet dan segera menggunakan mukena.
Sudah jam 04.54 mereka solat berjamaah, para cewek solat di kamar, sedangkan para cowok solat di mushola.
Waktu terus berjalan, tak terasa sudah jam lima pagi, Marcell dkk sudah selesai solat dan sekarang mereka akan kembali ke kamar dan setelah itu pulang ke rumah.
"Kalo kata kalian, kita bisa liat gak para bidadari?" tanya Angga.
"Siapa bidadari?" tanya Lukman.
"Itu cewek-cewek yang lagi solat, " sahut Angga.
"Oh, pasti liat lah gue mah, bidadari tercantik Putri Arkuela, " sahut Ihsan.
"Anj*rr.. gue juga punya bidadari cuantik Dinda Davaela, " sahut Angga tak mau kalah.
"Nah kalo Marcell pasti Nanda, " sahut Agung sambil melirik Marcell.
"Semua perempuan cantik, jadi jangan suka ngebanding-bandingin, " sahut Marcell.
"Kan ini temen... ini menurut kita-kita aja, " sahut Agung.
"Mm, " gumam Marcell.
"Batin Marcell pun berbicara, Yang paling cantik itu yah istri gue lah Nanda Nusyrandi yang paling cantik di dunia... " sahut Angga tertawa bersama Ihsan.
Marcell hanya geleng-geleng kepala pelan tak mempedulikan perkataan mereka.
"Batin Ihsan berkata, Putri Arkuela adalah wanita tercantik yang pernah aku temui, " sahut Lukman.
Lukman, Angga, Agung dan Ihsan tertawa bersama kecuali Marcell yang dingin sedari tadi.
"Nih anak dingin mulu, " sahut Lukman menengok kebelakang.
"Kalo diantara kita mah dingin, kalo sama Nanda tiba-tiba anget... " sahut Ihsan.
"Nah iya bener... " sahut Agung dan Angga barengan.
"Dari atas ada paha beneran gak sih... nih cobain... jaga mantan cin.. sayang sayangan anget anget lumayan... " sahut Agung nyanyi.
"Asiikk... " sahut Ihsan mengangkat tangannya ke atas.
Sampai di kamar Nanda. Marcell dkk melongo melihat keempat wanita yang sedang berdoa bersama, masih memakai mukena.
"Allahuakbar... siapa itu?" tanya Angga.
"Cantikkk... " satu kata yang keluar dari mulut Marcell, untungnya gak ada yang mendengar gumaman Marcell barusan.
"Amiinn... " sahut salah satu seorang wanita itu.
Keempat wanita itu berdiri dan membuka mukena mereka masing-masing. Wajah mereka tiba-tiba memerah saat melihat Marcell dkk yang sedang melihat mereka dari tadi.
"Kalian ngapain di situ?" tanya Dinda membereskan sajadah dan mukena nya.
"Nggak kok, " sahut Angga berjalan masuk membuyarkan keheningan sedari tadi.
"Kita kira kalian udah beres dari tadi, padahal kita lama lho di mushola nya... " sahut Ihsan.
"Yah gitu dehh, " sahut Nanda duduk di sofa.
"Gimana mau sekarang pulang nya?" tanya Rara.
Marcell masih terdiam, "Cell... woy... " sahut Nanda menepuk puncak Marcell.
Marcell tersadar dan melihat Nanda, "Apa?" tanya Marcell.
"Mau pulang sekarang?" tanya Nanda.
"Terserah kalian, " sahut Marcell.
"Wwiitt jangan pulang dulu gue belum dapet ciwi... " sahut Lukman.
"Banyak alasan, " sahut Putri.
"Kenapa? lu cemburu kalo gue nyari cewek lain?" tanya Ihsan.
"Engga sama sekali, gue malah bersyukur... " sahut Putri menahan kesalnya.
Padahal bilang aja iya put cemburu... - batin Rara, Dinda, dan Nanda.
"Oh bener nih? kalo lu ngelarang gue, gue gak akan pergi kok, " sahut Ihsan.
"Udah sanah kalian pergi ke kantin... " sahut Putri.
"Bener?" tanya Ihsan sekali lagi.
"Iya bener... kalo kalian gak keluar, gue aja yang keluar sana Rara, Dinda, Nanda mau nyari dokter ganteng, " sahut Putri membalas.
Ihsan menahan geramnya, "Katanya dokter itu udah gak ada di sini... " sahut Ihsan.
"Kan banyak dokter ganteng lain, perawat ganteng juga gak papa... " sahut Putri.
"Anj*g, " gumam Ihsan kesal.
"Jadi gimana? tetep mau pergi ke kantin?" tanya Marcell.
"Gue sih hayuu... " sahut Agung.
"Gue mah selalu hayu kemana aja, asal jangan ke kamar gadis aja, " sahut Lukman.
"Istigfar lu... " sahut Agung mengusap wajah Lukman.
"Lu mau ke kantin sama mereka?" tanya Nanda.
"Iya, kenapa? gak boleh?" tanya Marcell.
"Bukan gak boleh, awas aja lu kalo minta nomor cewek lain, " sahut Nanda.
"Nggak akan, " sahut Marcell.
"Beneran nih gak akan?"
"Iya gak akan... mungkin... " sahut Marcell.
"Apa?" tanya Nanda sedikit mendengar kata-kata Marcell barusan.
"Bukan apa-apa... ayoo keburu jam enam, " sahut Marcell.
"Kita gak akan sekolah?" tanya Rara.
"Gue izinin kalian izin hari ini... " sahut Marcell.
"Tumben boleh?" tanya Rara senang.
"Tumben banget di bolehin... " sahut Putri.
"Jangan mena-mena ini cuma hadiah buat kalian sehari, karena udah jagain Nanda, " sahut Marcell.
"Oooh gitu... " sahut semua orang kecuali Marcell sendiri.
"Iya, " sahut Marcell.
Marcell dkk pun berjalan pergi menuju kantin bersama-sama.
"Awas nanti sakit hati... " teriak Rara.
"Milih yang mulus jangan pilih yang udah punya suami, " teriak Putri.
"Jangan lupa kalo ketemu sama dokter atau perawat guanteng lpc kita... " teriak Dinda.
"Heh!! Dinda... " teriak Angga.
"Ups... " sahut Dinda menutup mulut nya dengan tangan.
"Jangan keras-keras kalo ngomong kayak gitu.. " sahut Nanda.
"Oh iya gue lupa... " sahut Dinda.
"Syuutt... " sahut Putri.
"Mereka udah pergi put?" tanya Nanda kepada Putri yang mengawasi Marcell dkk sedari tadi dari balik pintu.
"Udah.. hayuu gas.. " sahut Putri jalan duluan.
"Kemoonn... " sahut Nanda berdiri dan berjalan bersama Dinda dan Rara.