My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Kebenarannya



"Gimana den, rencana aden berhasil?" tanya supir Bagas.


kalo gak salah ini supir pemberian Mila, heh, dia mau ngawasin gue pake cara kuno, pinter dikit napa sih mil, - batin Bagas.


"Nggak pak, mereka gak mau membantu, jadi saya harus cari bukti lain, " sahut Bagas berbohong.


"Oh gitu yah den... Sekarang kita mau kemana?"


"Kita ke rumah Caca, " sahut Bagas memainkan ponselnya.


"Iyah siap den, "


Caca lu harus tau kebenarannya sekarang - batin Bagas.


Sesampainya Bagas di rumah Caca. Bagas melihat seorang gadis yang sedang minum teh di halaman rumahnya sambil menikmati pemandangan didepan mata.


"Caca.. " panggil Bagas.


Caca menengok ke arah Bagas, Caca kaget dengan kedatangan Bagas secara tiba-tiba ini. Tanpa berpikir panjang, Caca segera membuka gerbang untuk Bagas.


"Silahkan duduk, " sahut Caca.


"Iya terimakasih, " sahut Bagas duduk.


"Mbak, tolong ambilkan minum untuk Bagas, " sahut Caca kepada pelayanan nya.


"Iyah siap non, silahkan ditunggu, " sahut pelayanan nya Caca segera mengambil minum untuk Bagas.


"Ada apa lu datang ke sini, tanpa ngasih kabar?" tanya Caca.


"Gue kesini mau minta bantuan lu, "


"Bantuan apa?"


"Orang-tua lu kan hakim, gue minta lu untuk menghakimi pak Hendra, " sahut Bagas langsung ke inti.


"Maksud lu? Buat apa papi gue jadi hakim buat ayahnya Agung? " tanya Caca tak paham.


"Haaahh... Biar gue jelasin semuanya... Jadi gini... "


Bagas mulai menceritakan kejadian pak Hendra dan juga Mila di masa lalu. Caca uang kaget akan hal itu memukul meja.


Brakk...


"Gue sama sekali gak percaya sama ucapan lu itu.. " sahut Caca marah.


"Awalnya gue juga gak percaya kalo Mila adalah anak kandung dari pak Hendra, tapi setelah gue selidiki lebih detail, itu memang benar kalau Mila adalah anak kandung dari pak Hendra... " sahut Bagas minum dengan santai.


"Gue butuh bukti, " sahut Caca.


Bagas tersenyum, lalu menepuk tangan nya, tak lama datang lah seorang lelaki menggunakan jaz hitam rapih dengan dasi dan juga kecamatan hitam nya, sudah seperti bodyguard.


"Tolong berikan berkas yang saya minta kepada nona Raquela, " sahut Bagas.


Caca kaget, bagaimana bisa Bagas mengetahui nama keluarga nya, padahal Caca sudah menyamarkan identitas nya sejak dini, bagaimana bisa Bagas mengetahui nama panjang Caca yang asli?


"Gimana lu bisa tau nama panjang gue?" tanya Caca.


"Mm... Dari sikap lu seperi seorang bangsawan, dan juga cara lu duduk seperti seorang putri... Bagaimana gue gak tau... Kalo lu adalah anak perempuan pewaris Raquela yang asli, " sahut Bagas.


Caca tersentak kaget, "L-lu... Bagaimana bisa lu tau semuanya tentang gue?" tanya Caca.


"Heh, lu lupa siapa yang ngasih pelayan itu ke elu?"


"Yak Mila lah, "


"Iya Mila yang ngasih, tapi itu adalah perintah dari gue.. " sahut Bagas.


Caca masih terdiam, sedangkan Bagas dengan santainya minum dengan tenang.


"Sudah jangan banyak basa basi lagi, baca aja berkas yang gue kasih itu sekarang, " sahut Bagas.


Caca membuka berkas itu satu persatu, tiba-tiba Caca menemukan kertas berisi tes DNA Mila dan juga pak Hendra, mereka satu sama lain cocok.


"Ini... Gak mungkin gue gak percaya, " sahut Caca mulai meneteskan air matanya.


"Nggak nggak mungkin... Hiks.. Hiks.. Gak mungkin.. Mila... Hiks.. Hiks.. " teriak Caca.


"Itu terserah lu mau percaya mau engga, yang penting gue udah kasih kebenarannya, sekarang keputusan ada di tangan lu... " sahut Bagas.


Caca masih melihat dan membaca kertas berisi tes DNA itu dengan seksama.


