
Mereka semua mengobrol di kamar Fauzan sampai larut malam. Saru satu teman Nanda Marcell pulang menggunakan mobil Putri.
Kini yang berada di kamar Fauzan hanya Nanda, Dinda, Marcell dan Angga. Mereka berdua masih belum pulang karena Dinda masih betah di kamar Fauzan.
"Ini kalian gak akan pulang?" tanya Nanda yang sudah bosan di kamar terus.
"Gue mah gimana ayank gue aja, dia mau pulang hayuu kalo enggak yak gue bakal nunguin dia, " sahut Angga.
"Hebat lu, mau nungguin calon istri lu, ini baru suami idaman, gak kayak itu tuh, gue bosen bawain apa kek malah cuek, seru sendiri pula, " sahut Nanda nyindir Marcell yang sedang bermain hape.
Marcell hanya melihat Nanda sekilas dan kembali fokus ke hape. "Maaf kak, bukannya aku ngusir, tapi ini udah malem.. udah jam tujuh, aku belum istirahat dari datang tadi, " sahut Fauzan.
"Ooh, iya... maaf banget yah zan, " sahut Dinda.
"Ya udah sana lu pulang kasian Fauzan, " sahut Nanda nyusir.
"Oh ya udah.. kita pulang duluan yah, bye Fauzan, Marcell, Nanda, " sahut Dinda berdiri dari kursi.
"Iya bye, " sahut Fauzan.
"Ayo yank, " sahut Dinda.
Angga pun ikut berdiri dan berpamitan dengan Nanda, Marcell dan Fauzan dan berjalan keluar.
Dinda Angga pun berlalu. "Ciee yang mau nikah yang kedua kali nya.. " goda Fauzan.
"Diem lu, udah sana istirahat, gue sama Marcell ke kamar, bye, " sahut Nanda.
"Ciee mau malam pertama, " goda Fauzan lagi.
"Lama-lama gue bingkem tuh mulut lu ye, " sahut Nanda.
"Ahahaha.. Candaaa candaa, " sahut Fauzan tersenyum lebar.
"Heuuh, ayoo cell, " sahut Nanda.
"Iya iya, " sahut Marcell berdiri dan meninggalkan kamar Fauzan bersama dengan Nanda.
Blam.
"Jangan main nyosor aje oy, sabar tahan tiga hari lagi!" teriak Fauzan dari kamar.
Brakk..
"Berisik g*bl*k, sekali lu ngomong kayak gitu gue cabut semua fasilitas lu!" ancam Marcell.
"Oh iya iya.. ampun.. " sahut Fauzan kapok.
"Moga kena azab aminn, " sahut Marcell lalu pergi meninggalkan Fauzan.
"Kakak gak ada akhlak, " sahut Fauzan.
Jdukk..
"Aduhhh, aahh nih lemari ngalangin aje, sejak kapan lu di situ? Perasaan dua tahun lalu di deket jendela, " sahut Fauzan marah-marah ke lemari yang habis dia tabrak.
"Mana sakit lagi.. kalo gak sakit mau trus nih jedukin kepala.. kalo bisa ampe bocor, " sahut Fauzan marah-marah sambil memegang kepalanya yang sakit.
Karena kesal Fauzan terus memukul-mukul lemari yang tak punya dosa itu.
Sementara itu di kamar Nanda Marcell.
Nanda yang sedang rebahan di kasur sambil mendengar musik dari hapenya hanya bisa bergumam.
Cklekk.
"Oi, ndakk besok bangun pagi kita harus poto prewedding jam enam, " sahut Marcell.
"Mm.. Mm.. Mmm.. Mmm, "
"Oi, lu denger kagak?" tanya Marcell sambil menarik headset.
"Aduh sakit, apaan sih?! Lu punya masalah hidup apa sih ama gue!!" teriak Nanda.
"Besok bangun pagi, " sahut Marcell mengulang perkataan nya yang tadi.
"Iya, " sahut Nanda.
Saat Nanda akan memasang kembali headset nya tiba-tiba terdengar suara seperti ada orang yang memukul-mukul sesuatu.
Brakk..Brakk.. Brukk.. Brukk
Gdubrakk..
"Suara apa itu?" gumam Nanda.
"Ngapain lagi dah tuh bocah, " sahut Marcell sudah terbiasa.
"Adik lu kenapa?" tanya Nanda.
"Iya biasalah, dia yang salah nyalahin perabotan, " sahut Marcell.
"Ck, mirip sama Fauzan, Betly, " sahut Nanda.
"Haha, mereka cocok yah, " sahut Marcell.
"Hah!! Cocok apaan?!" teriak Nanda kaget.
"Maksud gue mereka cocok jadi saudara, " sahut Marcell.
"Ooh, " sahut Nanda.
"Iyah, " sahut Marcell.
Bruk..
"Aduk pelan-pelan napa, lu kayak yang gak pernah rebahan aja di kasur, main loncat-loncat aja, " sahut Nanda kesal.
"Oh ya sorry, " sahut Marcell.
"Udah yuk tidur, " sahut Marcell merebut paksa ponsel Nanda dari tangan nya.
"Ehh, apa-apaan sih lu? Ngajak ribut?!"
