My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Hah Bagas keluar?



"Gak tau kenapa, gue berasa kalian berdua kayak yang udah nikah, " sahut Caca.


Duuhh gawat.. - batin Nanda.


"Kan gue udah bilang, gue sama Marcell itu cuma temen, kebetulan ortu kami saling kenal, " sahut Nanda menjelaskan sekali lagi.


"Iyah gue tau lu udah ngomong kayak gitu, tapi ini cuma perasaan gue aja atau apalah gitu.. Gak menentu juga, " sahut Caca.


"Udahlah caa.. Jangan kayak gitu kasian Nanda, " sahut Melodi.


Wajah Nanda tampak khawatir jika Caca mulai curiga dengan status mereka. Caca terus melihat Nanda tanpa berkedip.


"Hahaa... Apaan sih ndak, gue cuma bercanda kok, " sahut Caca tertawa.


Huuhh selamat - batin Nanda lega.


"Eehh btw emang ada yang bilang kalo gue sama Marcell izin? Kan harus ada surat nya, " sahut Nanda.


"Bunda nya Marcell datang ke sekolah, terus ngasih surat izin kalian berdua, " sahut Melodi.


"Oh gitu.. Syukur lah, " sahut Nanda.


"Harusnya lu gak setenang itu ndak, " sahut Caca.


"Emang kenapa?" tanya Nanda.


"Yang jadi absensi hari ini Mila, " sahut Caca.


"Terus?"


"Anehnya, walau lu ada surat izin, Muka tetep alfain elu ndak, gue sama Mell udah bilang, Nanda izin, ehh tapi tetep aja, " sahut Caca.


"Mila gak mau rubah kata alfa dari nama lu, " sambung Melodi.


"Apaan tuh.. Gak adil banget jadi orang, " sahut Nanda kesal.


"Tapi kalo Marcell, Lukman, Ihsan, Agung, Angga, sama Putri di izinin sama sakit, kecuali nama lu sama Rara, Dinda di alfain, " sahut Caca.


"Anj*rr gak adil banget tuh anak... Minta di hajar, " sahut Nanda geram.


"Harusnya yang absensi sekarang itu Caca bukan Mila, " sahut Melodi.


"Lho kok bisa?" tanya Nanda.


"Dia ngancem gue, kalo gue gak kasih buku absenan ke tangannya, " sahut Caca.


"Masa cuma di ancem doang kalian takut, lemah kalian, " sahut Nanda.


"Gue awalnya gak mau, tapi dia ngancem bakal ngasih tau seluruh sekolah kalo gue ini anak dari lima perusahaan terbesar se-Jakarta, " sahut Caca.


"Kalo anceman itu sih.. Gue juga bakal diam aja, " sahut Nanda.


"Nah kan, lu juga tau kalo keluarga gue sama keluarga Marcell itu bekerjasama, kami gak boleh ngasih tau siapa-siapa soal identitas yang asli sebelum lulus sekolah SMA, " sahut Caca.


"Iya sih.. " sahut Nanda baru paham.


"Btw, kalo gak salah lu deket sama Bagas kan?" tanya Caca.


"Iya, emang kenapa?"


"Bukan apa-apa, lu tau kalo dia keluar dari sekolah?"


"Hah Bagas keluar?" tanya Nanda kaget.


"Iya awalnya gue juga gak percaya, tapi katanya 'gue udah pinter gak usah belajar' gitu katanya, " sahut Caca meniru Bagas.


Melodi dan Nanda tertawa mendengar nya. "Apaan tuh bos, masa iya Bagas nada nya kayak gitu.. Haha.. " sahut Nanda tertawa.


"Eehh emang aneh?" tanya Caca.


"Aneh banget cuy, lu ngomong kayak om-om, " sahut Melodi tertawa.


"Anj*rr.. Pokoknya dia bilang kayak gitu.. " sahut Caca malas basa basi lagi.


"Siapa yang keluar?"


Caca, Melodi dan Nanda tersentak kaget mendengar suara seseorang dari belakang.


