
Marcell memegang minumannya sendiri yang sudah di masukkan sedotan oleh Nanda barusan.
"Duhhh jelek, hitam semua gak ada cahaya.. " sahut Nanda kesal.
"Makanya siapa suruh lu bilang au ah gelap, nah kan jadi kejadian, " sahut Marcell.
"Apa hubungannya, " sahut Nanda.
"Udah sini.. Biar gue yang potoin, " sahut Marcell.
Nanda menyerahkan ponselnya ke Marcell, dan Marcell segera memoto kan boba mereka.
Ckrekk..
Dengan sekali jepretan, hasil poto nya bagus, jernih begitupun dengan efeknya.
"Nih, udah kan? Gue mau minum haus, " sahut Marcell mengembalikan ponsel Nanda.
"Iihh pilih kasih, " sahut Nanda.
Marcell berhenti minum dan melihat Nanda, "Pilih kasih apanya?" tanya Marcell.
Nanda masih diam dia terus melihat ponsel. "Hei, Nanda gue pilih kasih apanya? Apa yang lu mau gue beliin, " sahut Marcell.
"Bukan elu, tapi ini hape nya pilih kasih, " sahut Nanda.
"Oohh gue pikir gue yang pilih kasih sama elu, padahal engga, " sahut Marcell.
"Enak aja, elu juga sama pilih kasih, " sahut Nanda.
"Eehh, enak banget ngomong nya.. " sahut Marcell menyimpan minumannya itu dan terus melihat Nanda dengan ekspresi aneh.
"Apa sih.. Gimana gue.. " sahut Nanda malas debat.
Nanda berjalan pergi meninggalkan Marcell yang masih duduk di kedai boba itu.
"Kenapa sih tuh anak? Kadang baik, kadang sedikit gila ples aneh, " gumam Marcell geleng-geleng kepala.
"Cell ayoo.. " sahut Nanda.
"Iya iya, " sahut Marcell berjalan menyusul Nanda di depan.
"Udah ini mau kemana?" tanya Marcell.
"Beli topi, " sahut Nanda.
"Dari tadi beli topi beli topi, sampe sekarang kita gak beli beli, " sahut Marcell.
"Hehehe.. Banyak godaan, " sahut Nanda.
Mereka terus berjalan bersama sesekali melihat-lihat barang lain. Dan akhirnya mereka berhenti di sebuah toko couple.
"Mau beli topi yang mana?" tanya Nanda.
"Yang mana aja, " sahut Marcell.
"Kalo topi ini gimana?" tanya Nanda menunjukkan topi bucket berwarna putih.
"Boleh, bagus.. Gue warna hitam, " sahut Marcell mengambil topi bucket warna hitam.
"Kok warna item? Jelek tau.. Yang warna putih ajah baguss.. " sahut Nanda.
"Itu elu aja, nanti bisa saling pinjem, " sahut Marcell.
"Heuuhh.. Ya udah deh.. Bayar sana.. " sahut Nanda.
"Gue lagi yang bayar?"
"Iyalah, kalo bukan elu siapa lagi?"
"Jangan cuma satu, pilih lagi mau yang mana, "
"Okeh, kalo gitu kita beli gelap couple, lu pake gelang yang huruf nya N gue M, " sahut Nanda.
Marcell hanya mengangguk, "Bagus juga lu kalo soal couple, lu sering pacaran yah, " sahut Marcell.
"Ngga kok, ini pertama kalinya gue sedeket ini sama cowok, "
"Sama mike engga?"
"Sering siihh deket cuma gak sedeket ini gitu.. "
"Jadi gue ini cowok pertama yang membuat lu nyaman dong, "
"Nggak juga, malahan waktu SMP banyak cowok yang mau sama gue, cuma gue yang gak mau sama mereka aja, " jelas Nanda.
"Jadi lu jangan kepedean kalo jadi cowok pertama yang gue bawa ke mall atau cowok pertama yang membuat gue nyaman, lu salah besar.. " lanjut Nanda.
"Okey, " sahut Marcell.
