
Marcell menggendong Nanda di punggung nya dan membawa nya ke UKS. Nanda tak bisa melakukan apa-apa kalo sudah di gendong oleh seseorang.
Ini semua salah gue... gue harusnya gak diemin lu kayak gini ndak, gue harus tanggung jawab, - batin Marcell kesal.
"Lu gak usah khawatir soal masalah ginian kok cell, ini bukan salah lu, " ucap Nanda.
"Lu bisa nebak isi pikiran gue?" tanya Marcell.
"Engga, gue cuma nebak dong, " sahut Nanda.
Marcell membaringkan tubuh Nanda di kasur, dan segera mencari obat untuk mengobati luka di tangannya.
Marcell membuka laci sana sini mencari kotak obat.
"Mana sih?" gumam Marcell masih mencari.
"Lu lagi nyari apa cell?" tanya Nanda.
"Nyari kotak obat lah, apa lagi, " jawab Marcell.
"Ouh, "
Rara dan yang lain segera menyusul Nanda dan Marcell yang sudah duluan pergi ke UKS.
"Gimana udah di obatin?" tanya Rara.
"Boro-boro, mana kotak obat nya juga gak ada, " sahut Marcell.
Lukman membantu mencari, Agung dan Angga hanya bertanya saja, dan mengoceh.
"Lama banget, cuma nyari kotak obat doang, " sahut Agung.
"Tau nih keburu tangan Nanda yang lembut ini perih lagi, " sahut Angga.
Marcell dan Lukman masih sabar mendengar nya.
"Udah ketemu apa belum sih?" tanya Agung.
"Mending lu diem deh gung telinga gue sakit denger lu ngoceh gak jelas, " sahut Rara.
"Iya mending kalian bantu nyari napa, " sahut Dinda.
"Oh oke yank aku bantu nyari, " sahut Angga.
"Eum dibilangin sama yayang bebeb mah langsung, " sahut Rara.
"Makanya lu cepetan jadian sama Agung, " cibir Lukman.
"Lu minta diapain sama gue, mau di pukul atau mau dibunuh?" tanya Rara.
"Bercanda kale ra, gue mah emang gini orangnya, " sahut Lukman takut.
"Kayaknya gak ada deh, " sahut Angga
"Terus kemana dong itu kotak obat masa ngilang gitu aja, " sahut Rara.
Mereke berdiam diri di UKS, sedangkan Dinda mengompres tangan Nanda dengan es batu.
"Gimana udah gak lumayan perih kan?" tanya Dinda.
Nanda hanya mengangguk, "Mana Ihsan?" tanya Nanda.
Mereka saling memandang satu sama lain, dan Lukman baru sadar kalo Ihsan pergi ke UKS buat ngambil kotak obat buat Nanda.
"Apa jangan-jangan dia ada di gerbang sekolah nyatu kita?" tanya Dinda.
"Bisa jadi, " sahut Rara dan Agung bersamaan.
Tak lama Ihsan datang dan membawa kotak P3K di tangan kanannya. "Huuh gue nyariin di sana gak ada, " sahut Ihsan kesal.
"Emangnya lu kira kita bakal nungguin lu di sana, enggak lah panas, " sahut Rara.
"Mana siniin obatnya, " sahut Marcell.
Ihsan menyerahkan kotak obat nya kepada Marcell, dan segera mengobati luka Nanda.
"Kenapa bisa sampe dicakar gitu sih ndak?" tanya Rara.
"Gak tau, dia sendiri yang tiba-tiba nyakar gak jelas, " jawab Nanda.
"Gue pikir Mila itu anak baik-baik, eh tau taunya galak, " sahut Lukman.
"Kenapa lu- suka sama Mila?" tanya Ihsan.
"Yap, awalnya tapi kalo tau kayak gini gue gan jadi, " sahut Lukman.
"Lu malah suka sama orang kayak dia, iihh, " sahut Nanda bergidik.
"Iya kan tadi gue bilang gak jadi suka, " sahut Lukman.
"Emang suka biasa jadi engga yah?" tanya Dinda.
