My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Hancur



"Kalo gitu, kita pacaran?" tanya Agung.


"Engga.. kita musuh, "


"Yang bener neng, "


".... Iya.. "


"Yes.. " gumam Agung.


"Udah ngobrol nya, kalo udah gas ke kelas, " sahut Rara berjalan pergi.


Agung masih terdiam dan terus tersenyum.


"Dari pada lu senyum-senyum gak jelas mending ikut gue balik ke kelas, gue gak mau ngurus orang yang sakit jiwa kayak elu, " sahut Rara berbalik.


"Iya.. " sahut Agung menyusul.


Dan mereka segera kembali ke kelas dengan penuh kebahagiaan.


"Nanda sama yang lain udah tau?" tanya Agung.


"Udah mungkin, " sahut Rara.


"Kok mungkin? Harusnya lu tanya dong, " sahut Agung.


"Lu sendiri aja yang nanya sama mereka, gue mah ogah, " sahut Rara mempercepat langkahnya.


"Ogah, biar mereka sendiri yang tau, " Sahut Agung.


Sesampainya di kelas Agung


Rara melihat isi kelas IPA 2 yang hancur, kursi-kursi terguling, meja pada maju ke papan tulis, banyak coretan di papan tulis, poto-poto berjatuhan, sampah berserakan di mana-mana, siswa-siswi pada mojok di belakang sambil membaca buku.


Tak lama Agung masuk ke kelas dan melihat keadaan kelasnya yang kacau balau.


"Ini kelas siapa?" tanya Agung.


"Ini kelas elu Gung, " sahut Rara.


"Masa? Kok kelas gue kayak persis tempat sampah, " sahut Agung.


"Woy, siapa ini yang bertanggungjawab?" tanya Agung.


"Marcell sama Nanda.. "


Mereka berdua sudah tak aneh lagi dengan pasangan yang satu itu.


"Mana Angga sama Dinda?" tanya Rara.


"Pergi ke kelas IPS 3, lanjutin berantem di sana, "


"Ngapain pindah kelas kalo masih berantem, " gumam Rara.


"Kalo gak pindah kelas, nanti kelas gue yang kena, " sahut Agung.


"Yayay... cepetan beres-beres, gue pengen nyusul mereka berdua, " sahut Rara.


Akhirnya dengan rasa pasrah Rara dan Agung membereskan kekacauan di kelas IPA 2 dan di bantu oleh siswa lainnya sampai selesai, rapih, bersih dan wangi khas kelas IPA 2.


Setelah selesai membereskan kekacauan yang mereka buat. Rara dan Agung segera menyusul mereka ke kelas IPS 3. Tak di sangka mereka bertemu dengan Ihsan dan Putri yang sedang bersama.


"Mputt... " panggil Rara.


Putri menengok ke belakang.


"Eh Ra, lu mau kemana?" tanya Putri.


"Mau ke kelas, nyusul Nanda sama Dinda, Lu sendiri mau kemana? Kok berduaan mulu, nanti yang ketiga setan lho, " sahut Rara.


"Lu sendiri gak sadar, lu berduaan mulu sama Agung, " sahut Ihsan.


"Gue tau pasti kalian berdua pacaran kan?" tebak Putri.


"Kalo iya kenapa?.. ahk... " jawab Agung. Dengan cepat Rara menginjak kaki Agung.


"Diem lu... " bisik Rara menatap sinis.


"Tuh, ada kalung di leher Rara.. " tunjuk Putri.


"Lu ngintip isi kotak itu yah.. " teriak Rara.


"Iya... hehe.. berbagi dosa bersama yang lain, " sahut Putri.


"Emang gak ada akhlak kalian semua... btw lu liat


Marcell sama Angga gak?" tanya Rara.


"Liat, mereka pergi ke kelas sama Nanda.. " jawab Putri.


"Mm.. okelah, makasih... " sahut Rara berjalan pergi sambil melambaikan tangannya ke arah Putri.


"Eh.. lu mau kemana?" tanya Agung.


"Nyusul Nanda sama Dinda lah, kemana lagi, " sahut Ihsan.


"Gue duluan, " sahut Agung berlari.


"Iya.. " sahut Ihsan singkat.


"Mereka udah pacaran, kok kita engga, " sahut ihsan.


Putri segera berjalan cepat ke perpus.


"Eh Put, tungguin, jangan cepet-cepet napa siii.. " teriak Ihsan.


.


.


.


.


.


Sementara itu Nanda dkk di kelas IPS 3.


"Udah ndak berenti... " teriak Dinda berusaha mencegah Nanda melempar buku ke arah Marcell.


"Dia yang salah... dia gak mau ngedengerin apa yang gue mau... " sahut Nanda.


