
"Minta nomor gue, " jawab Wahyu.
"Lu kasih?" tanya Marcell.
"Iyalah, masa engga, kan meraka cantik-cantik apalagi istri nya Marcell, " sahut Wahyu.
"Dasar beg0 nanti kalo Nanda fokus sama elu gimana? nanti dia gak fokus sama pelajaran nya, " sahut Marcell.
"Banyak alasan, bilang aja lu cemburu kan?" tanya Wahyu.
"Diem lu, " sahut Marcell berjalan menyusul Nanda dkk.
"Lah lah, suami nya cemburu... eh woi jangan ngambek nanti cepet tua lho, " sahut Wahyu.
"Udah ayo kantin, " sahut Lukman.
"Gass lah, " sahut Wahyu.
"Ngapain lu ngikut?" tanya Marcell.
"Apa sih.. Ini kan rumah sakit, gue dokter jadi bebas dong dokter mau kemana aja, " sahut Wahyu.
"Serah, " sahut Marcell.
"Ngambek mulu lu, nanti cepat tua lho, nanti Nanda gak mau lagi sama elu, " sahut Wahyu.
"Kalo Nanda gak mau sama Marcell lagi, gue kawinin... " teriak Lukman.
"Apa?" tanya Marcell berbalik.
"Nggak bukan apa-apa, " sahut Lukman.
"Syuutt.. Kalo mau ngomongin itu jangan disini ada orang nya, " sahut Wahyu.
"Ada yang bilang gini, kalo mau ngomongin di depan orang nya jangan di belakang orang nya.. " sahut Lukman.
"Lu di belakang nya, "
"Tapi kan kedengeran sama Marcell nya juga, iyah gak cell?" tanya Lukman.
"Nggak, " jawab Marcell.
"Ooh jadi lu nggak mau sama Nanda lagi nih... Okeh biar gue yang kawinin Nanda, " sahut Lukman.
"Sekali lagi lu ngomong kawinin Nanda gue hajar lu sekarang juga, " sahut Marcell.
"Okeh serem, " sahut Lukman.
"Ckckckck... " sahut wahyu berdecak.
"Apa sih, " sahut Lukman.
"Minta di cekek lu sama Marcell.. " sahut Wahyu tertawa sambil menepuk pelan pundak Lukman.
Marcell berjalan tanpa memedulikan yang ada di belakang nya yang terus bercanda. Tak lama Marcell melihat Nanda yang sedang duduk bersama yang lain sambil menikmati bakso.
Marcell segera menghampiri Nanda dan duduk di sampingnya. "Enak banget makan nya, " sahut Marcell.
Nanda menengok ke arah Marcell, "Lu mau? Nih.. " tanya Nanda sambil mengambil bakso untuk menyuapi Marcell.
"Enggak, " tolak Marcell.
"Oh yak udah, " sahut Nanda melanjutkan makan.
"Malah di tolak, gak uwu, " sahut Agung.
"Tau nih, kalo gue mm.. Udah di samber aja tuh bakso dari tangan yayank gue, " sahut Angga.
"Itu mah elu, Marcell beda lagi, " sahut Wahyu.
"Lah dokter ganteng yang tadi, " sahut Nanda.
"Tuh kan dokter ganteng katanya cell.. " sahut Wahyu tertawa.
"Diem lu, " sahut Marcell.
"Lho, kalian saling kenal?" tanya Dinda.
"Iya, " jawab Marcell.
"Dari mana ceritanya? Kasih tau dong, " sahut Nanda meminta kepada Marcell.
"Ceritanya panjang, sama males nyeritain lagi, " sahut Marcell.
"Pelit suara lu, " sahut Nanda.
"Bodo, " sahut Marcell.
"Udah, biar gue yang ceritain, Marcell kau diam saja, " sahut Wahyu.
"Awas aja lu kalo ngasih micin di cerita lu, " sahut Marcell.
"Yah ketahuan, belum nyerita udah di kasih peringatan aja, " sahut Wahyu melihat Ihsan.
"Sabat bro, " sahut Ihsan.
"Jadi Wahyu ini siapa nya kalian?" tanya Nanda.
"Dia ini dokter keluarga gue, " sahut Marcell.
"Ooh dokter keluarga lu.. Hah?!" sahut Nanda kaget.
"Iya, makanya gue ninggalin elu di rumah sakit sendirian, karna ada dia.. " tunjuk Marcell kepada Wahyu.
"Sopan banget sih tangan lu, heh inget gue lebih tua dari elu, " sahut Wahyu.
"Yaelah beda satu tahun doang, " sahut Agung.
