
Setelah dokter memperbolehkan keluarga Nanda masuk. Mamah Patmi segera menghampiri Nanda yang masih terbaring lemas di sana.
"Nak, kamu baik-baik aja kan?" tanya mamah Patmi khawatir.
"Iya mah aku baik-baik aja, gak usah khawatir, " sahut Nanda menghapus air mata mamahnya itu.
"Sayang... Ada yang sakit?" tanya Bunda Shera.
"Nggak ada kok bun, ehh, Marcell, gue mau ketemu sama seseorang boleh gak?" tanya Nanda beralih ke Marcell yang sedang duduk di sofa.
"Lu mau ketemu sama siapa?" tanya Marcell berdiri dan berjalan menghampiri Nanda.
"Gue mau ketemu sama Bagas, " jawab Nanda.
Seketika mata orang tua Nanda melotot mendengar nama Bagas. Bunda yang khawatir akan trauma Nanda yang akan kambuh lagi, mencoba untuk tetap tenang.
"Tapi sayang, kenapa mau ketemu sama Bagas?" tanya Bunda.
"Kenapa tiba-tiba ke Bagas?"
"Ada yang perlu gue omongin sama Bagas, bisa tolong lu telpon dia buat datang ke sini?"
Marcell melihat kedua mertuanya itu, tapi mereka tak tau harus berbuat apa lagi, mereka juga bingung sama seperti Marcell saat ini.
"Bisa tolong lu telponin, " pinta Nanda.
Marcell mengambil napas panjang, "Okeh, gue akan coba telpon Bagas buat dia datang ke sini, " sahut Marcell pasrah.
Marcell pergi keluar untuk menelpon Bagas.
Tuut... tuut... tuut...
🗣️ : Ehemm... Halo ada apa? Tumben lu nelpon gue, ada apaa?
: Gas, lu bisa datang ke rumah sakit Traumaginda?
🗣️ : Hah? Buat ada datang ke sana?
: Ini... Nanda pengen ketemu sama elu katanya
🗣️ : Hah?! Nanda?! Kenapa sama Nanda?
: Lu tenang dulu, gue juga gak tau mau apa, katanya dia mau membicarakan sesuatu sama elu, jadi tolong datang sekarang
🗣️ : Okeh okeh, gue otwe sekarang
: Iya
Marcell segera mematikan telpon itu. "Gampang banget disuruh datang langsung gercep, " gumam Marcell.
Setelah menelpon Bagas, Marcell segera kembali ke dalam kamar, bergabung dengan yang lain.
Nanda yang sedari tadi mengobrol dengan orangtuanya, beralih ke Marcell yang baru kembali.
"Gimana? Apa katanya?" tanya Nanda
"Dia lagi ada di jalan, lu jangan khawatir, " jawab Marcell.
"Ohh syukur lah kalo gitu, " sahut Nanda tersenyum.
Sebenarnya apa yang mau lu bicarain sama Bagas, sampe lu seneng kayak gini? - batin Marcell.
Beberapa menit kemudian, dokter datang bersama suster nya untuk memeriksa keadaan Nanda.
"Gimana dok, keadaan anak saya?" tanya mamah Patmi.
"Alhamdulillah, keadaan nya mulai membaik, dia harus istirahat sekitar dua sampai tiga hari, setalah kondisi nya 100% baru dia boleh di bawa pulang, " jelas dokter.
"Oh iya dok, terimakasih, " sahut bunda Shera.
"Iya sama-sama Bu, saya keluar dulu, jangan lupa untuk beri dia obat tiga kali sehari agar badannya tetap sehat, " sahut Dokter.
"Iyah terimakasih dok, " sahut Ayah Endi.
"Saya permisi, nanti suster yang akan membawakan obat untuk Nanda, " sahut dokter.
Mereka yang ada di ruangan mengangguk menanggapi perkataan dokter barusan, Marcell yang sedang duduk di kursi di samping ranjang Nanda merasa akan terjadi sesuatu setelah Bagas sampai du rumah sakit.
