My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Malam hari di Bandung



Kali ini Nanda mengajak Marcell untuk jalan-jalan malam, karena di Bandung suasana Bandung sangat sejuk dan segar.


"Cell.. Keluar yok, " ajak Nanda.


"Ogah ah, males, " sahut Marcell sambil menutupi kepala nya dengan selimut karena dingin.


"Ayoo... Sebentar doang, " sahut Nanda menarik-narik selimut.


"Enggak, lu aja sana.. Dingin, " sahut Marcell menolak.


"Ish, ya udah.. Nanti kalo ada cowok yang ngajak gue nikah lagi.. Gue otwe KUA, " sahut Nanda.


Brukk..


Marcell segera bangun dari tempat tidur. Hanya dalam sekejap Marcell sudah siap dengan jaket hitam dan tebal nya dan juga memakai sepatu beserta kaus kaki nya.


"Etdah, main nyosor ae, gue yang ngajak aja belum siap-siap, " gumam Nanda.


"Ayoo cepetan, " sahut Marcell menunggu di depan pintu.


"Iya iya sabar napa, gue ambil jaket dulu, " sahut Nanda.


Tak lama kemudian, Nanda keluar dengan riasan, tak banyak hanya menggunakan lipstik.


Marcell yang sedang menunggu Nanda siap-siap kemudian hilang fokus ketika melihat Nanda yang cantik, berjalan ke arah nya.


"Ayoo, " sahut Marcell.


Marcell masih diam. "Ayo cell, keburu kemaleman, " sahut Nanda.


"Lu.."


"Ya?"


"Ngapain lu pake lipstik segala?" tanya Marcell tiba-tiba marah.


"Lah, emang kenapa?"


"Gak mau tau hapus hapus hapus, " sahut Marcell menempelkan tangan nya di bibir Marcell untuk menghapus lipstik itu.


"Mm..... "


Nanda menghempaskan tangan Marcell yang terus menggosok-gosok di bibir nya.


"Lu apa-apaan sih?.. Sakit tau.. " sahut Nanda.


"Itu lipen nya ilangin, " sahut Marcell.


"Nanti juga ilang sendirii, kenapa sih lu? Ada yang aneh sama lipen gue?" tanya Nanda.


"Gak ada, " jawab Marcell sambil memalingkan wajahnya.


"Mm.. Lu terpesona yah sama bibir gue yang seksi ini, " sahut Nanda menggoda Marcell.


"Gak... Kata siapa?"


"Itu.. Rawut wajah lu membuktikan kalo lu terpesona sama keseksian bibir gue, "


"Njiss, "


"Awas lu yak kalo nanti di jalan lu mau cium gue, "


"Ogah, kayak gak ada kerjaan aje gue nyium lu di tempat umum, "


"Awass.. Nanti perkataan tak sesuai dengan kenyataan, "


"Bacot lu, udah yuk buruan katanya mau jalan-jalan, mumpung masih di bandung nih, " sahut Marcell jalan duluan.


"Eh, lagian kita di bandung sampai beres kuliah jadi masih lama, " sahut Nanda menyusul langkah Marcell dari belakang.


"Waktu terus berjalan, tanpa lu sadari kita udah lulus, "


"Nooo.. Gak mungkin, gue akan selalu merasakan masa-masa remaja kuliahan, "


"Liat aja sendiri, tanpa sadar kita udah lulus kuliah, "


"Main lulus lulus ae, " sahut Nanda.


Marcell hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Nanda yang terus bergumam tanpa dia sadari membuat Marcell hilang fokus sampai-sampai nabrak tiang listrik.


Dukk.


"Aduhhh, "


"Lah... Elu kenapa sih sampe tiang listrik aja lu tabrak, " sahut Nanda kaget.


"Nih tiang listrik ngalangin aja nj*rr, " sahut Marcell memegang dahi nya yang sakit.


"Astagaa.. Lu gak papa kan? Gak ada yang sakit?" tanya Nanda kepada tiang listrik.


"Eh, suami lu ini yang luka, mana ada benda mati bisa sakit, " sahut Marcell kesal.


"Oh iya suami guee... Sayang sakit gak?"


"Jijik nj*k denger lu bilang sayang, "


"Oke oke, lu gak papa kan? Masih sakit? Mungkin karma lu, " sahut Nanda.


Marcell hanya melihat Nanda dengan tatapan aneh nya. "Ngajak ribut lu?" tanya Marcell sedikit kesal.


"Ahahaha.. Canda cell canda, udah yuk ah, bikin malu aja, " sahut Nanda.


Marcell melihat ke sekeliling, ternyata benar.. banyak orang yang melihat Marcell yang marah-marah dengan tiang listrik.


Marcell kemudian menuntun Nanda pergi ke dari tempat yang memalukan itu dengan wajah nya yang memerah.


"Kenapa lu? malu? ahaha, " sahut Nanda tertawa.


"Diem lu!" sahut Marcell menutup wajah nya dengan tangan kirinya.


Setelah mereka jauh dari tempat tadi. Marcell berhenti dan melepaskan tangan Nanda.


"Cell, beli sosis yuk, " ajak Nanda.


"Bentar, " sahut Marcell masih malu.


Ini pertama kali nya bagi hidup Marcell keluarga Alfatizky di ketawakan oleh orang-orang.


"Iya iya, "


"Nah udah kan, yuk kita beli sosis, " sahut Nanda semangat.


"Ayoo, " sahut Marcell ikut semangat juga walau tadi agak malu di depan umum marah-marah gak jelas sama tiang listrik.


