
"Nanda.... Marcell... turunan kita makan.. " teriak Bunda dari dapur.
"Yuk makan.. " ajak Nanda.
Marcell berdiri dan berjalan di belakang Nanda, dan menutupkan pintu kamarnya. Mereka berjalan menuruni tangga secara berdampingan, orang tua
dan adik-adik mereka melihat merasa kalo mereka akan menjadi pasangan yang saling melengkapi.
"Lu lagi apa?" tanya Marcell pada Fauzan yang asik bermain ponsel bersama Firza.
"Lagi mabarr, " jawab Fauzan tanpa melirik Marcell.
"Mah, Betly mana?" tanya Nanda.
"Di teras mungkin, " sahut Mamah.
"Gak ada di cari, kalo ada ribut, " sahut Ayah Nanda.
"Biasalah namanya juga anak-anak... " sahut Ayah Marcell.
"Iya juga sih... " sahut Bunda.
Nanda berjalan keluar rumah dan mencari Betly. Nanda berencana untuk kembali ke dalam tapi dia mendengar suara tangisan dari ayunan kecil yang ada di halaman.
"Betly?!!" ucap Nanda kaget ketika melihat Betly menangis di ayunan sendirian.
"Lu kenapa nangiss?!" tanya Nanda khawatir.
"Kakak.... hikss... hiks.. " Betly berlari dan memeluk kakaknya.
"Kamu kenapa? cerita sama kakak, " sahut Nanda kembali ke ayunan.
"Jadi gini kak, aku kan suka sama orang Turki, " ucap Betly.
"Jadi bener lu lagi suka sama orang Turki yah, terus kenapa lu sampe nangis? " tanya Nanda.
"Pas aku chatan sama dia, dia bilang udah punya pasangan dan setelah keluar dari SMA mau langsung nikah, aku sakitt hati... hiks... hiks... " jelas Betly.
"Lu yang sabar yah, padahal kan dia seumur sama elu... tapi kenapa dia udah di jodohin?"
"Dia gak seumur, "
"Terus beda setahun gitu sama elu?" tanya Nanda.
"Dia guru... " jawab Betly dengan nada di pekan kan.
"Apa?" tanya Nanda mendekatkan telinganya karena tak kedengeran.
"Dia guru.... " sahut Betly dengan nada meninggi.
"Ahh.... telinga gue!!" ucap Nanda sambil mengelus telinga nya.
"Emang dia guru kayak gimana, ganteng? dia umur berapa sampai lu nangis-nangis kayak gini?" tanya Nanda.
Betly membuka ponselnya dan menunjukkan potonya pada Nanda.
Gunaydin / Aydan
[Ini Versi cowok yang Betly suka yah:) ]
"Hemm... lumayan ganteng juga sih... " gumam Nanda.
"Nah iya kan, mau gimana gak suka coba aku sama cowok seganteng dia... " rengek Betly.
"Bagus juga selera lu... " sahut Nanda.
"Yeuuhh emang nya selama gue di Turki, lu kita gue ngapain aja?" tanya Betly.
"Ngegoda semua cowok yang ngelirik lu... " jawab Nanda.
"Enak aja... "
"Dia umur berapa?" tanya Nanda masih melihat poto Aydan.
"dia umur 24 tahun, " jawab Betly.
"Omg.... bisa-bisa nya lu nyari cowok yang umurnya 20 han... " sahut Nanda melirik Betly.
"Tapi ganteng tau... " sahut Betly manyun bebek.
"Serah lu... Masuk kita makan bareng sama keluarga nya Marcell, " ajak Nanda yang sudah berjalan lebih dulu.
Betly menarik napas panjang dan berdiri menyusul Nanda yang ada di depan. Mereka segera pergi ke dapur dan ikut bergabung dengan yang lain.
"Habis dari mana lu?" tanya Marcell.
"Kenapa? kangen?" tanya balik Nanda.
Nanda duduk di dekat Marcell dan mengambil piring dan nasi untuk dirinya sendiri karena yang lain sudah mengambil.
"Gak, gue cuma khawatir aja lu kabur, " sahut Marcell.
"Lu pikir gue ini cewek apaan sampe mau kabur tengah malem kayak gini, " sahut Nanda.
"Udah jangan brisik, ayok makan.. " ucap mamah.
Mereka semua menikmati makan malam bersama keluarga mereka yang lengkap. Tak lama setelah itu Ayah Marcell dan Ayah Nanda menaruh sendok dan garpu mereka, dan mulai berbicara.
"Jadi gimana tanggal pernikahan Nanda sama Marcell? Mau kapan?" tanya Ayah Nanda.
"Ayah buat apa sih nge bicarain itu sekarang mending nanti aja deh, " sahut Nanda.
Mamah Nanda minum terlebih dahulu sebelum ikut berbicara.
"Gimana kalau minggu depan aja, " sahut Mamah Nanda.
"Loh kok, cepet banget pulang nya?" tanya mamah.
"Iya, soalnya Fauzan di kasih izin pulang ke Jakarta cuma seminggu, " sahut Bunda ikut bicara.