Drrtt... Drrtt... Drrtt...
Ponsel Marcell berbunyi tapi Marcell tak mendengar nya karena sedang memikirkan sesuatu.
Ayah Budi yang mendengar suara ponsel Marcell yang berdering, menyenggol Marcell.
"Cell, itu ponsel kamu... Angkat dulu, " sahut Ayah Budi.
Sontak Marcell terkejut dan segera berdiri untuk mengangkat telpon itu, ternyata itu Bagas.
🗣️ : Ruangan Nanda ada di sebelah mana?
: Lu tunggu di depan, gue ke sana sekarang,
🗣️ : Iya, tapiagak cepetan yak, soalnya ini banyak suster yang liatin gue..
: Iyaaa
Bagas mematikan telpon itu. Marcell segera keluar ruangan tanpa sepengetahuan orang-tua nya.
Di depan rumah sakit Traumaginda.
"Woy, gue disini... " teriak Bagas menepuk pundak Marcell.
"........ "
"Lu ngeliatin gue sinis amat, nanti bola mata lu keluar lho, " sahut Bagas.
"Jangan basa basi, lu sama Nanda ada hubungan apa?" tanya Marcell.
"Lah gue kira lu udah tau... "
"Maksud lu?"
"Gini... Sebenarnya gue itu dulunya mau nikahin Nanda kalo udah lulus SMA, tapi karena gue selingkuh di belakang Nanda, dia mutusin gue, "
"Karena gue gak terima dia mutusin gue, makanya gue berpikir untuk perkosa Nanda aja, biar gue bisa hidup sama dia selamanya... Tapi keadaan gak berpihak sama gue.. "
"Selama gue di penjara, gue sadar, gue udah dibutakan oleh cinta, gue selingkuh di belakang nya, ini juga salah gue... Dan pada akhirnya Mila keluarin gue dari penjara untuk balas dendam ke Nanda karena dia udah ngerebut Marcell dari nya... "
"Pada awalnya gue setuju, tapi setelah gue bertemu sama Nanda di sekolah untuk pertama kalinya, dia gak inget sama gue... Gue juga gak tau, kenapa...
Bagas mengambil napas panjang, "Gue juga sebenarnya bingung, dari mana Mila dapet semua berkas-berkas tentang masa lalu gue, itu yang selama ini gue selidiki, makanya gue temenan aja sama Mila, "
"Mm.... Gue ngerti... "
"Lu tau kan Caca sama melodi itu?"
"Iya lalu?"
"Sebenarnya Mila cuma memanfaatkan mereka aja demi kepentingan dirinya sendiri, gue udah bilang ke mereka, katanya 'kita butuh bukti, kalo bener Mila cuma memanfaatkan kita' gitu katanya... "
"Jadi lu ngasii tau gue semua ini.. Buat bantuin lu gitu?"
"Iya, masalah ini juga menyangkut Agung dan Rara, terus perusahaan bokap lu, "
Marcell terkejut mendengar kalo perusahaan Ayahnya menyangkut masalah ini, "Apa maksud lu ini menyangkut perusahaan bokap gue?"
"Gue gak akan jelasin ini ke elu cell, gue butuh bantuan bokap lu sama bokap Nanda, jadi sekarang lu masuk ke sana, gue tunggu disini... " sahut Bagas setelah sampai di depan pintu ruangan Nanda.
Marcell masuk ke dalam, dia terus melihat kebelakang melihat Bagas yang hanya tersenyum.
"Ayah, bunda, mamah ada yang mau bicara sama kalian, " ucap Marcell.
"Siapa cell?" tanya Bunda Shera.
"Dia ada diluar, " sahut Marcell.
Meraka semua kecuali Nanda segera keluar ruangan bersama Marcell.
Cklekk..
Mamah Patmi terkejut dengan seseorang yang sedang membelakangi mereka saat ini. "Bagas, " sahut kata yang terucap itu berhasil menggetarkan hati Ayah Endi.
"Bagas, " panggil Ayah Budi.
