My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Kesurupan



"Diem lu, kenapa lu berubah banget cell, siapa lu?!" tanya Nanda waspada.


"Gue Marcell Alfarizky, " ucap Marcell yang membuat Nanda semakin takut.


"Udah cell, istigfar lu kenapa sih?" tanya Angga yang langsung membungkam mulut Marcell.


Untung saja, merek semua datang tepat waktu, kalo engga gak tau apa yang akan di lakukan Marcell padanya yang belum sah.


Dinda dan Rara memegang tangan Nanda dan menenangkan nya, "Ndak lu gak papa kan?" tanya Dinda.


"I-iya gue gak papa, gue masih syok aja, " sahut Nanda.


"Tapi kenapa sama Marcell?" tanya Rara.


Angga dan Lukman memegangi Marcell dengan sekuat tenaga, dan Agung membacakan doa bersama Ihsan.


"Ehh, lepasin gue... " Marcell memberontak.


"Cepetan kek bacanya lama amat, " sahut Angga yang sudah tak kuat menahan Marcell lagi.


"Bismilah, Alfatihah... " sahut Angga


"Amiinn... " sahut Ihsan


"Eh g*bl*k bukan gitu, " sahut Agung memukul pelan punggung Ihsan


"Salah, yak?" tanya Ihsan.


"Anj*rr ada yang kesurupan massal malah bercanda, " sahut Rara.


"Baca surat apa atuh boss ini teh?" tanya Agung.


"Baca surat apa aja, yang penting capet, ini Marcell udah makin ngamok karena pengenn banget cium Nanda, " sahut Lukman tertawa bersama Angga.


"Emangnya ada ya yang kesurupan minta di cium?, " tanya Dinda aneh.


"Ada, ini orangnya ngeberontak mulu, " sahut Ihsan, "


"Kalian kayak bikin konten gitu?" tanya Rara.


"Ini emang konten kok, " sahut Agung tertawa.


Angga dan Lukman melepaskan Marcell, "Sorry bdak gue cuma bercanda doang kok, " sahut Marcell.


"Bercanda kalian gak seru tau, " sahut Dinda kesal.


"Anj*ss mana orangnya yang nge video?" tanya Rara.


"Nih kameranya gue simpen di baju, " sahut Lukman.


"Kalian semua gila, gue kesel sama kalean berempat, " sahut Dinda


"Tau nih, gak liat Nanda sampe ketakutan gegara ulah kalian berempat, " sahut Rara.


Nanda masih memeluk Rara karena takut, Marcell mendekat dan memeluk nya pelan.


"Udah jangan takut lagi, gue cuma bercanda doang kok, " sahut Marcell berusaha menenangkan Nanda.


Nanda berbalik dan memukul pipi mulus Marcell.


"Bercanda lu gak lucu cell, " sahut Nanda menangis dan berlari.


"Nanda tungguin kita... " teriak Rara berusaha menyusul.


"Nanda, tungguin.... Oh iya kalo kalian pengen tau Nanda paling gak suka sama yang namanya bercanda berlebihan kayak tadi apalagi 'kesurupan' inget itu, " sahut Dinda dan berlari menyusul Rara.


Ihsan merasa bersalah karena hal itu, "Cell gue minta maaf soal masalah tadi, " sahut Ihsan.


"Gak papa, gue yang salah karena mempermainkan Nanda, " sahut Marcell.


"Makanya jangan suka bercanda berlebihan, " sahut Agung.


"Elu b*ngs*t yang ngajak, " sahut Lukman merangkul Agung.


"Tau nih, minta maaf sana lu sama Nanda, kasian dia, " sahut Ihsan.


"Gue tadi hampir kesurupan beneran, " sahut Marcell menakut-nakuti.


"Jangan nakutin gue cell, gue jadi pengen pindah sekolah, " sahut Agung.


"Pindah aja sana, lagian Marcell bisa hidup tenang kalo gak ada elu, " sahut Ihsan.


"Gak jadi, soal nya kalo gak ada Marcell gue mau ngerjain PR nyontek ke siapa dong, " sahut Agung.


"Bener-bener gak ada akhlak lu, " sahut Lukman.


Marcell berjalan, rencana nya dia ingin meminta maaf ke Nanda, tapi dia mendengar di toilet wanita kalo dia sedang menangis histeris di dalam bersama Rara dan Dinda.


"Lu gak mau masuk cell?" tanya Lukman.


"Lu pikir otak gue udah ngeres kayak otaknya Haikal?" tanya Marcell.


"Yak kagak, gue kan nanya doang, " sahut Lukman.


"Gue jadi kangen sama Haikal deh, " sahut Agung.


"Gue juga sama, SMP kita barengan pas masuk SMA kita berpisah, " sahut Ihsan.


"Kalo bisa gue mau muter waktu buat ketemu sama temen-temen kita yang dulu, " sahut Angga.


Pintu toilet terbuka, dan keluar lah tiga orang gadis dengan salah satu di antaranya mata nya bengkak.


Marcell menghampiri Nanda yang sudah keluar, "Lu gak papa kan?" tanya Marcell khawatir.


"Iya gue baik-baik aja, gak usah khawatir, " jawab Nanda.


"Din... Kantin yuk berdua, " ajak Angga.