Gue pastinya bakal bikin lu nyaman sampe lu gak mau lepas, - batin Marcell.
"Nanda? Marcell?"
Suara itu seperti sudah tidak asing lagi bagi telinga Nanda dan Marcell, mereka segera berbalik dan melihat dua orang gadis yang sedang melihat mereka sambil tersenyum lebar.
"Lho Caca? Melodi? Kok kalian ada di sini?" tanya Nanda.
"Nah kan bener kata gue.. Itu Nanda sama Marcell, " sahut Caca.
"Gue yang bilang ca.. Gue.. Bukan elu.. " sahut Melodi.
"Ahh, masa sih.. Perasaan gue yang ngomong gitu, bukan elu, " sahut Caca berusaha mengingat kembali.
"Dasar pikun, " gumam Nanda.
"Udah udah, kenapa kalian ada di sini?" tanya Marcell.
"Harusnya kita yang nanya gitu sama kalian, kalian lagi ngapain di sini? Berdua lagi, " tanya Caca.
"Kita lagi main, " sahut Nanda.
"Main apa? Kok berdua aee.. Apa jangan-jangan kalian ada anuu... " sahut Melodi.
"Heeehh syuutt jangan anu anu pamali, " sahut Nanda.
"Hehehe.. Kita bercanda kok, kalian kok gak sekolah hari ini?" tanya Caca.
"Gue sama Nanda udah izin karena ada acara keluarga, " sahut Marcell.
Pinter juga alasannya, - batin Nanda.
"Ohh gitu.. " sahut Caca paham.
"Mm?"
"Maksud?"
"Kok malah nanya, kalian lagi ngapain di sini kenapa gak sekolah, terus kenapa kalian masih pake seragam sekolah apa kalian berdua bolos? Hayoo ngaku.. " tanya Nanda.
Banyak pertanyaan yang di tanyakan oleh Nanda, Caca dan Melodi sampai bingung harus menjelajahi dari mana.
"Gini.. Kita berdua gak bolos.. Cuma itu.. Apa itu.. " sahut Melodi ngelag.
"Heuhh lama otaknya 3G.." sahut Caca.
"Kalo gitu, tolong jelaskan Caca, " sahut Marcell.
"Eee.. Itu anu kita.. " sahut Caca yang sama-sama bingung.
"Udah udah lama, otak kalian sama-sama 3G, biar gue yang jelasin, sekarang kalo gak salah setiap hari selasa IPA belajar apa?" tanya Nanda kepada Marcell.
"Kalo gak salah, di jam pelajaran ke tiga, IPA tentang hewan-hewan, " sahut Marcell.
"Nah itu dia.. Mereka bolos karena mereka gak mau belajar tentang hewan-hewan, " sahut Nanda.
"Bener gitu?" tanya Marcell kepada Caca dan Melodi yang masih terdiam.
"Hehe.. Iyaa.. " sahut Caca, Melodi barengan dengan perasaan malu.
"Kalo kalian bosen pelajaran IPA kenapa gak pindah aja, kayak Mila itu, dia sampe pindah ke IPS 5 biar deket sama Bagas, " sahut Marcell.
"Enggak makasih, Cita-cita gue sama Caca sama jadi dokter manusia, bukan dokter hewan, " sahut Melodi.
"Mm.. " gumam Nanda paham.
"Tapi tetep aja.. Kalian gak boleh bolos, " sahut Marcell.
"Lah bukannya Nanda juga sering ***.. Mmmm.. " Caca belum menyelesaikan perkataan nya tapi Nanda sudah membungkam mulut Caca dengan tangannya.
"Apa?" tanya Marcell yang mendengar sedikit.
"Gak bukan apa-apa.. Hahahaha.. Iyah kan meell.. " sahut Nanda menyenggol tangan Melodi.
"Oh iya hahaha.. Bukan apa-apa haha.. " sahut Melodi terpaksa jawab.
"Oh.. Gue bayar dulu topi-topi ini.. Kalian kalo mau ngobrol yah silahkan, gue kayaknya bakal lama, " sahut Marcell.
