My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Terlalu dekat!!!



"Ndakk... lu hari ini harus makan lontong sayur buatan gue sama emak gue... " sahut Delisa.


"Elu aja deh yang makan, gue kenyang... " sahut Nanda melanjutkan menulis.


"Gak bisa... nanti jam istirahat pertama gue bakal masukin nih lontong sayur ke mulut lu, " sahut Delisa.


"Serah lu.. udah sana lu pergi, gue mau ngerjain PR, " sahut Nanda mengusir.


"Ini mah bukan PR tapi PS... " sahut Delisa mendorong meja, Nanda yang sedang menulis mejadi terganggu.


Nanda, Rara dan Dinda menatap Delisa dengan tatapan sinis dan membunuh. Delisa yang melihat langsung kabur dari kelas Nanda menuju kelasnya sendiri.


"Dasar anak gilaa... " cibir Rara kesal.


"Yakin lu gak mau makan lontong sayur buatan dia?" tanya Dinda.


"Engga mau, gue takut mati, " sahut Nanda.


"Kalo engga, lu terima aja terus kasih ke Mike... " sahut Rara.


"Lu gak tau... kalo mereka berdua udah pacaran?" tanya Nanda.


"Oh yak!! Kapan?!" tanya Rara terkejut.


"Sebelum Rara sama Angga pacaran juga mereka udah pacaran duluan, " sahut Witri.


"Lu dari mana wit?" tanya Rara melirik singkat.


"Biasa, gue habis ngegoda Pak Dadang... " sahut Witri lancang.


"Eh busett... "


"Gak ada adab lu wit, tapi nanti tugas di kumpulin?" tanya Nanda.


"Engga, " jawab Witri.


"Yess.."


"Gak udah ngerjain... "


"Mm... tadi bilang nya gue gak ada adab, tapi kok seneng?" tahta Witri.


"Hehehe... gue minta maaf deh... " sahut Nanda cengengesan.


"Eh, btw kalian lagi ngerjain tugas apaan?" tanya Witri.


"Fisika, lu udah?" sahut Dinda selesai menulis.


"Udah, gue sampe tidur jam tiga pagi cuma buat ngerjain Fisika doang, " sahut Witri.


"Gilaa... trus lu bangun jamber?" tanya Rara.


"Jam lima subuh, " jawab Witri.


Mereka asik mengobrol, dan tak lama datang lah Mike bersama Delisa di belakang nya. Mereka berempat yang sedang menulis beralih ke mereka berdua.


"Cieee... berdua mulu, gak bosen?" tanya Nanda membereskan bukunya.


"Apaan si, makanya pacaran sana sama Marcell, " cibir Delisa.


"Lu mau gue masukin bola gulung ke mulut lu!?" sahut Nanda kesal.


"Bola gulung emang ada?" tanya Witri dan Dinda barengan.


"Itu bola yang dijual di depan pasar, " sahut Nanda.


"Hah?" tanya Mike bingung.


"Itu yang suka kita beli Din, di depan pasar kan ada bola gulung, " sahut Nanda.


"Telur gulung g*bl*k, bukan bola gulung, " teriak Dinda kesal.


"Oh... nah itu maksudnya... " sahut Nanda.


"Pura-pura polos lu ndak, " sahut Rara.


"Gue kan lupa namanya, gue kira itu bola gulung eh taunya telur gulung, " jelas Nanda.


...****************...


Jam istirahat pertama.


Nanda dkk baru saja akan keluar kelas untuk pergi ke kantik, tapi Delisa berjalan ke arah mereka sambil membawa kantung plastik di tangannya.


"Itu apaan Del?" tanya Rara.


"Oh ini... lontong sayur, " jawab Delisa menghampiri Nanda.


"Lu mau apa deket-deket?" tanya Nanda mengernyitkan kening.


"Lu jangan ke kantin, lu makan lontong sayur gue yah ndak... " sahut Delisa mengeluarkan plastik berisi lontong sayur.


Eh buset malah beneran bawa lontong sayur, gue kira boongan, bahaya nih, gue takut menginggoy tiba-tiba, - batin Nanda.


Nanda memegang pundak Delisa dan menggeser nya ke dekat Dinda.


"Kenapa lu ndak, bukannya lu bilang lagi laper yah?" tanya Rara menyenggol tangan Dinda.


