My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Gue mau bunuh diri!!!



"Kita mau kemana?" tanya Nanda.


"Kita ke toko buku, udah itu kita makan di warung nasi goreng, " sahut Marcell.


"Terus?" tanya Nanda.


"Kita belajar di perpus sampai bel masuk, " sahut Marcell tersenyum.


Lu mau ngebunuh gue keseringan belajar apa gimana? Itu lagi senyum nya bikin orang pengen bunuh diri sekarang... Serem amat.. - batin Nanda ngeri.


Sampai nya mereka di toko buku gramedia. Marcell membawa Nanda ke tempat buku favorit nya berada.


"Permisi pak, " ucap Marcell.


"Oh, Marcell... Apa kabar... Kamu sekarang jadi jarang ke sini... Ada apa?" tanya Pak Hendra pemilik toko buku gramedia.


"Gak papa kok pak, cuma gak ada waktu aja, "


"Oh iya iya... Oh? Ini siapa? Kok cantik.. "


"Mm? Kenalin ini pacar saya pak, "


"Aduhh udah pacaran aja kamu... "


"Hallo pak, saya Nanda... "


"Iya iya.. Kamu kesini mau cari buku apa?" tanya Pak Hendra


"Nyari buku IPA sama Fisika, sama Matematika juga, " sahut Marcell.


Nanda melotot kepada Marcell, sekarang juga rasanya ingin kabur tapi sayang tangannya di genggam erat oleh Marcell.


"Kalo gitu.. Silahkan lewat sini... " sahut Pak Hendra menunjukkan jalan.


"Iya Pak makasih, "


Marcell berjalan bersama Nanda di belakang Pak Hendra. Sesekali Nanda melihat ada banyak buku di gramedia ini. Rasanya ingin membaca semua nya.. Tapi sayang Nanda paling benci kalo membaca di pagi hari.


"Gimana? Di sini ada banyak buku kan?" tanya Marcell.


"Iya sii... Banyak tapi gue kan gak suka kalo baca buku di pagi hari.. Kayak gini.. Apalagi sekarang baru jam set enam, " sahut Nanda.


"Terus lu tadi baca apa, kalo lu gak suka baca buku di pagi hari?" tanya Marcell.


"Gue bukan baca buku, tapi ngapalin, " sahut Nanda.


"Sama aja neng, "


"Beda lah... "


"Sama... "


"Beda, "


"Sama, "


"Beda, "


"Eeeee... Syuut.. Syuut... Jangan bertengkar disini banyak orang yang lagi baca buku... " sahut Pak Hendra.


"Heheh... Iya Pak maaf, " sahut Marcell.


"Maaf pak, " sahut Nanda.


"Sudah gak papa, di rak sebelah sana buku IPA semua nya ada di sana... Dari kelas satu SMP sampai Kelas 3 sma, " tunjuk Pak Hendra ke rak buku sebelah kanan paling pojok.


"Nah kalo buku Fisika sama Matematika... Ada di sebelah kirinya... " lanjut Pak Hendra.


"Iya Pak makasih, ayok belajar, " sahut Marcell menarik tangan Nanda.


"Iya iya... Sabar... Mau mati lu, narik-narik tangan gue terus... " sahut Nanda dengan tatapan membunuh.


Nanda hanya tersenyum dan mengikuti Marcell dari belakang.


"Kami ke sana dulu yah pak.... Permisi, " sahut Nanda tersenyum.


"Iya... " sahut Pak Hendra.


Pak Hendra pun pergi setelah menunjukkan jalan kepada Marcell dan Nanda.


"Duduk di situ, biar gue yang nyari buku-buku nya... " sahut Marcell.


Nanda hanya menurut dan duduk di meja yang sudah di sediakan, sambil menunggu Marcell membawakan buku-buku yang di perlukan, Nanda memainkan ponselnya.


Bruukk...


Nanda terkejut saat ada suara buku yang menumpuk di hadapannya itu.


"Ini semua apa?" tanya Nanda.


"Ini semua buku yang perlu lu hapalin, " sahut Marcell sambil menepuk semua buku itu.


"Gila lu?!" tanya Nanda terkejut.


"Gue gak gila, katanya lu paling benci baca buku, kalo gitu lu hapalin aja setiap rumusnya, " sahut Marcell.


"Gue mau bunuh diri!!!" teriak Nanda.


"Belum juga di mulai, lu udah mau bunuh diri aja, " sahut Marcell duduk di samping Nanda.