Bagas berbalik dan menghadap keluarga Nanda dan juga keluarga Marcell. "Halo Tante, Om, apa kabar?" sapa Bagas.
"Kami semua baik, kenapa kamu udah keluar dari penjara secepat ini?" tanya Ayah Endi terkejut.
"Ceritanya panjang om, boleh saya masuk? Saya sudah di tunggu sama Nanda, " tanya Bagas.
"Oh iya boleh, " sahut mamah Patmi mempersilahkan masuk.
Bagas pun segera masuk ke dalam, sedangkan yang lain menunggu diluar. Marcell sangat bingung kali ini, apa hubungannya dengan perusahaan Ayahnya itu.
Di dalam kamar Nanda di rumah sakit traumaginda.
Cklek..
"Nanda, " panggil Bagas.
Nanda yang sedang melihat keluar jendela menengok ke arah Bagas yang baru masuk dan menutup pintu.
"Bagas?" tanya Nanda.
"Iya ini gue Bagas, akhirnya lu bisa kenalin gue, " sahut Bagas berjalan menghampiri Nanda.
"Emang semenjak kapan gue gak bisa ngenalin elu?" tanya Nanda.
"Gak, udah, ada apa sampe lu pengen banget ketemu sama gue?"
"Gue kangen sama elu gas, setelah sekian lama, lu ke mana aja selama dua tahun ini?"
"Itu... Lu masih inget kejadian dua tahun yang lalu?"
"Iya gue tau, lu hampir mau perkosa gue, kenapa?"
"Nah mulai dari situ, gue merasa bersalah sama elu dan keluarga lu itu, "
"Gue malah terima lu apapun yang terjadi, tapi sekarang keadaan malah kayak gini.. Gue udah nikah gas, kita gak bisa bersama.. " sahut Nanda mulai mengeluarkan air mata nya.
Bagas duduk di pinggir kasur dan memeluk Nanda. "Udah lu jangan pikirin masa lalu, gue yakin ortu lu milih Marcell sebagai suami lu pasti ada sebab nya... " sahut Bagas.
"Hiks.. Hiks.. Tapi gue sayang sama elu gas, lu udah janji mau nikahin gue setelah kita lulus SMA, tapi sekarang kita gak bisa bersama... Hiks.. Hiks.. " sahut Nanda.
Bagas mengambil napas panjang, "iya gue tau, gue cuma mau lu bahagia ndak, lu mau sampe punya anak sama Marcell pun gue gak keberatan, asalkan lu bahagia sama kehidupan lu yang sekarang dan seterusnya, " jelas Bagas tersenyum tipis.
Nanda berhenti menangis dan memandang Bagas singkat, "kasih tau gue.... Selama ini lu kemana?" tanya Nanda.
"Gue ada di penjara, dan gak lama lagi gue bakal masuk penjara lagi, " sahut Bagas.
"Maksud lu? Bakal masuk penjara lagi?" tanya Nanda bingung.
"Ada yang harus gue lakuin demi keselamatan rumah tangga lu sama Marcell, gue ngelakuin ini demi elu ndak, jadi lu harus bahagia sama Marcell, lu paham kan sampai sini?"
Nanda hanya mengangguk pelan. Bagas berdiri dan berjalan menjauh dadi hadapan Nanda perlahan, lalu menghilang.
Cklek..
Bagas keluar dan menghembus napas nya. "Om endi dan om Budi bisa kita bicara?" sahut Bagas.
"Iya tentu, "
"Kamu harus jelasin semuanya, "
"Iya saya akan menjelaskan semuanya secara rinci, mari ikut saya keluar, " sahut Bagas jalan duluan.
"Bunda sama Patmi sama Marcell kalian masuk temenin Nanda, Ayah mau bicara dulu sama Bagas sama Pak Endi, " sahut Ayah Budi.
"Iya yah, " sahut Bunda Shera.
Bunda Shera dan mamah Patmi beserta Marcell masuk ke dalam untuk menemani Nanda.
Sedangkan Ayah Budi dan Endi ikut Bagas keatas gedung untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting.