
Hari ini adalah tanggal 13 yang berarti hari ini hari pernikahan antara Nanda dan juga Marcell. Para anggota keluarga sudah menyetujui dan hari-hari yang mereka tunggu akhirnya datang juga.
Di kediaman Marcell.
Teman-teman Marcell yang sudah mengetahui tentang perjodohan ini, di undang.
"Lu udah ngapalin nama Nanda sama kepanjangan nya belum?" tanya Lukman.
"Udah... sampe malem gue ngapalin nya sampe kebawa mimpi lagi, " sahut Marcell.
"Dasi lu kurang lurus, " sahut Angga membenarkan dari Marcell.
"Wahh udah pada datang semua belum ini?" tanya Bunda menghampiri para abg.
"Udah kok Tante, semua orang udah datang, " sahut Ihsan.
"Pless, kita semua gak sabar pengen liat mereka di pelaminan saling melengkapi dan saling menci--"
Angga belum menyelesaikan perkataan nya tapi mulut nya udah lebih dulu di bungkam oleh tangan Agung.
"Jangan alay... " sahut Ihsan.
"Kalo diliat lagi Angga udah punya pacar yah?" tanya Bunda.
"Kok tau Tante, " jawab Angga malu.
"Tau lah, beda banget sikap kamu yang dulu sama yang sekarang, " sahut Bunda.
"Ayoo anak-anak, sekarang kita berangkat, mempelai wanita sudah menunggu di rumah dan juga penghulu lagi ada di jalan, " sahut Ayah Budi mengajak semua nya untuk naik ke mobil.
Mereka semua menuju ke rumah kediaman Nanda Nusyrandi. Dengan keadaan Marcell sekarang yang gugup dan takut salah saat mengucapkan nama.
.
.
.
.
.
Di rumah kediaman Nanda.
Nanda sudah di bangunkan dari jam 02.06 pagi hanya untuk siap-siap menggunakan kabaya berwarna biru laut dengan manik-manik berwarna putih.
"Waaahhh bagus juga nih, kebaya buatan belanda, " ucap Rara kagum.
"Makanya nanti lu ke Belanda aja biar di pake, " sahut Dinda.
"Lu pikir gampang apa ngejahit kayak gini, " sahut Rara.
"Iya deh iya, lu emang yang paling hebat, " sahut Nanda.
"Kak... keluarga Marcell udah datang... " teriak Betly
"OMG!! Gak nyangka sahabat gue bentar lagi jadi istri orang... huhuhu... " ucap Rara dengan wajah sedih nya.
"Aahh... jantung gue... " gumam Nanda degdegan.
Cklekk...
Pintu terbuka membuat teman-teman Nanda kaget begitu pula dengan Nanda sendiri.
"Kenapa Nandaa?" tanya Mamah mengelus rambut putri nya.
"Gak papa kok mah, cuma jantung aku degdegan, " sahut Nanda.
"Ehh kok degdegan... " sahut Mamah memeluk putrinya.
"Tante.... cariin aku jodoh... " sahut Rara meminta.
"Carii.. sendiri... " sahut Mamah Patmi.
"Tante... jahaatt... aku gak ada jodoh... huhuhu... " sahut Rara dengan wajah sedihnya.
"Keluarga Alfarizky sudah datang... " teriak Ayah Endi dari bawah.
Deg... deg... deg...
Omg ini jantung..... - batin Nanda semakin gugup.
"Udah.. kalian berdua temenin Nanda sebentar yah sampai mamah datang nge jemput kalian, baru deh kalian ikut turun, oke... " sahut Mamah Patmi turun ke bawah.
"Iya Tante... siaappp... " sahut Rara dan Dinda barengan.
Nanda duduk di sofa sambil memegang jantungnya yang terus saja degdegan.
"Jangan degdegan ndak, gue jadi gak tega liatnya.. " sahut Rara.
"Gue gugup banget tau, " sahut Nanda.
Nanda melihat sekeliling kamarnya yang sudah di dekor sedemikian rupa. Sekarang Nanda gugup setengah mati, rasanya ingin menarik diri.
Ya Tuhan, kenapa gugup banget... - batin Nanda.
Sah...
Suara dari lantai bawah terdengar sampai kamar Nanda. Rara dan Dinda yang mendengar sampai terharu dan menangis bahagia.
Tok... tok.. tok..
"Masuk, " sahut Rara mengelap mata yang basah dengan tisu.
"Nanda ayo turun, calon suami kamu udah nunggu, " sahut Mamah menggiring Nanda turun tangga, dan dj belakang ada Rara dan Dinda.
"Ayank mbeb, kamu mau nikah sekarang atau nanti?" tanya Angga berteriak.
"Astagaa... ini anak bikin malu, " gumam Ihsan menutup wajahnya.