"Itu mudah, gue ambil darah Mila saat dia lagi tidur di mobil gue secara diam-diam, kalo pak Hendra... Itu sih tugas bodyguard gue.. " jawab Bagas.


"Mila adalah anak dari seorang lelaki pengonsumsi narkoba, " gumam Caca.


"Bukan hanya itu, pak Hendra berhasil mengambil uang perusahaan Pak Budi sebesar 50M tanpa sepengetahuan siapa pun, "


"Pak Budi? Bukannya itu Ayah nya Marcell?"


"Iya itu benar, dan juga masih banyak masa lalu pak Hendra yang harus lu tau sekarang juga, " sahut Bagas.


"Oke, kasih tau gue sekarang, " sahut Caca.


"Pertama ini soal Agung, dia bukan anak kandung pak Hendra tapi anak dari pak irfan dan juga bu sella, "


"Pak irfan itu bukannya karyawan terpercaya pak Budi? Kalo tidak salah ada kasus tak terpecah kan karena tiba-tiba saja pak irfan dibunuh dan putra nya itu menghilang, "


"Iya itu benar, "


"Jadi Agung adalah anak dari pak Irfan, "


Ternyata lebih mudah bicara sama Caca dibanding sama bapak-bapak barusan, - batin Bagas.


"Oke gue udah ngerti semuanya... Gue bakal bantu lu soal masalah Mila ini, " sahut Caca.


Cepet banget, gak pake basa basi sana sini.. - batin Bagas kagum.


"Kalo gitu gimana kalo kit--"


Tiba-tiba Bagas berhenti berbicara saat melihat supir nya kembali dari kamar kecil.


"Mm? Kenpa?" tanya Caca berbalik dan melihat supir Bagas.


"Itu bukannya supir pemberian dari Mila?" tunjuk Caca.


"Iya, dia juga kaki tangan Mila, dia terus berusaha menguping pembicaraan gue.. Jadi gue harus semakin waspada, " bisik Bagas.


"Kalo ada yang bertanya soal rencana kita, lu harus bilang, gue cuma mampir, gak semua yang ada di rumah lu itu pilihan dari ibu bapak lu, gue kirim beberapa bodyguard buat ngejaga lu, lu harus hati-hati, " bisik Bagas di telinga Caca.


Caca mengangguk, "Terimakasih, " sahut Caca.


"Sembunyikan berkas itu, " bisik Bagas.


"Iya, segeralah kirim bodyguard lu ke sini.. Biar gue semakin aman menjalankan tugas gue, " sahut Caca.


"Iya tentu, ehem.. "


"Mm?"


"Caca terimakasih atas undangan nya.. Sama jangan lupa untuk bawa catatan IPS gue ke sekolah yah, besok gue ada pelajaran IPS, " sahut Bagas sedikit berteriak sambil tersenyum.


"Oh iya, tentu aja, lu anak IPS 5 tapi lu pinter juga, besok gue balikin kalo gak lupa, " sahut Caca tersenyum.


"Jangan sampe lupa, nanti lu juga kena hukuman lho sama guru, " sahut Bagas.


"Hahah... Iya juga yah, kalo gitu terimakasih karena telah meminjamkan catatan ini ke gue.. Besok gue balikin, " sahut Caca.


"Iya.. Kalo gitu gue permisi yah, assalamu'alaikum, " sahut Bagas pamit.


"Walaikumsalam, Hati-hati yah Bagas, " sahut Caca tersenyum sambil melambaikan tangan.


Bagas pun berlalu. Saat Caca berbalik untuk kembali ke dalam rumah, tiba-tiba ada seorang satpam yang bertanya.


"Nona tadi sedang membicarakan apa sama Bagas?" tanyanya.


Jadi ini yang dimaksud Bagas, tiba-tiba bertanya yang gak jelas, - batin Caca paham.


"Tadi saya meminjam catatan IPS sama Bagas, katanya dia bakal datang kemarin, tapi malah datang sekarang kan saya jadi kesal... " sahut Caca.


"Boleh saya lihat catatan IPS itu?"


Sangat sangat sangat mencurigakan, mana mungkin seorang satpam berani bertanya hal yang gak penting kaya gini... - batin Caca.


"Nih, kalo sudah selesai melihat, saya harus segera mengerjakan tugas, " sahut Caca menatap sinis.


"Ee.. Maafkan saya nona, " sahut satpam itu.


Caca segera berjalan masuk tanpa memedulikan satpam yang mencurigakan itu.


Bagas, saya pikir anda datang ke sini untuk meminta bantuannya, tapi ternyata engga, anda memang bodoh - batin satpam itu, kaki tangan Mila.