
"Ada apa Sofi?" tanya Sella.
"Eh, bukan apa-apa, " sahut Sofi.
Bagi yang lain, Sofi ini memang sudah seperti itu sejak dulu, anak nya memang udah aneh dari kecil nya jadi maklum. Tapi bagi Patmi dan Shera itu sangat lah mencurigakan, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Sofi.
Setelah lama berjalan mereka melihat keluarga Arquela dan yang lain keluarga dari gedung. Mereka berlima segera menghampiri.
"Kalian mau kemana?" tanya Shera.
"Kita akan membantu mencari Pak Herman, kalian tenang saja, oh iya Bagas.. kalo kamu ada waktu tolong mampir ke rumah saya, ada yang ingin saya bicarakan, " sahut Andre.
"Iya Pak, " sahut Bagas mengangguk.
Keluarga Arquela dan keluarga Melodi masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Mereka yanga masih ada di tempat merasa bingung, padahal sebentar lagi, tapi keadaan tak mendukung mereka saat ini.
"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Pak Endi.
"Tenang saja, dalam waktu dekat saya akan membawa Pak Herman ke hadapan kalian semua, " sahut Bagas.
Mendengar Sofi semakin waspada, untungnya mereka semua tidak mencurigai Sofi yang telah membantu membebaskan Pak Herman.
Pak Endi dan Pak Budi hanya mengangguk pasrah, mereka akan menyerahkan tugas ini kepada Bagas, walau tidak enak Bagas telah membantu mereka semua dalam memecahkan kasus ini.
"Saya permisi kalau begitu, " sahut Bagas berbalik dan berjalan menuju mobil nya.
"Iya, "
Bagas melihat Sofi yang tengah kebingungan di sana, walau dia mendengar percakapan mereka, tapi Bagas selalu ada rencana untuk menangkap balik Pak Herman yang sudah kabur itu.
Sofi merasa ada yang memperhatikan sedari tadi, Sofi melihat ke arah Bagas yang baru saja akan naik ke dalam mobil.
Tante Sofi, kamu gak akan tau, rencana apa yang akan kulakukan, semua ini demi kebaikan bersama, dan untuk Pak Herman dia tak akan bisa lari.. - batin Bagas tersenyum.
Mobil Bagas mulai berjalan menjauhi gedung pengadilan agama itu dengan cepat. Sementara mereka yang masih ada di sana, tak tau harus berbuat apa.
"Kita sudah jauh-jauh ke sini, tapi ini yang kita dapat? aduuhh kepala aku pusing, " sahut Ryan.
"Apa boleh buat, kita hanya bisa pasrah, " sahut Pak Budi.
"Oh iya, gimana sama keluarga Arquela?" tanya Patmi.
"Mereka akan menungu sampai Pak Herman di temukan, seperti setelah membaca semua dokumen yang di bawa Bagas, Pak Andre seperti memahami situasi nya, " sahut Pak Endi.
"Syukur lah kalo begitu, " sahut Patmi lega.
"Semua polisi sudah aku kerahkan, mereka akan berusaha mencari Pak Herman, " sahut Ikne menutup telpon.
"Sudah, kalo begitu kita harus kembali ke rumah, " sahut Shera.
"Iya, kita juga harus nelpon anak-anak, sebentar lagi mereka ujian, " sahut Patmi.
Shera mengangguk. "Iya, Thoriq harus nya sekarang pulang ke rumah dan ngurus Rara, " sahut Ikne.
"Iya, ayo kita pergi sekarang, " sahut Sella.
Mereka masuk ke dalam mobil yang mereka bawa masing-masing. Dengan wajah tanpa bersalah Sofi masuk ke dalam mobil Ryan.
Apa yang kamu sembunyiin dari kita Sofi? - batin Ryan greget.
.
.
.
.
.
Sudah tiga hari berselang, tapi Pak Harman belum di temukan, bahkan para polisi dan bodyguard Bagas sudah di kerahkan.
Di hotel
Tepat nya di kamar Bagas saat ini. "Bagaimana bisa gak ketemu?!! ini sudah tiga hari.. " teriak Bagas kesal.
Brakk..
"Pak Herman kau bersembunyi di mana?!!" gumam Bagas semakin kesal.
Bodyguard yang mendengar nya merasa takut. "Apa kalian sudah mencari ke setiap rumah warga atau pun rumah kosong?" tanya Bagas.
"Sudah tuan, bahkan kami sempat memeriksa semua hotel di jakarta, Bandung, Garut, Tasikmalaya dan ke berbagai tempat lainnya, " sahut salah satu bodyguard nya.
Bagas yang tampak semakin marah, menyingkirkan barang-barang yang ada di meja nya, "Haah.. kalian semua keluar, saya mau istirahat, " sahut Bagas.
"Baik, "
Blamm..
Semakin hari ini semakin berat.. - batin Bagas.
Baga duduk di kursi dan berbalik menghadap jendela besar di belakang nya. Pikirannya mulai mengarah ke Nanda, Bagas sedikit mulai lebih tenang.
Tok.. tok.. tok..
"Siapa? masuk, " sahut Bagas.
Cklekk...
"Maaf tuan saya mengganggu, saya mendapatkan informasi dari salah satu hotel bintang lima di Jawa Tengah, katanya mereka baru saja menerima dua orang turis dari Jakarta, "
"Bagaimana ciri-ciri mereka?"
