
"Maaf menyela, kan elu ikut geng motor dari SMP kelas satu ndakk, " sahut Rara.
"Ya--"
"Apa?"
"Ya itu kan gue, pokoknya Fauzan, Firza sama Betly gak boleh, " sahut Nanda.
"Okey, " sahut Fauzan.
"Siip, " sahut Nanda mengacungkan jempol.
Mereka dengan senang hati mengobrol, tertawa bersama-sama sambil menikmati cemilan yang di bawa oleh Fauzan dari Tasikmalaya.
Sudah hampir dua jam mereka berada di kamar Fauzan. Nanda dkk yang tak mempedulikan keadaan Fauzan yang kecapean, ingin istirahat atau ingin sekali rebahan di kasur, malah kasur Fauzan di ambil alih oleh Putri yang asyik main hape.
"Eh, btw, kalian mau balek ke GOR?" tanya Nanda.
"Enggak ahh, males, " jawab Rara.
"Gue juga males, ngapain juga gue di sana, malah di suruh bawa tirai lah, bunga lah, pot berat, kursi, meja, gak ngotak emang si Marcell.. " sahut Dinda kesal.
"Gak liat gitu yak kalo kita ini perempuan, masa iya di suruh bawa yang berat-berat, " sahut Putri.
"Emang kalo gak bawa yang berat-berat kalian kerja apa?" tanya Nanda.
"Yah apa kek, bantuin masak walau gue ini belum pinter masak kayak nyonya Alfarizky atau nata bunga di pelaminan, atau apa aja, asalkan jangan bawa meja, kursi, besi, tirai, " sahut Rara kesal, marah bercampur aduk menjadi satu.
"Siapa yang nyuruh kalian?" tanya Fauzan.
"Siapa lagi kalo bukan kakak lu yang sok dingin, cuek, banyak aturan, " jawab Dinda.
"Pless rese lagi, " sambung Rara emosi.
"Oh, kak nanti kalo ketemu sama kak Marcell kasih nasehat gih, jangan memperkerjakan perempuan, mana bawa yang berat-berat lagi.. itu gak boleh, " sahut Fauzan.
"Nah bener... pinter lu zan, " sahut Rara.
"Bener, tuh ndak inget lu harus nasehatin suami lu sana yang rese itu biar gak nyuruh cewek sana sini, " sahut Putri.
"Iidiihh, bodoamat, itu hak dia mau memperkerjakan siapa aja, gue harus apa? Ngelawan? Males ah, " sahut Nanda.
"Eeehh, nih bocah di kasih tau yee.. " sahut Dinda.
"Lu gak kasihan sama sahabat lu?" tanya Putri.
"Gak, itu hak dia.. bukan hak gue, " sahut Nanda.
Haha.. Melakukan kak Nanda sekarang jadi mirip sama kak Marcell, mungkin terlalu lama tidur berdua tanpa ada yang ganggu jadi kebawa-bawa, - batin Fauzan.
"Iihh, nih anak jadi mirip sama Marcell, " sahut Rara.
"Bodo, " sahut Nanda lancang.
"Ngajak berantem nih, " sahut Putri.
"Lu harus nasehatin Marcell oncom, " sahut Rara mencubit kaki Nanda keras.
"Aauu.. Sakit monyet! Gak mau! Itu hak dia bukan hak gue ngatur-ngatur kehidupan dia, " sahut Nanda.
"Lah elu kan istri nya nj*rr, " sahut Rara.
"Lu mau nanti Marcell memperkerjakan cewek di bawah umur? Hah?! Tega banget lu jadi istri, " sahut Putri.
"Yah itu mah salah cewek nya kenapa mau di suruh-suruh, yaa kan.. " sahut Nanda.
"Eeuuh, bisa nya ngejawab aje lu, " sahut Dinda.
"Nanti gimana kalo ada cewek di bawah umur terus Marcell suka sama tuh cewek, " sahut Putri.
"Yah silahkan aja, gue juga bisa kale nyari cowok baru, jangan pikir yah gue ini berhenti jadi populer karena gue udah lulus sekolah, enggak yah.. " sahut Nanda.
"Dasar lu cewek populer, " sahut Dinda.
"Kenapa gak jadi artis aja sekalian kalo lu populer di mana-mana, " sahut Rara.