Lukman dan Agung langsung membungkam mulut Angga dengan tangan mereka. Dinda malah senyum-senyum sendiri.
Bukannya malu malah senyum-senyum.... bener-bener udah gila gue punya temen - batin Rara malu.
Marcell berbalik dan melihat seorang wanita memakai baju kebaya dengan sangat rapi dan juga memakai konde di kepalanya.
Astaga, dia cantik banget, apa dia sekarang istri ku? - batin Marcell.
Ya ampun dia siapa sih yang terus ngeliat gue... oh iya dia Marcell, aduh lupa... - batin Nanda.
Sekarang Nanda duduk di samping Marcell, penghulu mempersilahkan untuk memasangkan cincin.
Marcell mengambil satu cincin dan memasangkan nya di jari manis Nanda. Begitupun sebaliknya Nanda memasangkan cincin di jari tengah Marcell.
Makin banyak aja nih cincin, - batin Nanda.
Masih pake cincin pertunangan, di tambah cincin pernikahan... makin banyak aja cincinnya, biasalah sekarang dia udah sah di keluarga Alfarizky, - batin Marcell.
"Ayo sekarang di poto, " ucap photograper.
Nanda dan Marcell mendekatkan diri dan menunjukkan cincin di tangan mereka ke kamera. Dengan sekali jepretan, poto itu sungguh sangat indah.
"Para pengantin silahkan pergi ke pelaminan, "
Mereka berdua berdiri dan mulai berjalan menuju bangku pelaminan itu dan saling memandang satu sama lain. Para tamu undangan mulai menaiki dan memberi selamat.
"Selamat atas pernikahan nya... jangan lupa nanti malam pertama yah... jangan lupa pemanasan dulu, " sahut Ihsan.
"Anak dajal, " gumam Nanda.
"Selamat atas pernikahan nya, jangan lupa nanti kalo mau punya anak, telpon Tante yah~~, "
"Belum mau punya anak kok Tante, " gumam Marcell.
"Selamat atas hari H nya... "
Semua tamu mulai berdatangan sampai Nanda dan Marcell kelelahan karena terus berdiri dan terus mengucapkan 'terimakasih' dan yang lainnya.
...****************...
Setelah selesai acara tersebut, mereka sekarang berada di kamar Nanda yang masih di dekor sana sini.
Nanda membersihkan dirinya terlebih dahulu dan Marcell masih duduk di atas kasur busa milik istri nya ini.
Cklekk...
"Aahhh segerrr.... sakit muka gue di kasih make up tebel... " ucap Nanda seraya keluar dari kamar mandi.
Marcell yang melihat tubuh Nanda yang hanya di tutupi handuk dari atas dada sampai atas lutut malu dan dengan segera memalingkan wajahnya.
"Kenapa lu? sakit kepala?" tanya Nanda mengambil bajunya di lemari.
"Gak papa, sana cepetan pake baju, " sahut Marcell.
"Sabar kek, ini lagi mau ambil t*ngt*p.. " cibir Nanda.
"Mulut di jaga tolong... " sahut Marcell.
"Hahah... iya iya... sana lu masuk ke kamar mandi, handuk udah di siapin, " sahut Nanda.
Marcell mulai berjalan pergi ke kamar mandi dan mengunci pintu, dan mandi sampai selesai. Dengan cepat Nanda memakai baju dan berbaring di kasur.
"Aaaaahhhh.... rebahan adalah hadiah yang paling spesial.... " ucap Nanda meregangkan otot-otot nya yang kaku.
Cklekk..
Pintu kamar terbuka dan Marcell keluar dengan handuk di ikat di pinggang nya.
Nanda yang beralih dari ponselnya dan melihat tubuh Marcell yang kekar. Ini buka pertama kali nya Nanda melihat tubuh kekar Marcell.
"Udah ngeliatin nya?" tanya Marcell.
"I-iya udah... " jawab Nanda cengengesan.
"Ndak, mana baju gue?" tanya Marcell.
"Tuh di lemari ambil aja, "
"Yang mana? kan disini ada dua pintu, "
"Di lemari kiri kalo gak ada di lemari kanan, "
"Sama aja bohong, "
Nanda tak peduli dan terus memainkan ponselnya dengan serius. Sedangkan Marcell masih pusing milih yang mana, karna takut salah, nanti Nanda ngamok.
Pada akhir nya Marcell menyerah dan membuka dua dua pintu lemari itu dangan pelan. Setelah mengambil pakaian nya Marcell berjalan menuju kamar mandi.
"Dasar balok es, kenapa gak diliat dulu kan di pintu kiri ada pakaian dalam gue, " gumam Nanda.
Sedangkan Marcell di kamar mandi.
"Kenapa gak di halangin kek, apa gimana, ini malah di antepin begitu aja, dasar bener-bener udah putus urat malu nya... " gumam Marcell kesal sendiri.