
"Bukan gue yang pilih rumah di sini, tapi ortu gue, " sahut Marcell.
"Ohh.. Pantesan, " sahut Angga.
"Tapi tetep aja hebat gitu mereka, bisa milih rumah yang bagus, mewah, sama konsep luar dalem nya sama seperti yang Nanda pengen, " sahut Agung.
"Begitulah, " sahut Marcell.
Setelah sekian lama akhirnya Rara dkk dan Agung dkk pamit untuk pulang karna sudah malam. Jam pun sudah menunjukkan pukul set 8 malam.
"Kita pulang dulu.. Bye, " sahut Dinda.
"Iya bye bye.. " sahut Nanda.
"Assalamu'alaikum, " sahut Putri, Ihsan barangan.
"Waalaikumsalam, " jawab Marcell, Nanda barengan.
.
.
.
.
.
Malam yang membosankan bagi kedua pasangan yang sedang asik dengan tugas masing-masing. Nanda yang sibuk main hape, Marcell yang sibuk dengan dunia televisi. Begitulah kehidupan yang gak pernah bisa di ubah kecuali kalo mereka punya anak😅
"Bosen ih, " ucap Nanda berhasil mengalihkan pandangan Marcell dari TV ke arahnya.
"Bosen kenapa?" tanya Marcell.
"Yah bosen, gak ada kerjaan.. " sahut Nanda.
"Tidur, "
"Gak mau belum ngantuk, "
"Masak gih, "
"Kan mereka makan di luar, buat apa juga gue masak sekarang.. Gak akan di makan ini sama mereka.. Apa lagi elu, "
"Beres-beres rumah baru, "
"Udah malem, nanti pagi aja, "
"Terus mau apa?"
"Iya itu.. Gue gak ada kerjaan bangett.
Main hape udah mulai bosen, nonton TV apa lagi, "
"Nonton drakor, "
"Gak ahh, gak ada drakor yang seruu, "
"Main game, "
"Lagi gak mood, "
"Lah tumben biasanya kalo di ajak mabar hayu hayu, lah ini kenapa?"
"Gak kenapa kenapa, cuma lagi gak mood aja, "
"Ouh, "
Dan percakapan pun berakhir. "Au ah pusing, " ucap Nanda sambil merebahkan diri di sofa.
"Minum obat, " sahut Marcell.
"Berisik lu nj*rt orang gue ngomong sama diri sendiri.. Ngompor aja, " sahut Nanda.
"Oh.. Sorry, " sahut Marcell.
"Haaahh.. Serah lu, " sahut Nanda menghela napas.
Nanda hanya bisa menatap langit-langit rumah nya itu dengan bola mata hitam nya yang pekat.
"Lama kelamaan hidup berasa gak ada gunanya, "
"Kenapa bisa bilang gitu?"
"Iyah, semenjak gue lulus SMA nikah sama orang yang gue sayang, cinta pokoknya segalanya deh.. Dan pada akhirnya gue bisa ngerti kenapa Mama selalu aja bilang bosen bosen bosen... Sekarang gue udah tau kenapa Mama selalu bilang gitu di kamar, "
"Mm, "
"Sabar, sebentar lagi masuk kuliah, nanti juga bosen nya ilang sendiri, " sahut Marcell.
"Iya gue tau, itu nanti.. Tapi sekarang? Ada kerjaan gak? Gak ada kan, " sahut Nanda.
"Lu mau kemana? Jalan-jalan? Hayuu.. "
"Gak ah, males, "
"Tuh kan, di ajak males males.. Segala-galanya males, trus lu mau apa?" tanya Marcell masih sabar.
"Gak tau, " sahut Nanda.
"Aduhhh lama-lama bisa setres gue mikirin hidup lu.. Serah lu dah, " sahut Marcell pusing.
"Lu mau masak, nyuci, nyetrika, nilep baju, gantung diri eh jangan.. Gue gak mau jadi duda, " sahut Marcell.
"Ahahaha.. Lawakan kau udah kehilangan jaman, " sahut Nanda.
"Mending ngelawak dari pada elu dari pagi sampe pagi lagi rebahan mulu, " sahut Marcell.
"Yah lagian.. "
"Orang gue gak punya kerjaan, " sahut Nanda, Marcell barengan.
Nanda melihat Marcell dengan tatapan aneh nya, kenapa seorang Marcell bisa membaca pikiran Nanda? Kenapa yah? Kalian tau gak? Comen!!
"Hoam, "
"Tutup mulut, " sahut Marcell memukul pelan mulut Nanda dengan tangan nya.
"Haahh.. Iya iya.. Ganggu aja lu jadi orang, lagi enak tadii.. Ish, " sahut Nanda kesal.
Tok.. Tok... Tok..
"Sana bukain, gue lagi nonton, " sahut Marcell.
"Iihh kok gue sih? Lu aja ahh, " sahut Nanda.
"Gue lagi nonton tv sedang kan elu gak ngapa-ngapain, sana buka pintu.. Cepetan Nanda.. Kasian tuh orang nunggu, " sahut Marcell.
"Iya iya, " sahut Nanda.
Dengan berat hati, Nanda berjalan ke arah pintu yang terus saja di ketuk oleh seseorang dari luar.
Tok.. Tok.. Tok..
Cklekk..
"Bagas? Kenapa lu ada di sini?" tanya Nanda gak kaget karna ada Mila di samping nya.
"Hai ndakk, sorry kalo kedatangan kita mendadak, " sahut Mila.
"Ah iya gak papa, yuk masuk, " sahut Nanda mempersilahkan Bagas dan Mila masuk.
"Iya terimakasih, " sahut Bagas.