"Kenapa ke gue? Lu yang salah, siapa suruh lu nantang Dinda, " sahut Marcell bersembunyi di belakang Angga.


"Iya gue salah, gue harus lakuin apa yang udah gue janjiin, " sahut Nanda mengejar Marcell.


"Gak tau, gue sama Angga dapet mulung dijalan, " sahut Dinda tertawa.


"Bawa keluar kelas gue pusing, " sahut Salsa.


"Kalo keluar kelas malu, " sahut Angga.


"Bawa ke lapangan, biar gelut di sana sampe puas, " sahut Witri.


"Kelas gue udah jadi sasaran mereka berdua.. " sahut Angga.


Sedangkan Nanda terus berusaha mengejar Marcell.


"Ndak udah gak usah cium pipi Marcell, gue kasian sama Marcell ndak.. " teriak Dinda tertawa.


Yang mendengar nya tertawa, ada yang mendukung ada yang jahil dan sebagainya.


"Bener nih?" tanya Nanda berhenti.


"Iya benar, gue gak tega sama Marcell, " sahut Dinda.


"Oh yak udah kalo gitu... gak jadi.. " sahut Nanda kembali ke mejanya.


"Alhamdulillah... " gumam Mary bersukur.


"Udah sana lu pergi dari kelas gue.. " sahut Nanda mengusir.


"Lu ikut gue beres-beres di sana, " sahut Marcell menarik tangan Nanda.


"Buat apa? Gue gak salah... " sahut Nanda menarik kembali tangannya.


Brakk


"Siapa yang hancurin kelas gue?" tanya Marcell sambil memukul meja.


"Elu.. " sahut Nanda singkat.


"Ck. Gak ada dosa benget lu jadi manusia, " sahut Marcell pergi. Dan di susul oleh Angga.


Berpapasan dengan Marcell dan Angga yang keluar kelas, Rara masuk kelas dan segera menghampiri Nanda dan Dinda.


"Woy woy woy, gue ketinggalan berapa abad?" tanya Rara.


"Kemana aja lu?" tanya Dinda.


"Dari taman.. " jawab Rara.


Dinda hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan Rara.


"Di kelas Marcell semau kacau, ada masalah apa sih elu sama Marcell?" tanya Rara.


"Dia tuh yang mulai, " sahut Nanda.


"Ceritain dong, gue kepo, " sahut Dinda.


"Kepoan lu... " sahut Rara.


"Dari pada elu turunan, " sahut Dinda.


Rara manyun bebek sedangkan Nanda hanya tersenyum dan mulai membaca buku.


"Udah berenti dulu dong baca bukunya... istirahat otak sebentar... " sahut Rara sambil menutup buku Nanda.


"Ceritain dulu masalah lu sama Marcell... " sahut Dinda.


"Iya ayo dong... " sahut Rara.


"Males gue.. " sahut Nanda menyandar ke dinding.


"Dasar lu.. " sahut Rara.


"Btw, jangan lupa sekarang kita kumpul.. " lanjut Rara.


Seketika Rara diam sejenak, Nanda bersemangat.


"Okeh... " sahut Nanda tersenyum lebar.


"Gue gak akan kalah.. " sahut Dinda.


"Uuuuu gue pasti menang, gue gak akan pernah cium Marcell seumur hidup selain suami gue sendiri, " sahut Nanda.


"Kan Marcell suami lu.. " sahut Rara.


"Oh iya.... hehe.. " sahut Nanda cengengesan.


"Lupa sama suami sendiri dia...ckck.. " sahut Rara berdecak.


"Dosa lu.. lupa sama suami sendiri, " sahut Dinda.


"Iya iya namanya juga manusia, pasti ada lupanya.. " sahut Nanda.


"Mmm... iya deh.. " sahut Dinda dan Rara barengan


"Hallo gays I'm comback... " teriak Putri dari depan pintu.


"Salam kek ini malah bikin telinga orang masuk rumah sakit, " sahut Dinda.


"Hehe.. maaf maaf... Assalamu'alaikum... " sahut Putri.


"Waalaikumsalam... " jawab seluruh kelas.


Putri menghampiri Nanda dkk dan duduk di atas meja.


"Sopan sekali anda.. " sahut Dinda.


"Oh iya dong, harus... " sahut Putri.


"Ndak kenapa tadi di kelas IPA 2 ribut-ribut? Emangnya ada apaan si?" tanya Putri.


"Kenapa malah nanya ke gue sih aneh... " sahut Nanda.


"Kan elu biang kerok nya.. " sahut Dinda.


"Ceritain.... ceritain... " sahut Putri dan Rara.


"Demo kalian berdua...." sahut Dinda.


"Iya... " sahut Putri dan Rara barengan.


"Udah ndak, ceritain aja malu diliatin sama orang.. " sahut Dinda.


"Jadi gini ceritanya......