
"Iya.... kenapa coba harus sampe mereka yang ngehukum... " sahut Rara.
"Tapi kalo menurut gue, mending dihukum kayak gini, dari pada suruh menghapal semua angka-angka, " sahut Nanda.
"Iya, tapi kan, luas banget liat halaman nya juga... " sahut Rara.
"Kalo gitu.. lu sapu belah sana, lu sapu sebelah sana, biar gue yang sapu sebelah sini... terus kumpulin di tengah-tengah... " sahut Nanda.
"Iya... "
"Iya, "
Mereka bertiga terus membersihkan halaman belakang sekolah sampah bersih. Setelah itu mereka harus membersihkan mushola sekolah.
Rara bagian menyapu, Dinda melipat semua saf dan Nanda yang mengepel lantai. Setelah selesai mereka bertiga duduk sebentar di teras mushola sambil memainkan ponsel menunggu bell pulang.
"Ndak, gue ke toilet bentar yak... " sahut Dinda.
"Iya, kalo bisa sekalian beli minum ke kantin, " sahut Nanda.
"Gue beliin teh pucuk aja satu, pake uang lu dulu, " sahut Rara.
"Iya syiap, " sahut Dinda berjalan pergi.
"Oh iya.. Gue nitip tas gue, " teriak Dinda.
"Iya, " sahut Nanda dan Rara bersamaan.
"Yah batre hape gue abis lagi... Ndak gue ke perpus bentar yak, mau minjem cassan, " sahut Rara.
"Yak udah sono... Jangan lupa balik lagi, " sahut Nanda.
"Iyalah buat apa juga gue mendem di perpus, " sahut Rara.
Kini hanya ada Nanda di depan mushola sendirian. Karena harus menjaga tas milik sahabat nya, tak ada yang harus dia lakukan.
"Adduhh gue gabut... Gak ada temen ngobrol lagi, " gumam Nanda.
Tuk...
"Aaahhh dingin... " teriak Nanda terkejut.
"Hahah... Sorry, lu bilang gabut kan, gimana kalo lu ngobrol sama gue?"
"Lu siapa?" tanya Nanda.
"Gue Bagas, " sahut Bagas memperkenalkan diri.
"Oh, gue Nanda, layaknya kita pernah ketemu deh.. Tapi gue lupa... " sahut Nanda.
"Haha... Gue emang sering keliling sekolah, tapi kalo kenalan kayak gini... Kalo yang udah kenal ketemu sama gue, pasti lupa, " sahut Bagas.
"Hahahaa... Pantesan, " sahut Nanda.
"Btw, kok lu sendirian di mushola yang sepi? Kemana teman-teman lu?" tanya Bagas.
"Mereka mah gak bisa diem di satu tempat, suka pindah-pindah, " sahut Nanda.
"Mm... Gue boleh tanya gak?"
"Yak silahkan aja, gak ada yang ngelarang lu juga, "
"Lu istrinya Marcell?" tanya Bagas.
Nanda memancarkan air minum itu karena kaget.
"So-sorry... Gue gak sengaja... Ini tisu.. " sahut Bagas memberikan tisu kepada Nanda.
"Iya iya gak papa... Gue bukan istrinya lu salah orang, " sahut Nanda.
"Oh gitu... Btw lu punya pacar dulu?" tanya Bagas.
"Gak tau, gue lupa.. Gue udah gak inget lagi masa lalu... Gue juga gak tau kenapa jadi tiba-tiba gak inget gitu... " sahut Nanda.
Ya Tuhan, apa yang udah gue lakuin sama gadis yang gak bersalah ini, sampe-sampe dia lupa masa lalunya... Gue emang bodoh... - batin Bagas menyesal.
"Lu kenapa gas?" tanya Nanda bingung.
"Ehh... Hehe.. Gue gak papa kok... Gue ke kelas duluan yak, kayaknya guru udah dateng, " sahut Bagas berdiri.
"Oh yak udah sana, sama ini minuman nya makasih, " sahut Nanda.
"Iya... " sahut Bagas berlari menjauh dari Nanda.
"Lah napa tuh anak, kok gue berasa kenal yak sama dia? Ah masa bodo... Yang penting gue dapet minuman, " gumam Nanda.
"Udah beres-beres nya neng?" tanya Marcell baru datang.
"Belum, " sahut Nanda cemberut.
"Kalo belum, kenapa malah diem di sini, udah sana lu beres-beres lagi, " sahut Marcell.
"Diem lu gue lagi bete, " sahut Nanda.
"Lah, napa lu?" tanya Marcell ikut duduk di samping Nanda.
"Lu itu yak, bisa gak sih, gak usah ngeledek gue, gak usah sok ngasih perintah, mentang-mentang lu OSIS, " sahut Nanda.
"Lah sejak kapan gue ngeledek lu? Perasaan gue gak pernah, " sahut Marcell.
"Terus juga, gue bukannya sok ngasih perintah ini itu, tapi itu memang udah kewajiban gue sebagai ketua OSIS, " lanjut Marcell.