"Ya tapi tetep aja gue yang lebih tua, yah kan ndak?" tanya wahyu.
"Apa? Gue gak denger lu barusan ngomong apaan?" tanya Nanda.
"Hahah... Di panggil lu gue sama istri nya Marcell, " sahut Angga tertawa.
Wahyu terdiam, "Gak suami nya gak istri nya sama-sama gak sopan ke yang lebih tua, " sahut wahyu.
"Tadi dia bilang, kalo kita itu suami istri, " sahut Marcell asal bicara.
"Ngawur... Bukan itu.. " sahut wahyu.
"Oh salah... " sahut Marcell.
"Salah bengettt... " sahut Ihsan.
"Tuh ihsan aja ngerti... Apa kata gue.. Masa iya elu engga, " sahut Wahyu.
"Tadi dokter ganteng itu bilang apaan san?" tanya Putri.
"Bisa gak put lu gak usah ikut-ikutan bilang dokter ganteng, jijik gue dengernya, " sahut Ihsan.
"Eeehh... Gimana gue dong, mulut mulut gue kok elu yang ngatur omongan gue, " sahut Putri.
"Jangan jual mahal put, udah.. " sahut Rara.
"Gimana gue dong, " sahut Putri manyun bebek.
Melihat bibir Putri yang maju ke depan, membuat Ihsan gemes sendiri, dia tak sengaja memukul meja karena terlalu gemes melihat Putri.
Brakk..
"Lah ngapa lu? Bikin kaget aja, " sahut Nanda kaget.
"Balalala panas, " sahut Dinda kaget saat akan menyeruput kuah bakso.
"Oi elu... Jangan mukul meja napa, ayank gue lagi makan, " sahut Angga kesal karena ayank nya di ganggu.
"Nggak sengaja gue.. Gue ke air dulu sebentar, " sahut Ihsan segera berlari ke toilet.
"Kenapa tuh anak? Biasanya juga gak pernah kayak gitu?" tanya wahyu masih melihat kepergian Ihsan.
"Biasalah ada bidadari yang dia suka, " sahut Agung.
Wahyu melihat Putri dan langsung paham, "Ohh gitu.. Lumayan cantik juga yah bidadari yang disuka sama Ihsan itu, bagus juga seleranya, " sahut wahyu.
Putri yang mendengar ucapan Wahyu dan Agung barusan menjadi salting. Putri segera menghabiskan bakso nya dan bergegas memainkan ponselnya, walau tak ada apa-apa di hape nya.
"Cell lu abisin gue kenyang, " sahut Nanda menggeser mangkok itu ke Marcell.
"Enggak gue kenyang, lu abisin aja sendiri, " sahut Marcell.
"Makan makan makan makan, " sahut Agung.
"Makan dong, gak usah malu kan udah sah ini.. Kita juga udah tau, " sahut Angga.
Karena ocehan dari teman-temannya Marcell akhirnya pasrah dan memakan bakso sisa Nanda itu.
Saat Marcell akan mengambil sendok, tapi Nanda sudah lebih dulu mengambil sendok itu, "Lama lu.. Udah sini sama gue.. Aaa.. " sahut Nanda menyodorkan sendok berisi bakso itu ke mulut Marcell.
Marcell membuka mulut nya dengan perasaan malu. "Nah gitu kek.. Dari tadi, " sahut Nanda.
"Aahhh uwu romantis, "
"Aahh pingsan gue pingsan, "
"Nah gitu kek, jadi sosweet.. "
"Suami istri suami istri, "
Ganteng juga dia makan... Beruntung banget sih gue... - batin Nanda.
Mata Nanda masih tertancap kepada wajah Marcell yang sedang mengunyah bakso di dalam mulut nya dari samping. Marcell yang merasa di liatin dari tadi menengok ke arah Nanda.
"Kenapa lu liatin gue kayak gitu?" tanya Marcell.
"Hah? Siapa yang liatin elu?" tanya Nanda tersadar.
"Elu tadi, " sahut Marcell.
"Gue? Engga, " sahut Nanda gak mau ngaku.
"Mm, " gumam Marcell.
Marcell melihat Nanda, dan Nanda kembali menyuapi Marcell.
"Aduuh panas, " sahut Putri mengipas-ngipasi dirinya.
"Sabar put sabar.. " sahut Dinda.
"Gak di sekolah gak di rumah sakit, kantin nya panas panas, " sahut Rara.
"Sabar put bentar lagi Ihsan datang.. " sahut Lukman.
"Iihh kenapa bawa-bawa Ihsan?" tanya Putri.
"Apa salahnya?" tanya Agung.