"Seorang wanita berambut pirang yang sedang duduk di dekat pintu kamar nya. Ada seorang pelayan hotel yang mengambil poto nya karena dia terlihat seperti model, "
Bodyguard itu memberikan poto itu di atas meja Bagas. Bagas pun berbalik dan melihat poto nya, dia merasa familiar dengan poto tersebut.
Bukannya ini Sofi? kenapa dia pergi ke Jawa? - batin Bagas.
"Lalu apa yang kamu temukan di sana?" tanya Bagas.
"Wanita itu tidak sendirian tuan, dia bersama seorang pria yang diduga adalah suami nya, "
Bodyguard Bagas itu kembali menunjukkan poto seorang pria.
"Salah seorang pelayan di hotel itu juga, katanya dia bersikap mencurigakan, jadi dia mengambil poto nya secara diam-diam saat mengantar tamu, "
Bagas tersenyum, "Ternyata benar memang kamu Sofi, tenang saja, aku akan datang menemui mu secara langsung, " gumam Bagas.
"Dimana mereka sekarang?" tanya Bagas.
"Mereka ada di pulau Karimunjawa, kepulauan di Laut Jawa Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. " jawab nya.
"Bagus, panggil pak Endi, Pak Budi, dan juga yang lain nya, dan juga panggil semua bodyguard yang tersebar di Indonesia, " perintah Bagas.
"Baik, " sahut bodyguard itu.
Sekarang dia sudah merasa sedikit tenang. "Sekarang waktu nya membuktikan secara langsung di hadapan Sofi siapa yang bersalah, " ucap Bagas berbicara sendiri.
.
.
.
.
.
Di sisi lain, ada dua orang anak yang di tinggal orang tua mereka sudah lebih dari tiga hari. Sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian nasional untuk kelulusan mereka.
Di rumah keluarga Alfarizky, tepat nya di kamar mereka berdua.
"Marcell!!" teriak Nanda dari dalam kamar.
Brakk...
"Apaa?!" tanya Marcell bergegas menghampiri Nanda yang barusan teriak.
"Iihh.. mana supri?" tanya Nanda melihat Marcell.
"Gak tau, " jawab Marcell.
"Jangan bohong, gue tau lu kan yang udah nyembunyiin supri?" tanya Nanda curiga.
"Kagak, buat apa juga gue ngurusin boneka monyet jelek kayak gitu, "
"Kan elu paling benci sama supri, karena supri selalu tidur di tengah, lu juga pernah bilang lu bakal ngebakar atau ngebuang supri kalo tidur di tengah, " sahut Nanda.
"Gue berasa... "
"Setiap malam supri selalu tidur di tengahh.. trus lu ngamuk-ngamuk gak jelas di kamar mandi.. " potong Nanda.
Mendengar nya saja Marcell sudah mematung. "Dan gak lama ini, lu sering nelpon supir lu.. setiap lu nelpon selain temen-temen lu selalu ngehindar.. " sambung Nanda.
"Truss elu juga pernah bilang... "
"Syuutt.. gak usah di terusin.. " sahut Marcell.
"Mama supri?" tanya Nanda sekali lagi kepada Marcell.
"Gue gak tau, udah jangan berisik, turun makan, " sahut Marcell berjalan keluar kamar.
"Aaaahhh.. Marcell maahh.. gituu.. " rengek Nanda.
"Makan dulu Nanda Nusyrandi udah itu baru kita bicarain, " sahut Marcell.
"Jadi lu tau di mana supri?" tanya Nanda.
"Kagak tau, "
"Euuhh geblekk.. " gumam Nanda kesal.
"Gue hantu-hantuin lu setiap tidur, " ancam Nanda.
"Bodoamat, " sahut Marcell dari lantai bawah.
"Iihh.. ya udah gue gak mau makan, lu aja sana sendiri makan, " sahut Nanda.
"Makan sendiri gak enak, ayoo turun makan bedua.. " sahut Marcell.
"Kagak mau, gue mau langsung tidur, terus nangis, akan kehilangan boneka tercinta, " sahut Nanda menutup pintu.
Blamm..
"Haduuhh.. bikin ribet aja nih anak.. lama-lama kayak gini terus, bisa tua gue.. Nanda.. sayang.. bebyy.. makan nyok, " sahut Marcell.
Cklekk..
"Sayang makan dulu yok, " sahut Marcell.
"Iihh gelay nj*rr.. jangan panggil gue sayang, "
"Apaa sih.. kan kita udah suami istri, "
"Gue gelay denger nya.. "
"Oh.. "
"Yee.. "
"Setan malah ikut-ikutan singkat, "
"Sana makan.. gue mau tidur, "
"Kagak kagak, makan dulu, " sahut Marcell menarik selimut itu.
"Aaaaaahhh... nicii.. " teriak Nanda.
"Nici? nici apaan lagi nj*rr.. " sahut Marcell.
Marcell menggendong Nanda. Nanda sendiri kaget setelah di angkat dan di bawa keluar kemar oleh Marcell sendiri.
"Turunin guee.. " teriak Nanda.
Tapi Marcell hanya diam dan menuruni tangga satu persatu karna takut jatuh, sedang membawa putri tidur dari kamar untuk makan malam bersama.
"Turunin gue Marcell!!" teriak Nanda.