My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Rumah Sakit



Dengan cepat kilat keluarga Nanda dan Marcell segera pergi ke rumah sakit di mana Nanda sedang di rawat sekarang.


Sesampainya mereka di rumah sakit, mereka berlari di lorong secepatnya ke ruangan Nanda sekarang.


"Nandaaa.... " teriak Mamah Nanda.


Marcell mundur selangkah dan Mamah Nanda menghampiri Nanda yang masih belum sadar kan diri.


"Marcell, kamu udah selamatin Nanda.... hiks... hiks... Mamah berhutang budi sama kamu... naakk... " ucap mamah berterima kasih.


"Udah mahh, gak usah berhutang budi, ini udah tanggung jawab aku kok sebagai suami, " sahut Marcell mengusap pundak mertuanya itu.


Mamah masih menangis di samping Nanda sambil memegang tangan anak perempuan nya itu.


"Marcell!!" teriak bunda memeluk putra nya itu.


"Bunda?" sahut Marcell menerima pelukan Bunda nya.


"Sayang, kenapa kamu gak bilang, kalo kamu mau cari Nanda?! Kan Bunda sama Ayah bisa ngasih kamu bodyguard, " ucap Bunda mengusap wajah anaknya itu dengan lembut.


"Gak papa kok bund, aku juga dapet bantuan dari teman-teman aku, " sahut Marcell.


"Yee si kakak tumben khawatir sama orang, " sahut Fauzan duduk di sofa.


"Paan sih elu? Iri? Bilang bos, " sahut Marcell.


"Kakak ipar, makasih udah mau nemuin kakak cantip aku~~" sahut Betly memeluk Marcell.


"Udah, gak usah peluk-peluk, " sahut Firza menjewer telinga Betly.


"Sakit oncom, lu gak ada rasa kasian banget sama kakak lu ini, " sahut Betly kesakitan.


"Gak, gue cuma kasian sama kak Nanda, " sahut Firza.


"Kenapa kamu kasian sama Nanda?" tanya Bunda.


"Gak papa kok Bunda, ada ajah... " sahut Firza.


Gue kasian sama kak Nanda, karena sebenarnya Betly suka sama Marcell bahkan sama Fauzan, makanya gue sengaja ngejauhin Betly sama yang lain, - batik Firza.


"Oh yak udah kalo gitu... " sahut Bunda.


Semua keluarga sekarang berada di rumah sakit menengok Nanda yang masih pingsan. Ayah menghampiri Marcell dan mengajak nya pergi keluar ada yang ingin ayah Marcell bicarakan dengannya.


"Ada apa Ayah?" tanya Marcell.


"Kamu udah tau siapa yang culik Nanda?" tanya balik Ayah.


"Soal itu masih diselidiki sama kepolisian, "


"Kamu gak mau nyerahin masalah ini ke orang-orang kamu?"


"Bukan gak mau, cuma belum waktunya, kita tunggu sampe Nanda sadar terlebih dahulu, siapa tau dia lihat wajah nya... " jelas Marcell.


Mereka tak sengaja bee pas-pasan dengan Ayah Nanda. Ayah Nanda mendengar semua percakapan barusan.


"Kalo Ayah kira, ini adalah perbuatan Bagas, " sahut Ayah Nanda.


"Bagas?!" tanya Marcell kaget.


"Siapa Bagas itu pak Endi?" tanya Ayah Marcell, Pak Budi.


"Saya akan menceritakan semua sekarang, jadi kalian bisa jaga anak saya dengan baik, ayok ikut saya ke halaman belakang rumah sakit, " sahut Pak Endi berjalan duluan.


Marcell dan Pak Budi menyusul di belakang. Sampai mereka di halaman belakang, Pak Endi mulai membicarakan tentang Bagas.


"Dulu saat Nanda berumur 16 tahun dia berpacaran dengan Bagas. Semenjak itu, kami kira dia akan bahagia dengannya, tapi kami salah dia selingkuh di belakang anak saya. Anak saya menangis sepanjang malam, "


Marcell duduk di bangku dengan lemas saat mendengar mereka dulunya berpacaran.


"Saat itu Nanda jadi tidak mau lagi pacaran atau pun jatuh cinta kepada laki-laki selain suaminya sendiri, "


Kisahnya hampir sama dengan kisah yang di alami sama Marcell dulunya... - batin Pak Budi.


"Lalu kenapa sampai Nanda trauma?" tanya Marcell.


"Dia memutuskan untuk putus dengan Bagas itu, tapi Bagas tak menerima nya, dia pun menculik Nanda, "


"Jadi maksud Ayah ini bukan pertama kalinya Nanda di culik gitu?" tanya Marcell.


"Iya, dia menculik Nanda sampai Nanda pingsan dan dia membawanya ke hotel, sampai di situ dia hampir memperkosa Nanda... " lanjut Pak Endi duduk terdiam lemas di samping Marcell mengingat masa lalu kelam yang di alami oleh putrinya itu.


"Jadi di situ Nanda trauma?" tanya Pak Budi.


"Mm, untung nya kami berhasil melacak GPS yang di simpan oleh Nanda di kalung nya. Saya beserta istri saya segara berangkat dengan cepat menuju hotel tersebut, sampai di sana, tidak ada bukti keberadaan Bagas, jadi kami tidak bisa melapor ke polisi, " jelas Pak Endi semakin lemas.


"Bagaimana dengan kondisi Nanda Ayah?" tanya Marcell.


"Dia... di temukan di hotel dengan kondisi tak lemak busana, banyak luka lebam di wajahnya dan.... " perkataan Pak Endi barusan membuat Marcell ingin mencekik Bagas. Pak Budi sudah geram mendengar semua perkataan sahabat nya itu.


Bagas!!! - batin Marcell geram.


"Dari yang saya dengar Bagas itu sudah di penjara, tapi kenapa dia masih sekolah?" tanya Pak Budi.


"Terus, dari mana Ayah mendapat bukti kalo itu Bagas dan sampai Bagas itu di penjara?" tanya Marcell.


"Kamu tau kan Betly itu sangat mirip dengan Nanda, dia menculik Betly dan juga dia hampir dia perkosa jugaa.... saya gak bisa terus melihat anak-anak saya menderita lagi, " sahut Pak Endi menangis.


"Sebelum Betly di culik, Nanda masih trauma?" tanya Marcell.


"Iya, tapi saat kami bilang Betly di culik, Nanda sudah tidak ingat lagi kejadian kelam nya itu, " jawan Pak Endi.


"Jadi Nanda tiba-tiba hilang ingatan solat masalah itu, " gumam Pak Budi.


"Saat kami menemukan Betly disitu lah ada Bagas juga, dengan cepat Nanda menelpon polisi, dia sudah tidak ingat lagi tentang Bagas, " lanjut Pak Endi.


"Apa Betly masih ingat siapa itu Bagas?" tanya Pak Budi.


"Iya.. jadi saya mohon jangan beritahu Betly soal masalah ini, saya takut dia trauma sama seperti kakaknya Nanda, " pinta Pak Endi.


Pak Endi berdiri dan memegang pundak Marcell.


"Jadi saya mohon, jaga anak saya, jangan sampai dia mengingat masa kelam nya itu yah Marcell, Ayah percaya sama kamu, " sahut Pak Endi.


"Iya ayah tenang aja, aku bakal masukin Bagas lagi ke penjara, " sahut Marcell.


"Baguss... kalo gitu kita balik ke ruangan, siapa tau Nanda udan sadar, " sahut Pak Endi berjalan pergi.


"Kalau kamu butuh apa-apa, telpon ayah, " sahut Ayah Marcell berjalan pergi menyusul.


Sedangkan Marcell masih berdiam diri, masih mengingat semua perkataan mertuanya barusan. Sampai-sampai Marcell memukul tembok karena geram oleh kelakuan Bagas.


Bagas... awas aja lu, gue gak akan tinggal diam, kalo masalah Nanda, gue bakal selesain ini dengan cara gue sendiri, - batin Marcell geram.


Marcell pun memutuskan untuk pergi ke ruangan Nanda, mengecek apa dia sudah sadar atau belum.


Sampai di ruangan, Marcell melihat Nanda yang sedang makan apel bersama Tante Patmi dan Bundanya dengan senyuman di bibir nya.


"Lu dari mana aja cell?" tanya Nanda, melihat Marcell di depan pintu.


"Gue habis dari luar, lu udah gak sakit lagi kan?" tanya Marcell memegang kepala Nanda.


"Udah engga kok, lu gimana sakit badan?" tanya Nanda.


"Gue baik-baik aja, " jawab Marcell.


Bunda dan Mamah Nanda melihat mereka saling peduli satu sama lain.


"Ehemm... Ehem... "


"Plise jangan uwuuwu, kasian kita bertiga masih jomblo, " sahut Fauzan.


"Tau nik... gak kasian apa sama adiknya yang habis putus cinta, " sahut Betly bermain ponsel.


"Gue sadar, makanya kita jaga jarak muka, " sahut Nanda.


Blushing.....


Wajah Marcell tiba-tiba memerah dan bangun dari hadapan Nanda dengan perlahan. Nanda kembali memakan buah.


"Dasar.. kakak gak ada adab, kalo gak sakit udah gue Smekdon, " sahut Betly tak mau kalah.


"Alah bacot, lu jungkir balik aja masih takut, " sahut Firza.


"Diem lu, "


"Apa hubungannya Smekdon sama jungkir balik?" tanya Fauzan bingung.


"Udah gak kalo gak paham, mending diem, " sahut Betly.


Firza dan Fauzan saling memandang satu sama lain.


Lama-lama stress nih anak, gara-gara di tinggal nikah sama Aydan, - batin Firza.


Kasian kena mental nya, gara-gara di tinggal nikah sama Aydan, - batin Fauzan.


"Udah kalian jangan berantem, " ucap mamah Nanda.


Cklekk...


"Katanya Nanda, besok boleh pulang, " ucap Ayah Endi.


"Syukur lah... kita bisa lanjutin pernikahan nya, besok kalian nikah, " sahut bunda bahagia.


Nanda dan Marcell seketika terdiam, mereka sampe lupa, besok tanggal 13 dan besoknya tanggal 14 mereka akan kedatangan tamu.


"Mah, bisa gak jangan besok akad nya... besoknya lagi... " ucap Nanda memohon.


"Gak ada, penghulu nya udah siap, gak bisa batal, makasih, " sahut Mamah Nanda menolak.


"Aaahhh... mamahh.... plissss... " sahut Nanda masih memohon.


"Hahahah..... Kasian... nikah nikah nikah~~" teriak Betly, Firza dan Fauzan tertawa.


"Adik gak ada akhlak, " gumam Nanda kesal.