Dinda melirik ke arah Rara, "Iya bener katanya lu laper bangettt... " sahut Dinda ikut-ikutan.


"Gue ada urusan, " sahut Nanda.


"Urusan apa? Biar gue bantu biar cepet, " shajt Delisa.


"Urusan gue bertahun-tahun, " sahut Nanda berjalan menjauh dari Delisa pelan-pelan.


Dengan cepat Nanda kabur, Mereka bertiga masih belum menyadari Nanda kabur. Baru saja Dinda akan menarik tangan Nanda, tapi Nanda sudah tidak ada.


"Mana Nanda?!" tanya Dinda.


Mereka berbalik, dan benar saja Nanda sudah tidak ada. "NANDA!!" teriak Delisa berlari mencari Nanda.


"Yah kita di tinggal, " sahut Dinda.


"Ke kantin kuy, " ajak Rara.


Dinda dan Rara pergi ke kantin berdua. Sedangkan Nanda masih bersembunyi entah dimana.


"NDAK!! KELUAR LU!!" teriak Delisa.


"Buset masih nyari gue... " gumam Nanda.


"Nanda.... dimana kamu sayang... Delisa syantika mau ngasih makanan, " sahut Delisa masih mencari.


"Lu bukan mau ngasih gue makanan tapi lu ngasih ke kematian, " gumam Nanda.


"Nanda!!" teriak Delisa mencari keluar.


Nanda yang mengintip sedikit, melihat apakah masih ada Delisa atau tidak, dia memanggil seseorang.


"Syuutt.... sini... " bisik Nanda pada seseorang.


"Iya kak, apa?"


"Ada Delisa?" bisik Nanda.


"Gak tau kak, kayaknya gak ada, "


Delisa melihat dan dia menggeser adik kelas dan mendekati Nanda yang masih bisik-bisik.


"Yakin gak ada?" tanya Nanda masih bisik-bisik.


"Iyah kak tenang aja, " bisik Delisa menyuruh adik kelas pergi.


"Astagfirullah... anak anj*ng!!" Nanda terkejut dan berlari.


"Heeuuhh, dasar anak baby, " sahut Delisa kesal dan kembali mengejar Nanda.


Nanda ingin bersembunyi tapi Delisa ada di belakang, dia masuk ke kerumunan siswa-siswi dan asal masuk ke toilet.


"Kemana tuh anak!?" gumam Delisa.


Delisa melihat ada dua toilet laki-laki dan toilet wanita, dia penasaran apa Nanda masuk ke toilet wanita atau laki-laki?


Tanpa berpikir panjang, Delisa menyudahi mengerjar Nanda, dia segera menyusul Rara dan Dinda yang ada di kantin.


Sedangkan Nanda sekarang berada di toilet laki-laki, dia masih belum menyadari, tiba-tiba ada yang membuka pintu toilet, banyak anak cowok yang sedang mengobrol dan bercanda.


"Gue mau ke air dulu sebentar, "


Nanda mendengar nya serasa tak asing, tiba-tiba pintu pun terbuka perlahan dan dia mereka slainv menatap sedangkan lelaki tersebut masih mematung di depan Nanda dengan dada bidang yang terlihat nyata di depan mata.


.


.


.


.


.


Marcell sedang bermain basket di lapangan bersama teman-teman yang lain, karena hari ini pelajaran olahraga di kelas Marcell.


"Cell, ke kamar mandi kuy, gue pengen ngebasahin kepala gue, "


"Iya.. gue juga sekalin mau ganti baju, " sahut Marcell.


Marcell dkk berjalan menuju toilet, Marcell melihat seorang wanita sedang mencari sesuatu tapi entah apa. Tanpa memedulikan nya Marcell masuk ke dalam toilet laki-laki bersama yang lain.


"Woy, cewek tadi mantep.. "


"Banyak bacot, "


"Enakkan Marcell bisa deket sama Nanda, "


"Nanda mana cuy?"


"Itu Nanda IPS 3,"


Marcell sudah membuka baju nya dan terlihat lah dada bidang yang berotot, begitupun dengan yang lain. Mau gimana gak ngebentuk coba, mereka anak basket, banyak olahraga.


"Gue mau ke air dulu sebentar, " ucap Marcell.


