My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Kamar Fauzan



Saat Putri melayangkan tendang nya tiba-tiba pintu terbuka, kaki Putri tersandung kaki Rara dan siapa sangka mereka berdua terjatuh tepat di depan Nanda.


Gedubrakk..


"Aahh, apa ini taekwondo macam apa ini?! Gak seruu!!" teriak Rara.


"Berisik lu setan!!" teriak Putri berusaha bangun.


"Masuk.. Masuk!!" sahut Rara.


Pintu kamar Fauzan pun kembali tertutup setelah meraka semua ada di dalam.


Di dalam kamar Fauzan.


"Gilaa.. nih kamar makin kece, suka gue, " sahut Dinda melihat-lihat kamar Fauzan yang semakin bagus karana di tempel-tempel stiker cool.


"Iya juga ya, udah berapa lama gue gak masuk ke nih kamar, tau-tau dah bagus aje, " sahut Nanda.


"Biasalah, " sahut Fauzan bangga.


Fauzan duduk di kursi meja belajar nya sedangkan para cewek duduk di kasur, lantai dan ada yang masih berdiri seperti Dinda.


"Kasur empuk, " sahut Putri.


"Iya, nih ya kalo mau tau, nih kasur merek nya corona, " sahut Fauzan.


"Nj*re bayaha, " sahut Putri segera berdiri.


"Bahaya, " sahut Nanda.


"Bahaya put, " sahut Dinda.


"Bahaya eceu, " sahut Rara.


"Iya itu maksudnya, " sahut Putri.


"Kenapa bahaya?" tanya Fauzan.


"Nanti gue kena virus, takutt.. " sahut Putri.


"Lah gak papa kale, kak lu udah biasa kena virus, " sahut Rara.


"Virus apaan?" tanya Fauzan.


"Virus cinta, " sahut Dinda dengan tangan membentuk love.


Mereka hanya diam tak bisa berkata apa-apa. "Apaa?" tanya Dinda bingung sendiri.


"Ini elu din? Masa iya lu kayak anak alay, " sahut Nanda.


Tangan Rara memegang dahi Dinda. "Ini lagi kenapa pegang-pegang?" tanya Dinda melihat ke arah Rara.


"Lu sehat din?" tanya Rara.


"Gue sehat walafiat, " jawab Dinda menyingkirkan tangan Rara dari dahi nya.


"Alhamdulillah, " sahut mereka semua.


"Lah kenapa sih? Gue alay dikit salah, gak gini di bilang terlalu kaku, dingin, cuek, pusing gue sama omongan orang-orang, " sahut Dinda.


"Iya gue tau, tapi gak usah ngikut-ngikut omongan anak kadal itu, " sahut Nanda.


"Dia orang sok romantis gitu.. " sahut Putri.


"Nah bener tuh kata Putri si sok jago taekwondo tapi jatuh ke lantai, " sahut Rara.


"Heh, berani-berani nya lu sama gue, " sahut Putri.


"Ups, sorry bos.. kebiasaan ngatain orang soalnya, " sahut Rara.


"Dasar, " sahut Putri. .


"Udah oi udah, " sahut Nanda.


"Kalian... " sahut Dinda.


"Ya?" tanya Nanda.


"Iya dinda ku sayang?" tanya Rara khwatir.


"Iya?" tanya Putri.


"Mm?" gumam Fauzan.


Mereka khawatir kalo Dinda akan marah karena mereka sedang membicarakan Angga pacar atau tunangan Dinda yang saat ini.


"Kalian lagi ngomongin siapa?" tanya Dinda.


"Aaahhh, capek dan gue, " teriak Rara.


"Aduuhh jantung gue gak bisa di kontrol, " sahut Putri memegang dada nya.


"Omg, tau gini gue dari tadi ngatain aja terus, " sahut Nanda.


"Capek dah, " sahut Fauzan.


"Gue serius, si anak kadal, sok romantis, siapa sih? Emang di kelas kita yang dulu ada yang kayak gitu orang nya?" tanya Dinda.


"Ada, " jawab Nanda.


