My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Pulang



"Nah sekarang kita beresin barang-barang Nanda yak, " ucap Bunda.


"Emang Nanda mau kemana?" tanya Marcell.


"Kam orang tuanya udah pulang ke Indonesia, jadi Nanda bakal pulang ke rumah nya, " sahut Ayah Marcell.


"Hooh, " sahut Marcell singkat.


Marcell merasa sedih kalo Nanda harus pulang ke rumahnya. Nanda merasa tidak enak kalo meninggalkan Marcell seperti ini, tapi dia harus pulang karena dia tak akan pulang setelah mereka sudah menikah, Nanda akan menjadi milik Marcell seutuhnya.


"Nanda mau naek mobil sama Marcell apa sama Bunda sama mamah?" tanya Bunda.


Nanda melihat Marcell, "Aku pulang sama Marcell aja bun, " jawab Nanda.


Marcell masuk ke mobil disusul dengan Nanda, "Lu kenapa gak pulang sama mamah lu? kan lu kangen, " tanya Marcell tak suka.


"Kenapa lu gak suka gue di mobil ini, yak udah lita gak usah nikah, " sahut Nanda.


"Lu ngancem gue? Kan kita bakal nikah, lu pasti bakal kangen sama orang tua lu, " sahut Marcell melajukan mobil.


"Gue mau sama lu dulu, kan nanti lu bakal kangen sama gue, " sahut Nanda.


"Idieee siapa juga yang kangen sama lu?"


"Elu kan selalu kangen sama gue, "


"Gak dak, "


"Uluuh, masaa.... gue gak percaya sama lu, "


"Gak ada yang kangen sama elu... "


"Cieee mukanya merah.... Oke fik lu selalu kangen sama gue, " sahut Nanda.


"Gak ada yang kangen sama elu, atau lu yang selalu kangen sama gue yak kan?" tanya Marcell tak mau kalah.


"Iiih.... Gak... gak gak gak, gak akan pernah terjadi... " sahut Nanda.


"Masa... terus kenapa tuh muka merah, "


"Gak ada yang merah benc*ng, yang merah itu duit yang ada di dompet lu, nah itu baru merah, " sahut Nanda.


"Memang wanita selalu benar, " gumam Marcell.


"Oh tentu saja, kalo soal kebenaran jangan ditanya, wanita memang selalu benar, " sahut Nanda.


Mereka berdua terus sama berdebat di dalam mobil, sampai mereka tak sadar, kalo mereka sudah sampai di rumah kediaman Alfarizky.


"Silahkan masuk, "


Mereka semua masuk ke dalam dan sudah di sambut meriah oleh adik Marcell yaitu Fauzan Alfarizky.


"SUPRISE!!!" Teriak Fauzan.


Semua orang kaget apalagi Marcell yang tak tau kalo Fauzan hari ini pulang ke Jakarta.


"Lu? kapan pulang?" tanya Marcell kaget.


"Barusan kenapa? Kalian pergi aku pulang, " jawab Fauzan


Nanda berjalan mendekati Marcell, "Siapa itu?" tanya Nanda.


"Ehh... Kakak ipar... " teriak Fauzan.


"Hah?!"


Nanda menjauh sedikit saat Fauzan mendekat. "Kenapa sih kak, ini aku adik kesayangan Bunda and Ayah, " sahut Fauzan


"Oh elu yang namanya Fauzan, apa kabar, " sahut Nanda memeluk Fauzan.


"Udah jangan lama-lama, " sahut Marcell memisahkan.


"Kenapa lu, gak suka liat adik sama kakak ipar nya akrab?" tanya Nanda.


"Bukan gitu, " sahut Marcell.


"Terus apa?" tanya Nanda.


"Kakak cemburu?" tanya Fauzan.


"Gak ada yang cemburu, " sahut Marcell


Marcell berjalan menuju sofa dan duduk di dekat ayah Nanda.


"Huuh bilang aja cemburu liat aku pelukan sama kakak ipar, " sahut Fauzan memanyunkan bibi nya.


Nanda melihat mulut Fauzan yang imut, tipis dan ada kumis tipis seperti itu membuat Nanda semakin gemesh. Tanpa sadar Nanda mencubit pipi Fauzan.


"Mmm... Kakak ngapain sih?" tanya Fauzan kesakitan.


"Lucu banget sii..... " sahut Nanda gemesh dan semakin kuat mencubit pipi Fauzan.


Fauzan berusaha melepaskan tangan Nanda yang semakin gemesh dengan dirinya. "Kak udah dong kak, sakitt ini... " sahut Fauzan


Nanda melotot dan melepaskan cubitan nya, "Kamu kok bisa gemesin banget?" tanya Nanda.


"Keturunan, " sahut Fauzan berlari menjauh dari Nanda.


"Mau kemana?" tanya Nanda mengejar.


"Aku gak mau lagi dicubit sama kakak, " teriak Fauzan di atas tangga.


"Dadar anak-anak, " ucap Mamah Nanda.


"Udah biarin aja, Cell kamu temenin mereka gih, ayah mau ngobrol penting sama keluarga Nanda, " sahut Ayah.


Marcell hanya mengangguk dan berjalan menyusul Nanda dan Fauzan di luar.


.


.


.


.


.


"Udah dong kak, sakitt!!" teriak Fauzan.