"Marcell yang gak mau ngebiayain gue jadi artis, " sahut Nanda.
"Nah kan, lu gak bisa hidup tanpa uang suami, nanti kalo Marcell suka sama cewek lain gimana? Lu gak bisa hidup tenang, bahagia, tentram kayak gini lagi lho, " sahut Putri.
"Marcell kan udah punya cewek baru, dan kemungkinan lu bakal di cerain sama Marcell, " lanjut Rara.
"Bukan cuma di cerain, kemungkinan besar semua fasilitas lu bakal di ambil, " lanjut Dinda.
Nanda tampak sangat khawatir bagaimana jika Marcell mencari cewek lain dan menceraikan nya begitu saja, dan mengambil semua fasilitas yang Nanda punya saat ini. Seperti mobil, ATM,motor vario yang baru Marcell beli untuk Nanda lima hari yang lalu dll.
"Nah gimana-gimana? Lu gak mau kan Marcell cari cewek baru.. " sahut Rara.
"Semua nya di ambil lho ndak, jangan harap lu bakal hidup bahagia, " sahut Putri.
"Oke oke.. Gue bakal nasehatin Marcell nanti kalo ketemu, bisa-bisa nya gue di peres sama kalian bertiga, " sahut Nanda pasrah menuruti kemauan sahabat nya.
"Ahahahha.... Berhasil, " sahut Rara dan Putri tertawa.
"Ternyata gaes, ngancem Nanda dengan uang memang adalah cara terbaik, " sahut Dinda.
"Bener, mata duitan soal nya, " sahut Putri.
"Eeuuh, masih mending gue mata duitan dari pada elu.. tangan gak bisa di kontrol main ambil aje, " sahut Nanda balas dendam.
"Maklum.. dia gaulnya sama si b*ngs*t pulpen, " sahut Dinda.
"Enak aje lu, dari pada elu bucin gak jelas, dulu lu itu tomboy lah sekarang jadi bucin bucin jijikk iuuhh, " sahut Putri dengan ekspresi aneh nya.
"Eh, masih mending yah gue bucin gak jelas, dari pada Rara telinga nya gak pernah kelewat, ada aja ibu-ibu ngegosip langsung ngilang, " sahut Dinda.
"Gimana gue lah, lagian yah ini itu faktor keturunan jadi maklum, " sahut Rara dangan memanyunkan bibir nya ke depan.
"Gue cium lu!" sahut Dinda mendekat ke muka Rara.
"Nj*ng, jangan lah b*ngs***.. first kiss gue, " sahut Rara segera menjauh dari muka Dinda.
"Main nyosor ae lu, kasian Agung, " sahut Nanda menepuk pundak Dinda pelan.
"Oh iya lupa, " sahut Dinda tersenyum.
"Gak dapet ciuman pertama, ahaha, " sahut Putri tertawa.
krikk... krikk... krikk...
"Ha.. Ha... Hah.. Ahahaha.. Ehem, sorry, " sahut Putri berhenti tertawa.
"Bodoo.. Gimana gue, " sahut Putri.
Nanda dan Dinda hanya geleng-geleng kepala pelan. Sedangkan Fauzan hanya nyimak.
"Eh, zan.. gimana kamu udah punya cewek belum?" tanya Nanda beralih ke Fauzan.
"Aahh... Pake di tanya.. " sahut Fauzan.
"Punya?" tanya Nanda.
"Engga, " sahut Fauzan menggelengkan kepala nya.
"Ehehaa.. Terus kenapa tadi ekspresi lu kayak meyakinkan gitu.. " sahut Putri.
"Meyakinkan gimana maksud kakak?" tanya Fauzan.
"Gak.. gak jadi, " sahut Putri.
"Haahh.. Sabar sabar, " sahut Fauzan.
"Emang lu harus sabar menghadapai orang macam dia, apa lagi ini nih orang maksiat lu harus ektra sabar, " sahut Rara.
"Kenapa jadi nyambung ke gue nj*r.. dia ngobrol sama Putri bawa-bawa gue, " sahut Dinda.
"Kan biasanya lu itu jadi penengah, " sahut Rara.