Teman-teman nya hanya mengangguk dan berganti baju bergantian.


Ckleek..


Pintu terbuka Marcell terkejut melihat seorang gadis yang sedang bersembunyi di dekat pintu.


"Cell, lu kok diem aja, ada siapa disitu?" tanya teman Marcell mau menghampiri.


Dengan cepat dia masuk dan mengunci pintu, mengangkat tubuh Nanda, agar tak keliahatan kaki.


"Lu ngapain?!!" bisik Nanda terkejut tiba-tiba di angkat.


"Bukan apa-apa, kalian duluan aja, gue sakit perut, " sahut Marcell.


"Gue duluan cell, "


"Gue ke kantin sama Lukman, "


Sekarang Nanda ada di pangkuan Marcell, dia terus memeluk Nanda mendekati dada bidang nya yang bebas tanpa kain sedikit pun.


Terlalu dekat!!! - batin Nanda.


Nanda menahan badan nya oleh tangan kiri nya yang bebas, berusaha menjauh sedikit tapi Marcell terus mendorong tubuh Nanda untuk terus mendekat.


Dan akhirnya Nanda berada di pelukan Marcell. Wajah Nanda merah merona, ditambah di toilet laki-laki tidak ada hawa udara yang masuk dan menjadi panas.


Marcell berdiri sedikit untuk melihat keluar dengan Nanda yang masih ada di pangkuan nya dan di peluk, ternyata sudah tidak ada siapa-siapa di toilet kecuali mereka berdua.


"Udah gak ada siapa-siapa, " ucap Marcell menurunkan Nanda dari pangkuan nya.


Sedangkan Nanda masih mematung, ini pertama kalinya dia dipeluk oleh seseorang dengan dada bidang yang terbuka.


"Kenapa lu sampe ada di sini?" tanya Marcell.


Nanda masih melihat badan Marcell yang kekar dan berotot. Marcell melihat pandangan Nanda yang melihat otot-otot nya.


"Udah ngeliatinnya?" tanya Marcell berhasil membuat Nanda tersentak kaget.


"I-Iya udah, " sahut Nanda malu.


"Kenapa lu sampe ada di sini?" tanya Marcell.


"Gue lagi sembunyi dari orang gila, " sahut Nanda.


"Mm.. Siapa?" tanya Marcell mengernyitkan keningnya.


"Siapa lagi kalo bukan Delisa, " sahut Nanda.


"Yak udah lu mau keluar sendiri atau mau barang sama gue?" tanya Marcell.


"Gue mau kalo keluar sendiri, yak udah gue keluar bareng sama elu aja deh, " sahut Nanda.


"Yawdah, tunggu bentar, gue mau pake baju dulu, " sahut Marcell pergi keluar.


"Gak usah pake baju, lu udah ganteng, " gumam Nanda.


"Apa?" tanya Marcell.


"Bukan apa-apa, " sahut Nanda memalingkan wajahnya.


Duuhhh suami gue...... - batin Nanda berteriak melihat dada bidang Marcell yang putih bersih, berotot... Aaaaaa!!!


"Ini mah calon... calon... " gumam Nanda ingin berteriak sekencang-kencang nya.


"Lu kayak orang gila, ngomong sendiri, " sahut Marcell.


"Elu bikin gue kaget mulu, " sahut Nanda kesal.


"Lu mau keluar apa engga?" tanya Marcell.


"Yah mau lah... " sahut Nanda.


Mereka keluar dari toilet bersama-sama, untungnya keadaan sekitar sedang sepi, tidak ada siapa-siapa. Dengan cepat Nanda berlari meninggal kan Marcell sendirian di dekat toilet.


Mereka tak tahu kalau ada Mila yang sedang bersembunyi di tembok, dia melihat mereka dan memvideonya.


"Awass aja lu ndak, gue bakal bikin lu sengsara, " gumam Mila.


"Gue bakal nyebarin video ini... dan lu gak bisa ngelakuin apa-apa... " gumam Mila.


"Lu lagi apa di sini?" tanya Marcell.


"Haaaaaahhh!!" teriak Mila terkejut melihat Marcell.


"Bukan apa-apa, " sahut Mila menyembuhkan ponselnya.


"Aneh.. " gumam Marcell berjalan pergi.


"Marcell.... gue bakal dapetin lu... " gumam Mila.