"Udah ahh, gue kasian sama pipi lu yang udah merah, " sahut Nanda melepas cuitannya dan mengelusnya lembut.


"Tangan kakak enak, tapi kalo nyubit sakit.. " sahut Fauzan.


"Kamu sama Marcell siapa yang paling tinggi?" tanya Nanda.


"Elu nyusul apa kangen?" tanya Nanda mulai lagi.


"Gue disuruh nyusul kalian berdua, " sahut Marcell.


"Lu gak kangen sama gue?" tanya Nanda.


"Buat apa gue kangen sama lu?" tanya Marcell.


"Kak, kapan adik kakak pulang?" tanya Fauzan menyela.


"Gak tau lupa, " sahut Nanda.


"Pikunn... " sahut Marcell.


"Diem lu, " sahut Nanda membenarkan rambut nya yang tertiup angin.


"Kalo di poto profil kak Nanda punya poni, tapi kok kalo liat secara langsung gak ada?" tanya Fauzan.


"Oh iya, gue baru nyadar, " sahut Marcell.


"Gue sengaja, biar banyak cogan yang minta no HP, " sahut Nanda.


"Bener?" tanya Fauzan.


"Yak engga lah, " sahut Nanda


Gue kira lu gak pake poni buat gue, taunya buat nyari cogan - batin Marcell tak suka.


"Kapan lu pulang?" tanya Marcell.


"Gue sih gimana ortu gue, " sahut Nanda.


"Kak aku masuk dulu yah, mau nyari makan, " sahut Fauzan berlari ke dalam rumah.


Sekarang di luar hanya ada mereka berdua, mereka memutuskan untuk jalan-jalan keliling taman.


"Cell, nama Alfarizky itu nama keluarga atau memang nama panjang lu?" tanya Nanda.


"Nama Keluarga, " jawab Marcell.


"Hooh, "


"Kalo lu sendiri?"


"Sama, nama keluarga, "


"Nanti kalo anak kalian lahir nanti nama panjang nya mau nama Keluarga siapa?" tangan Fauzan tiba-tiba datang.


"Astagfirullah!!"


"Allahuakbar!!"


"Lu gak bilang kalo lu datang, " sahut Marcell.


"Kenapa gak ada suara sepatu, sendal gitu?" tanya Nanda.


"Gak akan ada suara sendal atau sepatu soalnya aku nyeker... " tunjuk Fauzan ke bawah.


Marcell Nanda melihat ke bawah. Nanda tertawa "Adik lu lucu banget sih cell... " sahut Nanda masih tertawa.


"Hadeuh... " gumam Marcell menepuk dahinya.


"Kenapa?" tanya Fauzan.


"Gak papa, aduuuh sampe keluar nih air mata, " sahut Nanda berusaha mengendalikan diri.


"Kak mau eskrim?" tanya Fauzan pada Marcell.


"Gak, sok kamu aja, " sahut Marcell.


Fauzan berjalan pergi ke bangku taman dan menikmati eskrim sendirian.


"Gini nih kalo balum ada calon, sendiri... mulu... " gumam Fauzan melihat kakaknya bermesraan berdua di sana.


"Kak, awas jangan mojok pamali, " teriak Fauzan.


"Siapa juga yang mau mojok, gue mah jalan-jalan, " teriak Marcell.


"Gue gak mau jadi om dulu, kalo masi umur segini, " sahit Fauzan.


"Gue juga gak mau mahmud, " sahut Nanda.


"Oke siip, " sahut Fauzan kembali menikmati eskrim nya.


16.30


Nanda sudah siap untuk pulang ke rumahnya, dia bakal kangen sama suasana di rumah ini, karena bisa berantem terus sama Marcell.


"Kalo gitu sama pulang dulu yak jeng, assalamu'alaikum, " pamit bu Patmi mamah Nanda.


"Iya jeng hati-hati, " sahut Bunda.


"Makasih yak pak, udah mau ngejagain Nanda selama dua minggu ini, " sahut Ayah Nanda.


"Iya gak masalah, saya udah nganggep dia sebagai anak saya sendiri, " sahut Ayah Marcell.


"Saya pulang dulu yak Bunda, Om, " pamit Nanda.


Nanda pamit pada Marcell dan Fauzan. Setelah itu dia segera masuk ke dalam mobil.


"Jangan kangen yak cell, " teriak Nanda di dalam mobil yang sudah melaju.


"Amit-amit... Gak akan pernah, " sahut Marcell.


"Jangan boong, itu muka merah... " sahut Nanda.


"Gak ada... " teriak Marcell dan masuk kedalam.


Bunda dan Ayah ikut masuk ke dalam, "Udah mending sekarang kita rayain kepulangan Fauzan, " sahut Bunda mengambil kue di dalam kulkas.


Mereka bertiga sudah menunggu kue dan makanan lain yang Bunda siapkan untuk kepulangan Fauzan.


"Selamat.... Ulang tahun... " sahut Marcell.


"Bukan ulang tahun... " sahut Fauzan memukul tangan.


"Biasa aja, jangan suka mukul tanah orang sembarangan, " sahut Marcell memukul pundak Fauzan pelan.


Ayah dan Bunda hanya melihat mereka berdua yang sedang bertengkar karena masalah spele.



(*Ini versi Fauzan Alfarizky