My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Membela diri



"Maaf, aku butuh udara segara, aku permisi keluar sebentar, " sahut Sofi segera bangun dari duduk nya dan berjalan keluar.


"Kenapa Sofi jadi gini?" tanya Sella.


"Saya juga gak tau Sella, " sahut Patmi.


"Aku pikir Sofi gak mau melepas Agung untuk beberapa hari ke depan, " sahut Sella.


"Bisa jadi begitu, " sahut Shera.


Sementara ibu-ibu sedang ngegosip bapak-bapak masih kebingungan harus bagaimana, apa pengadilan ini harus di lanjut kan atau di berhentilah sementara waktu sampai Pak Herman di temukan.


Setelah keluar dari gadung pengadilan agama, Sofi tampak bingung harus berbuat apa untuk selanjutnya. Sofi berjalan-jalan sebentar mengelilingi gedung pengadilan agama itu dengan santai nya.


Bagaimana ini? memang benar aku yang menyuntikkan obat bius itu ke Pak Herman, tapi aku hanya memberi nya sedikit, - batin Sofi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Cklekk...


"Mau apa kamu ke sini? bukannya kamu senang kalo aku di tangkap? dan kamu bisa menjalani hidup-hidup mu dengan perasaan tenang?" tanya Pak Herman melihat Sofi berjalan ke arah nya.


"Aku hanya mau tau, siapa yang sudah membunuh ayah.. maka dari itu aku membuat persetujuan dengan mereka, " sahut Sofi.


"Itu berarti kamu siap melepaskan ku dan juga Agung anak tiri mu itu, dan menikmati masa-masa hidup kamu dengan tanpa suami dan anak, " sahut Pak Herman.


Sofi tampak terdiam. "Denger kan aku Sofi, bukan aku yang membunuh Ayah kamu, buat apa aku melakukan itu hanya demi harta, aku hanya mencintai mu, aku sayang sama kamu, dan juga sama Agung anak kita, " sahut Pak Herman bohong.


"Kalo kamu tetap membela diri, itu artinya kamu memang bersalah, " sahut Sofi.


"Tidak Sofi, aku selalu jujur di hadapan kamu, aku bahagia mendapatkan istri seperti kamu, yang perhatian kepada suami nya dan juga anak aku, walau Agung itu anak tiri kamu, kamu menganggap Agung itu seperti anak kandung kamu sendiri, aku berharap kamu bisa bersama ku untuk selama-lama nya.. "


"Aku tanya sekali lagi, siapa yang telah membunuh Ayah?"


"Bukan aku Sofi, percayalah, aku janji akan membawakan pembunuh itu kehadapan kamu langsung, asal kamu membantu aku bebas dari mereka, " sahut Pak Herman berusaha mendapatkan kepercayaan Sofi kembali.


"Aku gak tau harus percaya sama siapa, Sella sudah bilang kalo kamu lah pembunuh Ayah, " sahut Sofi.


"Sofi, kamu lebih percaya sama Sella mantan istri aku? aku kecewa sama kamu Sofi, " sahut Pak Herman mengalihkan pandangan nya ke tempat lain.


Sofi berjalan perlahan ke arah Pak Herman sambil memegang suntikan itu di tangan nya.


"Sofi!! apa yang kamu lakukan?!!" tanya Pak Herman berteriak sambil berjalan mundur menjauhi Sofi yang semakin mendekat.


"Aku udah mengambil keputusan, aku akan membela seseorang yang selalu ada buat aku, " sahut Sofi.


"SOFI JANGANN!!" teriak Pak Herman.


"Aarrgghh!!"


Suntikan itu berhasil membuat badan Pak Herman lemas karena sudah di suntikan oleh Sofi di tangan nya. Tapi tak lama kemudian, Sofi menarik kembali suntikan itu.


"Aku akan mendukung kamu suami ku.. aku percaya sama kamu, maka saat sampai di sana, segeralah melarikan diri, " bisik Sofi lembut di telinga Pak Herman.


"Terimakasih, Sofi, " sahut Pak Herman.


Pak Herman pun mulai menutup mata nya karena di beri obat bius sedikit, walau pun sedikit tetap saja bikin ngantuk.


Cklekk..


"Selesai, " sahut Sofi.


"Bagus, " sahut Bagas.


"Terimakasih, sudah mau membantu kita Sofi, " sahut Pak Endi.


