My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Diusir



Nah kan... gue salah... ini semua gara-gara Agung, - batin Marcell.


Pokonya malam ini gue harus ketemu sama Agung, dia harus nyeritain semua kejadian, biar gue gak tidur di luar lagi... - batin Marcell.


"Mm.. den bapak ke sana dulu, bapak mau telpon anak bapak, " sahut pak wawat.


"Oh iya pak silahkan, " sahut Marcell mempersilahkan.


Pak wawat berdiri dan berjalan menjauhi Marcell, dengan segera menelpon anaknya di kampung. Marcell segera beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah hanya untuk mengambil jaket dan juga kunci motor nya.


Nanda yang sedang belajar mendengar suara motor, dan membuka jendela kamar melihat ada seseorang yang memakai jaket hitam pergi dari halaman rumah menuju keluar.


"Itu siapa? Kok ganteng banget... " gumam Nanda.


"Gak mungkin kalo yang tadi itu Marcell... " gumam Nanda.


Drrtt... drrtt.. drrtt..


Ponsel Nanda berbunyi, Nanda masih melihat ke jendela, dan tersentak kaget saat mendengar suara telpon itu. Nanda berjalan menuju ponselnya yang ada di kasur dan segera mengangkat nya.


: Hallo


🗣️ : Hallo Nanda, kamu ke rumah mamah sekarang yah sayang...


: Emang ada apa mah?


🗣️ : Ini nih Ayah kamu lagi emosi gara-gara perusahaan nya kacau balau, cuma kamu yang bisa nenangin Ayah kamu, sekalian nginep


: Oh iya mah, aku otwe sekarang..


🗣️ : Iya sayang


tuutt... tuutt... tuutt...


Nanda tampak kegirangan akhirnya dia bisa kembali ke rumah dimana dia di besarkan. Dengan cepat kilat Nanda membereskan sebagian baju nya dan memasukan nya ke dalam koper milik Marcell.


"Cell.. gue pinjem koper lu yah.. sebentar, paling dua mingguan, hihihi... " gumam Nanda tertawa pelan.


Nanda turun kebawah sambil membawa kopernya. Dan melihat sebagian asisten rumah tangga yang sedang berjalan ke sana kemari seperti tidak ada tujuan.


Nanda melangkah kan kakinya perlahan menuju pintu, tapi tiba-tiba dia ditahan oleh salah seorang asisten rumah tangga.


"Non mau kemana?" tanyanya.


"Aku mau ke rumah mamah, disuruh barusan, kenapa?"


"Oh kalo gitu, Non mau pake mobil nya aden Marcell?" tanya seorang wanita yang membawa kanebo.


"Nggak us-- emang boleh?" tanya Nanda.


"Boleh banget Non, mau disiapkan sekarang?"


"Boleh kalo gitu, ehh.. tapi kan aku gak bisa pake mobil, " sahut Nanda jujur.


"Gak papa kan ada pak Toni, supir pribadi aden Marcell, "


"Yak udah kalo gitu, sekarang aku tunggu di depan gerbang, " sahut Nanda berjalan pergi.


"Iya siap non, "


Para asisten rumah tangga itu tampak gembira saat Nanda meminta sesuatu kepada mereka. Nanda yang menunggu lama di depan gerbang mulai kesal. Tak lama kemudian datang mobil hitam yang menuju ke arahnya.


"Maaf non, saya telat, " sahut Pak Toni, supir pribadi Marcell.


"Iya gak papa, tapi agak ngebut dikit yah pak, " sahut Nanda membuka pintu.


"Iya non, "


Di dalam mobil, Nanda masih memikirkan keberadaan Marcell untuk pertama kalinya. Biasanya kalo Nanda lagi ngambek sama Marcell, dia selalu membujuk Nanda atau membelikan sesuatu. Tapi kali ini tidak ada, bahkan Nanda tak tau Marcell pergi kemana barusan.


"Kemana sih tuh anak, bikin khawatir aja, " gumam Nanda.


"Apa non? Tadi non bilang sesuatu?" tanya pak Toni.


"Mm? Oh gak kok pak, saya lagi mikirin Marcell pergi kemana, " sahut Nanda.


"Oh tadi aden Marcell pergi keluar tapi gak tau pergi kemana, emangnya aden Marcell gak bilang?"


"Ngga, "


"Aduuh bener-bener aden Marcell, gak ngasih tau istrinya, "


"Hehe.. iya pak keterlaluan banget yah oak, sebagai suami, "


Pak Toni hanya tersenyum mendengar ucapan Nanda barusan


Padahal saya tau, Nona Nanda itu sayang dan juga cinta sama aden Marcell, cuma nona gak mau ngaku aja - batin pak Toni.


Kemana sih, malem-malem gini... malah keluyuran, udah jam set duabelas, - batin Nanda.


Sampai di kediaman Nusyrandi.


Nanda segera turun dari mobil dan melihat ke sekeliling komplek, "Masih gak ada perubahan, " gumam Nanda.


"Ini non kopernya.. " sahut pak Toni habis mengeluarkan koper dari bagasi.


"Oh iya pak, makasih... pak Toni langsung aja pulang saya nanti dijemput sama Marcell, "


"Iyah siap non, "


Pak Toni pun berlaku. Dan Nanda segera masuk ke dalam rumahnya yang sudah lama dia tinggal.


"Assalamu'alaikum... " teriak Nanda.


"Waalaikumsalam... gak usah teriak-teriak, " sahut mamah.


"Mamah... " teriak Nanda memeluk mamahnya.


"Uuu... mamah kangen sama kamu... " sahut mamah membalas pelukan anaknya itu.


"Aku juga sayang sama mamah... "


"Mana Marcell?"