"Lah kenapa kaget?" tanya Marcell duduk di samping Nanda.


"Suara lu bikin orang jantungan, " sahut Nanda.


"Hemm, " sahut Marcell.


"Udah selesai bayarnya?" tanya Caca.


"Udah, " sahut Marcell.


"Kalian belanja apa sih di toko couple ini?" tanya melodi.


"Beli topi couple, " sahut Marcell asal jiplak.


"Cieee.. Jadi kalian ini beneran pacaran?" tanya Caca.


"Iya, " sahut Marcell.


"Engga, " sahut Nanda.


Mereka berdua berbicara barengan, dan saling memandang satu sama lain.


"Iya, " sahut Marcell.


"Engga, " sahut Nanda.


"Iya, "


"Engga ca bohong ca, kita gak pacaran, " sahut Nanda tak mau kalah.


"Gak salah, iya kita pacaran, " sahut Marcell.


"Engga bambang, "


"Iya... "


"Engga, "


"Iya, "


"Engga, "


"Iyaa.. "


"Hmm.. Ribut lagii.. " gumam Melodi.


"Jadi kalian ini pacaran apa engga?" tanya Caca sekali lagi.


"Iya, "


"Engga, "


"Iyah sok mell gimana?" tanya Caca menghadap Melodi.


"Kata Nanda ortu kalian saling kenal, jadi kalian berteman.. Teruss karena Marcell udah punya perasaan sama Nanda jadi kalo ditanya kalian pacaran, pastinya Marcell jawab iya.. Sedangkan Nanda bilang engga padahal Nanda juga punya perasaan sama Marcell.. Kurang lebih kayak gitu ceritanya.. Ini tebakan gue aja yah.. Kalian jangan salahin gue.. " sahut Melodi menjelaskan layak nya seorang guru.


"Pinterrr.. " sahut Caca.


"Iyalah, anak perusahaann.. " sahut Melodi bangga.


Emang bener kata mell tadi, Marcell punya perasaan sama gue? Haha gak mungkin gak mungkin.. Tapi kalo gue sih iya, gue punya perasaan sama Marcell.. Gue sayang sama dia.. - batin Nanda.


Gue sayang banget sama elu ndak, cuma lu nya aja yang gak peka.. - batin Marcell sedih.


Setelah mendengar perkataan Melodi barusan, Nanda dan Marcell menjadi canggung dan tanpa berani saling menatap.


"Gue sama Caca pergi dulu, bentar lagi masuk sekolah, bye kalian berdua, sepasang kekasih, " sahut Melodi berdiri bersama Caca dan berjalan pergi meninggalkan Nanda dan Marcell yang masih canggung.


"Mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Marcell.


"Sekarang aja, gue udah capek, " sahut Nanda.


"Iya, gue telpon supir gue dulu, " sahut Marcell mengeluarkan ponselnya.


Tuuuhh kann canggung.. Gara-gara Melodi sama Caca siihh.. - batin Nanda.


Duuhh ngomong apa lagi yah biar gak canggung kayak gini? - batin Marcell sedang mencari topik pembicaraan.


"Tadi kata Caca, siapa yang keluar?" tanya Marcell.


"Ooh itu.. Bagas katanya keluar dari sekolah, " jawab Nanda.


"Kenapa?"


"Mana gue tau, lu aja sana yang tanya.. " sahut Nanda berdiri dan mengambil beberapa belanjaan nya.


"WA nya juga gak aktif.. " sahut Marcell.


"Cell makan yuk, gue laper, " sahut Nanda.


Lah anj*r, gue kira dia masih canggung ngobrol sama gue, taunya engga.. Dasar cewek, gampang banget friendly nya.. - batin Marcell.


"Mau makan apa?" tanya Marcell berdiri.


"Makan pizza yang satu meter itu yuukk.. " sahut Nanda.


"Auto bangkrut, " gumam Marcell.


Gak papa demi menyenangkan hati istri gue rela kehilangan semuanya.. - batin Marcell.


"Yak, udah yuk.. Sini biar gue yang bawa belanjaan nya.. " sahut Marcell.