"Salah banget cuy, bukan gitu caranya.. Salah semua, " sahut Wahyu.
"Kayaknya lu tau semuanya yah.. " sahut Rara.
"Iya lah, siapa juga sih yang gak tau tentang para gadis, " sahut Wahyu sambil bergaya.
"Norak banget gaya lu, yang lebih keren dikit napa, " sahut Rara.
"Apa sih, " sahut wahyu.
"Aduuhh susah banget dah gaul sama orang yang kudet, " sahut Nanda.
"Kudet apaan tuh kudet?" tanya Wahyu.
"Kurang update, " sahut Marcell.
"Kurang update? Maksud?" tanya Wahyu.
"Makanya gaul dong sesama cowok jangan mikirin cewek mulu, " sahut Agung.
"Tau nih, jadi kurang gaul kan jadinya... " sahut Angga.
Wahyu hanya tersenyum, Nanda yang melihat nya merasa tak yakin kalo Wahyu ini gak gaul sama sekali.
"Lu pura-pura beg0 atau memang nggak tau?" tanya Nanda.
"Gue.. Pura-pura gak tau... " sahut Wahyu.
"Omongan wahyu di percaya... " sahut Marcell.
"Gue aneh deh sama jaman sekarang, mending pura-pura beg0 dalam pergaulan dari pada... " sahut Nanda.
"Iya juga yah.. Gue juga merasa heran.. Sama anak jaman sekarang, " sahut Rara.
"Pura-pura beg0?" tanya Dinda tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Atau emang dia gak bisa gaul aja gitu sama yang lain, jadi dia pura-pura beg0 gitu biar gampang gaul sama orang, " sahut Putri.
"Iyah tapi jangan terlalu sering dipake lah, nanti orang percaya nya dia bener-bener beg0, " sahut Nanda.
"Mm.. Betul-betul, " sahut Wahyu.
"Eh btw Wahyu ini dokter apa?" tanya Nanda.
"Dokter pamer ketampanan, " sahut Agung.
"Diem lu, " sahut Wahyu kesal.
Agung, Angga, dan Lukman hanya tertawa. "Gue dokter kejiwaan, " sahut Wahyu ngawur.
"Iya, makanya gue titip elu ke wahyu karena elu sakit jiwa, " sahut Marcell.
"Enak aja lu.. Gue sehat walafiat, " sahut Nanda.
"Alhamdulillah, " sahut Rara.
"Amiinn.. "
"Amiinn... "
"Gak lah gue bercanda, gue dokter oprasi, " sahut wahyu.
"Oprasi apaan?" tanya Nanda.
"Oprasi.. Banyak.. " sahut wahyu.
"Iya oprasi apa? Contohnya?" tanya Nanda.
"Banyak tanya lu, " sahut Marcell.
"Apa sih, gue kan kepo, siapa tau gue nanti masuk kedokteran, " sahut Nanda.
"Mana ada jurusan IPS masuk kedokteran?" tanya Rara.
"Eehh banyakk.. " sahut Dinda.
"Oh yah? Masa sih? Kok gue baru tau sekarang, " sahut Rara.
"Makanya gaul sama anak IPS 1 atau dua, " sahut Putri.
"Males sama mereka mah, suka serius, " sahut Rara.
"Gue juga terkadang suka jengkel sama mereka, orang gue ngomongin lelucon, ehh malah di anggap serius, " sahut Putri.
"Emang wahyu dulu waktu SMA masuk jurusan apa?" tanya Dinda.
"Dulu waktu kelas 11 masuk jurusan IPS tapi kelas 12 masuk ke jurusan IPA, pindah, " jawab Wahyu.
"Emang bisa pindah jurusan?" tanya Nanda.
"Bisa kalo orang yang awalnya jurusan IPA itu mau tukeran, " sahut wahyu.
"Oh gitu.. Gue juga ahh mau pindah, " sahut Nanda.
"Pindah kemana?" tanya Marcell.
"Ke IPA 2 biar bareng sama elu terus, " sahut Nanda.
"jangan dong, bukannya lu mah jadi guru IPS atau jadi hakim, kok malah ganti cita-cita sih... " sahut Putri.
"Emang kenapa?" tanya Nanda.
"Nanti otak lu mati rasa terlalu banyak materi yang di masukin, " sahut Dinda.
"Nah iya, " sahut Rara.
"Iihh padahal gue itu kepo sama kelas IPA, " sahut Nanda.
"Suami lu anak IPA kenapa gak nanya langsung, " sahut Putri.
"Oh iya lupa, " sahut Nanda baru ngeh kalo Marcell itu anak IPA.