"Oh ya siapa?" tanya Putri.


"Mike sama Denisa, " jawab Nanda.


"Tuh dua orang ye, gak tau tempat di manaaa aja uwu nya, di ruang guru, di ruang TU, pas olahraga pun uwu, " sahut Rara.


"Biasalah, dua anak itu emang gak tau tempat, " sahut Putri.


"Kalo inget jaman dulu, witri yang suka bantu kita bolos pelajaran olahraga, " sahut Nanda.


"Oh iya, itu nye lumayaaann.. Buat ngegoda bapak olahraga sama satpam, " sahut Ratam


"Hahaha.. Iya iya bener, " sahut Dinda.


"Gue kepo deh sama dia, sekarang dia jadi apa, " sahut Putri.


"Iya gue juga lumayan kepo sih sama anak-anak IPS 3 , udah lumayan lama kita gak ketemu, " sahut Rara.


"Gue cuma sekali ketemu sama mereka, waktu ngebagiin undangan, " sahut Nanda.


"Gimana reaksi mereka kalo tau lu yang bakal nikah sama Marcell?" tanya Dinda.


"Yah... kaget lah siapa juga sih yang gak kaget anak sepinter Nanda sama Marcell bakal nikah, " sahut Rara.


"Mm.. sampe ada yang ngedoain gue supaya anak gue gak pinter kayak emak bapaknya, aneh gue sama tuh orang, " sahut Nanda.


"Iya, " sahut Nanda benar.


"Ahahaha.. Tuh anak dari dulu emang gak mau kalah, " sahut Rara tertawa.


"Jilan emang gitu, waktu SMP kan gue sekelas tuh sama dia, gue selalu rangking satu trus dia rangking 2, " sahut Dinda.


"Trus di do'ain moga nanti SMA lu gak dapet rangking, " tebak Nanda sambil menunjuk ke arah Dinda.


"Iya, " jawab Dinda.


"Dan doa nya pun terkabul, Dinda tak pernah mendapatkan rangking setelah masuk SMA, " sahut Nanda.


"Hmm.. Sedih gua nj*r, moga gak sampe ke anak gue tuh doa nya.. Aminn, " sahut Putri


"Aminn, " sahut Rara.


"Aminnn, " sahut Nanda.


"Eh, bentar, ini pemilik kamar kok diem ae?" tanya Nanda melihat ke arah Fauzan yang asik menyimak obrolan mereka sedari tadi.


"Oh iya gue sampe lupa, kalo ini kamar nya Fauzan, " sahut Rara.


"Lah iya, gue kira kita masih di kamar Marcell, tau-tau nya di kamar Fauzan toh, " sahut Dinda.


"Gue pikir ini kamar gue, malah enak-enakan gue rebahan di kasur, " sahut Putri bangun dari tidurannya.


"Gak papa kok, silahkan aja rebahan, asalkan jangan salahin gue kalo kalian di marahin sama calon suami kalian masing-masing, " sahut Fauzan mengingatkan.


"Ahaha.. Gak jadi deng, gue takut tuh anak kalo liat gue rebahan di kasur orang langsung ngamuk, kalian tau kale kalo Ihsan ngamuk nya kek apa, " sahut Putri.


"Iya tau kok, " jawab mereka semua kecuali Fauzan dan Putri.


"Tuh anak kalo ngamuk kayak buaya darat yang kerasukan jin setan, " sahut Nanda.


"Nah bener, " sahut Putri.


"Kalo menurut gue itu yee.. Ihsan itu ngamuk karena sayang sama lu put, " sahut Dinda.


"Iya gue tau, " sahut Putri.


"Jadi lu harus ngejaga perasaan Ihsan, kalo lu salah ya.. minta maaf bukannya malah Ihsan yang minta maaf sama lu, kita tuh ya sebagai cewek harus mengerti perasaan cowok, makanya gue langgeng terus sama Angga, sampai sekarang kita lagi bismillah ke pelaminan, " jelas Dinda sang ahli cinta masa depan.


"Iyaa din iyaa, gue paham kok, " sahut Putri.