"Yak lagian, lu ngasih gue buku sebanyak ini... Mana tadi sarapan cuma makan roti satu, " sahut Nanda.


"Gue gak bawa buku kosong buat ngotret semua rumus nya.. " sahut Nanda.


Marcell membuka isi tas nya dan mulai mengeluarkan semua isinya.


"Nih, udah gue siapin, mulai dari buku kosong, pulpen, pensil, penghapus, penggaris semua bentuk, dan lain-lain, lu cuma perlu hapalin sama ngotret semua rumus, udah cuma itu... "


"Sadis amat lu jadi suami, "


"Berisik, " sahut Marcell mulai membaca bukunya.


"Lu baca buku apa?" tanya Nanda.


"Buku IPA, " sahut Marcell.


"Ini bisa di bawa pulang gak?" tanya Nanda.


"Kenapa?"


"Yak jadi gue belajar nya di rumah, enggak disini... Kan malu... "


"Gak usah malu, cepetan lu hapalin rumus Fisika ini... Terus nanti gue bakal kasih soal, " sahut Marcell.


Nanda pun mulai menghapal semua rumus Fisika di buku-buku itu dengan cepat. Marcell beralih ke sebuah buku yang sudah ia siapkan, dan mulai memberi soal kepada Nanda, awalnya soal mudah tapi semakin ke sini Marcell memberikan soal yang sulit.


Buset, dia cuma baca sekilas tapi udah bisa ngejawab semua soal-soal yang gue kasih... - batin Marcell kagum


"Nih udah hasilnya 45.892 cm² , " sahut Nanda memberikan buku itu ke Marcell.


"Cepet juga lu ngerjain nya... " sahut Marcell memeriksa jawaban Nanda.


"Iyalah, kalo masalah menghapal jangan nyepelein gue... " sahut Nanda.


Marcell membereskan semua buku-buku dan mengembalikan ke tempat nya.


"Loh kok di beresin, kan belum beres, " sahut Nanda.


"Udah segini dulu, besok lagi, " sahut Marcell.


"Singkat banget dah belajar nya... "


"Belajar juga ada batas waktunya ndak... Gak usah lama-lama, cukup lima menit juga jadi, "


"Haha.. Baca buku cuma lima menit udah bisa di bilang belajar... "


Marcell hanya bisa geleng-geleng kepalanya dan tersenyum.


Nanda pun membantu Marcell membereskan semuanya. Dan memasukan peralatan sekolah ke dalam tasnya Marcell.


Marcell datang dan mengambil tasnya. Dan menggandeng tangan Nanda.


"Pak, kami permisi dulu yah, makasih pak, " sahut Marcell.


"Iya sama-sama, sering-sering ke sini.. Sama jangan lupa bawa pacar nya juga, " sahut Pak Hendra.


"Iya Pak, " sahut Marcell berjalan keluar dari toko buku menuju mobilnya.


Di mobil.


"Makan... Makan... Makan... Makan... "


"Berisik... Lu kayak yang gak pernah gue ajak makan aja, " sahut Marcell.


"Makan.. Makan... Makan... Bum.. Bum.... Bum, "


"Astagaa... Ya Tuhan tolong sabar kan hamba mu ini... Menghadapi istri yang sudah gila, " gumam Marcell.


"Cell..... Itu ada warung nasi goreng... " teriak Nanda.


Marcell pun berhenti di depan dan mulai keluar bersamaan dengan Nanda.


"Pak beli nasi goreng nya dua, " ucap Marcell.


"Iya siap... "


Sambil menunggu nasi goreng mereka, Nanda mulai jahil pada Marcell.


"Btw, emang kita pacaran yah?" tanya Nanda tersenyum lebar.


"Anggap aja, "


"Kalo kita pacaran beneran gimana?" tanya Nanda.


"Emang lu mau jadi pacar gue?" tanya Marcell dingin.


"Mau... " jawab Nanda santai.


Marcell seketika melotot kepada Nanda tak percaya. Sedangkan Nanda hanya mengedipkan satu matanya ke arah Marcell.


"Udah ini, kita ke masjid, "


"Ngapain ke masjid kan sekolah, " sahut Nanda.


"Gue mau panggil semua ustadz yang ada, buat ngerukiah lu, " sahut Marcell.


"Aauu sosweet.... " sahut Nanda tersenyum sambil menggoyang tubuhnya yang membuat Marcell merasa jijik.


Kayaknya bener deh gue harus ngerukiah dia... Semakin kesini semakin gila bukan semakin waras, - batin Marcell.