"Udah sayang jangan di pikirin, " sahut Angga.
"Ngomong-ngomong kalian emang pacaran?" tanya Ihsan.
Angga dan Dinda saling memandang, dan menjawabnya dengan jujur, "Iya, " sahut mereka berdua.
"Assiiik minta traktiran nya dong, " sahut Nanda.
"Tangan lu udah sembuh atau masih sakit?" tanya Marcell.
"Udah mendingan sih, " sahut Nanda menggerakan tangannya pelan-pelan.
"Mana lagi yang sakit?" tanya Marcell.
"Rambut gue sakit dua kali gue di tarik, " sahut Nanda memegang kepalanya.
Marcell mengelus rambut Nanda dengan lembut dan terkadang Marcell ingin sekali mencium kepala Nanda.
Sangat tenang.... jadi gini rasanya di elus oleh seseorang yang sayang pada kita - batin Nanda.
Yang lain melihatnya senang, tapi ada rasa tak suka ketika melihat seseorang sedang uwuwu di depan muka.
"Ehemm... ehem.. "
"Ehemm... aduk keselek jengkol... "
"Khuuk... "
Marcell berhenti mengelus rambut Nanda dan melirik ke arah Lukman dan yang lain.
"Jangan uwuwu didepan gue, " sahut Rara.
"Kenapa lu sendiri kan suka uwuwu sama pacar lu, " sahut Nanda.
"Nah iya pamer kemesraan, " sahut Dinda.
"Sekarang Dinda gak akan ngerasa sakit liat yang uwuwu di depannya, " sahut Angga.
"Kenapa bisa gitu?" tanya Marcell.
"Kan ada gue, " sahut Angga.
"Emang lu siapa nya Dinda?" tanya Agung.
"Kan gue ini pacar nya Dinda... " jawab Angga dengan muka sedihnya.
"Awokawok bercanda kita semua, " sahut Ihsan.
Marcell melihat rambut Nanda, "Gimana udah gak sakit lagi kan?" tanya Marcell.
Nanda melirik Marcell, dia dapat melihat wajah Marcell terpampang nyata di hadapannya.
"I-Iya udah lumayan gak sakit lagi, " jawab Nanda.
"Kenapa?" tanya Marcell mendekatkan wajahnya.
Nanda menjauhkan wajahnya dari wajah Marcell yang semakin mendekat, "G-gue gak papa, " sahut Nanda mendorong Marcell pelan menjauh.
Yang lain hanya melihat mereka dari jarak yang aman.
"Gue jadi pengen punya pacar, " sahut Lukman.
"Emang lu doang, gue juga mau, " sahut Rara.
"Emang anak monyet bisa pacaran?" tanya Agung.
"Anak babi? Anak monyet?" ucap Ihsan tertawa.
"Gue geli denger kalian ngomong kayak gitu, " sahut Lukman tertawa bersama.
"Lu pulang naik apa?" tanya Marcell.
"Naik motor, " jawab Nanda singkat.
"Lu pulang bareng gue aja, terus motor lu nanti diambil sama supir gue, " sahut Marcell.
"Emang bunda sama om ada di rumah gue?" tanya Nanda.
"Engga, gue cuma mau nganterin lu doang, emang gak boleh?"
"Boleh sih, lumayan hemat tenaga, "
Marcell hanya bisa menggeleng pelan.
"WOYY, MASUK KE KELAS!!" Teriak Mike.
"OMG!! GUE LUPA!!" Teriak Rara seraya berdiri.
"NANDA AYO MASUK KELAS!!" Sahut Rara menarik tangan Nanda.
"MASUK?"
"KELAS?"
"NGAPAIN?"
Marcell, Agung, dan Angga masih bingung dengan ucapan Mike, tapi setelah Marcell memeriksa jam nya ternyata sudah jam 06.56
Marcell segera pergi dari UKS dan berlari bersama Agung dan Angga menuju kelas.
Lukman dan Ihsan masih belum konek.
"Kenapa mereka lari-lari?" tanya Ihsan.
"Mana gue tau, " sahut Lukman.