"Terlalu lama gaul sama Angga jadi sedikit mirip dia sama si anak kadal, " sahut Nanda.


"Haahh, gak nyangka sekertaris geng motor kita jadi bucin, " sahut Rara.


Nanda hanya geleng-geleng kepala. "Eh, btw.. lu masih sering aktif di geng motor?" tanya Rara pada Nanda.


"Masih sih, cuma yaa.. gitu deh jarang ngumpul-ngumpul, " sahut Nanda.


"Sama gue juga, " sahut Rara.


"Kalo gak salah, gue dapet kabar dari Andi wakil ketua geng motor kita, katanya geng motor kita udah jarang banget keluar jalanan, " sahut Putri.


"Masa sih?" tanya Dinda kaget.


"Iya, itu juga sih katanya.. tapi gak tau bener gak tau enggak, " sahut Putri.


"Kalo perkataan Andi sih gue percaya kan dia setia sama kita, " sahut Rara.


"Iya sih, " sahut Nanda.


"Ndak, lu masih jadi ketua geng motor kan?" tanya Putri.


"Masih kok, belum ada yang berani ngejatuhin gue selama ini.. kecuali orang yang gak waras aja, main ambil posisi sebagai ketua geng motor, " sahut Nanda melihat Dinda.


"Ehehe.. Lagian elu sih jarang keluar, ya udah gue rebut aja tuh posisi lu, maaf ya, " sahut Dinda.


"Iyee, gak papa, " sahut Nanda.


"Trus, kata Rifki ada yang mau ambil posisi lu kayak Dinda gitu karna lu gak pernah aktif di geng motor, " sahut Putri.


"Ngerebut posisi gue sebagai ketua?" tanya Nanda.


"Iyah kali, tapi gak tau juga, " sahut Putri sedikit tak yakin.


"Eh, gini ya, walau gue jarang banget keluar sekarang, tapi gue masih selalu ikut nimbrung di grup kita, " sahut Nanda.


"Mm, " sahut Rara.


"Iya sih, setiap kali gue nyimak pasti tuh orang ngobrol nya cuma ngomporin doang, " sahut Dinda.


"Ahahaha.. Yang penting nimbrung, " sahut Nanda.


"Zan, gak bosen lu cuma nyimak doang?" tanya Putri kepada Fauzan yang fokus bermain hape.


"Enggak kok, malahan seru kalo nyimak, dari pada salah ngomong, " sahut Fauzan.


"Iya bener, " sahut Nanda.


"Pinterr, " sahut Dinda.


"Kalian dari tadi ngobrol tentang ketua geng motor, gimana kalo aku aja yang--"


"Enggak!!" potong Nanda.


"Enggak pokoknya enggak!!" potong Rara.


"Noo.. Aku akan membakar rumah Alfarizky kalo kamu berani nyalonin diri jadi ketua, " ancam Dinda.


"Noo.. Kamu cogan diem di rumah aja ya, mending manjain tuh muka biar lebih mulus lagi, " sahut Putri.


"Belum juga ngomong udah tau aja, " sahut Fauzan.


"Iyalah, orang udah tau kalo kamu pasti tadinya mau nyalonin diri kan jadi ketua? Pokoknya engga, apa pun alasan kamu, kakak gak akan pernah ngizinin kamu ikut geng motor kayak gitu, " sahut Nanda.


"Lah kan kakak sendiri ikutan geng motor sama kak Marcell, " sahut Fauzan.


"Iya kan.. kita udah gede, kamu kan masih kelas dua SMA gak boleh, siapa juga sih ya... yang berani main masuk-masuk aja ke geng motor di usia muda? Gak ada kan? Jadi kamu gak boleh, " tegas Nanda.


"Maaf menyela, kan elu ikut geng motor dari SMP kelas satu ndakk, " sahut Rara.


"Ya--"


"Apa?"


"Ya itu kan gue, pokoknya Fauzan, Firza sama Betly gak boleh, " sahut Nanda.


"Okey, " sahut Fauzan.


"Siip, " sahut Nanda mengacungkan jempol.