"Enggak, udah yuk tidur, nih bantal nya dah gue empukin, " sahut Marcell memukul-mukul bantal milik Nanda.
Srukk...
Selimut pun datang dan menyelimuti tubuh Nanda sampai kepala.
"Nah yuk bobo, " sahut Marcell.
"Iissh, " desis Nanda kesal.
Dengan terpaksa Nanda harus tidur walau ini baru jam delapan malam. Tiba-tiba ada tangan seseorang yang memeluk perutnya dari belakang.
"Heh, ngapain lu peluk gue?!"
"Apa sih? Kan lu juga udah biasa kali gue peluk lu, kalo gak gue peluk lu tidur gak bisa diem, " sahut Marcell.
"Idihh, enggak yah, udah sana ahh awas... tangan lu!!"
Marcell dengan berat hati harus melepaskan pelukan nya dari perut Nanda.
Jam sudah menunjukkan pukul set 1 malam. Tapi Nanda sampai saat ini masih belum bisa terlelap atau pun menutup mata.
Nanda terus bergerak ke sana ke sini mencari tempat pewenak. Gerakan Nanda berhasil membangunkan Marcell yang sudah nyenyak.
"Bisa diem gak sih ndak? Pusing nih gue kasur terus aja goyang, " sahut Marcell kesal.
"Sorry, gue gak bisa tidur, " sahut Nanda.
"Tinggal tutup mata apa susah nya, " sahut Marcell tak kalah kesal nya.
"Gak bisa mana harus bangun pagi lagi, " sahut Nanda.
"Ya udah sini peluk, makanya kalo udah terbiasa di peluk jangan sok gak mau, " sahut Marcell.
"Iihh apaan sih.. Jangan suka berani-berani nya lu meluk gue.. " sahut Nanda mendorong Marcell.
Tapi tak kemudian. Nanda sudah tertidur lelap di pelukan Marcell, padahal Marcell baru memeluk nya beberapa detik tapi Nanda sudah tidur nyenyak.
"Etdah, langsung tidur, makanya jangan suka nolak pelukan suami lu, selamat pagi my queen, " sahut Marcell.
cup.
.
.
.
.
.
Pagi telah tiba pagi telah tiba. Sudah jam lima pagi, tapi Nanda masih belum membuka mata.
Sementara Marcell sudah mandi, berpakaian rapih seperti mau ke pesta memakai jas berwarna hitam di tambah dasi.
Tring.. Tring.. Tring.. Tring...
"Aduhhh apa lagi sih?! Jangan ganggu orang yang lagi molor napa, " sahut Nanda kesal sambil mencari-cari bunyi alarm itu.
Setelah dapat, Nanda langsung saja matikan dan kembali tidur. Tak lama kemudian alarm itu kembali bunyi tapi sekarang suara nya semakin keras.
"Aahh.. Bangsat, siapa sih yang udah setel alarm di hape gue?!!" teriak Nanda kesal dan kembali mematikan alarm itu.
"Bangun!! Liat jam, " sahut Marcell menunjuk ke arah jam dinding.
"Hoaamm.. Masih lama.. " sahut Nanda menguap dan kembali tidur.
"Enak aja lu, bangun neng, " sahut Marcell menarik selimut yang menyelimuti tubuh Nanda sampai ke atas kepalanya.
"Aduhhh.. Bisa diem ganggu gue gak sih lu?!" teriak Nanda.
Tok.. Tok.. Tok..
"Nanda Marcell.. ayo turun makan dulu, udah itu kita langsung berangkat ke taman, " sahut Bunda dari luar kamar.
"Iya bunda ini lagu otwe, " sahut Marcell dengan melihat Nanda yang kaget.
"Oh ya udah, cepetan yah, "
"Iya bund, " jawab Marcell.
Dengan cepat kilat bagaikan petir langsung meloncat dan berlari ke kamar mandi.
"Lah kemana tuh anak?" tanya Marcell bingung.
Cklekk..
"Cell mana gaun atau baju gue mana!?!" tanya Nanda buru-buru.
"Udah mandi nya? Kok cepet banget?" tanya Marcell.
"Yang penting basah, udah cepetan mana baju gue? Ambilin!!" sahut Nanda.
"Iya iya bentar, nih, " sahut Marcell memberikan baju lengan panjang berwarna putih dan celana levis warna biru laut.
"Ayoo... lets go, " sahut Nanda menarik dasi Marcell.
"Aarrgghh.. Gak usah di tarik juga neng, sakit, " sahut Marcell.
Mendengar nya Nanda pun melepas dasi Marcell dan berjalan turun menuju ruang makan atau dapur.
"Gak ada akhlak emang, bukannya bareng turun malah turun duluan, masih untung tadi gue nunguin lu mandi, mana mandi gak sampe tiga menit tiga menit, " gumam Marcell kesal.
"Kakak, " panggil Fauzan yang smaa baru keluar kamar nya.
"Mau kemana lu?" tanya Marcell.
"Yah kemana lagi kalo bukannya nyari ciwi, " sahut Fauzan sambil mengangkat alis nya.
"Njiss, " gumam Marcell.
Untungnya Fauzan tak mendengar suara Marcell yang baru saja bilang 'njiss' kalo engga mungkin mereka akan berantem sampai hari kiamat tiba-_-