"Ra... Cari cogan sama ciwi yuk di lapangan, " ajak Agung.


Rara dan Dinda hanya mengangguk kan pergi dari samping Nanda satu persatu.


"Terus kita berdua ngapain dong?" tanya Lukman.


"Ke lapangan aja yuk sekalian main basket, " sahut Ihsan.


"Yak udah deh, " sahut Lukman.


"I-Iya, nanti gue yang samperin elu ke kelas, " sahut Nanda.


"Nggak usah, eh maksud gue biar gue aja yang samperin elu soalnya kelas lu kan deket sama kantin, " sahut Marcell.


"Iya udah kalo gitu, gue duluan takut telat, " sahut Nanda pergi dan melambaikan tangannya ke arah Marcell.


Marcell pun berjalan ke kelasnya untuk belajar seperti biasa.


...****************...


Setelah jam istirahat berbunyi, Angga, Agung, dan Marcell segera pergi dari kelas mereke menuju kelas Nanda.


"Cell, lu udah minta maaf sama Nanda soal tadi?" tanya Agung.


"Udah kayak nya, soalnya dia kayak udah ngelupain kejadian tadi pagi, " jawab Marcell.


"Oh, bagus lah, " sahut Angga senang.


Saat mereke berjalan di koridor, mereke melihat anak IPS 3 sedang bermain bola basket.


"Eh cell itu bukannya Nanda yah?" tanya Agung menghentikan langkah Marcell.


Marcell berbalik dan benar saja itu Nanda yang sedang bermain bola, "Ngapain tuh anak di lapangan di jam segini?" tanya Marcell.


"Mungkin mereka ada jam pelajaran or, " sahut Angga.


"Bisa jadi, " sahut Agung.


Lukman dan Ihsan yang sedang berjalan menuju kantin tak sengaja melihat Marcell dan temen-temen nya.


"San, liat itu Marcell, " sahut Lukman.


"Teruss?" tanya Ihsan.


"Yak gak papa, gue cuma ngasih tau lu aja, " sahut Lukman.


"O, " sahut Ihsan singkat dan melanjutkan berjalan.


"Dasar punya temen gak peka amat, kalo ketemu sama Marcell biasanya suka ngagetin, " gumam Lukman.


Ihsan berjalan berjinjit mendekati Marcell dan yang lain. Lukman hanya melihat Ihsan.


"Ngapain sih tuh anak?" gumam Lukman.


"DOARR!!" Teriak Ihsan berhasil membuat Marcell dan yang lain kaget.


"ELU BISA GAK SIH GAK USAH BIKIN KAGET MULU!!?" Teriak Angga yang kaget.


"ASTAGHFIRULLAH..... EH ELU ANJ*NG GAK USAH NGAGETIN GUE!!" Sahut Agung.


"Depan nya doang yang Astagfirullah belakang nya masih anj*ng g*bl*g, " sahut Marcell.


"Yak mau gimana gak kaget, gue lagi liatin ciwi malah di kagetin, " sahut Agung.


"Iya ciwinya Rara, " sahut Angga.


Blushing...


"Eng-engga kata siapa?" tanya Agung.


"Gak usah sok gak suka, tuh muka lu merah, " sahut Ihsan.


"Lu di depan Rara sok cool, padahal aslinya suka, seneng banget, " sahut Lukman tersenyum lebar.


Angga dan Lukman tertawa bersama, karna melihat wajah Agung yang semakin memerah dan Ihsan terus menggodanya.


Marcell hanya melihat Nanda di lapangan, dan tak sengaja Nanda pun melihat Marcell. Nanda melambaikan tangannya.


"Mau kapan lu istirahat?" tanya Marcell tanpa suara.


"Bentar lagi, " jawab Nanda tanpa suara.


Rara yang melihat Nanda berbicara sendiri menghampiri, "Lu ngomong sama siapa ndak?" tanya Rara.


"Tuh di situ ada Marcell, " tunjuk Nanda.


"Bukannya mereke bertiga anak-anak setan yah, " sahut Rara.


"Omg, anak syaiton dan elu emak setannya, " sahut Dinda.


"Elu dari mana aja din?" tanya Nanda.


"Habis dari ruang guru, kenpa emangnya ada yang kangen sama gue?" tanya Dinda.


"Ada, " sahut Nanda.


"Siapa?" tanya Dinda.


"Tuh babang Angga, " sahut Rara tertawa.


"Ehhh, enak aja, gue sama dia gak ada hubungannya apa-apa, " sahut Dinda.


"Engga apa belum?" tanya Nanda.


Blushing....


"Ciee mukanya merah... " sahut Rara tertawa.


"Ciee bilang aja ke Angga nya langsung kalo suka, " sahut Nanda.


"Udah ahh, kalean berdua emang anak setan semua gak ada waras kecuali Angga, eh, " sahut Dinda keceplosan.


"Ups, gak sengaja keceplosan, " sahut Nanda tertawa.


"Ah udah ah, gak seru, " sahut Dinda pergi.


"Jangan lupa kasih pj kalo udah jadian sama Angga yak Din... " teriak Rara.


Dinda berbalik dan menunjukkan jari tengahnya 🖕


"Anj*ss, " ucap Nanda tertawa.


"**** anj*yy, " sahut Rara tertawa.