"Sebentar yah, gue panggilin Marcell, " sahut Nanda.
Mila dan Bagas hanya mengangguk pelan dan duduk di sofa yang sudah di sediakan.
"Apaan!!"
"Itu beg0 ada tamu!!"
"Gak usah nge-gas!!"
"Yah lagian elu yang ngajak nge-gas, "
Terdengar dari ruangan lain suara teriakan Nanda dan Marcell yang sedang berantem.
"Oh hey kalian berdua, " sahut Marcell akhirnya menemui Bagas dan Mila di ruang tamu.
"Hai juga cell, " sahut Bagas.
"Apa kabar Marcell?" tanya Mila.
"Gue baik, ada acara apa kalian sampai datang ke rumah kami yang kecil, sederhana dan banyak sampah di sekitar halaman?" tanya Marcell.
"Gak ada sampah kok di halaman, " sahut Bagas.
"Ahh masa? Itu hijau-hijau apa?"
"Itu rumput beg0, " sahut Mila kesal.
"Oh rumput, " sahut Marcell.
"Lu gak usah ngelawak lah, basi tau, " sahut Nanda datang membawa nampan berisi minuman untuk Mila dan Bagas.
"Gimana gue lah, " sahut Marcell.
"Garing, " sahut Nanda.
"Yang ngelawak gue, lu yang protes aneh gue, "
"Diem lu anak IPA, emang bener yah anak IPA gak bisa di ajak bercanda, gak bisa ngelawak pula... Sombong lagi nj*rr, " sahut Nanda.
"Kata siapa? Tadi gue ngelawak, " sahut Marcell.
"Iyah tapi garing, " sahut Nanda.
"Banjur pake air, mumpung ada air di sini.. Biar gak terlalu garing, " sahut Marcell.
"El---"
"Mohon maaf, di sini ada tamu, kalian nganggep kita ini apa yah? Pigura?" potong Mila yang sudah bosan melihat Nanda Marcell bertengkar.
"Oh iya sorry, ada apa kalian berdua ke sini?" tanya Marcell.
"Kita mau ngasih kalian ini, " sahut Bagas memberikan sebuah amplop besar berwarna kuning keemasan.
"Wah apa tuh? Duit?" tanya Nanda melihat terus ke arah amplop yang di pegang Marcell itu.
"Duit duit duit.. Mata duitan, di otak lu cuma ada duit? Gak ada hal lain apa, " sahut Marcell.
"Eeuuh.. Biarin gimana gue, dari pada elu gak pernah ngasih gue uang seperak perak pun, " sahut Nanda.
"Mm.. Bagus.. Bagus yah.. Makanya eneng liat ATM di kamar lu itu.. Gue kasih lu ATM... Banyak duit nya.. Mungkin udah hampir 100 Triliun, " sahut Marcell.
"Gak mau.. Lu suka boong sama gue, " sahut Nanda.
"Astagfirullahalazim.. Sejak kapan gue berani ngebohongin lu ndak, harusnya gue yang ngomong gitu.. " sahut Marcell.
"Weh, ngajak ribut lu nj*rt, " sahut Nanda.
"Apa? Apa? Ya---"
"WOI KALIAN PASUTRI, LAMA AMAT CUMA BUKA AMPLOP AJA.. PAKE HATI DEBAT INI ITU.. BUKA AJA ITU AMPLOP BIAR JELAS SEMUANYA!!!" teriak Mila berhasil membuat Nanda Marcell menciut.
"Iya, nih nih nih di buka yah di buka.. Liat pake kedua mata lu.. Nih gue ngebuka amplop nya nih.. " sahut Marcell.
"YA UDAH CEPETAN BUKA!!" teriak Mila.
"Iya sabar ngapa gak udah ngegas juga nj*r, " sahut Nanda.
"Yah lagian gue kesel sama kalian berdua, apa-apa debat apa-apa debat, gak debat sehari aneh kayak nya yah kalian, " sahut Mila.
"Ini nih yang mulai, " sahut Nanda.
"Lah kenapa gue nj*rt.. Lu yang suka nyari masalah sama gue, " sahut Marcell.
"Syuuutt.. Bisa diem gak?" tanya Bagas angkat bicara.
"Bisa, " jawab Nanda Marcell.
Marcell membuka amplop itu secara perlahan dan membuka dan membaca isinya dengan tenang tanpa ekspresi begitu pula dengan Nanda.
"Oh kalian mau nikah, kapan?" tanya Nanda muka datar.
"Akhirnya bulan, di Jepang, kalian datang yah, " sahut Mila.
"Okeh, " jawab Marcell.
"Siap, " jawab Nanda.
Mereka saling diam dan menatap satu sama lain. "Udah itu doang?" tanya Nanda.
Bagas mengangguk. "Iya, " jawab Mila.
"Ahh.. Tau gitu gue gak usah ribut sama Nanda buang-buang tenaga, " sahut Marcell.
"Tau gini gue rebahan aja, gak usah nungguin kalian, " sahut Nanda.
"Lu punya tujuan hidup gak sih? Rebahan mulu kerjaan nya, " sahut Mila.
"Hidup gue udah gak ada artinya semenjak gue lulus SMA dan nikah sama Marcell, " sahut Nanda.
"Mm.. Begitu, " sahut Mila mengangguk pelan.
"Udah ini kalian mau keman?" tanya Marcell.
"Pulang, " jawab Bagas.
"Ya udah sama pulang, mau ngapain juga kalian di sini lama-lama, mau nginep?" tanya Nanda.
"Bener-bener penghuni rumah ini.. Main ngusir, " sahut Bagas.
"Itulah karakteristik kami, " sahut Marcell.