Nanda sepontan melepaskan pelukan nya, "Mamah malah nanya Marcell, anak mu ini capek, " sahut Nanda.


"Masa anak mamah cemburu sama suami nya sendiri?" tanya mamah mengelus kepada anaknya.


"Yak udah, yuk masuk bawa koper kamu, " sahut mamah berjalan masuk. Disusul oleh Nanda yang membawa koper nya sendiri.


"Mah, mana Ayah?" tanya Nanda saat sudah ada di dalam.


"Di kamar, lagi marah-marah, " jawab Mamah berjalan menuju dapur. Nanda hanya mengangguk pelan.


"Ndak, kamu laper gak?" tanya mamah.


"Nggak mah, aku makan banyak kok tadi, " sahut Nanda.


"Iya mah, makasii... "


cup..


Nanda menyudahi obrolan mereka dengan sebuh ciuman kecil di pipi mamah tercinta. Mamah menyentuh pipinya yang barusan di cium oleh Nanda dan tersenyum.


Nanda masuk ke kamar dengan perasaan bahagia karena dapat berjumpa kembali dengan kamar nya.


Banyak barang-barang Nanda yang masih ada, Nanda sebenarnya ingin membawa sebagian, tapi karena tidak enak ada Bunda dan juga Ayah, jadi gak jadi.


"Aahh.... kamar my lovely ku... bagaimana kabar?" teriak Nanda sambil rebahan di atas kasur.


"Yah gak ada jawaban. Eh kan gue sendiri di kamar, hahah... " gumam Nanda tertawa.


Tok... tok.. tok...


"Siapa? Masuk, "


"Ini Ayah... gimana kabar kamu sayang?" tanya Ayah berjalan masuk dan duduk di pinggir ranjang.


"Yak gitu deh yah... " sahut Nanda tak tau bagaimana menjelaskan ke Ayah.


"Gimana kabar Marcell sama keluarga nya?"


"Alhamdulillah baik, selamat Bunda sama Ayah lagi keluar kota, katanya ada urusan bisnis, "


"Oh gitu yah... padahal Ayah pengen minta bantuan mereka, "


"Minta bantuan apa yah?"


"Perusahaan kita hancur, semua uang perusahaan di bawa kabur sama pegawai Ayah, "


"Hah! Kok bisa?! siapa yang berani ngelakuin itu yah?!" tanya Nanda kaget


"Yah ntahlah Ayah juga kurang tau, siapa pelakunya, yang pasti ada rekaman CCTV di kantor, jadi mungkin polisi, "


"Polisi mah lewat, mending langsung aja ke polisi laki-laki, "


Krik... krik... krik..


"Kan Ayah tadi bilang nya polisi, " sahut Ayah.


"Ah.. masa sih? perasaan tadi Ayah nyebutin polwan deh, " sahut Nanda.


"Mah polisi laki-laki mau polwan pokonya sama aja, " sahut Ayah.


"Mm..


"Udah sana kamu tidur, udah malem emang kamu pikir ini masih siang, ngomong-ngomong jangan suka melewatkan malam pertama, kan sekarang malming, " sahut Ayah menutup pintu.


"Astagfirullah... gue sama Marcell belum siap punya anak ayah... " gumam Nanda.


.


.


.


.


.


Sementara itu Marcell datang ke rumah Agung yang tak jauh dari perumahan nya. Di sana terlihat ada sebuah sepeda motor yang terparkir di halaman depan rumah Agung.


Tanpa pikir panjang, Marcell mengetuk pintu, "Agung... " panggil Marcell.


tok... tok... tok...


Cklekk..


"Eh ada Marcell.... " sahut Tante sofi ibu tiri Agung.


"Iya hallo tante, Agung nya ada?" tanya Marcell sopan.


"Ada kok di kamar, silahkan masuk, " sahut Tante sofi.


Marcell masuk dan melihat setiap sudut rumah Agung yang berubah semakin hari.


"Agung ada di atas, silahkan ke atas, Tante mau ambil makanan ringan sama minuman dulu, " sahut tante sofi.


"Iya tante, makasih... " sahut Marcell berjalan menaiki tangga.


Tok... tok... tok...


"Iya mah... apa?" teriak Agung dari dalem.


cklekk..


"Mah mah mah.. ini gue, " sahut Marcell berjalan masuk.


"Lah elu, gue kita emak gue, " sahut Agung fokus bermain game di ponselnya.


"Elu disini juga Angga?" tanya Marcell.


"Iya, habis nganterin bebeb gue pulang, langsung aja gue mampir ke sini bentar, " sahut Angga.


"Lu kenpa kesini? Ada apa?" tanya Agung.


"Gue kesini, lu ada masalah apa sih sama Rara?" tanya Marcell.


Agung dan Angga yang kaget akan suara Marcell yang meninggi berhenti bermain dan mulai serius.


"Emang kenapa? Ini bukan urusan lu, " sahut Agung.


"Gimana buka urusan gue, gegara elu gue diusir dari kamar, " sahut Marcell.


"Kasian, gue pikir lu diusir dari rumah, " sahut Angga tertawa.


"Emang lu kesini cuma mau main doang?" tanya Marcell.


"Yah engga sih... gue juga pengen tau alasan lu putus sama Rara, gara-gara nih bocah, gue berantem sama Dinda, " sahut Angga.


"Alasannya ini adalah hukuman yang pantas pagi seorang playgirl, " sahut Agung.


"Alah gue masih gak percaya sama omongan lu itu, " sahut Angga.


"Yak gue juga bodoamat, kalian mau percaya mau engga juga, " sahut Agung.


"Apa alasan yang sebenarnya?" tanya Angga.


"........... "


"Nah kan gak bisa jawab, pasti ada alasan lain lu putusin Rara, " sahut Marcell.