"Lu itu beda banget yak sama Bagas, lu itu dingin ke siapa aja, kecuali keluarga lu sendiri, terus lu gak pernah nyapa sama adik kelas, padahal mereka itu sering nyapa lu, aneh lu... " sahut Nanda.
"Bagas? Siapa bagas?" tanya Marcell.
"Itu minuman di kasih sama siapa?" tanya Marcell.
"Sama jin, " sahut Nanda.
"Serah lu dah, btw 5 menit lagi pulang, mau pulang sekarang apa mau bareng sama yang lain?" tanya Marcell.
"Pulang sekarang aja lah, gue udah capek banget, terus kalo ini tas Rara sama Dinda... "
"Biar kita aja yang jaga, sekalian pulang, " sahut Angga baru datang bersama Agung.
"Lah kok kalian boleh keluar kelas?" tanya Nanda.
"Iya lah, kan kita bertiga ini pinter-pinter, " sahut Angga bangga.
"Gak kayak kalian, bertiga... " sahut Agung.
Nanda menghampiri Agung dan menginjak kaki kirinya.
"Aaaa.... " teriak Agung.
"Jangan di perjelas lagi, ngerti gak lu... " bisik Nanda yang masih menginjak kaki Agung.
"Iya iya... Sekarang bisa gak lu lepasin kaki gue... " bisik Agung.
Nanda melompat dari kaki Agung ke samping Marcell.
"Aaa... Istri lu harus di ajari tata krama lagi celll, " sahut Agung memegang kaki nya yang sakit.
"Kalian bertiga ngapain? Kok gue gak tau, " sahut Angga.
"Bukan apa-apa, gue sebenarnya mau ngasih tau lu, cuma gue masih sayang nyawa, jadi sorry aja, " sahut Agung.
"Yah gak masalah sih, gue bisa nanya ke yayank gue, " sahut Angga.
"Apa lagi Dinda, dia gak akan pernah ngasih tau lu... " sahut Agung.
Nanda melotot ke arah Agung. Agung yang melihat nya segera menutup mulutnya dengan tangan.
"Sabar sabar... Untung Nanda itu istri Marcell, kalo engga udah kita... Eeeh... " sahut Angga greget.
"Udah ayo, " sahut Marcell berjalan ke arah motornya.
Nanda menyusul dari belakang dan naik perlahan karena memakai rok. Marcell melajukan motor nya.
"Gue duluan sama Nanda... " sahut Marcell.
"Iyaa... " sahut Agung dan Angga barengan.
Akhirnya Dinda yang habis dari kantin, datang juga.
"Mana Nanda sama Rara?" tanya Dinda.
"Kalo Nanda pulang duluan, kalo Rara gue gak tau, " sahut Agung.
Dinda menaruh minuman itu dan menunggu Rara datang. Beberapa menit kemudian Rara datang sambil membawa cassan berlari menuju Agung dkk.
"Woy, mana Nanca?" tanya Rara.
"Udah pulang duluan, ayoo kita juga, " sahut Agung menarik tangan Rara menuju motor nya.
"Yak udah kalo gitu, gas pulang, " sahut Angga.
.
.
.
.
.
Sementara itu Bagas yang masih terhuyung ke sana ke sini, karena terus memikirkan perkataan Nanda barusan.
"Oh gitu... Btw lu punya pacar dulu?" tanya Bagas.
"Gak tau, gue lupa.. Gue udah gak inget lagi masa lalu... Gue juga gak tau kenapa jadi tiba-tiba gak inget gitu... " sahut Nanda.
"Nanda.... Maaf... Gara-gara gue, lu jadi lupa masa lalu lu, " gumam Bagas menyesal.
Gue bakal ngelakuin apa aja, demi masa lalu lu kembali ndak.... - batin Bagas.
"Jadi lu, udah langgar janji lu ke gue?"
Bagas menengok ke arah Mila. Sesekali Bagas malas melihat wajah Mila.
"Mau apa lu nyari gue?" tanya Bagas malas.
"Jangan lupa, gue yang udah ngebebasin lu dari penjara siapa, gue bisa aja nuntut lu lagi soal masalah Betly, " sahut Mila mengancam.
"Betly?" tanya Bagas lupa.
"Lu mungkin lupa siapa itu Betly, tapi 3 tahun yang lalu, lu hampir memperkosa Betly adik Nanda, " sahut Mila.
Bagas mencoba untuk mengingat masa lalu nya, dan mulai terdiam.
"Ingat rencana kita berdua, lu harus berusaha mungkin deket sama Nanda, dan gue akan ambil apa yang gue mau..." sahut Mila berjalan pergi meninggalkan Bagas yang masih melamun.
Heh... Lu pikir gue ini bodo? Gak.... Liat aja gue bakal bikin Nanda bahagia sama pilihan nya... - batin Bagas.
"Mungkin dulu gue hampir memerkosa Nanda, tapi gue sadar selama gue hidup di penjara, gue bakal jadi pelindung nya, dan membawa lu ke penjara, " gumam Bagas.
Gue janji bakal terus ngelindungin elu ndak, gue sayang sama lu, tapi karena lu udah punya suami, pilihan lu... Gue bakal pertahanin pernikahan kalian, gue gak akan biarin Mila ngerusak... - batin Bagas.