"Iyahh jangan lama-lama udah ini kita makan.. Gue udah laper, " sahut Nanda.
"Makan mulu.. Nanti gendut banyak bacot.. " sahut Marcell.
"Eehh gimana gue dong.. " sahut Nanda.
Marcell hanya tersenyum dan berjalan menuju kasir untuk membayar topi yang mereka pilih. Sekarang hanya ada mereka bertiga, Caca, Melodi, dan Nanda.
"Btw, kalian berdua pacaran?" tanya Melodi.
"Enggak kok, gue sama dia cuma temen, karena kebetulan ortu kita saling kenal, yaahh jadi gini deh sekarang, " sahut Nanda.
"Oh gitu.. " sahut Melodi mengangguk pelan.
"Ndak gimana kalo kita ngobrol nya sambil duduk, " sahut Melodi.
"Oh iya boleh, " sahut Nanda.
"Tapi sebelum itu.. Lepasin tangan lu, kasian Caca keabisan napas, " sahut Melodi menunjuk ke arah Caca.
"Aaahh Caca.. Sorry i gak sengaja, " sahut Nanda segera melepaskan tangannya dari mulut Caca.
Caca akhirnya bisa bernapas lega, karena tidak ada lagi tangan seseorang yang membungkam mulut nya.
"Tangan lu bau.. Habis makan apa lu?" tanya Caca.
"Oh iya, gue belum cuci tangan habis dari toilet, " sahut Nanda mencium tangannya.
"Astagfirullah.. " sahut Melodi.
"Amit-amit.. Jorok banget lu.. " sahut Caca merasa jijik.
"Hahaha.. Gak kok bercanda, " sahut Nanda.
"Terus habis dari mana tuh tangan? Baunya melebihi Inalilahi, " sahut Caca menutup hidungnya.
"Sok jijik banget lu.. Nih makan nih tangan gue.. Makan.. " sahut Nanda kembali membungkam mulut Caca.
"Iihh.. Bauu.. " teriak Caca menepis tangan Nanda.
"Dadahh orgill.. " sahut Nanda berjalan menuju kursi di depan kaca.
Caca hanya memanyunkan bibirnya ke depan dan menyusul mereka berdua. Mereka duduk dengan perasaan canggung, karena Caca dan Melodi tau apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Nanda Marcell dan Bagas, bahkan mereka tak percaya kalo Agung dan Rara terlibat.
"Kita mau ngobrol apa yah?" tanya Nanda.
"Yah kalo gue sii terserah, " sahut Caca.
"Mell ngobrol dong mell, mingkem mulu, " sahut Nanda.
"Melodi emang pendiem dari dulu, jadi gue udah terbiasa, " sahut Caca.
"Yaahh.. Gue tau kok, lagian Melodi ini temen SD gue.. " sahut Nanda.
"Hah? Masa sih? Emang bener mell?" tanya Caca kaget.
"Katanya temen, sahabat forever.. Tapi kok ini sebaliknya?" tanya Nanda melihat meraka berdua.
"Gue sama Caca.. Berteman pas di SMP, " sahut Melodi.
"Tau kok, " sahut Nanda.
"Jangann diem-diem dong.. Ngobrol kek, gabut gue.. " sahut Caca.
"Elu yang suka banyak bacot, tumben sekarang mingkem, " sahut Nanda.
"Kamu yang bisanya suka banyak bicara, " sahut Melodi.
"Gak tau kenapa, gue berasa kalian berdua kayak yang udah nikah, " sahut Caca.
Duuhh gawat.. - batin Nanda.
"Kan gue udah bilang, gue sama Marcell itu cuma temen, kebetulan ortu kami saling kenal, " sahut Nanda menjelaskan sekali lagi.
"Iyah gue tau lu udah ngomong kayak gitu, tapi ini cuma perasaan gue aja atau apalah gitu.. Gak menentu juga, " sahut Caca.
"Udahlah caa.. Jangan kayak gitu kasian Nanda, " sahut Melodi.