Setelah perbincangan tadi, Marcell dan Nanda membeli sosis di pinggir jalan yang ramai itu.


Nanda tampak senang saat jalan-jalan malam ini. Tidak ada yang menganggu atau pun mengaturnya. Serasa bebas saat bersama seseorang yang bisa ngerti.


Beberapa menit kemudian setelah antrian yang amat sangat panjang dan lama menunggu sosis di bakar terlebih dahulu. Akhirnya sosis milik Nanda dan Marcell sudah siap di santap.



"Nih sosis lu, " sahut Nanda memberikan salah satu sosis panjang itu kepada Marcell.


"Iya, makasi, " sahut Marcell mengambil sosis itu dan memakannya.


Tak lama setelah sosis itu habis, Nanda ingin sekali menaiki perosotan yang ada di taman.


"Cell, mau ke sana, " sahut Nanda menunjuk ke arah taman anak.


Marcell hanya mengangguk dah mengikuti Nanda dari belakang. Marcell pikir Nanda hanya akan mengambil foto, tapii ini malah kebalikan nya, Nanda naik perosotan, main ayunan dan sebagainya.


"Masa kecil kurang bahagia, " gumam Marcell geleng-geleng kepala.


Setelah selesai Marcell memutuskan untuk kembali ke apartemen. Karna juga jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Di apartemen.


Nanda yang capek langsung meloncat ke arah sofa yang empuk itu dan langsung tidur.


Marcell yang habis menutup pintu, awalnya akan langsung ke kamar dan tidur, tapi tak sengaja melihat Nanda yang sudah molor duluan di sofa, Marcell mengambil selimut untuk Nanda.


Marcell kemudian duduk di bawah di samping Nanda sambil menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik Nanda itu.



"Lu cantik ndak, cuma sayang... kita belum punya anak.. " sahut Marcell sambil tertawa kecil.


"Mmm, "


"Sorry sorry, " sahut Marcell mengecilkan suara nya.


Tak ada malam yang indah selain ini, malam ini Marcell bisa melihat wajah Nanda dengan kedua matanya sosok seorang wanita yang sudah menjadi istri baginya dan juga teman hidup.


Marcell yang sudah mulai ngantuk ikut tertidur di perut Nanda, tanpa Nanda sadari karena sudah terlanjur nyenyak.


Dengan santainya Marcell memeluk tubuh mungil itu dengan tangan nya yang besar.


Tak sampai di situ kejailan nya mulai lagi, Marcell membuka salah satu matanya untuk melihat Nanda yang masih tidur. Dia mencubit hidup kecil yang mancung itu dengan tangan nya sampai Nanda bergumam karena tak bisa bernapas.


"Mm, "


Marcell hanya terkekeh pelan melihat nya, dengan suara tawa yang tak terdengar itu.


"Lu istri siapa sih? Cantik bangett, " tanya Marcell dengan nada pelan.


"Istri elu, siapa lagi nj*rr, " jawab Nanda dengan mata masih tertutup rapat.


Marcell yang kaget mendengar Nanda menjawab pertanyaan dengan jelas itu segera melompat menjauh dari Nanda.


"Eh lu mau kemana lu?" tanya Nanda yang sudah membuka mata.


"Lu sadar?" tanya Marcell yang masih menjauh.


"Iyalah, mana bisa gue tidur nyenyak Kalo setiap menit idung gue di cubit mulu, " sahut Nanda sambil memegang hidung nya yang sakit gara-gara di cubit terus sama Marcell.


"Ahahaha, sorry, soalnya gemes banget gue sama hidung lu, " sahut Marcell sambil tertawa.


"Lu belum tidur?" tanya Nanda.


"Mau gimana gue tidur, kalo istri gue tidur di luar, " sahut Marcell berdiri di depan Nanda.


"Yelah, kagak peka banget lu.. Ya apa kek bawa gue ke kamar atau begimane, " sahut Nanda kesal.


"Gimana caranya gue bawa lu ke kamar?"


"Di gendong ujang.. "


"Sama siapa?"


"Sama mantan gue.. Ya sama elu lah, elu suami guee.. Ngajak berantem mulu, "


Marcell hanya tersenyum manis di depan Nanda. Dan yang lebih parah lagi, senyuman Marcell itu berhasil membuat jantung Nanda berdetak kencang.


Aduhh.. Itu senyuman nyaa.. Ngajak di halalin.. Eh di halalin, kan udah halal ya.. Arrrggghhh pokonya kalo ada angin.. Beuuhh damage nya gak ngotak, - batin Nanda.


'Kenapa lu?"


"Hah? Kenapa apa nya?"


"Ituu.. Lu senyum-senyum kayak orang gila, "


"Yah pengen aja, "


"Ouh, udah yuk masuk kamar, "


"Gendong, " sahut Nanda yang masih duduk santai di sofa.


"Yawloh, dari sofa ke kamar cuma butuh 10 langkah doang, manja, " sahut Marcell.


"Cepetan gendong, " sahut Nanda.


Marcell membuang napas panjang. "Ayo naik, " sahut Marcell yang sudah berjongkok di depan Nanda.


Nanda pun naik ke punggung Marcell yang lebar itu. Marcell mulai berdiri dan berjalan masuk ke kamar.


"Manjaa, "


"Biarinn.. Kadang-kadang kita bisa uwu berdua, " sahut Nanda mengeratkan pegangan nya di leher Marcell.


"Eekkk.. Gue kecekek, " sahut Marcell.


"Ahahaha.. Maaf maaf, " sahut Nanda melonggarkan kembali.