"Gimana kalo minggu aja acara akad nya.. " sahut Ayah Nanda.
Mendengar nya Nanda tersedak, dengan segera Marcell memberikan minum kepada Nanda.
"Om, jangan cepet-cepet... " sahut Marcell.
"Kenapa gak boleh cepet? lebih cepet lebih bagus malah, " sahut Ayah Marcell.
"Bukan masalah itu yah, takut gimana kalo Nanda nanti hamil sebelum lulus sekolah?" tanya Marcell.
"Hooh kamu khawatir sama masalah itu, kan kamu yang tanggungjawab kenapa Bunda sama Ayah yang harus repot, " sahut Bunda.
Marcell terdiam tak bisa berbicara apa-apa kalo Bunda sudah menyela pembicaraan dengan Om Endi. Marcell melihat Nanda terus menikmati makanan nya tanpa khawatir sedikit pun.
"Kalo menurut Nanda gimana?" tanya Bunda.
"Kalo menurut kakak sih... gimana kalian aja, " jawab Nanda santai.
"Gimana kalo menurut Marcell?" tanya mamah.
"Terserah... " sahut Marcell tak peduli.
"Oke kalo gitu udah di tentukan yah, tanggal 13/14 kalian nikah, " ucap Mamah Nanda.
"Setuju... "
"Setuju mahh... "
"Yaaa setuju bangett... "
Adik-adik mereka mendukung keputusan dari ortu mereka, sedangkan Nanda n Marcell diam saja tak peduli.
"Jadi besok Bunda sama Bu Patmi bakal pergi ke Butik nya Bu Ikne yah... " ucap Bunda.
"Iya... kita berdua mau cari kebaya yang bagus-bagus di sana... " sahut mamah Nanda.
"Betly pun ikut lah mah, " sahut Betly
"Loh kok tumben mau ikut, biasanya juga gak mau, " sahut Mamah.
"Kan kalo bawa Betly nanti Betly cariin kebaya yang sesuai sama anak muda jaman sekarang, " sahut Betly.
"Oh iya bener, " sahut Mamah.
"Jadi besok kalian berdua masuk sekolah seperti biasa, terus pulang sekolah nya kalian ke butik bu Ikne mamah nya Rara... sama Marcell gak sendiri, " sahut Ayah Marcell.
Mereka berdua hanya mengangguk menanggapi semua perkataan. Betly yang sedari tadi memperhatikan kakak-kakaknya merasa mereka belum siap untuk menghadapi pernikahan.
Betly menyenggol tangan Firza pelan, Firza menoleh dan mengangkat kepala nya ke atas, Betly memanyunkan bibirnya ke arah Nanda dan Marcell.
Wajah Firza mendekat dan membisikan sesuatu, "Gak tau... tanya aja sendiri sana atau tanya ke Fauzan, " bisik Firza.
"Emang bener yah lu tega bener, " bisik Betly.
"Bodo... "
"Colek dong dikit tangan Fauzan, cepet!!"
Mereka masih bisik-bisik sampah orang tua mereka tak menyadari apa pun masih sibuk mengurus pernikahan Nanda n Marcell.
Firza pun mencolek tangan Fauzan, dia menoleh. "Apa?" tanya Fauzan.
"Bukan gue, tapi tuh kakak gue Betly, " sahut Firza.
Fauzan melirik ke arah Betly dan mengangkat kepalanya bertanya 'apa?' dan Betly pun memanyunkan bibirnya ke arah mereka berdua yang kurang senang mendengar pernikahan.
Namun Fauzan pun sama dia tak tau apa-apa.
"Tau gini gue gak usah nanya sana sini, mereka berdua 11 12 , " gumam Betly.
Setelah selesai makan Bunda membantu membereskan dapur bersama Mamah Nanda. Sedangkan yang lain ada yang lanjut bermain ponsel, baca buku, mengobrol dan sebagainya.
Sama seperti yang di lakukan Nanda dan Marcell saat ini mereka sedang duduk di bangku halaman depan rumah Nanda.
"Lu degdegan gak?" tanya Nanda.
"Sedikit, " jawab Marcell singkat.
"Jujur aja, gue suka sama lu cell, " ucap Nanda.
"Lu sadar gak lu barusan bilang suka ke gue, " sahut Marcell.
"Sadar kok, " sahut Nanda santai.
Mereka menatap langit yang di penuhi oleh bintang-bintang tanpa batas.
"Lu gak ada perasaan apa-apa sama gue?" tanya Nanda
"Bukan gak ada, cuma belum, " jawab Marcell.
"Cell ayok pulang, " sahut Bunda
"Iya Bunda.. gue pulang dulu yah.." sahut Marcell.
Nanda hanya mengangguk dan mengantarkan sampai pintu gerbang, setelah mereka pergi Nanda kembali ke kamar memandang langit-langit kamar dengan pikiran melayang-layang.
"*Lu gak ada perasaan apa-apa sama gue?" tanya Nanda
"Bukan gak ada, cuma belum, " jawab Marcell*.
"Maksudnya lu apa cuma belum?" gumam Nanda dalam hati dan mulai menutup mata.