Nanda pun memberikan beberapa belanjaan nya ke Marcell, kini tangan Nanda bebas dari paperback yang ada, sedangkan tangan Marcell dari kanan sampai kiri penuh dengan paperback belanjaan istrinya.


"Kenapa dia keluar?" tanya Marcell lagi.


"Kan gue udah bilang gak tau, mungkin dia cemburu, " sahut Nanda.


"Cemburu kenapa lagi?"


"Kan status gue ini udah nikah, dan elu itu suami gue, "


"Kan dia sendiri yang udah ikhlasin, " sahut Marcell.


"Padahal tinggal sebulan lagi lulus, " sahut Marcell.


Seketika langkah Nanda berhenti, Marcell yang sadar ikut berhenti dan melihat Nanda.


"Kenapa?" tanya Marcell.


"Tadi.. Waktu ada Caca sama Melodi mereka bilang kalo kita pacaran, gue bilang engga tapi.. Kenapa lu bilang iya kita pacaran?" tanya Nanda.


"Apa perlu di perjelas lagi?" tanya balik Marcell.


"Maksud lu?"


"Gue sayang sama elu, "


Nanda melihat wajah Marcell. "Ppfftt... Bwahaahaha.. Masa iya ketos kayak elu suka sama gue.. Gak mungkin gak mungkin, " sahut Nanda tertawa sambil memukul-mukul pundak Marcell.


Marcell tetap melihat Nanda dengan ekspresi serius. Nanda berhenti tertawa dan kembali melihat wajah Marcell.


"..... Lu serius?" tanya Nanda.


"Iya gue serius, gue sayang sama elu, " jawab Marcell dengan cepat.


Nanda masih tak bisa mempercayai perkataan Marcell barusan. "Udahlah cell lu gak usah pura-pura suka sama gue, jujur aja, " sahut Nanda.


"Perlu gue buktiin kalo gue beneran sayang sama elu?" tanya Marcell mendekat.


"Ma-ma-maksud lu?" tanya Nanda gagap, tubuh perlahan-lahan mundur ke belakang.


Nanda terus berjalan mundur secara perlahan sama seperti Marcell yang terus maju. Dan sampailah mereka di akhir perjalanan, karena Nanda sudah bersandar di dinding.


Tangan Marcell berada di atas kepala Nanda, jantung Nanda semakin berdetak kencang. Wajah Marcell mulai mendekat untuk mencium Nanda.


"Biar gue buktiin kalo gue sayang sama elu ndak, gue gak mau kehilangan orang yang paling gue sayang, " bisik Marcell lembut di telinga Nanda.


Nanda semakin gugup, dia takut akan trauma lagi, tapi nyatanya tidak. Saat Marcell sudah semakin dekat dengan bibir Nanda, dengan cepat tangan Nanda menghentikan wajah Marcell.


"Kita ada di tempat umum, malu diliat orang, mending sekarang kita pulang aja, " sahut Nanda.


Tubuh Marcell dengan cepat menjauh dari Nanda. Nanda yang tadinya sangat gugup mulai merasa tenang, walau tadi rasanya ingin menarik diri.


"Sorry gue gak sengaja, " sahut Marcell.


"I-iya gak papa, dimana supir lu katanya mau ke sini?" tanya Nanda.


Marcell melihat ponselnya ada sebuh notifikasi dari supir nya. "Udah ada di parkiran, kita ambil dulu boneka, terus pulang, " sahut Marcell.


"Oke, " sahut Nanda jalan duluan.


Nanda sudah jauh di depannya, tapi Marcell masih diam di tempat. "Aaarrhhhh Marcell.. Apa yang lu lakuin siihh.. Bodo bodo bodo bangett lu.. " gumam Marcell kesal dengan dirinya sendiri.


"Cell?" panggil Nanda.


"Iya?" jawab Marcell melihat Nanda.


"Lagi ngapain lu di situ? Mau pulang apa engga?" tanya Nanda.


"Iya iya.. Gue pulang, bentar, " sahut Marcell menyusul Nanda.