Mereka berdua masih duduk di UKS tak lama seorang siswi dari kelas mereka lewat.
"Loh kalian kok disini?"
"Emang kenapa?" tanya Ihsan.
"Masuk kelas bambang, "
"Ngapain masuk kelas, emang ini jam berapa?" tanya Lukman.
"Jam tujuh kurang, "
Mata mereke tiba-tiba melotot dan segera berlari menuju kelas mereka IPA 4.
...****************...
Untung saja guru belum datang ke kelas, jadi Nanda bisa nyantai sebentar.
"Ehemm ada yang lagi bahagia niih, " ucap Salsa.
"Apaan si, siapa juga yang bahagia, " sahut Nanda membenarkan duduknya.
"Iyalah mau bahagia gimana kan rambut nya habis dielus-elus sama Marcell, " sahut Rara.
"Heh.... syutt... " sahut Rara tersenyum.
"Nah.. nah... lu liat sendiri kan sa... " tunjuk Rara tertawa.
"Engga.... " sahut Nanda malu.
"Kalo gak salah liat, lu lagi berduaan aja sama Marcell di UKS, " sahut Mike.
"Kalo iya emang kenapa?" tanya Dinda tertawa.
"Nah satu lagi yang senyum-senyum sendiri, " sahut Rara.
"Gue mah selalu tersenyum... " sahut Dinda.
"Pasti ini karena Angga, " sahut Salsa benar.
Nanda hanya terdiam memikirkan Marcell.
Lu sebenarnya perhatian, cuma lu terlalu nutup diri cuma ngasih tau masalah ke orang yang udah deket banget sama lu kayak Agung sama Angga yang udah temanan sama elu sejak TK, - batin Nanda.
Gue sayang sama lu cell, gue bakal buat lu bahagia sampe hari H - lanjut batin Nanda.
BRAKK...
Nanda tersentak dan melirik Rara dengan ekspresi bingung.
"Jangan ngelamun mulu neng, " sahut Rara.
"Jangan di pikirin kalo soal Marcell, dia emang kayak gitu, " sahut Salsa.
"Lu tau apa Saa?" tanya Nanda.
"Gak usah pake tau ini tau itu, gue bisa nebak ekspresi lu, " sahut Salsa.
"Gue tau lu lagi mikirin Marcell kan?" tanya Salsa.
"Iya... " jawab Nanda singkat.
"Gue masih kepikiran soal masalah tadi pagi, gue takut kalo Caca masih aja kayak gitu, " ucap Dinda.
"Masa anak motor takut sama anak orang, " sahut Mike.
"Iya nih din... lu mah aneh... " sahut Nanda.
"Kita semua anak IPS 3 ngikut geng motor lu... jadi jangan takut... YAK ENGGA GENGSS?!!" Teriak Salsa.
"YOOO..... "
"LU GAK USAH TAKUT DIN... "
"KITA SELALU NGEDUKUNG LU KOK!!"
"Kalo ada yang macem-macem sama lu ke babang Rendi aja yahh... "
"Dia udah punya ren... " sahut Rara.
"Oh udah punya yak udah gue sebagai bestfriend lu selalu ngedukung, "
"Anj*yy... "
"Kalo masalah sama caca mah kecil... "
"Kita bisa hadepin dia... tanpa harus bertemu... "
"Gimana caranya?" tanya Salsa.
"Sindir aja dia disosmed, " sahut Witri.
"Kenpa pake harus nyindir di sosmed segala, kenapa gak sekalian kita labrak aja?" tanya Nanda.
"Emang kalo kita maju di berani?" tanya Witri.
"Iya bener-bener.... " sahut Rara.
"Kadang lu pinter yak wit... " sahut Dinda.
"Ihss... gue mah emang pinter, cuma males di pake aja otaknya, " sahut Witri.
"Lu pulang sana siapa ndak?" tanya Dinda.
"Gue pulang sama Marcell, " jawab Nanda.
"Okeh, "
"Gak jadi bareng ini?" tanya Rara.
"Engga dia katanya pulang sama Marcell, " sahut Dinda.
"Okey... "