"Itu dulu sayang, karena saya ini udah punya jadi saya gak mau jadi penengah lagi, " sahut Dinda.
"Ooh gitu, " sahut Rara tersenyum manis ke arah Dinda.
"Apaan sih lu senyum-senyum kayak gini, ngeri gue liatnya nj*rr, " sahut Dinda menjauh dari Rara.
"Iihh apaan sih.. Enggak juga, biasa aja lah, " sahut Rara.
"Stress, " sahut Putri.
"Mungkin dia lagi kerasukan setan, " sahut Nanda.
"Haha... Setan dari mana ndak, dia mah memang titisan setan, " sahut Dinda.
"Oh iya gue lupa, emang setan yah lu, " sahut Nanda.
"Lu iblis, " sahut Rara ke Nanda.
"Nih dajjal, " tunjuk Nanda ke Putri.
"Apaan nj*rr tiba-tiba ke gue?! Gak jelas emang kalian, " sahut Putri.
"Hahaha.. Canda canda.. " sahut Nanda.
"Jangan baper.. Nanti Ihsan gak mau lagi lho, " goda Dinda.
"Gak, " sahut Putri.
Beberapa menit kemudian. Datang lah yang tak ingin mereka temui yaitu Marcell dkk yang baru saja pulang dari GOR.
Clekk..
"Fauzan, " panggil Marcell.
"Eh kakak, " sahut Fauzan.
"Wiikk... Eh ayank? Kamu ngapain di sini?" tanya Angga pura-pura kaget.
"Lah calon istri gue ngapain di kamar laki-laki?" sahut Agung melihat Rara.
"Apaan sih, " sahut Rara risih atas kedatangan mereka semua.
"Lah iya, calon istri gue juga ada di sini.. Mana rebahan pula di kasur orang, " sahut Ihsan.
"Lumayan, merebahkan diri dari pada kerja bantuin kalian gak koar-koar, " sahut Putri.
"Koar kok, ini kita baru beres, " sahut Agung.
"Awas awas awas.. assalamu'alaikum gaes di sini ada calon istri aku gak?" tanya Lukman.
"Enggak, " jawab Nanda.
"Gak ada sana pulang, " jawab Putri.
"Gak ada man, mau sama Tante gue gak? Mumpung jomblo, " sahut Rara.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Nasib gue kenapa gini amat dah, mana jodoh gue nj*r?!!" sahut Lukman dengan muka sedih nya.
"Sabar, gue do'ain yang terbaik buat lu man, moga aja di pernikahan Nanda Marcell lu ketemu sama jodoh lu, " sahut Ihsan menepuk pundak Lukman.
"Kalo gak ketemu juga.. Silahkan pdkt kembali dengan dwi.. Eh dwi bukan? atau lerry?" tanya Angga.
"Dwi dwi.. Kasian kalo lerry nanti di ajak main kuda-kuda terus sama Lukman, " sahut Agung.
Tawa mereka pecah mendengar obrolan Angga dkk. "Nah iya bener, gue malah kasian sama lerry nya bukan sama Lukman nya, " sahut Angga.
"Mana badannya mont*k pula, " sahut Ihsan asal ngomong.
"Geblek ih, " sahut Putri.
"Ahaha.. Aduh san.. Gimana atuh.. " sahut Rara.
"Apaan?"
"Putri badannya gak mont*k, lu masih mau kan sama Putri?" tanya Rara membuka baju Putri.
"G*bl*k.. Kagak usah di buka juga baju gue!!" sahut Putri memukul tangan Rara nakal.
"Gung, tunangan lu gak sabar bener.. Main buka-buka aja baju orang, " sahut Putri.
"Sabar sayang, pernikahan kita juga gak akan lama, " sahut Agung.
"Nah setelah akad langsung.. " sahut Lukman.
"Ahsyiaap, " sahut Agung.
"Geblek.. Gimana nanti aja lah, " sahut Rara.
"Ahahaha... Udah gak sabar, " sahut Nanda sambil menunjuk ke arah Rara.
Mereka tertawa terbahak-bahak tanpa henti begitupun dengan Fauzan walau nyimak tapi dia ikut tertawa sama seperti yang lain. Ada jeda sebentar dan ada lagi yang membuat mereka semua kembali tertawa. Seperti itulah pertemanan.