"Iya, kalian tidak perlu berterimakasih, " gumam Sofi.


Tanpa sadar gumaman Sofi terdengar oleh Bagas yang sedang duduk bersantai melihat bodyguard nya membawa Pak Herman keluar dari gudang itu dengan hati-hati.


Apa yang kamu bicarakan Tante? - batin Bagas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dengan pikiran yang belum menentu, Sofi hanya melihat rerumputan di sana yang di terpa angin.


Aku harus gimana? suami ku, kamu lari kemana? kenapa gak nunggu aku? - batin Sofi.


Srakk.. srakk..


"Kamu pikir aku bakal tinggalin kamu sendirian?" sahut seseorang di depan Sofi.


Sofi segera menengok ke atas dan dia kaget dengan siapa di depan nya itu, ternyata dia adalah Pak Herman.


Sofi segera bangkit dari duduk nya dan berdiri tepat di hadapan Pak Herman. "Ayoo kita pergi sekarang, " sahut Pak Herman.


"Aku gak bisa, kalau aku pergi maka mereka semua akan curiga kalo aku yang membebaskan kamu, " sahut Sofi.


"Tapi tetap saja, " sahut Pak Herman.


Pak Herman menarik tangan Sofi secara paksa, Pak Herman sedikit berlari, tapi Sofi berhanti seketika.


"Ada apa? kenapa kamu tiba-tiba berhenti seperti ini?!" tanya Pak Herman terburu-buru.


"Aku gak bisa pergi suami ku.. aku harus tetap di sini.. agar mereka gak curiga, " sahut Sofi.


Mereka termenung dengan lamunan mereka masing-masing. Sofi ingin sekali pergi bersama suami nya agar bisa hidup bahagia di masa depan walau tanpa memiliki seorang anak. Di sisi lain Pak Herman sebenarnya tak peduli jika Sofi tidak ingin ikut bersama nya, tapi apa boleh buat, karena Sofi telah membantunya sampai dia bebas dari pengadilan itu.


"Sofi... "


"Sofi di mana kamu? kita harus membicarakan sesuatu dengan keluarga Arquela, "


"Sofii, "


"Hah?! Ayo Sofi kita harus pergi sekarang!!" sahut Pak Herman menarik tangan Sofi dengan paksa.


"Kamu pergi lah terlebih dahulu, aku harus mengurus sesuatu, beri tahu aku kamu ada di mana setelah sidang ini selesai, " sahut Sofi.


"Gak bisa Sofi, kita harus pergi bersama-sama, sekarang!!"


"Aku gak bisa pergi, kamu saja duluan, " sahut Sofi.


"Sofii.. "


"Sofii keluar, aku minta maaf atas ucapan ku sama kamu, "


"Cepet pergi, " sahut Pak Herman.


Sofi hanya menggeleng pelan, "Kamu memang keras kepala yah Sofi, terserah, " sahut Pak Herman.


Pak Herman segera berlari bersembunyi di antara semak-semak agar tak ketahuan.


"Sofii, " teriak Ryan dari belakang itu berhasil membuat Sofi kaget.


"Ahh.. iya?" tanya Sofi kaget.


"Maafin aku.. atas perkataan aku barusan, " sahut Ryan memeluk Sofi.


"Iya gak papa, aku ngeri kok, oh iya ngomong-ngomong, menurut kalian aku ini keras kepala?" tanya Sofi tiba-tiba bertanya seperti itu.


Pertanyaan itu membuat Shera, Patmi, Sella, dan Ryan curiga. Mereka bertiga berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Nanti kita bicarain, sekarang juta udah di tunggu sama yang lain di dalem, yuk, " sahut Patmi.


"Oh iya, aku juga harus nelpon sama Marcell, Nanda, " sahut Shera.


"Oh yak udah, " sahut Sofi pasrah.


Mereka berempat berjalan pergi menjauhi taman di sana. Dan terkadang Sofi masih melihat kebelakang.


"Ada apa Sofi?" tanya Sella.


"Eh, bukan apa-apa, " sahut Sofi.


Bagi yang lain, Sofi ini memang sudah seperti itu sejak dulu, anak nya memang udah aneh dari kecil nya jadi maklum. Tapi bagi Patmi dan Shera itu sangat lah mencurigakan, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Sofi.